Nekad Publishing

Nekad Publishing Di sini kamu tidak hanya bisa menerbitkan sendiri naskahmu, tapi juga bisa menemukan banyak motivasi & tips menulis. Dengan harga bersahabat dan terjangkau.

Perusahaan penerbit Nekad Publishing adalah perusahaan penerbitan swasta yang baru didirikan pada november tahun 2012. Bidang usaha perusahaan ini bergerak dibidang pelayanan jasa penerbitan dan pencetakan buku baik fiksi maupun nonfiksi. Seperti, novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan esai, antologi fiksi mini dan personal literature, buku pendidikan, motifasi, teknologi, dan lainnya ba

ik yang berhubungan dengan sastra ataupun tidak, dengan sistem indie. Selain bergerak di bidang pelayanan jasa penerbitan dan pencetakan buku secara indie, perusahaan ini juga ikut membantu menjual buku-buku yang diterbitkan dengan system penjualan online.

26/09/2017

Tanya: Nekad bisa bantu nerbitin buku anak nggak?

Jawab: Bisa, Kak. Nekad bisa nerbitin buku apa pun, baik fiksi maupun non fiksi. Asal jangan buku nikah aja. Untuk buku anak, kami sudah siapkan ilustrator muda dan keren asal Tangerang, Rangkasbitung dan Serang yang bisa bantu menuangan naskah cerita anak Kakak ke dalam gambar. Tentu saja dengan biaya yang berlaku di Nekad Publishing. ^^"

26/09/2017

Info:

Jam kerja kru Nekad hanya dari Senin hingga Kamis pukul 09.00 - 16.00.

Jadi di luar jam itu segala bentuk pesan dan pertanyaan baru bisa kami balas saat jam kerja berikutnya.

26/09/2017

Sekadar mengingatkan kembali kalau Nekad Publishing ini penerbitan indie yaaa, jadi seluruh biaya penerbitan ditanggung penulis. 😀

Hai, tips menulis ini buat kamu.
12/09/2017

Hai, tips menulis ini buat kamu.

Apa yang membuat tulisannya berciri khas? Dia menerapkan prinsip jurnalistik dalam menulis berbagai cerpen dan novel.Sim...
22/08/2017

Apa yang membuat tulisannya berciri khas? Dia menerapkan prinsip jurnalistik dalam menulis berbagai cerpen dan novel.

Simak selengkapnya di sini... blogdivapress.com/dvp/cara-hemingway-menulis/

Cara Hemingway Menulis dengan Efektif dan Berkesan. Ada 3 gaya menulis Hemingway yang bisa diikuti saat menulis. Dengan menggunakan kalimat pendek.

20/08/2017

Masih ingat nggak buku apa yang pertama kali kamu baca dan apa yang bikin kamu tertarik membacanya?

“If you write (or paint or dance or sculpt or sing, I suppose), someone will try to make you feel lousy about it, that’s...
04/07/2017

“If you write (or paint or dance or sculpt or sing, I suppose), someone will try to make you feel lousy about it, that’s all.” - Stephen King

Lima tips menulis dari maestro, Stephen King, selengkapnya baca di sini... expertenough.com/3068/stephen-king-writing-tips

Every author has their own secret of success, their own sources of inspiration, their personal tricks to attract and hold their readers. Even essay writers can share some exclusive tricks with you concerning what a really perfect essay should look like.

15/06/2017

----------------------
Repost (Bag. 3)
----------------------

Siang kawan Nekad!
Hari ini Nekad mau menjelaskan tentang unsur jurnalistik yang tersisa, yaitu how (bagaimana) dan why (mengapa), yang berkaitan erat dengan plot jika digunakan dalam menulis fiksi.

Sebelumnya Nekad mau menjelaskan dulu apa itu plot secara singkat saja. Sesuai dengan pengetahuan yang Nekad tahu.

Plot, atau yang biasa kita sebut alur seringkali kita sederhanakan dengan jalan cerita. Padahal, plot bukanlah jalan cerita. Plot dengan jalan cerita itu berbeda namun saling berkaitan erat. Istilahnya, plot adalah jiwa dari jalan cerita.

Plot memang tidak mudah untuk dijelaskan, karena letaknya ada di dalam dan menyatu dengan jalan cerita.

Contoh sederhananya begini. Semut mati, itu adalah jalan cerita. Tapi semut mati karena terlindas truk itulah plot.

Dari contoh sederhana itu, kawan Nekad mungkin sedikit paham kan apa itu plot?

Penjelasan rincinya begini:
Jalan cerita memuat kejadian. Nah, dalam contoh sederhana tersebut, kejadiannya adalah semut mati. Tetapi suatu kejadian pasti ada penyebabnya. Mengapa (why) semut sampai mati dan bagaimana (how) peristiwa rinci si semut bisa sampai mati. Nah, yang menggerakkan kejadian menuju alasan mengapa si semut tadi bisa matilah yang kita sebut dengan plot. Dari contoh sederhana tersebut (semut mati karena terlindas truk), jalan cerita yang bergerak perlahan-lahan menyingkap tabir mengapa si semut tersebut bisa sampai terlindas truk adalah plotnya. Dari mulai pengenalan, lalu bergerak menuju konflik hingga klimaks dari konflik dan penyelesaian dari konflik adalah plot.

Contoh plot semut mati karena terlindas truk, bisa kita buat seperti ini:
- Si semut yang tengah mengalami sakit kepala terpaksa keluar dari sarang untuk mencari makan.
- Kemudian, di tengah jalan, sakit kepala yang dirasakannya semakin parah hingga membuat segala yang ada di sekelilingnya tampak berputar-putar tak karuan.
- Jalannya oleng
- Hingga ia tak menyadari kalau dirinya menyebrangi jalan raya tepat pada saat sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi.
- Ia baru menyadari ada sesuatu yang besar mendekatinya tepat ketika ban truk tersebut nyaris melindasnya.
- Karena itu ia terkejut, namun tak memiliki lagi kesempatan untuk menghindar. Hingga akhirnya ia terlindas dan mati.

Oke, kawan Nekad, sekarang kawan Nekad sudah tak perlu bingung lagi kalau kalian mau memulai tulisan kalian. Karena kawan Nekad bisa memulainya dengan unsur-unsur jurnalistik yang kita terapkan untuk menulis fiksi yang sudah Nekad jelaskan sebelum-sebelumnya hingga hari ini. Kawan Nekad tinggal pilih saja, enaknya mau memulai dengan cara yang mana.

Semoga tips yang Nekad posting hari ini bisa sedikit berguna dan membantu.

Salam Nekad! Salam hebat! ^^

13/06/2017

--------------------
Repost Bag. 2
--------------------
Salam jumpa kembali kawan Nekad!

Setelah kemarin Nekad membahas unsur where dan when, sekarang kita bahas unsur dari what (apa) dan who (siapa).

Seperti yang sudah Nekad katakan tiga hari lalu, kalau unsur what dan who ini, bila diterapkan dalam menulis fiksi, berkaitan erat dengan POV (Point of View) atau sudut pandang yang dipilih si pengarang/penulis ketika menuangkan ceritanya.

Ada tiga sudut pandang yang sering kita temui/gunakan dalam fiksi. Yaitu, sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua dan sudut pandang orang ketiga.

Pada sudut pandang orang pertama, biasanya pengarang/penulis menggunakan kata ganti orang pertama. Seperti "aku", "saya", atau "kami" sebagai si pencerita.

Pada sudut pandang orang kedua, biasanya pengarang/penulis menggunakan kata ganti orang kedua. Seperti "kau" atau "kamu" yang dijadikan fokus cerita.

Semetara pada sudut pandang orang ketiga, biasanya si pengarang/penulis menggunakan kata ganti orang ketiga. Seperti "dia"/ 'ia" atau "mereka". "Dia" juga biasanya diganti dengan nama orang/tokoh atau bahkan nama benda yang dijadikan sudut pandang dalam sebuah cerita.

Nah, kawan Nekad udah sedikit tahu kan apa itu sudut pandang? Kalau udah tahu, berarti nggak ada lagi alasan untuk bingung ketika kita ingin menuangkan peristiwa yang kita lihat dan alami ke dalam tulisan. Karena kita bisa menggunakan unsur what (apa) dan who (siapa) itu untuk mengawali cerita yang ingin kita tulis.

Sekarang, Nekad beri sedikit contoh kalimat pembuka yang menggunakan unsur what dan who ya.

- Sebuah gerobak penuh barang rongsokan yang terparkir tepat di sisi Jl. Samudra terjungkal seketika saat Avanza hitam yang tiba-tiba melintas dari arah kanan dengan kecepatan tinggi menyerempetnya.

- Rani, bocah yang tinggal di salah satu kawasan kumuh di Jakarta itu usianya belum genap tiga tahun ketika harus ditinggal oleh kedua orang tuanya yang menjadi korban tabrak lari dua tahun silam. Kini, ia dirawat oleh neneknya yang sudah tua.

Kedua contoh di atas sama-sama menggunakan sudut pandang orang ketiga, yaitu "gerobak" dan "Rani". Tapi, pada contoh pertama kita menggunakan unsur what (apa), sedangkan pada contoh kedua kita menggunakan unsur who (siapa).

Oke, sampai di sini dulu ya kawan Nekad. Semoga postingan Nekad kali ini bisa sedikit membantu kesulitan kawan Nekad yang bingung ketika hendak memulai menuliskan ceritanya.

Salam Nekad! Salam hebat! ^^

05/06/2017

---------------------
Repost (Bag. 1)
---------------------

Di postingan kali ini, Nekad mau membahas unsur where (di mana) dan when (kapan) dulu ya kawan Nekad.

Seperti yang sudah Nekad jelaskan sebelumnya di postingan Nekad, bahwa unsur where dan when ini terkait erat dengan setting.

Jadi, kalau kawan Nekad merasa bingung ketika mau menuliskan sesuatu yang kawan Nekad dengar, lihat dan alami itu mulainya dari mana dulu, kawan Nekad bisa memulainya dari dua unsur yang berkaitan erat dengan setting tadi. Yaitu where dan when.

Kawan Nekad bisa memulainya dengan cara menyebutkan tempat (di mana) dan waktu (kapan) peristiwa yang ingin kawan Nekad tuliskan itu terjadi.

Misalnya saja peristiwa tersebut terjadi di sekolah. Kita bisa memulainya dengan cara begini: Tadi siang di sekolah, gue ketemu sama temen SMP gue. Namanya Erika. Gue kaget banget waktu pertama kali ketemu lagi sama dia. Soalnya, yang gue denger dia udah meninggal satu tahun lalu.

"Tadi siang di sekolah", itu perpaduan antara where dan when. "Di sekolah" adalah unsur where. Sedangkan "tadi siang" adalah unsur when.

Nah, kalau contoh tadi itu kan kita menyebutkan secara gamblang di mana dan kapan peristiwa itu terjadi. Kawan Nekad juga bisa menyebutkan di mana dan kapan sebuah peristiwa terjadi tanpa harus menyebutkan tempat dan waktunya secara gamblang. Caranya, dengan mendeskripsikan suasana tempat dan waktu sebuah peristiwa terjadi. Sehingga, meskipun kawan Nekad tidak menyebutkan dengan gamblang di mana dan kapan peristiwa itu terjadi, tapi pembaca tahu di mana dan kapan peristiwa tersebut terjadi.

Hehe, bingung ya, maksudnya gimana? Kalau gitu langsung Nekad kasih contoh aja yak.

Misalnya begini:

Matahari sudah tepat di atas ubun-ubun, tapi aku belum juga berhasil menemukan benda titipan adikku, Mira. Aku malah terjebak di antara para pedagang makanan, ikan, sayur dan bumbu-bumbu dapur seperti bawang, cabai, dan tomat. Ugh! Mana udara di sini bau lagi! Aku sampai harus menutupi hidungku sebelum bau amis ikan-ikan yang banyak diperjualbelikan di tempat ini membuatku mual. Selain itu aku pun terpaksa berkali-kali harus menolak tawaran anak-anak kecil yang berebut menawarkanku kantong kresek dan jasa angkut barang.

Coba kawan Nekad perhatikan contoh paragraf di atas! Apakah kawan Nekad bisa menebak kapan dan di mana peristiwa yang dialami si "aku" itu terjadi?

"Matahari sudah tepat di atas ubun-ubun" adalah petunjuk kapan peristiwa tersebut terjadi. Sementara pada kalimat selanjutnya hingga akhir paragraf adalah petunjuk di mana kira-kira peristiwa terjadi. Itulah yang Nekad maksudkan dengan "mendeskripsikan kapan dan di mana sebuah peristiwa terjadi". Kita tidak menyebutkan secara gamblang tempat dan waktu terjadinya peristiwa tersebut, tapi pembaca akan tahu kapan dan di mana peristiwa itu terjadi dari deskripsi kita.

Nah, sampai di sini dulu ya, kawan Nekad. Jika dua contoh di atas dirasa kurang bagus, kawan Nekad boleh memberi contoh lain yang lebih oke dari dua contoh tadi. Kita sama-sama belajar dan saling berbagi.

Happy writing! ^^

05/06/2017

----------
Repost
----------

Selamat siang kawan Nekad!
Gimana puasanya hari ini? Masih pada semangat kan?

Kawan Nekad, banyak dari kita yang ketika ingin menulis terkadang dipusingkan oleh ide. Nggak ada ide yang bagus, menarik atau asyik untuk dituliskan. Begitu kita beralasan.

Padahal, kalau saja kita mau sedikit peka, ide itu berseliweran di sekitarmu. Cobalah amati sekelilingmu. Samping kananmu, kirimu, depanmu, belakangmu, atas, bawah, pokoknya segala penjuru. Banyak sekali yang bisa kita jadikan ide sebagai bahan tulisan kita.

Nah sekarang, bagaimana seandainya kalau ide sudah ada tapi ketika kita ingin menuliskannya, kita malah bingung bagaimana memulai menuliskannya.

Kalau gitu, Nekad mau berbagi rumus yang bisa kawan Nekad terapkan agar tidak bingung ketika ingin mengembangkan ide ke dalam sebuah tulisan.

Rumus itu adalah 5W1H. Mungkin beberapa kawan Nekad merasa sudah tidak asing lagi dengan rumus ini. Rumus ini biasa digunakan dalam ilmu jurnalistik. 5W1H: where (di mana), when (kapan), what (apa), who (siapa), why (mengapa), and how (bagaimana).

Meski rumus ini biasa digunakan dalam ilmu jurnalistik, rumus ini juga bisa loh kita gunakan ketika kita ingin menulis fiksi. Di sini Nekad mengaitkan rumus 5W1H tersebut dengan beberapa unsur yang ada dalam fiksi seperti setting, plot, dan POV (Point of View).

Where dan when berkaitan erat dengan setting (lokasi, tempat, dan waktu kejadian), what dan who berkaitan erat dengan POV, sedangkan why dan how berkaitan erat dengan plot.

Tunggu penjelasan lengkapnya di postingan Nekad berikutnya!

Salam nekad! Salam hebat!

Oke, setelah jambak-jambakan dengan Kak Pungkas Satiri yang malah asyik-asyikan tidur di bangunan, akhirnya ditemukanlah...
24/05/2017

Oke, setelah jambak-jambakan dengan Kak Pungkas Satiri yang malah asyik-asyikan tidur di bangunan, akhirnya ditemukanlah siapa yang berhak mendapatkan kumpulan puisi Membaca Pertemuan ini. Dia adalah Ahmad Robin.

Sewaktu ditanya apa alasan Kak Pungkas memilih dia, jawabnya, "Sederhana. Yang ikutan cuma tiga orang. Dari ketiga orang itu cuma dia yang menjawab sesuai ketentuan. Nyebutin judul puisinya dan alasan kenapa dia nggak s**a sama puisi itu. Dan saya setuju sama alasannya."

Ayaaaaaaaaa, selamaaaaat! Kirim alamat lengkapmu segera ke inbox Kak Poetry Ann yaaaa! ^^"

Address

Tangerang
15530

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nekad Publishing posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Nekad Publishing:

Share