Penerbit Kurva

Penerbit Kurva Penerbit, Penulis dan Pemasar (3P) Buku-Buku Populer Bernilai (Valuable Pop**ar Books)

09/07/2020

Siapapun bisa melakukan teknik ini. Jika anda mau!

09/07/2020

Tips bagi penulis pemula. Silahkan dicoba!

PROMO AWAL TAHUN 2020.Buku ini telah terjual ribuan eksemplar, menjadi inspirasi ribuan orang dalam menghadapi persoalan...
29/12/2019

PROMO AWAL TAHUN 2020.

Buku ini telah terjual ribuan eksemplar, menjadi inspirasi ribuan orang dalam menghadapi persoalan hidup dan pekerjaan. Konsep TAM adalah metode strategis dan praktis dalam menghadapi kemalangan hidup (adversity) yang bersumber dari keyakinan spiritual, sebagaimana para Nabi menghadapi persoalan hidup.

Buku ini sudah diberi testimoni oleh 1 orang Menteri, 1 orang Mantan Menteri, 1 orang Mantan Sekretaris Kementerian, dan beberapa pejabat teras organisasi/korporasi tingkat nasional.

Hanya dengan Rp. 35.000, Anda bisa memiliki buku ini di tahun baru ini!

Yuk, nggak pake lama!

35 ribu jika Anda pakai untuk membeli bakso, mungkin hanya dapat 2 porsi. Hanya kenyang sesaat.

Jika Anda pakai untuk membeli buku bernilai, Anda akan dapat investasi ilmu dan inspirasi berharga. Insya Allah tidak hanya sesaat.

Tanya/Beli Dulu Aja:
0811-2265-451 / 0897-9393-515 (Whatsapp Only)

PROMO AWAL TAHUN 2020.Novel ini filmis. Unsur dan gimmick sebagai roman cukup layak untuk diangkat ke layar lebar. Cukup...
29/12/2019

PROMO AWAL TAHUN 2020.

Novel ini filmis. Unsur dan gimmick sebagai roman cukup layak untuk diangkat ke layar lebar. Cukup inspiratif bagi pembaca maupun penonton filmnya nanti untuk belajar dan berusaha, menanamkan etos seorang pemuda muslim.

(Imam Tantowi, Sutradara & Penulis Skenario Film)

Tanya/Beli Dulu Aja:
0811-2265-451 (Whatsapp Only)

PROMO AKHIR TAHUN !!!Buku ini telah terjual ribuan eksemplar, menjadi inspirasi ribuan orang dalam menghadapi persoalan ...
26/12/2019

PROMO AKHIR TAHUN !!!

Buku ini telah terjual ribuan eksemplar, menjadi inspirasi ribuan orang dalam menghadapi persoalan hidup dan pekerjaan. Konsep TAM adalah metode strategis dan praktis dalam menghadapi kemalangan hidup (adversity) yang bersumber dari keyakinan spiritual, sebagaimana para Nabi menghadapi persoalan hidup.

Tanya/Beli Dulu Aja!
0811-2265-451 (Whatsapp Only)

Peluang baik untuk menerbitkan karya Anda.
12/12/2019

Peluang baik untuk menerbitkan karya Anda.

Yuk Pre-Order sekarang dan dapatkan harga khusus!
10/12/2019

Yuk Pre-Order sekarang dan dapatkan harga khusus!

Coming soon.
08/12/2019

Coming soon.

28/11/2019

K***a Books menyediakan layanan 3P:
Penerbit
Penulis
Pemasar

28/11/2019

KREATIVITAS

Kreativitas berasal dari kata “create” dan “activity”, artinya aktivitas menciptakan sesuatu. Sebelum membahas tentang manfaat kreativitas, kami ingin memulainya dengan unsur ontology dari creativity itu sendiri. Apa itu kreativitas?

Kata create (mencipta) bisa diilustrasikan dengan proses Tuhan menciptakan alam semesta. Menurut teori big bang, alam semesta pada awalnya berbentuk dari sebuah titik padat kemudian mengembang hingga mengalami ledakan dahsyat. Ini adalah proses yang menarik. Ternyata, kreativitas itu awalnya adalah sebuah titik. Titik tersebut diciptakan oleh Tuhan. Kemudian atas kuasa dan izin-Nya, titik tersebut berkembang (growing) menjadi sesuatu yang lebih indah dan lebih bernilai.

Itulah kreativitas. Ia merupakan aktivitas “mengembangkan sebuah titik”. Titik adalah starting point, awal kita melangkah dan berbuat sesuatu. Lalu apa hubungannya titik dengan masalah? Masalah adalah sesuatu yang senantiasa mengikuti perkembangan titik. Ia masuk ke dimensi ruang dan waktu, menyatu dalam diri manusia baik secara fisik maupun mental. Ia bergerak bersamaan dengan pergerakan kreativitas manusia.

Dalam pengertian tradisionalnya, sesungguhnya kreativitas berfungsi sebagai sistem untuk bertahan hidup (survival). Manusia tradisional sebelum mengenal teknologi memiliki bentuk kreativitas sendiri untuk bertahan hidup. Creativity for survival ini sesungguhnya juga masih tetap berlaku sampai saat ini, terutama dalam menghadapi persaingan bisnis.

Saya secara pribadi pernah bekerja di bidang kreativitas, yakni di media Televisi. Setiap hari saya berurusan dengan kreativitas. Sejak itu saya menyadari bahwa kreativitas itu memiliki harga yang sangat mahal. Sebuah produk bisa berhaga 1 juta, 10 juta atau 1 milyar tergantung pada kreativitasnya. Program TV yang kreatif dan diapresiasi oleh market mampu menghasilkan income 10 milyar dalam satu episode. Namun, ada p**a program yang hanya menghasilkan 100 juta, bahkan ada p**a yang “dibuang” dari slot tayangnya. Itulah “hukum alam” dari sebuah kreativitas.

Creativity & Problem

Jika seseorang memiliki sedikit masalah dan memiliki kreativitas yang rendah, maka ia akan menjadi manusia yang berada di titik regresi. Jika ia memiliki banyak masalah sementara kreativitasnya rendah, ia akan menjadi orang yang stress menghadapi masalah tersebut. Jika ia memiliki kreativitas yang tinggi namun tidak mengambil tantangan baru dalam hidup, ia hanya akan berada di zona nyaman (comfort zone) tanpa ada kemajuan kualitas hidup yang berarti. Sementara, jika ia menghadapi banyak masalah namun ia juga memiliki kreativitas yang tinggi, ia akan mengalami progresifitas dalam kualitas hidupnya.

Saya pribadi memiliki rasa kagum yang cukup tinggi terhadap fenomena lulusan pesantren di Indonesia, terutama pesantren yang memiliki model pendidikan yang memungkinkan para santrinya memiliki adversity management baik. Saya tidak pernah belajar di pesantren, namun saya mengamati dan mewawancarai banyak teman yang pernah belajar di pesantren. Dari informasi yang saya peroleh, saya kemudian merefleksikannya dengan konsep Transcendental Adversity Management (TAM).

Mungkin kita juga bisa melihat sendiri, bahwa rata-rata lulusan pesantren memiliki tingkat kemandirian lebih tinggi dari pelajar non-pesantren. Kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah juga relatif lebih matang dan terlatih. Di pesantren, mereka dilatih dan digembleng untuk hidup dalam keterbatasan dan serba kekurangan. Mereka harus tidur berjama’ah di satu kamar. Mereka harus bangun sebelum subuh, bahkan melakukan ibadah tahajud setiap hari. Mereka harus berdisiplin dalam mendirikan sholat, belajar dan mengerjakan kegiatan pribadi. Mereka dilatih memiliki solidaritas yang tinggi. Mereka dibiasakan menyelesaikan masalah secara kreatif dengan resource dan fasilitas apa adanya.

Rupanya, sadar maupun tidak, pesantren di Indonesia telah mendidik santri-santrinya untuk menjadi orang-orang yang progresif, yakni terbiasa menghadapi masalah yang banyak (high problems) dengan kemampuan kreativitas yang tinggi (high creativity). Mereka rata-rata merupakan orang yang mandiri dan berdikari. Meskipun tidak semua dari meraka berhasil menjadi orang kaya (sejahtera secara materi), namun kemampuannya menghadapi masalah hidup relatif lebih teruji di setiap waktu dan tempat. Mereka cenderung mampu bertahan hidup di mana saja, dan dalam situasi apa saja. Jarang mengeluh dan memiliki mentalitas yang kuat.

Bagaimana cara mengimplementasikan konsep ini di tempat lain? Tentu semua orang dapat dibentuk menjadi pribadi yang kreatif dan mandiri. Dalam organisasi bisnis, biasanya tanggungjawab dan tantangan kerja yang besar dapat menjadikan karyawan memiliki kecakapan yang di atas rata-rata. Karyawan perlu diberikan kepercayaan dan tanggungjawab yang berada di atas standar kemampuannya, sehingga ia dapat memperoleh pengalaman lebih untuk dipelajari dan meningkatkan kualitasnya.

Adversity training yang paling efektif adalah dengan terjun secara langsung dan berkotor-kotoran dalam lumpur masalah. Namun bukan berarti langsung terjun dalam masalah yang terlampau jauh dari proporsinya. Ibarat anak SD diberikan soal anak SMA, tentu yang terjadi adalah stress. Namun tidak p**a ditimpakan masalah yang terlalu ringan, sehingga menjadikan meraka berada di zona nyaman.

Masalah, kreativitas dan advsersity management adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam perspektif adversity management, masalah dapat difungsikan sebagai sarana untuk melatih diri mengembangkan kreativitas. Hanya saja, masalah tersebut harus dikelola dengan baik dan benar, agar proporsinya sesuai dengan kebutuhan pengembangan kualitas diri.

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA

20/11/2019

*PNS & KEBUTUHAN SDM ERA 4.0*

Tahun ini rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah dibuka. Salah satunya adalah rekrutmen Dosen oleh Kemdikbud. Karena penasaran, saya pun buka file kebutuhan formasi untuk pendidikan tinggi.

Wow, lumayan banyak juga ternyata kebutuhannya. Spontan saya berfikir, ternyata kebutuhan akan sumber daya pendidik masih tinggi. Padahal, dosen bahkan profesor kerapkali divonis, atau bahasa halusnya diprediksi, menjadi salah satu jenis profesi yang terancam musnah dari muka bumi.

Alasannya, profesi tersebut akan tersubstitusi oleh teknologi 4.0 yang mengkondisikan siswa/mahasiswa mampu belajar tanpa guidance dari manusia. Bahkan, instruksi atau arahan pembelajaran bisa dilakukan oleh mesin artificial intelligence (AI).

Dengan adanya rekrutmen dosen tahun ini, berarti negara masih memandang bahwa profesi pendidik masih dibutuhkan, setidaknya hingga 30 tahun yang akan datang.

Kok bisa? Kita hitung saja, kalau rata-rata usia dosen PNS yang direkrut tahun ini sekitar 30 tahunan, bukankah itu artinya negara siap menggajinya hingga usia pensiun (60 tahunan)?

Akan menjadi lucu bin ajaib, jika mereka dipensiunkan dini 10 tahun yang akan datang, hanya karena teknologi pembelajaran saat itu mungkin sudah seratus persen menggantikan peran dan fungsi dosen.

Seperti di Paris, ada sekolah bernama Ecole 42, sebuah sekolah coding yang didirikan oleh Xavier Niel sejak tahun 2013. Sekolah tersebut berjalan tanpa guru sama sekali.

Jika anda masuk ke websitenya, anda akan disambut dengan tagline: zero tuition, zero teachers, zero classes, 100 coding. Sekolah tersebut menerapkan pembelajaran peer-to-peer. Orientasinya adalah mencetak Software Engineer handal kelas dunia.

Akankah sekolah coding model Ecole 42 di Paris itu diduplikasi secara masal dan global? Menurut saya sangat possible. Model semacam itu berpeluang diadaptasi oleh sekolah-sekolah di seluruh dunia, termasuk Perguruan Tinggi.

Bahkan, pendidikan tinggi lebih possible dimulai lebih dulu, mengingat metode pembelajaran di Perguruan Tinggi adalah tipikal andragogi, dimana independensi mahasiswa dalam belajar jauh lebih tinggi dibanding siswa di sekolah.

Nah, pertanyaannya, kapan hal itu akan terjadi? 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, atau jangan-jangan lebih cepat dari itu?

Pertanyaan ini adalah semacam thought experiment. Kita wajib bertanya kepada pemerintah, khususnya Mendikbud, bagaimana rencana strategisnya dalam menyongsong pendidikan 4.0?

Apakah profesi dosen, dan juga guru, akan tetap marketable di era 4.0? Apakah ke depannya antara pendidik dan teknologi 4.0 akan diposisikan komplementer (saling melengkapi), ataukah substitutif (teknologi menggantikan peran guru sepenuhnya)?

Saya termasuk orang yang bahagia mendengar informasi rekrutmen dosen tahun ini. Sekurang-kurangnya, itu bermakna profesi dosen masih dibutuhkan sebagai pendidik di Perguruan Tinggi. Kemdikbud sudah cukup bijaksana dalam mengambil langkah.

Jika kita berkaca dari sekolah Ecole 42, menurut saya ada beberapa hal yang perlu kita cermati.

Pertama, sekolah tanpa guru semacam itu hanya cocok diorientasikan untuk mempelajari satu jenis keahlian tertentu. Kedua, sekolah seperti itu pada umumnya, dan sebaiknya, dimiliki dan dijalankan oleh korporasi (swasta).

Ketiga, pengguna (users) dari sekolah semacam itu sangat segmented, tidak bisa menjadi model sekolah umum. Keempat, investasi mendirikan dan menjalankan sekolah semacam itu masih sangat besar, meski akan menjadi lebih murah setelah menjadi “mass luxury” (kemewahan masal).

Sehingga menurut saya, gagasan “impor” tentang sekolah tanpa guru atau perguruan tinggi tanpa dosen, harus dikaji secara hati-hati. Pemerintah jangan sampai salah langkah, apalagi sampai melakukan copy paste tanpa mempertimbangkan kondisi pendidikan di Indonesia.

Oleh karena itu, sustainability pendidikan harus kita jaga bersama, baik oleh pemerintah, swasta dan masyarakat. Pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya dan seutuh-utuhnya.

Adaptasi teknologi 4.0 ke dunia pendidikan harus tetap mempertimbangkan kesiapan (readiness) para pelaku dan semua stakeholders yang terlibat. Jangan sampai kita menjadi latah dengan perubahan zaman, hingga merugikan bangsa sendiri.

Sekali lagi, terima kasih kepada Kemdikbud yang telah membuka rekrutmen dosen tahun 2019 ini. Mungkin saya juga tertarik untuk mendaftar!

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA.

20/11/2019

*KEPAKARAN DAN PENDIDIKAN 4.0*

Mana yang lebih dulu, permintaan (demand) ataukah penawaran (supply)? Secara teori, salah satu dari keduanya bisa muncul lebih dulu. Namun untuk konteks pendidikan, apakah yang muncul kebutuhan masyarakat terlebih dahulu (sebagai demand), ataukah sistem pendidikan terlebih dahulu (sebagai supply)?

Sebagian orang (termasuk para pembuat kebijakan) selama ini memandang bahwa sistem pendidikan ditentukan oleh perkembangan kebutuhan masyarakat. Artinya, demand hadir lebih dulu. Pendidikan hanya mensuplai kebutuhan tersebut. Sehingga tidak heran jika Puncreobutr (2016) menyebutkan bahwa fase perkembangan pendididikan ditentukan oleh perubahan kebutuhan masyarakatnya.

Ia menyebutkan bahwa Education 1.0 hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agraris. Education 2.0 muncul sebagai respon untuk memenuhi kebutuhan masyarakat industri. Kemudian Education 3.0 hadir untuk menyediakan kebutuhan masyarakat teknologi. Kini, Education 4.0 muncul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat inovasi.

Jika basis berfikir demikian diadaptasi oleh para pembuat kebijakan, maka tidak heran kalau sistem pendidikan kerapkali diubah-ubah sesuai dengan perkembangan kebutuhan penggunanya (the users).

Istilah user (pengguna jasa pendidikan) disini seharusnya dialamatkan kepada siswa/mahasiswa, karena merekalah yang membayar biaya pendidikan. Namun, saat ini tampaknya justru lebih dialamatkan kepada pasar kerja. Sehingga siswa/mahasiswa akhirnya tidak punya banyak pilihan selain menerima service pendidikan yang diorientasikan untuk pemenuhan pasar kerja (dunia industri).

Apakah itu salah? Mungkin tidak. Link and match antara pendidikan dengan kebutuhan dunia industri juga diperlukan. Kebutuhan Revolusi Industri 4.0 yang diselimuti kecanggihan teknologi semacam artificial intelligence, komputasi cloud, IoT, big data, teknologi robotik, harus direspon secara “agile” (lincah) dengan pembangunan suprastruktur dan infrastruktur pendidikan 4.0.

Namun, menurut saya, pendidikan tidak boleh seenaknya direduksi menjadi pranata yang hanya menyediakan kebutuhan akan keterampilan atau memfasilitasi pengembangan bakat dan kecerdasan. Yang perlu kita sadari adalah bahwa:

1. Pendidikan berbeda dengan pengajaran (teaching).
2. Pendidikan berbeda dengan pelatihan (training)
3. Pendidikan berbeda dengan kursus (course)
4. Pendidikan berbeda dengan mentoring
5. Pendidikan berbeda dengan coaching

Pengajaran, pelatihan, kursus, mentoring dan coaching mungkin dapat dilakukan secara digital/online, namun semua itu tidak dapat mensubstitusi definisi pendidikan yang sejatinya berdimensi holistik dan komprehensif.

Di dalam pendidikan, ada nilai-nilai normatif dan moralitas (etika, adab) yang hanya efektif dibangun melalui pendidikan tatap muka.

Pendidikan tidak boleh berdimensi parsial. Ia mencakup dimensi pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) sekaligus perilaku (behavior) yang diramu secara khusus dengan sentuhan tangan keteladanan dan keikhlasan para pendidik/guru. Ia tidak akan pernah bisa tergantikan oleh teknologi yang bersifat mekanistik.

Sistem dan kualitas pendidikan bangsa ini memang sudah sangat krusial untuk diperbaiki. Namun, jangan sampai mengubah akar filosofi dan tata nilai pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang ada bisa dimodifikasi dan ditransformasi dari sisi metode dan teknologinya, tanpa harus mencerabut tata nilainya.

Jangan sampai pendidikan kita berhasil menciptakan SDM yang skillful, namun memiliki karakter egoistik dan individualistik akibat metode pembelajaran yang semakin “personal” melalui teknologi.

Untuk itu, sekolah dan Perguruan Tinggi (PT) harus tetap menyediakan layanan pendidikan yang holistik dan komprehensif. Pendidikan berbasis karakter yang sedang digodok menjadi produk kebijakan Kemendikbud perlu didukung, namun harus dipastikan tidak terjadi reduksi terhadap tata nilai dan tujuan pendidikan yang selama ini menjiwai pendidikan Indonesia.

KEPAKARAN 4.0

Saya memprediksi pendidikan masa depan kita akan semakin berorientasi pada kepakaran (expertness). Kepakaran adalah “high degree of skill in or knowledge of a certain subject”. Hal ini karena adanya division of labor yang semakin spesifik (terspesialisasi). Sehingga orang akan cenderung memilih jenis keahlian (expertise) yang diinginkannya.

Untuk bisa survive dalam hidup/bekerja, manusia tidak perlu menguasai banyak hal, melainkan cukup ahli di satu bidang tertentu. Tentu dengan keahlian yang mendalam.

Meskipun demikian, orientasi kepakaran (expertness) tetap tidak boleh menjadi produk reduksi dari pendidikan. Pendidikan harus tetap holistik dan komprehensif, sementara kepakaran boleh bersifat parsial-teknokratik.

Program pengembangan kepakaran boleh sepenuhnya dilakukan secara digital/online. Untuk memiliki keahlian di bidang tertentu, kita cukup belajar dan bertanya kepada pakarnya. Pembelajaran bisa dilakukan dengan model pelatihan, kursus, mentoring, coaching ataupun hanya sekadar tanya-jawab, baik dengan cara direct maupun indirect, selama terjadi transfer keahlian dari pakarnya.

Pendidikan dan kepakaran harus bersinergi, agar tercipta sumber daya insani yang memiliki karakter utuh sebagai manusia sekaligus memiliki hardskill yang spesifik sebagai profesional.

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA.

Address

Bojong Kebon Kalapa RT 2 RW 10 Komplek Masjid Amal Sholeh, Cipedes, Kota Tasikmalaya
Tasikmalaya

Telephone

+628979393515

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penerbit Kurva posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Penerbit Kurva:

Share

Category