My Quote

My Quote Berbagi Motivasi dan Informasi Menyegarkan

06/11/2016

Udara, Lautan, Langit, Matahari, Pepohonan, dan Kita.

Udara yang mengalir sepanjang bumi ini, sepanjang jarak yang terus menerus bergerak. Adalah udara yang sama, yang kita hirup atas kebaikan Tuhan yang tak pernah meminta imbalan atas setiap hembusannya. Udara yang mengalir ini adalah udara yang sama, yang mengenalkan kita kepada dunia. Dunia yang kita lihat bagaimana hamparan permadani yang indah sekaligus kengerian yang membuat kita ingin sembunyi di dalam kamar. Udara yang mengalir di dalam tubuh kita adalah udara yang sama, yang sejak kita lahir dunia ini telah mengenalkan kita meski kita belum mengerti saat itu.

Lautan yang setiap waktu bergelombang adalah lautan yang sama. Yang riaknya seperti tangis kita yang pecah seketika kita keluar dari rahim yang nyaman dan melindungi. Lautan yang saat ini kita tatap dengan penuh syukur dan ketakjuban adalah lautan yang sama yang terhubung satu sama lain, yang airnya adalah air yang sama yang bergerak melintasi ruang. Meski kita berdiri di tepi pantai yang berbeda.

Langit yang menaungi kita adalah langit yang sama, langit yang bertahun-tahun sebelumnya telah menjadi saksi atas perjalanan hidup kita masing-masing. Perjalanan yang jauh, melintasi siang dan malam, bangun saat pagi menyingsing, dan bermimpi saat bintang-bintang bertaburan. Impian yang kemudian membuat perjalanan kita bertemu suatu hari nanti. Langit itu adalah langit yang sama, yang kita pandang setiap hari selepas dhuha.

Matahari itu pun tidak pernah berubah. Kalau kita tidak pernah saling mengenal bertahun-tahun sebelum ini, maka aku ingin mengatakan kepadamu bahwa kita mengenal sesuatu yang sama sejak kecil, namanya matahari.

Pepohonan yang terus tumbuh, terus menghidupi kita saat ini adalah pepohonan yang bisa jadi berganti. Tapi kita tahu, ia terus tumbuh demi kita melanjutkan hidup. Pepohonan yang mengorbankan dirinya demi memberi masa kepada kita untuk bertemu saat impian yang dulu pernah lahir di malam-malam, bertemu di perjalanan.

Dan kita adalah dua orang yang tidak pernah saling mengenal bertahun lamanya. Dipertemukan dalam keadaan yang asing. Tidak ada celah pengetahuan yang memadai untuk kita bisa ketahui, tapi kita telah mengenal Tuhan yang sama. Tuhan yang menciptakan udara, lautan, langit, matahari, pepohonan, juga kita.

Dan kita paham jalan hidup kita ternyata bertemu, saat mimpi kita beradu, saat kekhawatiran kita menguap, dan saat pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawab. Dan waktu tidak bersedia berhenti sejenak, sebab itu kita segera bersepakat.

20/08/2016

“Manusia. Meminta ini itu hingga kadang memaksa. Ibadah belum sempurna, bilangnya sudah berusaha maksimal. Padahal diri sengaja mengikuti godaan setan. Bahkan gadget pun dijadiin taghut.”

— Istighfar sebanyak-banyaknya selagi masih ada waktu. Kamu yakin besok pagi masih bisa menyaksikan sang fajar memancarkan sinarnya?

20/08/2016

thoughts

Ini bukan saya yang nulis, nemu di Tumblr :D

karena, segegabah-gegabahnya laki-laki, seceroboh-cerobohnya laki-laki, laki-laki pasti telah berpikir lebih dari tiga kali untuk melamar seorang perempuan. karena, puncak perjuangan laki-laki melakukan kebaikan untuk perempuan adalah melamarnya. bahkan bisa dibilang, satu-satunya kebaikan yang bisa diperhitungkan.

sehingga, seberapa banyak pun laki-laki telah memberi kebaikan, kalau tidak melamar, bisa jadi kebaikan tadi tak berarti. sehingga, seberapa banyak pun laki-laki pernah memberi kebaikan kepada perempuan lain, kalau ternyata kita yang dilamar, kebaikan untuk perempuan lain tadi juga tak berarti.

bagi laki-laki, meminta perempuan untuk dinikahi pertama kali kepada orang tuanya jauh lebih mendebarkan menegangkan menakutkan membuat keringat bercucuran dan kaki-kaki lemas daripada akad nikah. laki-laki selalu rasional. mereka tau tanggung jawab apa yang mengikuti tindakannya. apalagi soal menikah.

karena bagi perempuan, dilamar itu rezeki. di tengah kenyataan banyak perempuan yang belum bertemu jodohnya, seharusnya perempuan bersyukur jika dilamar. sehingga, jika tidak ada sesuatu pun yang menghalangi, sebaiknya perempuan menerima lamaran tersebut.

kesimpulan:
siapakah laki-laki baik? laki-laki yang berani melamar. siapakah perempuan baik? perempuan yang ikhlas menerima lamaran.

19/08/2016

Cinta yang Sederhana

Apakah cinta yang sederhana itu?

Apakah sesederhana kata-kata yang tak sempat terucap? Apakah sesedehana kayu kepada api yang menjadikannya abu? Apakah sesederhana isyarat yang tak sempat dikatakan oleh awan kepada hujan yang menjadikannya tiada?

Cinta yang sederhana.

Sesederhana cinta seorang ABDURRAHMAN BIN AUF yang begitu rela meninggalkan semua harta bendanya yang berada di Makkah demi mengikuti Rosulullah hijrah ke Madinah.

Sesederhana cinta ABDULLAH BIN MAS'UD yang rela dipukuli kaum Quraisy demi melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara lantang didepan Ka’bah guna bisa meluluhkan hati kaum Quraisy.

Sesederhana seorang ZAID BIN HARITSAH yang rela tubuhnya terluka parah ikut berdarah-darah demi melindungi Rosulullah yang dilempari batu oleh penduduk Thiaif untuk mengajak mereka memeluk agama Islam.

Sesederhana seorang UWAIS AL QARNI yang harus rela memendam rindu untuk bertemu dengan Rosulullah demi untuk merawat ibunya yang sudah tua dan buta serta sakit-sakitan.

Sesedernana cinta seorang ABU BAKAR yang kakinya rela digigit ular di Gua Tsur demi tak ingin membangunkan Rosulullah yang tertidur pulas dipangkuannya.

Sesedernana ABU DZAR AL-GHIFARI yang berjalan sendirian dalam jarak ratusan kilometer untuk menyusul mengikuti ekspedisi perang Tabuk.

Sesederhana RAFI' BIN HARIST yang rela meninggalkan Maria, wanita nasrani tunangannya, yang amat dicintai, demi agama Islam yang waktu itu baru saja dipeluknya.

Sesederhana BILAL BIN RABBAH yang rela dipanggang dan disiksa dibawah panasnya batu besar pada teriknya suasana gurun demi tetap berpegang teguh kepada agama Islam.

Sesederhana UMAIR BIN WAHAB yang rela berjalan kaki berbolak-balik dari Makkah menuju Laut Merah lalu ke Makkah lagi dan kembali lagi ke Laut Merah demi mengajak agar sahabatnya, Sofwan bin Umayyah, bisa mendapat hidayah Islam seperti dirinya.

Sesederhana KHABBAB BIN ART yang begitu sabar ketika besi panas diletakkan dikepalanya dan diinjak dadanya demi mempertahankan keIslamannya meskipun tak ada satupun yang membelanya waktu itu.

Sesederhana apakah cinta kita dibandingkan dengan perjuangan-perjuangan ini? Sesederhana apakah cinta kita terhadap teman-teman kita? Sesederhana apakah cinta kita kepada Allah? Mungkin, hanya kita yang mengetahui jawabannya.

19/08/2016

“Generasi dakwah share-copas. Karena yg share katanya ustadz, keliatan ada bahasa arabnya, ada gelar syekh yang kecantum, kaliatan ada tulisan arabnya. Seolah jadi hukum. Lalu setelah itu mengkhukumi dan menganggap amalan orang lain pasti salah.”

— Kadang heran aja, baru baca artikel segaris aja udah nuduh orang lain salah padahal yang dituduh itu udah melahap kitab2 fiqih, hadist hingga nahwu dan bertaun2 belajar agama. Dunia makin aneh.

19/08/2016

Ada yang tanya "kok rajin banget bikin posting tulisan yang kadang panjang banget, ada aja yang bisa di tulis, buku apa sih yang dijadikan referensi dalam menulis?"

Saya menulis untuk mengingatkan diri bahwa masih banyak yang harus diperbaiki. Terkadang juga sebagai catatan tentang apa yang harus dilakukan di waktu-waktu kedepan, apa yang kira-kira bisa jadi bahan renungan. Saya hanya menulis apa yang sedang atau pernah terlintas di pikiran. (Kadang juga nulis tentang perasaan dan nasihat untuk/sebagai teman seperjalanan, nah ini yang berat dan kontroversi)

Saya s**a mendengar nasihat. Dan ada yang paling butuh untuk kita nasihati yaitu diri kita sendiri baru setelah itu mungkin orang lain, untuk itu saya menulis. Nasihat bisa dalam bentuk apapun, bahkan dari sebait syair dan puisi, dari seikat sajak, atau dari sebuah kisah dan percakapan. Jadi jangan pernah meremehkan nasihat apapun, baik yang sejuk atau yang nyinyir. Tugas kita untuk pandai-pandai menangkap hikmah dan pelajarannya. Orang bijak dan berilmu tau mana yang baik untuk diterima dan mana yang tidak.

Tentang buku, banyak! coba baca karya-karyanya DR. ‘Aidh Al-Qarni untuk teman perjalanan. Beliau salah satu ulama kontemporer yang produktif menulis. Aqidahnya bagus, lurus, tulisannya juga mudah dipahami, nyaman dibaca juga seringkali ‘menampar’ dengan lembut. Ada lagi kumpulan karyanya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani juga nonjok sekali rasanya. Reminder keras.

19/08/2016

“Karena pada akhirnya, sebuah tulisan hanya akan menjadi tulisan tanpa makna jika yang membacanya tak ikut mengamalkan.”



Saya menulis bukan karena kewajiban, bukan demi ketenaran, bukan untuk menjadi bagian dari suatu perkumpulan. Saya menulis sebagai bentuk self reminder yang suatu saat akan menampar diri saya sendiri jikalau yang saya lakukan tak seindah dengan yang saya tulis.

Mohon doanya.
Semoga istiqamah. Aamiin

18/08/2016

“Kalo dia yang ngode aja, kamu peka. Coba giliran Dia yang ngode, kamu malah pura-pura ga peka. Dasar manusia.”

— Manusia masa kini

18/08/2016

“Kenapa rindumu kepada sesama manusia masih melebihi rindumu pada Sang Baginda Rasul? Padahal cinta Beliau pada kita tak mampu terbalas dengan apapun..”



Rindu kami padamu, Ya Rasul. Rindu, meski lisan masih jarang terbasahi oleh shalawat atas dirimu.

18/08/2016

“Bagaimana bisa kau anggap dirimu hebat jika yang kau lakukan hanya melulu merendahkan teman dekat hingga sahabat.”

— Tabokin diri sendiri gih!

18/08/2016

“Bahwa diri ini masih terlalu jauh dari kata ‘baik’. Maka tak pantas jika aku dengan mudahnya mengecap teman yang melakukan sesuatu yang tak dianjurkan sebagai seorang yang buruk dan akan selalu buruk. Aku adalah cermin dari kalian. Bagaimana mungkin aku tega menjelekkan diriku sendiri?”

— Kadang diri ini merasa jauh lebih suci dari orang lain. Padahal hati masih dipenuhi ribuan titik hitam yang semakin hari seakan makin menjamur, mencoba mengaburkan hingga menghilangkan warna putih yang pada awalnya bersih, suci, tanpa penyakit hati.

18/08/2016

Ketika Lelaki Menjelaskan Masa Depannya...

Padamu, Ladies.

Lelaki biasanya tak s**a bercerita. Meski tak semuanya begitu, lelaki memang seakan akan tak terbiasa untuk meluahkan seluruh isi kepalanya lewat sepasang bibirnya. Bila memang inginnya bungkam, maka seluruh dunia terkadang tak dapat menebak apa isi pikirannya.

Tetapi seiring bertambahnya kedewasaan, ada pola-pola tertentu yang mewarnai lika-liku hidupnya. Bila telah sampai pada suatu pemahaman, lelaki akan mengetahui bahwa kodrat hidupnya akan dipenuhi dengan pertanggungjawaban. Seketika ia sadar, bahwa genggaman tangannya suatu saat akan menjadi pelindung jiwa-jiwa yang dikasihinya, entah itu orangtuanya, saudara terdekatnya, hingga kekasih tercintanya nanti.

Bila memang lelaki ditakdirkan menjadi pemimpin, menjadi penentu kemana arah hidup menuju, maka ia akan paham seiring waktu. Ia tak mungkin lagi sembarangan memilih peran, pelan-pelan telah ditinggalkannya jiwa kekanakan. Suatu saat, lelaki itu pun akan menggeliat perlahan, menatap matahari lebih lama untuk terbiasa menghadapi sengatan kehidupan. Ayahnya, dan lelaki dewasa lain yang telah dahulu daripadanya, akan selalu mengajarkan bahwa lelaki harus lebih kuat dan menjadi yang terkuat. Hingga kekuatan itu dapat digunakan untuk melindungi orang yang dikasihi, seperti Ayahmu melindungi ibumu dan kamu, ladies. Seperti itulah menjadi lelaki, maka telah dewasalah ia.

Oleh Tuhan, dikaruniailah sang lelaki dengan kemampuan menalar, visi sederhana sebagai pemimpin untuk mempersiapkan apa yang terjadi di masa depan. Bila ingin diakui sebagai seorang pria, maka lelaki harus tahu apa yang akan diperjuangkannya nanti. Kebanggaan sekaligus tanggungjawab yang nantinya akan diemban, mengajarkannya arti perencanaan. Di kepalanya telah tersusun berbagai langkah, hingga padu padan tantangan sekaligus masalah di depan. Bila tentang visi dirinya sendiri ia telah selesai dan tercapai, maka prioritas penting selanjutnya adalah melindungi dan membahagiakan orang yang dikasihinya. Dan tahukah ladies, suatu saat akan tersisip pelan-pelan namamu dalam sanubarinya… seseorang yang nantinya wajib dibahagiakannya. Hingga lebih jauh, sadarlah ia akan mempersiapkan kedatangan buah hatinya ke dunia, mempersiapkan dan mengawal tumbuh kembangnya, melindungi keluarga dengan segenap kekuatan hingga akhir hayatnya.

Begitupun karena lelaki bersandar pada kekuatan logikanya, maka rencananya akan sampai pada hal-hal realistis yang tampak di matanya begitupun yang dipahaminya. Bila telah bekerja, yang tampak di pikirannya adalah apakah gajinya cukup atau tidak untuk menghidupi keluarganya, seberapa besar rumah yang ia butuhkan, bagaimana ia mencukupi dana pendidikan, bagaimana ia mencukupi dana kesehatan dan lain sebagainya. Ketika ada beberapa hal yang harus kita sadari ketika kecil, bahwa ketika Ibu kita menyuapi makanan pada kita, bermain dengan sekotak mainan di rumah yang nyaman.. percayalah, disana ada peran Ayah yang begitu besar meski ia tak selalu ada disana. Karena begitulah lelaki bekerja.

Maka, ladies..

Bila disampingmu kini telah ada lelaki dewasa itu, maka beruntunglah. Apabila selama ini ia telah membersamaimu dan selalu bersabar mendengar celotehanmu, maka akan ada saatnya kau harus mendengar untaian rahasia yang telah dipendamnya begitu lama. Kau akan tahu ia lelaki seperti apa, apabila ia harus menjelaskan masa depannya. Ketika lelakimu telah menjelaskan rencana masa depannya akan bagaimana, maka kau boleh menjadi saksi bahwa telah hampir sempurnalah pemahamannya mengenai kehidupan. Apalagi dalam sebait kalimatnya, tersisip namamu yang akan diwujudkannya dalam waktu dekat untuk meyakinkanmu… maka hendaknya telah teguhlah pilihan cintamu.

Kau boleh mencintainya, ladies. Tapi jalan hidupmu takkan pernah bisa teguh tanpa pondasi masa depan. Logika yang hendak kuluruskan adalah bahwa lelaki yang penuh rencana pun bisa jadi masa depannya akan penuh tantangan diluar kehendaknya, apalagi yang tidak punya rencana! Meski memang harus diyakini, bahwa rencana Tuhanlah yang paling baik.

Kau boleh mabuk kepayang padanya, ladies. Tapi lelaki yang datang tanpa rencana haruslah membuatmu ragu. Hati-hati pada perasaanmu, karena wajiblah ia seimbang dengan logikamu. Seberapa jatuhpun hatimu padanya, maka cobalah kau uji seberapa teguh lelakimu. Bila didepanmu saja tak meyakinkan, apalagi nanti di depan orangtuamu!

Namun, kau boleh saja meragukannya,ladies. Bahkan bila ia datang tanpa bukti, apalagi bila ia tak punya apa-apa. Tapi seberapa besarpun ragumu, hendaknya kau lihat seberapa besar keteguhan karakternya untuk memperjuangkanmu. Bila tanpa ragu ia jelaskan rencananya padamu begitupun dihadapan orangtuamu, maka turutilah nuranimu, meskipun ia belum mempunyai apa-apa yang dapat dibuktikannya. Tentu saja pemahamannya tentang arah hidup, karakter, serta rencananya akan menjadi modal besar mengarungi kehidupan, bila nanti ditakdirkan Tuhan untuk bersamamu.



Ladies, percayalah, lelaki yang telah matang seperti itu akan sampai pada pemahaman bahwa ia tak butuh pada perempuan yang meragukannya. Bila masihpun ragu, maka tak segan ia akan pergi dan memilih yang lain. Maka bila ia telah datang kepadamu dengan jalan terbaik nan suci, hendaknya tak ada lagi ragu yang tersemat di dadamu. Ketika ia nanti memintamu untuk menemaninya, maka yakinlahlah bahwa Ia akan berusaha dengan keras untuk menggenapi rencana dan janjinya. Seperti yang Ayahmu dan Ayahnya lakukan, pun seperti yang lelaki terbaik di dunia ini telah contohkan.



Bersiaplah ladies, untuk suatu saat apabila datang seorang lelaki yang menjelaskan masa depannya dihadapanmu :)

Address

Tangerang
15418

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when My Quote posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share