18/12/2025
π
Ia tidak pergi. Ia tetap tinggal. Tapi jiwanya perlahan menghilang.
Hari demi hari, perempuan itu bertahan. Dihina, disalahkan, bahkan disakiti baik dengan kata-kata tajam maupun perlakuan dingin. Namun ia terus diam, bukan karena tak mampu bicara, melainkan karena sudah terlalu sering tidak didengarkan.
Ia menangis, lalu berhenti. Bukan karena luka itu sembuh, tapi karena air matanya habis. Ia berdoa, berharap perubahan, tapi yang datang justru lebih banyak luka.
Lambat laun, hatinya beku. Bukan karena benci, tapi karena lelah. Cinta yang dulu membara, kini tinggal bara nyaris padam. Bukan karena dia tidak setia, tapi karena terlalu sering dilukai oleh orang yang seharusnya menjaga.
Dan ketika hati seorang istri sudah mati rasa, jangan kira itu kemenangan. Itu tanda bahwa kau telah kehilangan satu-satunya orang yang paling bersabar untuk tetap bersamamu.