17/05/2024
Yoga Memuja Setan!
Ada beberapa yang menanyakan apakah ada ritual dalam yoga yang mengarah pada penyesatan, karena terindikasi bertujuan untuk pemujaan terhadap demit (setan)? Mari kita bahas, setan atau iblis adalah representasi dari karakter energi yang bermuatan rendah; bersifat lesu, lembam, ditorsi, tidak stabil. Hal tersebut juga mewakili dari suatu kondisi tentang ketidakseimbangan kosmis. Setan / Iblis dalam kasanah budaya barat, dan tradisi agama abrahamik disublimasi menjadi doktrin dualitas yang membelah. Doktrin yang mengarah pada perseteruan abadi antara kuasa terang dan kuasa gelap! Sering kali hal itulah yang menciptakan doktrin keterpisahan dan bersifat eksklusivitas. Doktrin yang mengarahkan pada sikap egoistik - dan merasa membeda dari yang lain secara kaku, keras, dan ganas. Suatu presepsi yang terakumulasi dari struktur fungsi pikiran yang memiliki naluri membelah, selalu mencari yang berbeda dan diskriminatif. Doktrin- doktrin tersebut yang banyak mengisi mental- mental para pelaku budaya maupun agama yang sering kali terefleksi pada tataran sikap sosial kita (ego kesucian yang kedagingan). Sifat yang anti dan menolak terhadap sesuatu yang tak sama dengan apa yang ada dalam kasanah presepsi yang diyakininya! Tak hayal maka perseteruan dan peperangan yang mengerikan akan selalu mengisi peradapan manusia jika seperti itu cara manusia memprogram mentalnya. Hanya gara - gara doktrin adanya Demit, Setan, Iblis dan sak bolo-bolone! Manusia bergerak devastasi, menciptakan potensi- potensi kiamat mengerikan bagi mereka dan alam yang mereka huni!
Sementara itu budaya timur memahami keberadaan Setan dengan pengertian yang berbeda. Bagi orang timur Setan adalah bagian integral dari kosmologi jagad raya (makrokosmos) yang terejawantah p**a dalam diri manusia sebagai jagad alit (mikrokosmos). Para Pitara dan Yogin di timur memahami tentang sifat semesta sesungguhnya berbasis "kemenyatuan" alih-alih doktrin "keterpisahan" semua hal di semesta ini sesungguhnya "manunggal". Namun realitas kemanunggalan ini seakan terpisah hanya di wilayah pikiran manusia, karena sifat pikiran yang terbatas. Para Pitara Kuno mencoba mendeteksi realitas jagad raya dengan memberdayakan perangkat lain di dalam dirinya selain menggunakan otak/ pikiran, yaitu hati- yang berarti getaran rasa yang sejati. Karena hati selalu bersifat menyatu dan otak bersifat membelah, pemahaman itulah yang menjadi dasar dari penemuan prinsip- prinsip kemanunggalan (inklusivitas). Kembali pada Setan, bagi para Pitara di Timur setan dipahami telah bersemayam dalam diri manusia. Setan turut menyusun karakter- karakter diri manusia, bersifat pontensial. Di Jawa Kuno mengenal tiga alam (tataran karakteristik kosmis) yang tersusun dalam diri Manusia; 1. Junggring Saloka alam ketenangan/ kesetabilan, 2. Madyapada alam dinamika/ dinamis/ gravitasi, 3. Yomaniloka alam yang bersifat lembam/ inersia. Tiga alam itu memiliki fungsi- fungsinya sendiri. Jika diberdayakan 3 alam itu akan membawa manusia pada pengalaman- pengalaman yang tak terbatas. 3 alam itu jika disadari adalah wujud dari Ketuhanan (keutuhan).
Jika bergerak terpisah dan tak seimbang maka disebut Setan. Sebagaimana kata Tuhan (seimbang), yang memiliki kebalikan kata Hantu (ketidakseimbangan/ kekacauan). Susunan persemayaman Setan bersumber/ bersetana di ektremitas loka bawah Yomaniloka (perut ke bawah), dipercaya di tunggu oleh kuasa jawata Antagajati (Togog) pamong sifat kesetanan, sementara extremitas loka tengah Madyapada (dhadha) bersemayam para jawata pamong sifat kamanungsan, dipercaya ditunggu oleh kuasa Ismayajati (Semar). Dan esktremitas alam atas Junggring Saloka, dasaring utek bersetana kuasa Manikmaya, Jawata yang berkuasa menjaga kebijaksanaan dan penciptaan. Satu kesatuan ini yang dipahami sebagai Sang Hyang Paring Pawenang. Tiga loka ini diikat/ dikumpulkan oleh Sang Hyang Suwung Hamengku Ana (kesadaran dan kecerdasan agung). Sementara itu dalam kasanah lain di Jawa Kuno menjelaskan bahwa ada 2 kutub yang berkerja dalam diri manusia yaitu Kutub Utara dan Selatan.
Kutub Utara di sebut Uttara Dipa berada di dasar Otak bersetana Siwa atau Bathara Guru sebagai aspek Maskulin. Dan kutub selatan disebut Antaladipa berada di pusaran kemaluan bersetana Sang Hyang Uma (Durga Mahesa Suramardini) mewakili aspek feminin. Aspek maskulin bersifat kokoh, stabil, ajeg, dan tangguh. Sementara Aspek feminin bersifat tidak stabil, berubah- rubah, perasaan yang susah ditebak, pengganggu, dan plin - plan - ini yang mewakili ibu dari para setan yang menguasai Setra Ganda Mayit (keadaan diri tanpa kesadaran). Atau representasi dari seorang wanita yang tak mendapat cinta dan perhatian, mereka akan menjadi setan yang mengerikan. Maka kedua Kutub itu harus di tarik oleh medan magnet besar yang ada di titik tengah (kesadaran niat/ tekad) representasi dari Hyang Urip, agar bergerak ke atas dan Durga yang masih kasar dan menyeramkan itu bertemu kekasihnya (shaktinya) Siwa di Uttara Dipa. Durga juga bisa di pahami sebagai Kundalini. Saat mereka (kedua kutub) bertemu terjadilah persegamaan (penyatuan energi) agung dalam diri manusia; maka mereka akan melebur dan merefleksi energi- energi yang hayu, indah, segar, nikmat, durga menjadi cantik kembali (Uma) dan Siwa menjadi tenang - stabil (Parama), tarian energi tersebut akan merefleksi sifat mulia (budhi pakarti). Sat, cit, dan Ananda telah mengubah status diri manusia menjadi yang illahi. Pengalaman Oneness; manunggaling kawulo gusti.
Nah kembali pada Yoga- dalam bahasa Sansekerta mengacu pada Veda Kuno, Yoga di pahami sebagai kesatuan, mirip dengan Taya/Kapitayan (Nusantara), Tao (Tiongkok) dan bahkan Tauhid yang di agem Muhammad! Seluruh tradisi- tradisi pemberdayaan tersebut sesungguhnya memiliki keserupaan di wilayah timur yang berpancer/ berkiblat pada konsep kemenyatuan (oneness). Beda dengan stoikisme di barat yang menjalankan pemberdayaan diri dengan cara menghindar, memberi jarak, dan menjauh. Atau mungkin budaya soikisme itu telah menyusup dalam ajaran agama abrahamik yang kini menawarkan doktrin2 pelarangan dan pemisahan! Pada saat Mbah Alexander meng- ekspansi wilayah timur di Barat- awarsa (India). Waulloh hualam hihi.
Yoga - dalam prinsip Asthangga Yoga misal, bertujuan untuk menggerakan dan mengolah diri sebagai miniatur semesta untuk menuju produksi- produksi evolusiner yang berdaya, berkualitas, dan sempurna sebagaimana seluruh hakikat penciptaan itu yang sesungguhnya sempurna. Maka Yoga memberikan jalan menuju kesempurnaan dan keanggunan tanpa mengabaikan seluruh keberadaan yang berlangsung, bergerak dari pengolahan dan pengelolaan dalam tataran fisik menuju mental dan spiritual. Melihat bahwa tak ada yang terpisah di jagad raya! Melihat semua adalah kesatuan yang saling terkait. Tataran fisik - ketubuhan yang dianggap kotor dan lemah sesungguhnya adalah tanah media penampung akar dari bunga teratai mental dan spiritual - yang siap menuju kemekaran yang indah, anggun, cerah, dan menawan. Transformasi dari unsur kesetanan (kedagingan) menuju yang ketuhanan (kerohanian). Love, Light, Namaste ❤️❤️❤️❤️🙏🙏🙏
Tenang wae Mbok- Mbok sing sekseh tetep lanjutkan keberyogaanmu! Jadikan iblis dan setan bolomu nik nganti nganggu cekoki kopi! Tuman!.
Note;
.
Dalam tradisi jawa pemberdayaan orientasi fisik - disebut kanuragan (sekarang ya olahraga)- pencak silat, tari- tarian, dan dolanan bocah.
Dalam Islam pemberdayaan orientasi fisik itu adalah syariat (sembahyang lima waktu dan sunnah).
Setan bukan person! Setan adalah personifikasi! Kreasi manusia untuk menjelaskan suatu keadaan tertentu dalam fenomena energi dan kosmik.
Tunjung Dhimas Bintoro