12/04/2026
Bagus nih, dapat dari Thread.
Buat nambah pengetahuan aja, bukan buat debat ya Gaes.
ππ»ππ»ππ»
Temen gw kerja di salah satu e-wallet terbesar di Indonesia.
Suatu malam gw nanya iseng: "Lo kerja di situ enak ya, gaji gede?"
Dia ketawa. "Tau gak lo darimana duit kita?"
"Dari merchant kan? Yg pake QRIS?"
"Itu cuma sebagian kecil. Revenue PALING GEDE kita? Dari biaya yg lo bahkan GAK SADAR lo bayar."
Satu kalimat. Yg bikin gw langsung cek mutasi rekening.
Namanya: B**** A**** T******.
***
"Maksudnya biaya admin?"
"Yup. Setiap lo top-up e-wallet dari bank, kena biaya Rp 1.000 sampe Rp 2.500."
"Ya itu kan biaya bank?"
Dia ketawa lagi. "Lo pikir itu masuk ke bank lo? ENGGA. Sebagian besar masuk ke KITA. Platform e-wallet."
"Lah kok bisa?"
"Krn kita yg SET biaya itu. Bank cuma dapet sebagian kecil sbg switching fee. Sisanya? Revenue kita."
***
Gw mulai itung.
Top-up e-wallet: rata-rata 3x seminggu.
Biaya admin per top-up: Rp 1.500.
Rp 1.500 x 3 x 52 minggu = Rp 234.000 per tahun.
"Itu baru TOP-UP. Belum transfer antar e-wallet, transfer ke bank, bayar tagihan. Setiap transaksi ada fee."
Gw cek mutasi setahun terakhir. Total biaya admin gw?
Hampir Rp 400 RIBU. Cuma buat MINDAHIN uang gw sendiri.
***
"Tapi kan cuma Rp 1.500. Kecil."
"Kecil buat lo. Tapi kalikan 50 JUTA user aktif."
Gw itung:
50 juta user x Rp 1.500 x 3 kali seminggu = Rp 225 MILIAR per minggu.
PER MINGGU.
"Itu kenapa e-wallet bisa bakar duit kasih promo cashback 10-20%. Krn revenue dari biaya admin aja udah TRILIUNAN per tahun."
"Dan lo masih mikir Rp 1.500 itu kecil?"
***
"Trs kenapa gak gratis aja?"
"Pernah gratis. Dulu waktu awal-awal, top-up gratis. Transfer gratis. Semua gratis."
"Trs kenapa sekarang bayar?"
"Krn lo udah KETAGIHAN. Dulu gratis buat bikin lo pindah dari cash ke digital. Begitu lo gak bisa hidup tanpa e-wallet, baru kita pasang fee."
"Itu namanya apa?"
"Di bisnis kita namanya MONETIZATION PHASE. Lo itu produknya. Bukan customernya."
***
"Itu baru top-up. Coba lo cek fee lainnya."
Transfer ke bank: Rp 2.500
Transfer antar user beda platform: Rp 1.000 - 2.500
Bayar tagihan: ada biaya admin Rp 1.000 - 3.000
Tarik saldo ke rekening: Rp 2.500
"Setiap GERAKAN uang lo, kita ambil sepotong. Lo mau kirim ke temen? Fee. Lo mau balikin ke rekening lo sendiri? Fee. Uang lo, tapi lo bayar tiap kali nyentuh."
***
"Yang paling gila? QRIS."
"QRIS kan gratis buat pembeli?"
"Gratis buat lo. Tapi merchant bayar MDR
Merchant Discount Rate. 0,3% sampai 0,7% per transaksi."
"Artinya?"
"Artinya warung nasi padang yg lo bayar pake QRIS? Dia kehilangan Rp 70-350 per transaksi. Kecil? Kalikan ratusan transaksi per hari."
"Dan tau gak siapa yg nanggung? Bukan platform. Merchant naikin harga ke KONSUMEN. Lo tetap yg bayar."
***
Gw tanya: "Trs cara biar gak kena fee gimana?"
"Pertama , top-up dari BANK YANG SAMA dengan partner e-wallet lo. Beberapa bank partner gak kena biaya top-up."
"Contohnya?"
"Cek di aplikasinya. Biasanya bank yg jadi investor e-wallet itu gratis top-up. Lo cuma perlu buka satu rekening di bank itu."
"Satu rekening bisa hemat Rp 300-400 ribu setahun?"
"Minimal."
***
"Kedua , kalau bisa, bayar langsung dari rekening bank pakai QRIS. Banyak mobile banking sekarang support QRIS langsung. Gak perlu lewat e-wallet."
"Bedanya apa?"
"Lo skip satu layer. Gak perlu top-up, gak kena fee top-up. Uang langsung dari rekening lo ke merchant."
"Ketiga , jangan sering tarik saldo ke rekening. Kalau udah di e-wallet, habiskan di e-wallet. Setiap tarik balik kena Rp 2.500."
***
Dan ini yg paling penting.
Berdasarkan PBI (Peraturan Bank Indonesia) No. 23/6/PBI/2021 tentang Penyedia Jasa Pembayaran , platform e-wallet WAJIB menampilkan SEMUA biaya secara transparan SEBELUM transaksi.
Kalau lo pernah kena biaya yg GAK ditampilin di awal atau beda dari yg tertera , itu PELANGGARAN.
Lo bisa lapor ke Bank Indonesia lewat: 131 (call center BI) atau AKKI (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia) dan OJK di 157.
***
E-wallet itu maksudnya seperti Ovo, gopay, shopeepay, linkaja, dana.