28/12/2017
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad
Negeri ini tak pernah sepi dari isu. Selalu saja ada hal baru. Meski tetap ada topik lama yang diangkat setiap waktu.
Tahun ini, ucapan selamat natal datang dalam berbagai bentuk. Ada yang mengatasnamakan pemerintahan, ada yang menyebutkan ikut berbahagia, bersukacita, ada dalam bentuk selamat memperingati, dan ada juga yang menyarankan agar yang mengucapkan itu dipenjarakan karena telah melakukan pen*staan.
Ya Allah, Tuhanku Yang Maha Agung, anugerahkan kasih sayang dan perlindunganMu pada kami semua. Ampuni kami Ya Allah bila kami tak kunjung juga mengerti, tak bisa juga memahami. Ampuni perilaku kami bila kami membatasi kasihMu hanya untuk yang sepaham dengan kami.
Pernah saat, saya mengantar ayah saya menghadiri sebuah acara penghormatan tokoh-tokoh Sunda untuk almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Di forum itu, beliau ditanya seseorang, “Gus, mengapa Gus Dur menjadi anggota sebuah institut di Israel? Bukankah mereka Yahudi? Ayat Al-Qur’an mengingatkan kita: _Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…_(QS. Al-Baqarah [2]:120)
_Allah yarham_ Gus Dur menjawab singkat (betapa kita merindukan sosok seperti dia), “Coba Bapak baca ayatnya (dalam Bahasa Arab) dan terjemahkan kembali.” Bapak penanya pun membaca ayat dan menerjemahkannya. Gus Dur meminta (mengulanginya) hingga tiga kali. Bapak itu kebingungan apa maksud Gus Dur. Gus Dur kemudian menjelaskan, “Bapak benar membaca ayat dan terjemahannya. Tetapi saya berbeda dengan Bapak dalam mengambil kesimpulan.”
“Maksudnya Gus?”
“Saya memahami ayat itu begini. Kita ini umat Islam harus berlapang dada terhadap perbedaan. Kalau kita tidak senang, tidak rela, tidak ikhlas pada sesama sampai mereka seagama dengan kita, sependapat dengan kita, sekelompok dengan kita… lalu apa bedanya kita dengan Yahudi dan Nasrani _yang ditegur_ Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an itu? Umat beragama justru harus berbesar hati, berlapang dada terhadap perbedaan.”
Saya tertegun mendengarkan itu. Gus Dur memberikan saya jawaban dari pertanyaan yang juga pernah saya pikirkan. Umat beragama justru harus saling berlapang dada.
Di Kampus, saya pernah mengajar sekelompok mahasiswa berbeda agama, sebuah kelas internasional dari berbagai bangsa. Sampailah kami pada sudut-sudut pandang memahami agama. Ada partikularisme, ekslusivisme, inklusivisme, sinkretisme, dan pluralisme. Secara singkat, partikularisme: walau seagama, hanya kelompokku saja yang benar dan selamat. Ekslusivisme: yang selamat hanya yang seagama. Inklusivisme: membuka kebenaran dan kebaikan ada pada setiap agama. Sinkretisme: mencampuradukkan agama. Dan pluralisme: memandang serta memahami satu agama dari sisi agama itu meyakininya.
Sampailah kami pada topik pluralisme. Dan seperti saya duga, topik mengucapkan selamat natal mengemuka. Mahasiswa muslim terbagi pada dua: yang membolehkan dan yang melarangnya. Terjadi diskusi yang produktif di antara mereka. Kawan-kawan Kristiani juga bersuara. Menurut mereka: yang mengucapkan selamat natal tidak lantas seakidah dan sekeyakinan dengan mereka. Dan seterusnya.
Saya beri ruang itu terjadi. Di akhir, mereka meminta saya menengahi. Saya hanya menjawab: “Diskusi kita tidak berakhir. Mari kaji setiap pendapat dengan saksama. Kita belajar dan belajar lagi. Akan tetapi, akan saya tuliskan satu kalimat yang jadi pendapat saya. Siapa pun di antara kalian yang menurut kalian agama yang kalian anut tidak mengajarkan ini, boleh pulang sebelum waktunya. Boleh tidak hadir lagi di kelas ini setelahnya.” Mereka pun menunggu, kalimat apa yang akan saya tuliskan. Haditskah, ayat dari kitab sucikah?
Kemudian saya tulis besar-besar di papan itu. “Kita harus bersukacita dengan kebahagiaan sesama. Kita harus berdukacita dengan penderitaan sesama.”
Sesaat kelas hening. Mereka kemudian bertanya, “Jadi Pak, boleh mengucapkan selamat natal?”
“Setiap kita harus bersukacita dengan kebahagiaan sesama.”
“Jadi boleh, Pak?”
“Setiap kita harus bersukacita dengan kebahagiaan sesama.”
Mereka tertawa. Mereka bertanya, “Bagaimana caranya Pak kita ikut bersukacita?”
“Ya…kalian pikirkan. Kita tidak ikut ibadah mereka. Kita tidak ikut pernak-pernik mereka. Kita tidak juga mengantarkan parsel atau hadiah untuk mereka. Setidaknya yang bisa kita lakukan adalah…” suara saya meninggi menunggu jawaban mereka.
“Mengucapkan selamat pada mereka,” terdengar jawaban mereka.
Belajar dari Gus Dur, saya kembali berkata:
“Kita harus berbahagia dengan kebahagiaan sesama kita. Kita harus menderita dengan penderitaan sesama kita.”
Selamat berbahagia, Saudaraku. Perkenankan kami turut bersukacita.