Cerita mode gratis

Cerita mode gratis Berbagi Kisah Horor, dewasa, romantis dan cerita Lainnya
Bisa Jadi Teman gabut buat mode janda

20/02/2024

Mistis Gunung Slamet yang dipercaya warga
sekitarnya dari dulu sampai sekarang

- Gunung Slamet adalah sebuah gunung berbentuk kerucut yang sedang aktif saat ini. Statusnya berada di Level II-Waspada sehingga sebaiknya para pendaki mempertimbangkan ulang rencana pendakiannya.
Gunung Slamet menarik banyak pendaki selain karena merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa juga karena adanya cerita-cerita mistis yang fantastis. Berikut ini rangkumannya

1.Pasar hantu

Beberapa pendaki mengaku pernah tersesat saat mendaki Gunung Slamet, alih-alih ke puncak gunung mereka malah bertemu dengan sebuah pasar yang ramai dalam pendakiannya. Letak pasar hantu ini di lereng gunung di daerah bebatuan. Kabar baiknya, mereka yang tersesat bisa ditemukan kembali oleh rekan-rekannya.

2.Portal ke dunia lain

Ini konon terjadi setelah mereka melewati sebuah 'gerbang' yang konon menuju ke dunia lain. 'Gerbang' ini berupa dua pohon besar yang bersebelahan dan dapat dilihat saat pendaki melalui jalur Bambangan.
Pada jalur pendakian Bambangan terdapat sebuah pos sementara yang bernama Samarantu. Para pendaki yang tiba di pos ini mengaku sering diganggu oleh hantu. Bahkan nama 'Samarantu' sendiri konon dibentuk dari dua kata yaitu 'samar' dan 'hantu'. Para pendaki tidak disarankan untuk bermalam disini dan lebih baik melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya.

3.Orang kerdil

Mahluk gaib berupa orang kerdil ini ada di jalur pendakian yang dimulai dari Guci. Konon di jalur ini di masa lalu ada seorang pendaki yang tersesat dan bertahan hidup dengan cara memakan dedaunan dan buah-buahan. Terlalu lama tersesat di hutan membuat si pendaki malang ini lalu beradaptasi dengan lingkungan hutan dan bertingkah layaknya hewan. Namun tidak semua pendaki bisa melihat orang kerdil yang gaib dari Gunung Slamet.

4.Siluman Naga

Masih dari jalur pendakian Guci, terdapat kisah mistik lain mengenai sebuah air terjun yang dihuni oleh seekor naga siluman. Mereka yang bertemu siluman naga bisa meminta apapun dan akan dikabulkan. Namun ini tidak gratis, setiap permintaan akan dikabulkan dengan imbalan nyawa anggota keluarga.

5.Membelah Jawa

Mitos terbesar Gunung Slamet adalah jika gunung ini meledak maka p**au jawa akan terbelah dua. Sebuah peramal kuno Sri Aji Joyoboyo yang hidup di abad keduabelas mengatakan saat Gunung Slamet meletus maka akan tercipta retakan pada p**au Jawa dari arah utara ke selatan lalu retakan itu terisi air laut dan membagi Jawa menjadi dua.
Thanks for read 🙏😊.

LASMI KUNTILANAK MERAHPart  #11Nenden pun p**ang ke rumah, tapi dia tidak mau ke pernikahan Asep dan Lasmi. Bu Nani semp...
20/02/2024

LASMI KUNTILANAK MERAH
Part #11
Nenden pun p**ang ke rumah, tapi dia tidak mau ke pernikahan Asep dan Lasmi. Bu Nani sempat membujuk, tapi Nenden bersikukuh hanya menitipkan salam kepada mereka. Bu Nani paham yg dirasakan anaknya.
Nenden mendoakan yang terbaik untuk Asep dan Lasmi.
sejak saat itulah Nenden menjauh dari Asep meski terus mengingatnya. Nenden kembali ke kota dan bekerja bertahun2 kemudian, sampai majikannya p**ang ke Belanda dan Nenden kembali bertemu Asep di acara hajatan.

tadinya Nenden ragu, tapi ibunya memberitau kabar duka soal Lasmi.
Nenden pun awalnya ingin pelan2 mencoba lagi, tapi dia ingat foto Lasmi di kamar Asep.
hari itu, Lasmi duduk di pohon depan rumah sampai Dadang p**ang, barulah dia masuk ke rumah.
Asep sudah berbaring di kamar. luka akibat jatuh di hutan memperparah penyakitnya, lukanya belum kering dan mulai bernanah.
Lasmi makin khawatir, Asep seperti orang yang akan lumpuh.
Asep meneguk air putih di nakas, lalu meraih foto pernikahan mereka. Lasmi pun duduk di samping Asep.
"Neng, seandainya yang sekarang di sisi Akang itu Neng." Asep menghela napas sesak.

"Neng selalu ada di sini, 'A. seandainya Akang tau Neng di sisi Akang," ucap Lasmi pelan.
malamnya, Asep diserang demam. dia tidur sambil menahan gigil dan mengigau memanggil nama Lasmi.
Lasmi hanya bisa di sampingnya sambil menangis, berharap tidak terjadi hal yang lebih buruk dari ini. Lasmi berharap Nenden atau Dadang datang menolong. Lasmi sangat ketakutan.
Lasmi sedikit lega ketika Asep akhirnya tertidur. paginya, Dadang datang ke rumah dan langsung menyibak tirai kain kamar. "Eleuh2, belum bangun si Asep teh."
Dadang lalu merebus singkong di dapur. tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang.
"Assalamualaikum, Kang Asep..."
Dadang pun melongok, lalu membukakan pintu. "Eh, punten saha ieu?"

"Punten, saya Nendeng, Kang."

"Oh, iya masuk-masuk atuh mangga."
Nenden tersenyum kikuk, lalu dia tampak bingung ingin bersikap seperti apa.Lasmi lega mereka berdua datang, setidaknya, Asep tidak sendirian.
"Punten, Nenden teh temennya Asep atau siapanya yah? Saya belum pernah kenal." Dadang terkekeh.

"Eeee, saya teh temen kecilna Kang Asep, Kang."
"Oh ..." Dadang manggut2. "Si Asep teh masih tidur, euy."
"Oh gitu, Kang. Kalau gitu saya p**ang aja, takut ganggu." Nenden sungkan.
"Eh gak apa2 di sini aja. Sekalian tungguin Asep bangun. Saya juga lagi masak," kata Dadang. "Sini saya bantuin naro barangnya."
"Oh iya, Kang." Nenden menyerahkan kain berisi bahan makanan.
Mereka pun ke dapur, memasak makanan pagi untuk Asep.
"Punten, Neng, Asep teh sebelumnya belum cerita ke saya soal temen kecil," ucap Dadang.

Nenden tersenyum malu. "Dulu Ibu saya dekat sama almarhum ibunya Asep, Kang. Kami jadi akrab."

"Oh, kirain mah..." Dadang tertawa.

"Kenapa, Kang, kok ketawa?"

"Engga2." Dadang menggeleng.
"Sebenernya saya teh kasian sama si Asep, Neng. Udah mah dia sakit, sekarang nggak ada yang ngurus," kata Dadang. "Gimana yah, namanya juga temen s**a nggak tega."

Nenden terdiam sejenak. "Saya juga, Kang," balasnya lirih.

lalu suasana hening, hanya terdengar suara rebusan air.
"Neng punten ini mah yah, kita baru kenal. Tapi kalau Neng memang berkenan sama Asep, sebagai sahabatnya mah saya setuju. Dengan adanya kamu, Asep jadi ada yang jagain," ucap Dadang tiba2.

Nenden kaget mendengarnya, begitu p**a Lasmi. dia menunduk, tidak tau harus bagaimana.
"Kang, punten, saya mau isi air dulu." Nenden hendak beranjak, tapi tatapannya berpapasan dengan Asep yang baru keluar dari kamar.

"Eh, udah bangun, Kang," kata Nenden

"Iyah..."

Dadang juga melirik Asep. "Sep, ini makanan dari istri saya sama Nenden, dimakan yah. Saya duluan."
Dadang tersenyum, lalu meninggalkan Asep dan Nenden berdua. hening sejenak.

"Gimana, Kang, udah mendingan?" tanya Nenden.

"Udah, alhamdulillah. Kamu dari kapan? Kok ada Dadang?"

"Tadi enggak sengaja ketemu, Kang Dadang udah di rumah Akang duluan."

Asep hanya mengangguk.
"Tadi ibu titip salam cepet sehat, Kang."

"Iyah, Nden, hatur nuhun. Salam juga buat ibu."

"Iya, Kang. Ibu juga bilang katanya kalo boleh Nden di sini dulu temenin Akang," kata Nenden hati2.

"Sok aja kalau kamu mau di sini mah." Asep tersenyum.

Lasmi hanya memandangi mereka.
setelahnya, Asep menyantap makan paginya di meja. Nenden cuma menemani.

"Kamu nggak makan juga, Nden?"

"Engga, Kang. Nden udah makan di rumah. Oh iya, Kang Asep deket banget yah sama Kang Dadang?"

"Iyah, dia sahabat Akang sejak Akang kerja. Kalau Kang Dadang megang rebab."
"Kang..."

"Iya, Nden?"

"Maafin Nden yah."

"Maafin apa?"

"Sebenarnya, dulu waktu Nden mau kerja ke kota, Nden nggak mau."

"Maksudnya, Nden?" Asep bingung.

Nenden gugup. "Nden kepikiran dulu Nden pergi tiba2 terus nggak ada kabar. Nden takut Akang ada marah sama Nden."
"Marah kenapa, Nden?"

Nenden menghela napas. "Karena dulu Nden kaget Akang tiba2 ngirimin surat. Di situ Nden nyesel karena Nden pergi."

Asep bergeming. Lasmi paham maksud dari ucapan Nenden yang berarti pengakuan atas perasaannya. Lasmi sudah menyerahkan segalanya kepada Asep.
"Akang nggak marah, Nden. Kamu nggak perlu gitu. Kamu mah udah kaya adik Akang sendiri."

"Iya, Kang, tapi sampai sekarang pun perasaan Nden tetap ke Akang." Nenden menunduk, tidak berani menatapnya.

"Tapi, hati Akang cuma untuk Lasmi," balas Asep pelan. "Maaf ya, Nden."
"Iya, Nden cuma pengen Akang tau perasaan Nden selama ini. Nden pengen di sisi Akang, Nden nggak bisa melihat Akang begini. Dulu Akang selalu ngejaga Nden," jelas Nenden, dia akhirnya menangis.

Asep mengelap air mata Nenden lembut. Lasmi pun seolah mengusap punggung Nenden.
Sejak saat itu, Nenden merawat Asep sampai kurang lebih empat tahun lamanya. Bu Nani sempat meminta Jajang membujuk Asep agar menikahi Nenden. tapi, Asep teguh pada pilihannya untuk setia kepada Lasmi.

Asep tidak kunjung sembuh, kesehatannya kian menurun sampai dia menutup mata
hari itu sore, Asep sudah terbaring lemah tak berdaya. Nenden dan Lasmi menangis saat Asep bilang, "Maafin kesalahan Akang selama ini yah, Nden. Maafin Akang banyak ngerepotin kamu dan Ibu."

lalu Asep menggenggam tangan Nenden sebelum terpejam dan mengembuskan nafas terakhirnya.😭😭
Asep dimakamkan di sebelah Lasmi, tapi Lasmi bercerita dia tidak bertemu Asep. Lasmi sangat sedih, tapi ini adalah takdir Tuhan. setidaknya, Lasmi tau Asep mencintainya hingga akhir hayat.

Lasmi menempati rumah mereka yang kosong. kadang, dia menemani Nenden yang hari2nya muram.
singkat cerita, Nenden dinikahi seorang juragan tanah tiga tahun kemudian atas perjodohan ibunya, karena Bu Nani takut sekali Nenden tidak punya pasangan hidup.

Lasmi tau, Nenden tidak mencintai pria itu. setiap akhir pekan, Nenden selalu ziarah ke makam Asep dan Lasmi.
dari pernikahan itu, Nenden dikaruniai seorang anak laki2 yang dinamai Sajati, dipanggil Ajat. saat Nenden mengandung Ajat, Lasmi menjaganya dari jauh agar Nenden tidak diganggu oleh bangsa sejenisnya.

Lasmi sering memperhatikan Nenden mengelus2 perutnya yang makin membesar.
ketika Ajat lahir, Lasmi bahagia. dia menjaga Ajat saat tidur di ayunan kain, menenangkannya kala menangis, karena Nenden sering pergi menemani suaminya, sehingga Ajat dirawat Bu Nani.

Ajat seperti anak yang memang semestinya Lasmi jaga sebagai rasa terima kasih kepada Nenden.
saat Ajat sudah bisa berdiri, Lasmi sering ucang-ucang angge, membuat anak itu tertawa sendiri. kadang Bu Nani menatap heran, tapi dia tidak curiga. Bu Nani justru lega karena Ajat tidak rewel dan merwpotkannya.

Bu Nani tidak pernah tau Ajat sering dihibur oleh Lasmi..
ada satu kejadian lucu. hari itu menjelang Magrib, Ajat ditinggal sebentar oleh Bu Nani keluar.

saat itu ada kuntilanak dari pohon dekat rumah Nenden yang menjahili Ajat. Lasmi yang sedang di rumah Asep mendengar tangisan Ajat. Lasmi langsung ke sana, memarahi kuntilanak itu. 😂
bahasanya kurang lebih begini:

"Kamu jangan mengganggu anak itu, dia sudah seperti anak aku."

"Aku cuma ngajak main."

"Kamu membuat dia menangis, aku tidak s**a! Pergi kamu! Jangan pernah ganggu lagi!"
pernah suatu hari Nenden memandikan Ajat dibuat terheran2. Ajat senyam-senyum sendiri memandang ke atas. Nenden menengadah, tapi tidak melihat apa2.

Lasmi cekikikan. "Anak kamu teh bageur, Nden. Jaga dia baik-baik yah..."

Nenden langsung merinding dan cepat2 memandikan Ajat.
sampai Ajat berusia 3 tahun, barulah Lasmi pamit. saat itu Lasmi memandangi Ajat yang tertidur p**as di samping Nenden.

Lasmi mengelus kepala Ajat. "Jat, Bibi sampai di sini yah. Nanti kalau sudah besar jagain ibu kamu. Bibi teh sayang sama ibu kamu."

lalu Lasmi pun pergi. :')
setelah hari itu, Lasmi mengitari daerah Bandung. Lasmi cerita, dia berpuluh2 tahun mengawasi ibu hamil dan menghibur bayi yang sedang sendirian, mereka yang sekiranya bisa Lasmi awasi.

Ara pernah nanya kenapa Lasmi melakukannya, jawaban Lasmi, dia cuma pengen begitu.
Lasmi sempat kecewa saat rumahnya bersama Asep dijual oleh keluarga Asep kepada orang lain. Lasmi merasa rumah itu bukan lagi rumahnya.

lalu, Lasmi mencari 'rumah' baru yang tidak terlalu bersinggungan dengan makhluk lain, sampai dia menemukan sebatang pohon untuk bersemayam.
kurang lebih begitulah kisah Lasmi yang bisa kami lanjutkan malam ini ya, guys. terima kasih sudah menunggu dengan sabar dan menyimak kisahnya.

kata Lasmi, "Hatur nuhun sadayana." 😊🙏🏻
(Terimakasih buat temen temen yang udah mau baca cerita LASMI ini, semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua..)

20/02/2024

LASMI KUNTILANAK MERAH
Part #10
di mimpi itu, Lasmi baru saja melahirkan anak laki-laki yang tampan. Lasmi sangat cantik sekali jadi ibu muda dan Asep jadi ayah yang kikuk. ... mengurus bayi. Lasmi tersenyum melihat Asep yang kegirangan sendiri menggendong anaknya.

saat anak mereka tertidur, Lasmi menyampaikan keresahannya. "Akang, Lasmi teh cinta sama Akang. Jangan pernah tinggalkan Lasmi ya, 'A," ucap Lasmi lirih.
Asep tertegun mendengarnya.
"Akang janji nggak akan pernah ninggalin Neng." Asep memeluk Lasmi, mengecup keningnya.

Lasmi menangis dan mengeratkan pelukannya. "Maafin kesalahan Neng. Maaf Neng nggak bisa nemenin Akang setelah ini. Akang sehat terus, yah."
di mimpi itu, Lasmi mengutarakan isi hatinya. 😭
di mimpi yang singkat itu, Lasmi menyampaikan perasaannya. dia memandangi wajah Asep yang tertidur dan menitikkan air mata.

Lasmi sangat berharap semoga saja Asep mengetahui perasaan Lasmi yang begitu mencintainya, dan tidak ingin kehilangannya, bahkan saat Lasmi sudah tiada.
paginya, Asep bangun lalu memasak air di tungku, membuat kopi dan pisang kukus. dia menikmatinya di meja makan sambil mengingat mimpi semalam yang terasa sangat nyata.

kopinya pahit, begitu p**a kerinduan Asep. tidak ada lagi wedang jahe buatan Lasmi untuk paginya yang sepi.
sedang termenung, tiba2 Asep merasa kakinya keram, merambat sakit yang menyiksa. Asep menahan sakitnya, dia menarik napas perlahan-lahan.

Lasmi datang dan kaget melihat Asep yang sedang menderita.
"Kang, yang kuat," ucap Lasmi meski dia sadar Asep tidak bisa mendengarnya.
saat rasa sakit di kakinya mereda, Asep sadar sakit yang dideritanya semakin parah. Asep perlahan2 beranjak dengan susah payah untuk mengambil air putih, sebelum siap2 bekerja.

Lasmi hanya memandangi Asep dengan tatapan sedih melihat sang suami sakit dan susah dalam kesendirian.
"Assalamualaikum, Sep."

itu suara Dadang, tim sinden Asep hari ini mengisi hajatan di kampung sebelah.
Part #20
"Assalamualaikum, Sep."
itu suara Dadang, tim sinden Asep hari ini mengisi hajatan di kampung sebelah.
"Walaikumsalam, Dang. Sebentar!"
"Saya tunggu di sini aja, Sep. Yang lain udah nunggu di bawah."
Asep meraih sulingnya, dia melangkah ke depan rumah dengan kaki yang sakit.
mereka pun berjalan bersama tim sinden ke kampung sebelah untuk mengisi acara hajatan pagi itu. Lasmi pun mengikutinya dari jauh.

sesampainya, Asep mengedarkan pandangan sembari mengelap suling. hajatannya sangat meriah untuk pribumi. mungkin ini acara anak bangsawan, pikirnya.
"Ini teh Asep anaknya Pa Jajang?" tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya rapi.

"Eh, iya Bu muhun," jawab Asep kikuk. timnya masih mempersiapkan alat2.

"Ya ampun, gimana kabarnya, Sep?"

"Alhamdulilah baik, Bu." Asep tersenyum sopan sambil mengingat wanita itu.
"Bu Nani?" Asep akhirnya ingat, wanita itu teman baik ayahnya.

"Iya, mamahnya Nenden. Main atuh ka imah. Udah lama kamu gak main, ih. Gak kangen Nenden?" Bu Nani terkekeh.

"Iya Bu, insya Allah saya berkunjung," balas Asep, timnya sudah melirik2.

Bu Nani paham, dia pun melipir.
Asep dan tim pun mulai bermusik. Asep meniup suling dan Lasmi duduk di belakangnya.

"Akang, Neng teh kangen pisan nyinden bareng Akang lagi..." batin Lasmi.

namun, perhatian Lasmi teralihkan. dia melihat Bu Nani duduk di barisan paling depan bersama perempuan berwajah manis.
Lasmi terbang di depan mereka.

"Nenden itu ada Kang Asep, gak mau ketemu?" tanya Bu Nani.

"Memang ada Kang Asep?" Nenden kaget.

"Itu di pojok kanan. Sejak kamu kerja di kota kamu gak pernah lagi ketemu Kang Asep, kan? Sok geura nanti temuin."

"Iya," ucap Nenden semringah.
Lasmi kenal Nenden. dulu Asep pernah cerita bahwa Nenden adalah teman kecilnya dan orang tua mereka sempat 'mencomblangi'. tapi Asep tidak sreg dengan Nenden.

Lasmi pun pernah bertemu Nenden ketika kakaknya Nenden menikah, Lasmi hadir dengan asep untuk kondangan.
Lasmi resah.
setelah tim sinden selesai, Nenden langsung menemui Asep. Dadang sempat penasaran, tapi dia membiarkannya.

"Kang Asep, gimana kabarnya?" Nenden tersenyum lebar.

"Eh Nden, kamu di sini juga. Alhamdulillah baik." Asep tersenyum sopan.

"Iya, Kang. Nemenin Ibu."

Asep mengangguk
"Oh, kamu baru p**ang dari kota, Nden?"

"Nden udah gak kerja di kota lagi, Kang. Majikan Nden p**ang ke Belanda," jawab Nenden.
Part #21 ..LASMI..
Lasmi menatap mereka berdua dengan penuh keresahan. Lasmi takut Asep kelak bersama Nenden. di sisi lain, Lasmi tau Nenden adalah perempuan yang baik.
"Saya pamit dulu, Kang."
"Iya Nden, hati2 ya. Salam buat Ibu."
"Iya, Akang juga! Nanti mampir ya ke rumah," seru Nenden.
Asep terdiam sejenak sebelum menghampiri tim sinden yang bersiap p**ang.
Dadang yang sedari memerhatikan pun bertanya, "Sep, siapa itu? Geulis juga."
"Temen kecil saya," jawab Asep.
"Atuh geulis pisan, Sep. Siapa namanya?"
"Nenden." Asep terlihat kurang nyaman. dia lanjut berjalan bersama rombongan tim.
Dadang meledek Asep soal rencana 'mendekati'. Lasmi yang mengikuti rombongan pun geram. Lasmi mendekati Dadang.
"Euy, Sep merinding siah." Dadang mengusap tengkuknya. Artinya "sep merinding gini".
"Merinding kenapa, Dang? Saya biasa aja tuh. "
"Teuing, asa tiris juga, euy."
Artinya "gatau, kaya dingin juga euy".
Lasmi tertawa kecil, dia sebetulnya tidak marah dengan Dadang, hanya kesal karena Dadang membahas soal Nenden di saat seperti ini.
Asep berpisah dengan tim, berjalan santai menuju rumahnya melewati jalan menanjak. Asep mengenang momen kala bersama Lasmi p**ang menyinden. Di jalan ini mereka bergenggaman tangan dan membahas masa depan.

Tak terasa air mata Asep menetes, dia membatin, "Neng, Akang kangen. "
Lasmi yang berada di belakang Asep, ingin sekali memeluk dan menguatkannyanya, tapi lagi2 Lasmi tidak dapat berbuat apa2. Lasmi hanya seolah memeluk Asep, dia dapat merasakan betapa hati suaminya itu sangat sedih.
"Lasmi juga kangen, Akang," ucap Lasmi tepat di telinga Asep.
sesampainya di rumah, Asep langsung tidur. Lasmi pun tau diri untuk tidak berada di dekat Asep agar suaminya bisa tertidur lelap.
"Tidur yang nyenyak, A." Lasmi tersenyum saat Asep terpejam.
setelahnya, Lasmi duduk pohon dekat rumah. sambil uncang2 angge, dia teringat Odong.
saat malam, Lasmi ke rumah si supir yang menabraknya. dia melihat Odong sedang tidur di sebelah ibunya. Lasmi menatapnya dengan perasaan bersalah. kemudian, Lasmi duduk di sebelah Odong, mengusap2 kepala Odong lembut sambil tersenyum. Odong semakin terlelap tidurnya malam itu.
paginya Lasmi kembali ke rumah. dia kaget mendapati Nenden duduk di teras dengan Asep. tersuguh tape dan ubi kukus di meja.
"Kang, Nden turut berduka cita. Nden tau dari Ibu." Nenden sedih.
"Iya, Nden, nuhun ya." Asep tertunduk.
"Dimakan ya, Kang. Nden cuma mampir sebentar."
"Oh iya, Nden."
Part #22 LASMI
"Kalo akang gak keberatan, nanti malam Nden mau ajak Akang."
"Ke mana?"
"Anak majikan Nden nikah. Nden diundang, tapi Nden takut kalo sendiri, banyak Londo yang genit. Kalo akang mau itu juga," ucap Nenden sungkan.
Asep terdiam, mempertimbangkan ajakan itu.
"Yaudah nanti Akang temenin. Tapi Akang pake baju apa yah?"
"Ih si Akang, baju biasa aja atuh." Nenden tertawa kecil,
lalu Nenden pamit dengan senyuman.
Lasmi yang memandangi mereka merasa sangat bersedih. Lasmi menangis, takut sekali Asep akan melupakannya cepat atau lambat.
malam pun tiba. Nenden datang ke rumah Asep, dia sudah rapi dan siap berangkat. berbekal lampu corong yang dipegang Asep, Nenden menuntun menuju lokasi. mereka menyusuri pinggir hutan agar cepat sampai tanpa banyak bicara.

Lasmi mengikuti mereka dari belakang, menahan sedih.
sesampainya, Nenden menyerahkan kertas undangan di pintu masuk, lalu mengajak Asep ke dalam. pesta sangat meriah, berbagai makanan lezat tersaji, dan musik pun terdengar ceria. tapi, terlihat perbedaan strata sosial antara kaum Londo dan pribumi, kecuali bangsawan yang hadir.
Nenden menyusuri keramaian, lalu dia menghampiri meja teman2nya dengan senyum lebar.

"Nden! Kirain kamu teh gak dateng," seru temannya. "Wah, saha eta?"
sontak teman2nya yang lain lirik2an.
"Ini Kang Asep." Nenden mengenalkan Asep antusias.
"Saya Asep." Asep sedikit kikuk.
"Pacar kamu?" tanya temannya lagi.
"Bukan, Kang Asep anaknya teman ibu." Nenden menunduk malu.
"Oh, kirain, kasep pisan." Temannya cekikikan.
Lasmi yang berada di depan jendela hanya bisa meratapi mereka. perlahan, Lasmi mulai menerima bila Asep membuka hatinya untuk Nenden.
Asep mengobrol dgn teman2 Nenden sementara Nenden mengambil camilan.
"Nden, punten," bisik teman Nenden yg lain. "Eta Asep yg s**a ngiringin musik hajatan ya?"
"Iya Kang, kenal Kang Asep?"
"Bukan kenal sih, tapi istrinya kecelakaan dekat rumah saya. Makanya kaya pernah lihat."
"Oh iya, betul Kang," balas Nenden.
"Seinget saya ada setahun yang lalu. Meni karunya yah, dilihat mah bageur orangnya."
Nenden mengangguk, dia melirik Asep yang sedang menanggapi teman2nya. Nenden merasa iba. ada rasa ingin menemani Asep agar pria itu tidak merasa kesepian.
Lasmi dapat merasakan kehendak itu, tapi Nenden menggeleng.
Part #23
"Aduh naon sih," batinnya, lalu memanggil Asep. "Kang Asep, sini!"

"Iya Nden, kamu udah mau p**ang?"

"Em, sebenernya belum, tapi kita p**ang aja deh kayanya mah acaranya sampai malam."

"Oh, yaudah atuh." Asep menurut.
Nenden pun berpamitan kepada teman2nya, Asep hanya tersenyum sopan.

sekeluarnya dari acara, mereka kembali menyusuri hutan, Lasmi pun mengikuti.
"Kang, kalau butuh sesuatu, bilang Nden yah." Nenden memecah keheningan.
"Eh iya, tapi Akang belum butuh apa2 kok," balas Asep.
Nenden perlahan2 memegang lengan Asep. "Nenden takut jatuh, Kang."
Asep sempat refleks menarik lengannya. "Oh iya, hati2 atuh," jawab Asep datar, membiarkan lengannya dipegang.
Lasmi memperhatikan gerak-gerik Nenden yg seakan ingin memanjangkan obrolan di tengah keheningan.
Asep merasa kakinya kesemutan, langkahnya terhuyung. Nenden menyadarinya. "Kenapa, Kang?"
"Nggak apa2, Nden." Asep menggeleng.

sesampainya di rumah Nenden, Bu Nani menyambutnya. "Hatur nuhun, Sep. Masuk dulu atuh."
"Sami2, Bu. Saya langsung p**ang aja," Asep tersenyum sopan.
"Nden, ambilin Asep minum," perintah Bu Nani.
"Nggak usah, Bu. Udah malam soalnya." Asep sungkan.
Nenden dan ibunya saling memandang. "Ya udah hati2, Sep. Nanti mampir yah ke sini."
"Hati2, Kang." Nenden menatap Asep khawatir.
"Hatur nuhun, assalamualikum." Asep pun pergi.
Asep kembali menyusuri jalan hutan yang licin. pandangan Asep mengabur, tiba2 Asep terpeleset dan terguling, kakinya sobek terkena akar pohon.

"Akang!" teriak Lasmi, dia ingin sekali menolong, tapi tidak bisa berbuat apa2. Lasmi hanya menangis, lalu pergi ke rumah Nenden.
Nenden yg sedang termenung di bale rumah mencium bau anyir, sebab Lasmi di sampingnya, berharap Nenden melihat ke arah hutan yg tidak jauh dari rumahnya.
"Ih, bau apa yah ini." Nenden mual, tidak enak hati.
saat Nenden ingin masuk, matanya menangkap setitik cahaya dari hutan.
Nenden pun berjalan menuju hutan, perasaanya tak karuan, takut bila cahaya itu berasal dari lampu corong milik Asep.
Nenden mendekati cahaya itu dan benar lampu corong tergeletak.
Nenden meraihnya, menerangi ke segala arah, lalu melihat Asep memegangi kakinya. "Ya Allah, Kang!"
Nenden turun ke bawah dgn hati2. Asep meringis kesakitan. Nenden membopong Asep sambil memegang lampu corong.
"Akang nggak apa2, Nden," ucap Asep lemah.
"Nggak apa2 gimana? Akang lagi sakit begini!"
Nenden membopong Asep pelan2 ke rumahnya. dia berteriak, "Bu, tolong!"
Bu Nani lantas keluar.
Part #24
Nenden membopong Asep pelan2 ke rumahnya. dia berteriak, "Bu, tolong!"
Bu Nani lantas keluar. dia kaget melihat Nenden membopong Asep yang kakinya berlumuran darah. "Ya Allah, Sep! Sebentar, ibu ambil obat dulu."
Sabar ya Kang, Nenden ada obat dari Bapak, dulu kerja sama orang Cina," ucap Nenden setelah mendudukkan Asep di bale.
Asep mengangguk.
Bu Nani membersihkan kaki Asep, lalu Nenden mengoleskan obat. Asep sampai berteriak saking perih dan kramnya. Lasmi hanya menangis.
"Kang, kuat ya, Kang. Maaf Neng nggak bisa bantu," ucap Lasmi.
Nenden menatap Asep sedih. "Kang, malam ini tidur di sini aja yah. Jangan nolak."
Asep menurut, tidak mungkin juga dia memaksakan p**ang. Lasmi memperhatikan Nenden menyiapkan kamarnya untuk Asep. lalu, Lasmi duduk di samping Asep, seolah menyentuh pundaknya, berharap dapat menenangkan suaminya. Asep hanya merasakan hawa dingin, tapi tidak menghiraukannya.
Lasmi hanya pasrah melihat Asep dibopong Nenden ke kamar, lalu direbahkan.

"Kang, Nden di kamar Ibu yah. Kalau ada apa2 panggil aja. Nden pasti bangun."
"Iya, Nden. Hatur nuhun, maaf Akang merepotkan," ucap Asep.
"Nggak kok. Akang istirahat yah." Nenden pun keluar dari kamar.
paginya, sebuah andong sudah siap mengantar Asep p**ang. Bu Nani pun memberikan kain berisi bahan makanan. Asep makin tidak enak.

"Bu, Nden, maaf saya jadi merepotkan."
"Nggak apa2, Sep. Bapa kamu teh juga banyak bantu Ibu," balas Bu Nani. "Nden temenin Asep sampai rumah, yah."
"Nggak usah, Bu."
"Nggak apa2, Nden sekalian bantu beresin rumah. Hayuk!" Nenden langsung membopong Asep naik andong.
Asep tidak bisa mencegahnya. Bu Nani melambaikan tangan, andong pun berjalan pelan.
Asep dan Nenden saling terdiam, sesekali mereka beradu tatap lalu menunduk.
Lasmi yang mengikuti mereka cuma bisa pasrah. berat baginya jika harus mengikhlaskan Asep dengan Nenden. namun, Lasmi pun tidak tega jika Asep yang sakitnya sudah separah ini hidup sendirian.
Lasmi mulai berpikir untuk membiarkan Asep memutuskan pilihan, terbaiknya kelak.
sesampainya di rumah Asep, Nenden membopongnya duduk di ruang tamu.

"Punten yah, Kang, Nden izin beresin rumah Akang," ujar Nenden.
"Nggak usah, biar Akang aja nanti."
"Nggak apa2, Kang. Biar rumahnya bersih, kalo kotor gini bisi Akang makin sakit."
Asep akhirnya mengangguk.
Nenden lalu merebus singkong dan air sementara Asep beristirahat. saat menyapu kamar Asep, Nenden termenung memandangi foto pernikahan Asep dan Lasmi di nakas.
Part #25
Bahkan di samping bantal, ada selembar foto Lasmi.
Nenden tersenyum, berusaha menerima bila Asep belum melupakan Lasmi.
"Nden..." panggil Asep.
karena tak kunjung dijawab, Asep berjalan tergopoh2 ke kamar. dia menyingkap tirai lain, lalu mendapati Nenden sedang memegang foto Lasmi.
"Kalau saya boleh cerita, saya mencintai Lasmi selamanya, Nden," ucap Asep.
Nenden menoleh, lalu mengangguk paham.
Lasmi yang sedari tadi memandangi Nenden dari jendela kamar menangis haru. Lasmi tidak pernah menyangka bahwa ucapan itu akan didengarnya. padahal, Lasmi sudah mulai mengikhlaskan Asep jika kelak bersama Nenden.
Lasmi sadar dia mencintai orang yang tepat, yaitu cinta pertamanya.
"Iya, Kang. Saya tau." Nenden kembali foto Lasmi dengan raut tabah.
"Maaf ya, Nden," ujar Asep tulus.
Nenden lanjut membereskan rumah sementara Asep duduk di kasur, memandangi foto Lasmi. Lasmi pun seolah menyandarkan kepalanya di bahu Asep. suaminya itu mengusap pelan fotonya.
Lasmi lalu mengamati Nenden yang mencuci baju Asep di belakang.

"Seenggaknya saya bisa bantu Akang," ucap Nenden kepada dirinya sendiri sembari mengelap keringat.
mendengarnya, Lasmi jadi terketuk. dia pun seolah mengusap punggung Nenden.
"Hatur nuhun yah, Nden," bisik Lasmi.
setelah menjemur pakaian, Nenden hendak pamit p**ang. namun, dia melihat Asep sedang tidur di kamarnya. Nenden tidak tega membangunkan. dia hanya meletakkan segelas air putih di nakas, lalu keluar rumah untuk naik andong di pengkolan.
Lasmi mengiri perjalanan Nenden p**ang.
"Meni kusut pisan, Neng," tegur kusir andong di tengah perjalanan.artinya "kok cemberut gitu neng" Itu maksudnya lah yah🙏😅
"Eh, teu nanaon, Pa." Nenden tersenyum, lalu hening.artinya "eh ngga apa apa, pak".
Lasmi menatap Nenden yang terdiam, terlihat jelas raut Nenden yang lesu. perlahan, Lasmi pun ikhlas jika Nenden memang ingin merawat Asep.
sampai di rumah, Bu Nani langsung bertanya, "Nden, Asep kumaha keadaannya?"
Part #26
"Udah mendingan, Bu," jawab Nenden pelan.
"Kamu teh kenapa? Lesu pisan."
"Gapapa, Bu. Nden mau istirahat dulu yah." Nenden masuk ke kamarnya, Lasmi pun ikut masuk.

Bu Nani hanya memandang heran.
Nenden meratapi langit2 kamar, dia mengingat masa kecil kala dia dan Asep sering bersama.
keluarga mereka sangat dekat. dulu, Nenden sering menemani Asep memanen tomat dan bermain. setiap sore, Nenden ke rumah Asep untuk mengantarkan pisang dan ubi rebus, lalu pergi ke surau.
suatu hari, Nenden diajak ayahnya, Ageng, bekerja di Batavia. Nenden awalnya menolak, tapi dia berusaha untuk berbakti kepada sang Ayah.
Ageng bekerja untuk usaha keluarga Tionghoa, majikannya meminta Ageng mencarikan pembantu untuk menjaga anak rekan bisnis Londo-nya di sana.
Ageng dijanjikan komisi besar jika dia bisa mencarikan pengasuh yg dapat dipercaya. Ageng lantas mengajak anaknya sendiri. Nenden sangat berat meninggalkan ibunya dan harus jauh dengan Asep. terlebih, Nenden juga dekat dengan Bu Atna.

Lasmi terkejut mendapat gambaran itu.
Lasmi jadi ingat awal pernikahannya. Asep kadang menceritakan Nenden itu, tapi tidak banyak. pun saat mereka menikah, Nenden tidak hadir. ketika mereka hadir di pernikahan kakaknya Nenden, Asep hanya mengenalkan Lasmi.
Lasmi tidak menyangka Asep dan Nenden ternyaya sangat dekat.
"Kang, Nden mau pamit," ucap Nenden kepada Asep sore itu di kebun tomat.
"Nden mau ke mana?"
"Kerja ke kota, ikut Bapa."
Asep terdiam. "Kok Nden gak bilang dari jauh hari?"
"Maaf yah. Nden bingung bilangnya." Nenden tertunduk.

Lasmi turut bersedih melihat kilas balik itu.
Lasmi bisa merasakan batin Nenden yang sedih mengenang masa lalunya. Nenden yang merasa hari itu bukanlah perpisahan sementara, melainkan selamanya. Asep yang tidak mencegah kepergiannya, dan Nenden yang tidak punya pilihan untuk ikut ayahnya ke Batavia untuk bekerja.
satu tahun kemudian, saat Nenden sedang menyisirkan rambut anak majikannya, dia dipanggil ke bawah oleh penjaga rumah.
Nenden minta izin untuk turun, lalu dibawah, dia diberikan secarik surat. Nenden kegirangan membaca nama pengirimnya.
"Pasti kang Asep".batinnya
pelan2, Nenden membaca isi surat. dia tertawa saat isi surat dari Asep mengingatkan hari2nya dahulu.

namun di akhir surat, Nenden merasa dunianya seakan runtuh membaca kabar Asep akan menikah dengan seorang perempuan bernama Lasmi minggu depan.

Nenden pun turut diundang
tangisannya pecah sore itu.
Bersambung..

Address

Jalan Iskandar Muda No. 26 Kec. NEGLASARI, Kota Tangerang
Tangerang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita mode gratis posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share