20/11/2019
*PNS & KEBUTUHAN SDM ERA 4.0*
Tahun ini rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah dibuka. Salah satunya adalah rekrutmen Dosen oleh Kemdikbud. Karena penasaran, saya pun buka file kebutuhan formasi untuk pendidikan tinggi.
Wow, lumayan banyak juga ternyata kebutuhannya. Spontan saya berfikir, ternyata kebutuhan akan sumber daya pendidik masih tinggi. Padahal, dosen bahkan profesor kerapkali divonis, atau bahasa halusnya diprediksi, menjadi salah satu jenis profesi yang terancam musnah dari muka bumi.
Alasannya, profesi tersebut akan tersubstitusi oleh teknologi 4.0 yang mengkondisikan siswa/mahasiswa mampu belajar tanpa guidance dari manusia. Bahkan, instruksi atau arahan pembelajaran bisa dilakukan oleh mesin artificial intelligence (AI).
Dengan adanya rekrutmen dosen tahun ini, berarti negara masih memandang bahwa profesi pendidik masih dibutuhkan, setidaknya hingga 30 tahun yang akan datang.
Kok bisa? Kita hitung saja, kalau rata-rata usia dosen PNS yang direkrut tahun ini sekitar 30 tahunan, bukankah itu artinya negara siap menggajinya hingga usia pensiun (60 tahunan)?
Akan menjadi lucu bin ajaib, jika mereka dipensiunkan dini 10 tahun yang akan datang, hanya karena teknologi pembelajaran saat itu mungkin sudah seratus persen menggantikan peran dan fungsi dosen.
Seperti di Paris, ada sekolah bernama Ecole 42, sebuah sekolah coding yang didirikan oleh Xavier Niel sejak tahun 2013. Sekolah tersebut berjalan tanpa guru sama sekali.
Jika anda masuk ke websitenya, anda akan disambut dengan tagline: zero tuition, zero teachers, zero classes, 100 coding. Sekolah tersebut menerapkan pembelajaran peer-to-peer. Orientasinya adalah mencetak Software Engineer handal kelas dunia.
Akankah sekolah coding model Ecole 42 di Paris itu diduplikasi secara masal dan global? Menurut saya sangat possible. Model semacam itu berpeluang diadaptasi oleh sekolah-sekolah di seluruh dunia, termasuk Perguruan Tinggi.
Bahkan, pendidikan tinggi lebih possible dimulai lebih dulu, mengingat metode pembelajaran di Perguruan Tinggi adalah tipikal andragogi, dimana independensi mahasiswa dalam belajar jauh lebih tinggi dibanding siswa di sekolah.
Nah, pertanyaannya, kapan hal itu akan terjadi? 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, atau jangan-jangan lebih cepat dari itu?
Pertanyaan ini adalah semacam thought experiment. Kita wajib bertanya kepada pemerintah, khususnya Mendikbud, bagaimana rencana strategisnya dalam menyongsong pendidikan 4.0?
Apakah profesi dosen, dan juga guru, akan tetap marketable di era 4.0? Apakah ke depannya antara pendidik dan teknologi 4.0 akan diposisikan komplementer (saling melengkapi), ataukah substitutif (teknologi menggantikan peran guru sepenuhnya)?
Saya termasuk orang yang bahagia mendengar informasi rekrutmen dosen tahun ini. Sekurang-kurangnya, itu bermakna profesi dosen masih dibutuhkan sebagai pendidik di Perguruan Tinggi. Kemdikbud sudah cukup bijaksana dalam mengambil langkah.
Jika kita berkaca dari sekolah Ecole 42, menurut saya ada beberapa hal yang perlu kita cermati.
Pertama, sekolah tanpa guru semacam itu hanya cocok diorientasikan untuk mempelajari satu jenis keahlian tertentu. Kedua, sekolah seperti itu pada umumnya, dan sebaiknya, dimiliki dan dijalankan oleh korporasi (swasta).
Ketiga, pengguna (users) dari sekolah semacam itu sangat segmented, tidak bisa menjadi model sekolah umum. Keempat, investasi mendirikan dan menjalankan sekolah semacam itu masih sangat besar, meski akan menjadi lebih murah setelah menjadi “mass luxury” (kemewahan masal).
Sehingga menurut saya, gagasan “impor” tentang sekolah tanpa guru atau perguruan tinggi tanpa dosen, harus dikaji secara hati-hati. Pemerintah jangan sampai salah langkah, apalagi sampai melakukan copy paste tanpa mempertimbangkan kondisi pendidikan di Indonesia.
Oleh karena itu, sustainability pendidikan harus kita jaga bersama, baik oleh pemerintah, swasta dan masyarakat. Pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya dan seutuh-utuhnya.
Adaptasi teknologi 4.0 ke dunia pendidikan harus tetap mempertimbangkan kesiapan (readiness) para pelaku dan semua stakeholders yang terlibat. Jangan sampai kita menjadi latah dengan perubahan zaman, hingga merugikan bangsa sendiri.
Sekali lagi, terima kasih kepada Kemdikbud yang telah membuka rekrutmen dosen tahun 2019 ini. Mungkin saya juga tertarik untuk mendaftar!
Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA.