10/09/2026
KITA MENIKMATI ISLAM HARI INI…
SETELAH RASULULLAH ﷺ MELEWATI BEGITU BANYAK PENDERITAAN
Coba kita berhenti sejenak…
Hari ini kita bisa mendengar azan tanpa rasa takut.
Kita bisa membuka Al-Qur’an kapan saja.
Kita bisa pergi ke masjid dengan tenang.
Bahkan kita bisa mengucapkan,
“Lā ilāha illallāh.”
Tanpa harus bersembunyi.
Tanpa harus takut disiksa.
Tanpa harus mempertaruhkan nyawa.
Tetapi pernahkah kita bertanya…
Mengapa semua itu bisa kita nikmati hari ini?
Karena sebelum Islam sampai kepada kita dengan begitu mudah…
ada Rasulullah ﷺ yang melewati jalan yang penuh penderitaan.
Ada air mata.
Ada penghinaan.
Ada kelaparan.
Ada kehilangan.
Ada luka.
Ada penolakan.
Dan ada perjuangan yang luar biasa panjang.
Islam yang kita kenal hari ini bukanlah sesuatu yang datang tanpa pengorbanan.
Di balik ayat yang kita baca, ada perjuangan.
Di balik azan yang kita dengar, ada pengorbanan.
Dan di balik kesempatan kita mengenal Allah ﷻ…
ada seorang Nabi ﷺ yang tidak pernah menyerah menyampaikan risalah-Nya.
---
Ketika wahyu pertama turun, Rasulullah ﷺ menerima amanah yang begitu besar.
Beliau ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan risalah Allah ﷻ.
Awalnya dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Kemudian datang perintah untuk menyampaikan kebenaran secara terbuka.
Rasulullah ﷺ mengajak kaumnya kembali kepada inti dakwah seluruh para nabi:
Sembahlah Allah ﷻ semata dan tinggalkan kesyirikan.
Namun ternyata…
kebenaran tidak selalu disambut dengan penerimaan.
Orang-orang Quraisy yang dahulu mengenal Muhammad ﷺ sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya…
mulai menghina dan menuduh beliau ﷺ.
Penyihir.
Penyair.
Pendusta.
Bahkan orang gila.
Allah ﷻ mengabadikan perkataan mereka:
«“Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”
QS. Ash-Shaffat: 36»
Tetapi Rasulullah ﷺ tidak berhenti.
Beliau ﷺ terus berjalan.
Terus berdakwah.
Terus mengajak manusia kepada Allah ﷻ.
---
Dan mungkin salah satu ujian paling berat dalam dakwah adalah…
ketika orang yang kita cintai justru tidak menerima kebenaran yang kita sampaikan.
Rasulullah ﷺ sangat menginginkan pamannya, Abu Talib, mendapatkan hidayah.
Beliau ﷺ terus berharap agar orang yang selama ini dekat dengannya itu mau beriman.
Namun ketika Abu Talib berada di penghujung kehidupannya…
ia tetap memilih agama kaumnya.
Rasulullah ﷺ sangat bersedih.
Lalu Allah ﷻ menegaskan:
«“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
QS. Al-Qashash: 56»
Betapa dalam pelajaran dari ayat ini.
Bahkan seorang Nabi ﷺ pun tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang paling beliau cintai.
Maka jika hari ini ada orang yang kita cintai belum berubah…
jangan cepat berputus asa.
Tugas kita adalah menyampaikan dengan baik.
Sedangkan hidayah…
milik Allah ﷻ.
---
Belum selesai rasa kehilangan itu…
Rasulullah ﷺ kembali menghadapi kehilangan yang begitu besar.
Khadijah رضي الله عنها wafat.
Wanita yang pertama kali membenarkan beliau ﷺ.
Wanita yang menguatkannya ketika wahyu pertama datang.
Wanita yang mendukung perjuangan beliau ﷺ dengan jiwa dan hartanya.
Kemudian Abu Talib juga wafat.
Dua sosok yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam kehidupan Rasulullah ﷺ telah pergi.
Masa itu dikenal sebagai ‘Amul Huzn — tahun kesedihan.
Namun perhatikan…
kesedihan tidak membuat Rasulullah ﷺ berhenti.
Justru setelah itu datang ujian yang begitu berat.
Thaif.
---
Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif.
Beliau ﷺ berharap menemukan hati yang mau menerima dakwah.
Namun yang beliau ﷺ dapatkan bukan penerimaan.
Bukan perlindungan.
Bukan penghormatan.
Beliau ﷺ justru ditolak dan diusir.
Bahkan beliau ﷺ dilempari batu.
Tubuh beliau ﷺ terluka.
Darah mengalir.
Dalam keadaan seperti itu, beliau ﷺ mencari tempat untuk berlindung.
Bayangkan…
Seseorang baru saja dihina.
Ditolak.
Diusir.
Dan dilempari batu.
Tetapi apa yang ada dalam pikiran beliau ﷺ?
Bukan bagaimana membalas.
Bukan bagaimana menghukum.
Beliau ﷺ masih memikirkan…
bagaimana agar mereka mendapatkan hidayah.
Ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghukum penduduk Thaif, Rasulullah ﷺ tidak memilih balas dendam.
Beliau ﷺ justru berharap agar dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah ﷻ semata.
Begitu luas kasih sayang beliau ﷺ.
Orang-orang yang menyakitinya pun masih beliau ﷺ harapkan mendapatkan hidayah.
---
Dan penderitaan itu tidak berhenti di Thaif.
Di Makkah pun Rasulullah ﷺ mengalami berbagai bentuk penghinaan.
Dalam riwayat sahih Bukhari dan Muslim, ketika beliau ﷺ sedang sujud di dekat Ka'bah, ‘Uqbah bin Abi Mu‘ayth meletakkan isi perut unta di atas punggung beliau ﷺ.
Namun Rasulullah ﷺ tetap dalam sujudnya…
hingga Fatimah رضي الله عنها datang dan membersihkannya.
Bayangkan…
Beliau ﷺ disakiti ketika sedang menghadap Allah ﷻ.
Tetapi beliau ﷺ tetap shalat.
Tetap berdakwah.
Tetap mengajarkan manusia untuk mengenal Allah ﷻ.
---
Penderitaan Rasulullah ﷺ juga bukan hanya berupa penghinaan dan luka.
Ada masa ketika kehidupan begitu sederhana.
Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa pernah berlalu waktu yang panjang bagi keluarga Nabi ﷺ tanpa menyalakan api untuk memasak.
Makanan mereka ketika itu adalah kurma dan air, kecuali apabila mendapatkan hadiah makanan.
Dalam Perang Khandaq, Jabir رضي الله عنه melihat Rasulullah ﷺ mengikat batu pada perutnya karena rasa lapar.
Namun lihatlah…
kesulitan hidup tidak mengubah kemuliaan beliau ﷺ.
Dunia tidak pernah menjadi tujuan utama beliau ﷺ.
---
Kemudian datang Perang Uhud.
Hari yang begitu berat bagi kaum Muslimin.
Rasulullah ﷺ mengalami luka.
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa wajah beliau ﷺ terluka dan salah satu gigi beliau ﷺ patah.
Darah mengalir dari wajah beliau ﷺ.
Para sahabat berusaha melindungi beliau ﷺ.
Namun meskipun tubuh beliau ﷺ terluka…
perjuangan tidak berhenti.
Beliau ﷺ tetap menjadi pemimpin.
Tetap mengingat Allah ﷻ.
Tetap membawa risalah.
---
Tetapi tahukah kita…
Mungkin luka terbesar Rasulullah ﷺ bukan hanya luka pada tubuhnya.
Melainkan…
besarnya rasa kasih sayang beliau ﷺ kepada umatnya.
Allah ﷻ berfirman:
«“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.”
QS. At-Taubah: 128»
Beliau ﷺ tidak mengejar kekayaan.
Tidak mengejar kemewahan.
Tidak mencari kekuasaan untuk dirinya sendiri.
Yang beliau ﷺ inginkan adalah…
agar manusia mengenal Allah ﷻ.
Agar manusia beriman.
Agar manusia selamat.
---
Sekarang…
Coba kita kembali melihat kehidupan kita.
Hari ini kita bisa membaca Al-Qur’an dengan tenang.
Kita bisa shalat tanpa dilempari batu.
Kita bisa menyebut nama Allah ﷻ tanpa harus bersembunyi.
Kita bisa mengajarkan anak-anak kita mengaji.
Kita bisa bershalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Kita bisa mendengar kisah perjuangan beliau ﷺ melalui kajian, buku, masjid, dan berbagai media.
Tetapi terkadang…
kita malas membuka Al-Qur’an.
Azan terdengar…
tetapi kita masih sibuk dengan dunia.
Masjid dekat…
tetapi langkah kita terasa berat.
Satu perintah Allah ﷻ datang…
tetapi kita merasa terlalu berat untuk melakukannya.
Padahal…
Rasulullah ﷺ pernah terluka agar risalah ini sampai kepada kita.
Beliau ﷺ pernah dihina.
Beliau ﷺ pernah ditolak.
Beliau ﷺ pernah lapar.
Beliau ﷺ kehilangan orang-orang yang beliau cintai.
Beliau ﷺ menangis.
Namun…
beliau ﷺ tidak menyerah.
---
Maka jangan sampai kita menikmati Islam…
tetapi melupakan perjuangannya.
Jangan sampai kita begitu mudah mengatakan,
“Aku mencintai Rasulullah ﷺ,”
tetapi sunnahnya kita tinggalkan.
Cinta bukan hanya ucapan.
Cinta harus terlihat dalam kehidupan.
Ikuti beliau ﷺ dalam shalat.
Ikuti beliau ﷺ dalam kejujuran.
Jaga lisan sebagaimana beliau ﷺ mengajarkan.
Jauhi maksiat.
Sayangi keluarga.
Belajar memaafkan.
Baca dan amalkan Al-Qur’an.
Dan yang paling utama…
jaga tauhid kepada Allah ﷻ sampai akhir hayat.
Allah ﷻ berfirman:
«“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”
QS. Ali ‘Imran: 31»
---
Suatu hari nanti…
kita akan meninggalkan semua yang hari ini kita kejar.
Harta akan ditinggalkan.
Rumah akan ditinggalkan.
Pekerjaan akan ditinggalkan.
Bahkan orang-orang yang kita cintai pun akhirnya akan berpisah dengan kita.
Yang akan menemani kita hanyalah…
iman dan amal.
Maka sebelum kita mengeluh karena hidup terasa berat…
ingatlah Rasulullah ﷺ.
Beliau ﷺ menghadapi penderitaan yang begitu besar.
Namun beliau ﷺ tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk berhenti.
Beliau ﷺ terus melangkah.
Terus berdakwah.
Terus bersabar.
Hingga risalah ini sampai kepada kita.
Dan hari ini…
kita menikmati Islam dengan begitu mudah.
Maka jangan sampai…
kita mendapatkan Islam dengan begitu mudah, tetapi menjalankannya dengan begitu sulit.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ.
Umat yang mengikuti sunnahnya.
Umat yang menjaga tauhid.
Umat yang istiqamah dalam kebaikan.
Hingga akhirnya…
kita dikumpulkan bersama Rasulullah ﷺ di tempat yang terbaik.
Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyyina Muhammad ﷺ.