20/02/2024
LASMI KUNTILANAK MERAH
Part #10
di mimpi itu, Lasmi baru saja melahirkan anak laki-laki yang tampan. Lasmi sangat cantik sekali jadi ibu muda dan Asep jadi ayah yang kikuk. ... mengurus bayi. Lasmi tersenyum melihat Asep yang kegirangan sendiri menggendong anaknya.
saat anak mereka tertidur, Lasmi menyampaikan keresahannya. "Akang, Lasmi teh cinta sama Akang. Jangan pernah tinggalkan Lasmi ya, 'A," ucap Lasmi lirih.
Asep tertegun mendengarnya.
"Akang janji nggak akan pernah ninggalin Neng." Asep memeluk Lasmi, mengecup keningnya.
Lasmi menangis dan mengeratkan pelukannya. "Maafin kesalahan Neng. Maaf Neng nggak bisa nemenin Akang setelah ini. Akang sehat terus, yah."
di mimpi itu, Lasmi mengutarakan isi hatinya. 😭
di mimpi yang singkat itu, Lasmi menyampaikan perasaannya. dia memandangi wajah Asep yang tertidur dan menitikkan air mata.
Lasmi sangat berharap semoga saja Asep mengetahui perasaan Lasmi yang begitu mencintainya, dan tidak ingin kehilangannya, bahkan saat Lasmi sudah tiada.
paginya, Asep bangun lalu memasak air di tungku, membuat kopi dan pisang kukus. dia menikmatinya di meja makan sambil mengingat mimpi semalam yang terasa sangat nyata.
kopinya pahit, begitu p**a kerinduan Asep. tidak ada lagi wedang jahe buatan Lasmi untuk paginya yang sepi.
sedang termenung, tiba2 Asep merasa kakinya keram, merambat sakit yang menyiksa. Asep menahan sakitnya, dia menarik napas perlahan-lahan.
Lasmi datang dan kaget melihat Asep yang sedang menderita.
"Kang, yang kuat," ucap Lasmi meski dia sadar Asep tidak bisa mendengarnya.
saat rasa sakit di kakinya mereda, Asep sadar sakit yang dideritanya semakin parah. Asep perlahan2 beranjak dengan susah payah untuk mengambil air putih, sebelum siap2 bekerja.
Lasmi hanya memandangi Asep dengan tatapan sedih melihat sang suami sakit dan susah dalam kesendirian.
"Assalamualaikum, Sep."
itu suara Dadang, tim sinden Asep hari ini mengisi hajatan di kampung sebelah.
Part #20
"Assalamualaikum, Sep."
itu suara Dadang, tim sinden Asep hari ini mengisi hajatan di kampung sebelah.
"Walaikumsalam, Dang. Sebentar!"
"Saya tunggu di sini aja, Sep. Yang lain udah nunggu di bawah."
Asep meraih sulingnya, dia melangkah ke depan rumah dengan kaki yang sakit.
mereka pun berjalan bersama tim sinden ke kampung sebelah untuk mengisi acara hajatan pagi itu. Lasmi pun mengikutinya dari jauh.
sesampainya, Asep mengedarkan pandangan sembari mengelap suling. hajatannya sangat meriah untuk pribumi. mungkin ini acara anak bangsawan, pikirnya.
"Ini teh Asep anaknya Pa Jajang?" tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya rapi.
"Eh, iya Bu muhun," jawab Asep kikuk. timnya masih mempersiapkan alat2.
"Ya ampun, gimana kabarnya, Sep?"
"Alhamdulilah baik, Bu." Asep tersenyum sopan sambil mengingat wanita itu.
"Bu Nani?" Asep akhirnya ingat, wanita itu teman baik ayahnya.
"Iya, mamahnya Nenden. Main atuh ka imah. Udah lama kamu gak main, ih. Gak kangen Nenden?" Bu Nani terkekeh.
"Iya Bu, insya Allah saya berkunjung," balas Asep, timnya sudah melirik2.
Bu Nani paham, dia pun melipir.
Asep dan tim pun mulai bermusik. Asep meniup suling dan Lasmi duduk di belakangnya.
"Akang, Neng teh kangen pisan nyinden bareng Akang lagi..." batin Lasmi.
namun, perhatian Lasmi teralihkan. dia melihat Bu Nani duduk di barisan paling depan bersama perempuan berwajah manis.
Lasmi terbang di depan mereka.
"Nenden itu ada Kang Asep, gak mau ketemu?" tanya Bu Nani.
"Memang ada Kang Asep?" Nenden kaget.
"Itu di pojok kanan. Sejak kamu kerja di kota kamu gak pernah lagi ketemu Kang Asep, kan? Sok geura nanti temuin."
"Iya," ucap Nenden semringah.
Lasmi kenal Nenden. dulu Asep pernah cerita bahwa Nenden adalah teman kecilnya dan orang tua mereka sempat 'mencomblangi'. tapi Asep tidak sreg dengan Nenden.
Lasmi pun pernah bertemu Nenden ketika kakaknya Nenden menikah, Lasmi hadir dengan asep untuk kondangan.
Lasmi resah.
setelah tim sinden selesai, Nenden langsung menemui Asep. Dadang sempat penasaran, tapi dia membiarkannya.
"Kang Asep, gimana kabarnya?" Nenden tersenyum lebar.
"Eh Nden, kamu di sini juga. Alhamdulillah baik." Asep tersenyum sopan.
"Iya, Kang. Nemenin Ibu."
Asep mengangguk
"Oh, kamu baru p**ang dari kota, Nden?"
"Nden udah gak kerja di kota lagi, Kang. Majikan Nden p**ang ke Belanda," jawab Nenden.
Part #21 ..LASMI..
Lasmi menatap mereka berdua dengan penuh keresahan. Lasmi takut Asep kelak bersama Nenden. di sisi lain, Lasmi tau Nenden adalah perempuan yang baik.
"Saya pamit dulu, Kang."
"Iya Nden, hati2 ya. Salam buat Ibu."
"Iya, Akang juga! Nanti mampir ya ke rumah," seru Nenden.
Asep terdiam sejenak sebelum menghampiri tim sinden yang bersiap p**ang.
Dadang yang sedari memerhatikan pun bertanya, "Sep, siapa itu? Geulis juga."
"Temen kecil saya," jawab Asep.
"Atuh geulis pisan, Sep. Siapa namanya?"
"Nenden." Asep terlihat kurang nyaman. dia lanjut berjalan bersama rombongan tim.
Dadang meledek Asep soal rencana 'mendekati'. Lasmi yang mengikuti rombongan pun geram. Lasmi mendekati Dadang.
"Euy, Sep merinding siah." Dadang mengusap tengkuknya. Artinya "sep merinding gini".
"Merinding kenapa, Dang? Saya biasa aja tuh. "
"Teuing, asa tiris juga, euy."
Artinya "gatau, kaya dingin juga euy".
Lasmi tertawa kecil, dia sebetulnya tidak marah dengan Dadang, hanya kesal karena Dadang membahas soal Nenden di saat seperti ini.
Asep berpisah dengan tim, berjalan santai menuju rumahnya melewati jalan menanjak. Asep mengenang momen kala bersama Lasmi p**ang menyinden. Di jalan ini mereka bergenggaman tangan dan membahas masa depan.
Tak terasa air mata Asep menetes, dia membatin, "Neng, Akang kangen. "
Lasmi yang berada di belakang Asep, ingin sekali memeluk dan menguatkannyanya, tapi lagi2 Lasmi tidak dapat berbuat apa2. Lasmi hanya seolah memeluk Asep, dia dapat merasakan betapa hati suaminya itu sangat sedih.
"Lasmi juga kangen, Akang," ucap Lasmi tepat di telinga Asep.
sesampainya di rumah, Asep langsung tidur. Lasmi pun tau diri untuk tidak berada di dekat Asep agar suaminya bisa tertidur lelap.
"Tidur yang nyenyak, A." Lasmi tersenyum saat Asep terpejam.
setelahnya, Lasmi duduk pohon dekat rumah. sambil uncang2 angge, dia teringat Odong.
saat malam, Lasmi ke rumah si supir yang menabraknya. dia melihat Odong sedang tidur di sebelah ibunya. Lasmi menatapnya dengan perasaan bersalah. kemudian, Lasmi duduk di sebelah Odong, mengusap2 kepala Odong lembut sambil tersenyum. Odong semakin terlelap tidurnya malam itu.
paginya Lasmi kembali ke rumah. dia kaget mendapati Nenden duduk di teras dengan Asep. tersuguh tape dan ubi kukus di meja.
"Kang, Nden turut berduka cita. Nden tau dari Ibu." Nenden sedih.
"Iya, Nden, nuhun ya." Asep tertunduk.
"Dimakan ya, Kang. Nden cuma mampir sebentar."
"Oh iya, Nden."
Part #22 LASMI
"Kalo akang gak keberatan, nanti malam Nden mau ajak Akang."
"Ke mana?"
"Anak majikan Nden nikah. Nden diundang, tapi Nden takut kalo sendiri, banyak Londo yang genit. Kalo akang mau itu juga," ucap Nenden sungkan.
Asep terdiam, mempertimbangkan ajakan itu.
"Yaudah nanti Akang temenin. Tapi Akang pake baju apa yah?"
"Ih si Akang, baju biasa aja atuh." Nenden tertawa kecil,
lalu Nenden pamit dengan senyuman.
Lasmi yang memandangi mereka merasa sangat bersedih. Lasmi menangis, takut sekali Asep akan melupakannya cepat atau lambat.
malam pun tiba. Nenden datang ke rumah Asep, dia sudah rapi dan siap berangkat. berbekal lampu corong yang dipegang Asep, Nenden menuntun menuju lokasi. mereka menyusuri pinggir hutan agar cepat sampai tanpa banyak bicara.
Lasmi mengikuti mereka dari belakang, menahan sedih.
sesampainya, Nenden menyerahkan kertas undangan di pintu masuk, lalu mengajak Asep ke dalam. pesta sangat meriah, berbagai makanan lezat tersaji, dan musik pun terdengar ceria. tapi, terlihat perbedaan strata sosial antara kaum Londo dan pribumi, kecuali bangsawan yang hadir.
Nenden menyusuri keramaian, lalu dia menghampiri meja teman2nya dengan senyum lebar.
"Nden! Kirain kamu teh gak dateng," seru temannya. "Wah, saha eta?"
sontak teman2nya yang lain lirik2an.
"Ini Kang Asep." Nenden mengenalkan Asep antusias.
"Saya Asep." Asep sedikit kikuk.
"Pacar kamu?" tanya temannya lagi.
"Bukan, Kang Asep anaknya teman ibu." Nenden menunduk malu.
"Oh, kirain, kasep pisan." Temannya cekikikan.
Lasmi yang berada di depan jendela hanya bisa meratapi mereka. perlahan, Lasmi mulai menerima bila Asep membuka hatinya untuk Nenden.
Asep mengobrol dgn teman2 Nenden sementara Nenden mengambil camilan.
"Nden, punten," bisik teman Nenden yg lain. "Eta Asep yg s**a ngiringin musik hajatan ya?"
"Iya Kang, kenal Kang Asep?"
"Bukan kenal sih, tapi istrinya kecelakaan dekat rumah saya. Makanya kaya pernah lihat."
"Oh iya, betul Kang," balas Nenden.
"Seinget saya ada setahun yang lalu. Meni karunya yah, dilihat mah bageur orangnya."
Nenden mengangguk, dia melirik Asep yang sedang menanggapi teman2nya. Nenden merasa iba. ada rasa ingin menemani Asep agar pria itu tidak merasa kesepian.
Lasmi dapat merasakan kehendak itu, tapi Nenden menggeleng.
Part #23
"Aduh naon sih," batinnya, lalu memanggil Asep. "Kang Asep, sini!"
"Iya Nden, kamu udah mau p**ang?"
"Em, sebenernya belum, tapi kita p**ang aja deh kayanya mah acaranya sampai malam."
"Oh, yaudah atuh." Asep menurut.
Nenden pun berpamitan kepada teman2nya, Asep hanya tersenyum sopan.
sekeluarnya dari acara, mereka kembali menyusuri hutan, Lasmi pun mengikuti.
"Kang, kalau butuh sesuatu, bilang Nden yah." Nenden memecah keheningan.
"Eh iya, tapi Akang belum butuh apa2 kok," balas Asep.
Nenden perlahan2 memegang lengan Asep. "Nenden takut jatuh, Kang."
Asep sempat refleks menarik lengannya. "Oh iya, hati2 atuh," jawab Asep datar, membiarkan lengannya dipegang.
Lasmi memperhatikan gerak-gerik Nenden yg seakan ingin memanjangkan obrolan di tengah keheningan.
Asep merasa kakinya kesemutan, langkahnya terhuyung. Nenden menyadarinya. "Kenapa, Kang?"
"Nggak apa2, Nden." Asep menggeleng.
sesampainya di rumah Nenden, Bu Nani menyambutnya. "Hatur nuhun, Sep. Masuk dulu atuh."
"Sami2, Bu. Saya langsung p**ang aja," Asep tersenyum sopan.
"Nden, ambilin Asep minum," perintah Bu Nani.
"Nggak usah, Bu. Udah malam soalnya." Asep sungkan.
Nenden dan ibunya saling memandang. "Ya udah hati2, Sep. Nanti mampir yah ke sini."
"Hati2, Kang." Nenden menatap Asep khawatir.
"Hatur nuhun, assalamualikum." Asep pun pergi.
Asep kembali menyusuri jalan hutan yang licin. pandangan Asep mengabur, tiba2 Asep terpeleset dan terguling, kakinya sobek terkena akar pohon.
"Akang!" teriak Lasmi, dia ingin sekali menolong, tapi tidak bisa berbuat apa2. Lasmi hanya menangis, lalu pergi ke rumah Nenden.
Nenden yg sedang termenung di bale rumah mencium bau anyir, sebab Lasmi di sampingnya, berharap Nenden melihat ke arah hutan yg tidak jauh dari rumahnya.
"Ih, bau apa yah ini." Nenden mual, tidak enak hati.
saat Nenden ingin masuk, matanya menangkap setitik cahaya dari hutan.
Nenden pun berjalan menuju hutan, perasaanya tak karuan, takut bila cahaya itu berasal dari lampu corong milik Asep.
Nenden mendekati cahaya itu dan benar lampu corong tergeletak.
Nenden meraihnya, menerangi ke segala arah, lalu melihat Asep memegangi kakinya. "Ya Allah, Kang!"
Nenden turun ke bawah dgn hati2. Asep meringis kesakitan. Nenden membopong Asep sambil memegang lampu corong.
"Akang nggak apa2, Nden," ucap Asep lemah.
"Nggak apa2 gimana? Akang lagi sakit begini!"
Nenden membopong Asep pelan2 ke rumahnya. dia berteriak, "Bu, tolong!"
Bu Nani lantas keluar.
Part #24
Nenden membopong Asep pelan2 ke rumahnya. dia berteriak, "Bu, tolong!"
Bu Nani lantas keluar. dia kaget melihat Nenden membopong Asep yang kakinya berlumuran darah. "Ya Allah, Sep! Sebentar, ibu ambil obat dulu."
Sabar ya Kang, Nenden ada obat dari Bapak, dulu kerja sama orang Cina," ucap Nenden setelah mendudukkan Asep di bale.
Asep mengangguk.
Bu Nani membersihkan kaki Asep, lalu Nenden mengoleskan obat. Asep sampai berteriak saking perih dan kramnya. Lasmi hanya menangis.
"Kang, kuat ya, Kang. Maaf Neng nggak bisa bantu," ucap Lasmi.
Nenden menatap Asep sedih. "Kang, malam ini tidur di sini aja yah. Jangan nolak."
Asep menurut, tidak mungkin juga dia memaksakan p**ang. Lasmi memperhatikan Nenden menyiapkan kamarnya untuk Asep. lalu, Lasmi duduk di samping Asep, seolah menyentuh pundaknya, berharap dapat menenangkan suaminya. Asep hanya merasakan hawa dingin, tapi tidak menghiraukannya.
Lasmi hanya pasrah melihat Asep dibopong Nenden ke kamar, lalu direbahkan.
"Kang, Nden di kamar Ibu yah. Kalau ada apa2 panggil aja. Nden pasti bangun."
"Iya, Nden. Hatur nuhun, maaf Akang merepotkan," ucap Asep.
"Nggak kok. Akang istirahat yah." Nenden pun keluar dari kamar.
paginya, sebuah andong sudah siap mengantar Asep p**ang. Bu Nani pun memberikan kain berisi bahan makanan. Asep makin tidak enak.
"Bu, Nden, maaf saya jadi merepotkan."
"Nggak apa2, Sep. Bapa kamu teh juga banyak bantu Ibu," balas Bu Nani. "Nden temenin Asep sampai rumah, yah."
"Nggak usah, Bu."
"Nggak apa2, Nden sekalian bantu beresin rumah. Hayuk!" Nenden langsung membopong Asep naik andong.
Asep tidak bisa mencegahnya. Bu Nani melambaikan tangan, andong pun berjalan pelan.
Asep dan Nenden saling terdiam, sesekali mereka beradu tatap lalu menunduk.
Lasmi yang mengikuti mereka cuma bisa pasrah. berat baginya jika harus mengikhlaskan Asep dengan Nenden. namun, Lasmi pun tidak tega jika Asep yang sakitnya sudah separah ini hidup sendirian.
Lasmi mulai berpikir untuk membiarkan Asep memutuskan pilihan, terbaiknya kelak.
sesampainya di rumah Asep, Nenden membopongnya duduk di ruang tamu.
"Punten yah, Kang, Nden izin beresin rumah Akang," ujar Nenden.
"Nggak usah, biar Akang aja nanti."
"Nggak apa2, Kang. Biar rumahnya bersih, kalo kotor gini bisi Akang makin sakit."
Asep akhirnya mengangguk.
Nenden lalu merebus singkong dan air sementara Asep beristirahat. saat menyapu kamar Asep, Nenden termenung memandangi foto pernikahan Asep dan Lasmi di nakas.
Part #25
Bahkan di samping bantal, ada selembar foto Lasmi.
Nenden tersenyum, berusaha menerima bila Asep belum melupakan Lasmi.
"Nden..." panggil Asep.
karena tak kunjung dijawab, Asep berjalan tergopoh2 ke kamar. dia menyingkap tirai lain, lalu mendapati Nenden sedang memegang foto Lasmi.
"Kalau saya boleh cerita, saya mencintai Lasmi selamanya, Nden," ucap Asep.
Nenden menoleh, lalu mengangguk paham.
Lasmi yang sedari tadi memandangi Nenden dari jendela kamar menangis haru. Lasmi tidak pernah menyangka bahwa ucapan itu akan didengarnya. padahal, Lasmi sudah mulai mengikhlaskan Asep jika kelak bersama Nenden.
Lasmi sadar dia mencintai orang yang tepat, yaitu cinta pertamanya.
"Iya, Kang. Saya tau." Nenden kembali foto Lasmi dengan raut tabah.
"Maaf ya, Nden," ujar Asep tulus.
Nenden lanjut membereskan rumah sementara Asep duduk di kasur, memandangi foto Lasmi. Lasmi pun seolah menyandarkan kepalanya di bahu Asep. suaminya itu mengusap pelan fotonya.
Lasmi lalu mengamati Nenden yang mencuci baju Asep di belakang.
"Seenggaknya saya bisa bantu Akang," ucap Nenden kepada dirinya sendiri sembari mengelap keringat.
mendengarnya, Lasmi jadi terketuk. dia pun seolah mengusap punggung Nenden.
"Hatur nuhun yah, Nden," bisik Lasmi.
setelah menjemur pakaian, Nenden hendak pamit p**ang. namun, dia melihat Asep sedang tidur di kamarnya. Nenden tidak tega membangunkan. dia hanya meletakkan segelas air putih di nakas, lalu keluar rumah untuk naik andong di pengkolan.
Lasmi mengiri perjalanan Nenden p**ang.
"Meni kusut pisan, Neng," tegur kusir andong di tengah perjalanan.artinya "kok cemberut gitu neng" Itu maksudnya lah yah🙏😅
"Eh, teu nanaon, Pa." Nenden tersenyum, lalu hening.artinya "eh ngga apa apa, pak".
Lasmi menatap Nenden yang terdiam, terlihat jelas raut Nenden yang lesu. perlahan, Lasmi pun ikhlas jika Nenden memang ingin merawat Asep.
sampai di rumah, Bu Nani langsung bertanya, "Nden, Asep kumaha keadaannya?"
Part #26
"Udah mendingan, Bu," jawab Nenden pelan.
"Kamu teh kenapa? Lesu pisan."
"Gapapa, Bu. Nden mau istirahat dulu yah." Nenden masuk ke kamarnya, Lasmi pun ikut masuk.
Bu Nani hanya memandang heran.
Nenden meratapi langit2 kamar, dia mengingat masa kecil kala dia dan Asep sering bersama.
keluarga mereka sangat dekat. dulu, Nenden sering menemani Asep memanen tomat dan bermain. setiap sore, Nenden ke rumah Asep untuk mengantarkan pisang dan ubi rebus, lalu pergi ke surau.
suatu hari, Nenden diajak ayahnya, Ageng, bekerja di Batavia. Nenden awalnya menolak, tapi dia berusaha untuk berbakti kepada sang Ayah.
Ageng bekerja untuk usaha keluarga Tionghoa, majikannya meminta Ageng mencarikan pembantu untuk menjaga anak rekan bisnis Londo-nya di sana.
Ageng dijanjikan komisi besar jika dia bisa mencarikan pengasuh yg dapat dipercaya. Ageng lantas mengajak anaknya sendiri. Nenden sangat berat meninggalkan ibunya dan harus jauh dengan Asep. terlebih, Nenden juga dekat dengan Bu Atna.
Lasmi terkejut mendapat gambaran itu.
Lasmi jadi ingat awal pernikahannya. Asep kadang menceritakan Nenden itu, tapi tidak banyak. pun saat mereka menikah, Nenden tidak hadir. ketika mereka hadir di pernikahan kakaknya Nenden, Asep hanya mengenalkan Lasmi.
Lasmi tidak menyangka Asep dan Nenden ternyaya sangat dekat.
"Kang, Nden mau pamit," ucap Nenden kepada Asep sore itu di kebun tomat.
"Nden mau ke mana?"
"Kerja ke kota, ikut Bapa."
Asep terdiam. "Kok Nden gak bilang dari jauh hari?"
"Maaf yah. Nden bingung bilangnya." Nenden tertunduk.
Lasmi turut bersedih melihat kilas balik itu.
Lasmi bisa merasakan batin Nenden yang sedih mengenang masa lalunya. Nenden yang merasa hari itu bukanlah perpisahan sementara, melainkan selamanya. Asep yang tidak mencegah kepergiannya, dan Nenden yang tidak punya pilihan untuk ikut ayahnya ke Batavia untuk bekerja.
satu tahun kemudian, saat Nenden sedang menyisirkan rambut anak majikannya, dia dipanggil ke bawah oleh penjaga rumah.
Nenden minta izin untuk turun, lalu dibawah, dia diberikan secarik surat. Nenden kegirangan membaca nama pengirimnya.
"Pasti kang Asep".batinnya
pelan2, Nenden membaca isi surat. dia tertawa saat isi surat dari Asep mengingatkan hari2nya dahulu.
namun di akhir surat, Nenden merasa dunianya seakan runtuh membaca kabar Asep akan menikah dengan seorang perempuan bernama Lasmi minggu depan.
Nenden pun turut diundang
tangisannya pecah sore itu.
Bersambung..