27/02/2026
Aku baru menikah … tapi pikiran dan hatiku justru kembali ke masa lalu. Aku harus gimana?
Part 5
“Apa kamu ingin menemui Hanin, Mas?” tanya Wulan pelan.
Firman menggeleng cepat. “Tidak. Aku sudah punya istri, yaitu kamu. Bagaimana mungkin aku meninggalkan istriku hanya untuk menemui wanita lain?” katanya mantap. Namun d a d a nya terasa sesak. Ucapannya berlawanan dengan isi hatinya.
Wulan menatap Firman lekat-lekat.
“Jangan bohong, Mas,” ucapnya lirih. “Aku tahu kamu mencemaskan dia. Kamu masih belum bisa melupakan Hanin, iya kan?”
Firman terdiam. Ia menunduk, jemarinya saling mengait lalu terlepas lagi. Ia tak sanggup menyangkal maupun mengiyakan.
Setelah hening panjang, Wulan kembali bicara.
“Pergilah, Mas. Temui dia. Siapa tahu dengan bertemu kamu, Hanin bisa pulih dari s a k i tnya.”
Firman terkejut. “Kamu bicara apa? Aku tidak akan pergi! Aku suamimu. Tidak seharusnya aku mempedulikan wanita lain.”
“Aku tidak keberatan,” jawab Wulan lembut. “Aku izinkan kamu menemui Hanin.”
“Kamu yakin?” tanya Firman ragu.
Wulan mengangguk. “Yakin. Tapi jangan bilang orang tua kita.”
Firman terdiam, lalu berkata, “Kalau begitu kamu ikut denganku. Aku hanya akan pergi kalau kamu ikut.”
Wulan sempat ragu, sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Ya sudah. Aku ikut. Kapan kita berangkat?”
“Lusa bisa?”
“Bisa.”
Ada rasa lega sekaligus bersalah di d a d a Firman. Ia tak menyangka Wulan akan sejauh ini mengalah.
“Sekarang istirahat,” ucap Firman sambil membuka k a n c i ng kemejanya. Wulan spontan memalingkan wajah, jantungnya berdegup kencang.
“Maaf,” kata Firman pelan.
“Tidak apa-apa,” jawab Wulan. “Kita sudah sah menjadi suami istri. Jadi sudah h a l a l, kan?”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
“Mas,” ujar Wulan hati-hati, “boleh aku minta satu syarat?”
“Syarat apa?”
Wulan mendekat dengan napas bergetar.
“Aku ingin… malam ini juga kamu m e n y e n t u h aku. Sebagai tanda kamu benar-benar menganggap aku istrimu.”
Firman menelan ludah.
“Kenapa kamu harus me nge m is seperti ini?” ucapnya lirih. “Kamu istriku. Kamu berhak atas nafkah batin dariku.”
Senyum lega terbit di wajah Wulan. Malam itu, mereka menjalani kewajiban sebagai suami istri, mengikat janji dalam ikatan yang sah.
***
Dua hari kemudian, Firman dan Wulan berpamitan pada orang tua dengan alasan bulan madu. Tujuan mereka sebenarnya adalah Malang.
Di perjalanan, Wulan lebih banyak diam. Tangannya menggenggam tangan Firman erat.
“Mas,” ucapnya pelan, “janji ya… kita hanya menjenguk Hanin. Jaga hatimu untuk aku.”
Firman terdiam.
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku janji.”
Namun hatinya kembali berbohong.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di depan rumah sederhana bercat putih. Firman mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum.”
Hening.
“Wa’alaikum salam.”
Pintu terbuka perlahan. Bu Nirmala berdiri di sana dengan kening berkerut.
“Maaf, cari siapa?”
Judul : Menggenggam Lara
Penulis : Nurramatika
Eksklusif di K B M app