Keluarga Renggana

Keluarga Renggana Jalan-Jalan Makan-Makan Dapet Cuan

(5)

01/05/2026

Cuma mau kasih tau:
πŸ’΅ Dolar AS tembus Rp 17.360
πŸ“… 17 Juli jatuh tempo utang Rp 833 T
🏦 Total utang Rp 9.658 T
πŸ’° Bunga utang Rp 599 T
πŸ“‰ IHSG anjlok ke 7.129
🏭 Harga plastik naik 50%
πŸ”₯ Gas LPG non-subsidi naik 18%
β›½ BBM non-subsidi naik 40–60%

Menuju Indonesia Emas πŸ’ͺπŸ’ͺ

26/04/2026

Di zaman gini,
profesi apa yg keliatannya ga keren tapi duitnya banyak??

Padahal transaksi di bank aja, salah satu huruf transaksi ditolak
16/04/2026

Padahal transaksi di bank aja, salah satu huruf transaksi ditolak

Saldo 500ribu selama 3-4 tahun dicek saldonya tinggal 0 ‼️⁉️Gw punya temen kerja di bank. Bagian operasional rekening.Pa...
15/04/2026

Saldo 500ribu selama 3-4 tahun dicek saldonya tinggal 0 ‼️⁉️

Gw punya temen kerja di bank. Bagian operasional rekening.

Pas kemaren ketemui gw nanya: "Gw kayaknya masih punya rekening lama yg udah gak dipake bertahun-tahun. Gak apa-apa kan dibiarin aja?"

Dia diem. "Lo terakhir cek saldonya kapan?"

"Udah lupa. Mungkin 3-4 tahun lalu? Harusnya masih ada sisa Rp 500 ribuan."

"Coba cek sekarang."

Gw login mobile banking. Saldo: Rp 0.

Rp 500 ribu gw. ILANG. Tanpa gw belanjain. Tanpa gw tarik. Tanpa ada yg kasih tau.

Namanya: R******* D******.

"Kok bisa saldo gw habis?"

"Krn BIAYA ADMIN. Rekening lo gak aktif, tapi bank TETAP motong biaya admin tiap bulan."

"Berapa?"

"Tergantung bank dan jenis tabungan. Tapi ini angka real:
BCA Tahapan: Rp 15.000-20.000 per bulan.
BRI BritAma: Rp 18.500 per bulan (admin + kartu).
Mandiri: Rp 12.500 + denda Rp 5.000 kalau saldo di bawah minimum.
BNI Taplus: Rp 11.000 + denda Rp 5.000."

"Lo punya saldo Rp 500 ribu. Dipotong Rp 15 ribu per bulan. 33 bulan kemudian? NOL."

Gw itung.

Saldo Rp 500 ribu. Biaya admin Rp 15 ribu per bulan.

Bulan ke-1: Rp 485.000
Bulan ke-6: Rp 410.000
Bulan ke-12: Rp 320.000
Bulan ke-24: Rp 140.000
Bulan ke-33: Rp 5.000
Bulan ke-34: Rp 0.

Kurang dari 3 tahun. Saldo HABIS.

Gw gak pernah dapet telpon, SMS, atau email dari bank. Gak ada yg kasih tau saldo gw lagi dimakan pelan-pelan.

"Kenapa bank gak kasih tau?"

"Krn lo setuju waktu buka rekening. Di syarat dan ketentuan ada pasal soal biaya admin bulanan yg dipotong otomatis. Lo tanda tangan, lo setuju."

"Tapi gw gak baca."

"Hampir gak ada yg baca. Dan bank GAK WAJIB ingetin lo setiap bulan kalau saldo lo lagi dimakan admin."

"Potongan admin dari rekening yg gak aktif itu bukan bug. Itu FITUR. Revenue bank dari jutaan rekening yg ditinggalin pemiliknya."

"Habis saldo nol, trs apa yg terjadi?"

"Rekening lo jadi DORMANT. Gak bisa dipake transaksi apapun. Gak bisa transfer masuk, gak bisa transfer keluar."

"Berdasarkan POJK No. 24 Tahun 2025 yg baru aja terbit:
Gak ada transaksi lebih dari 360 hari = status TIDAK AKTIF.
Gak ada transaksi lebih dari 1.800 hari (5 tahun) = status DORMANT."

"Dan kalau saldo Rp 0 selama 6 bulan berturut-turut? Bank bisa TUTUP rekening lo secara otomatis."

"Rekening ILANG. Saldo ILANG. Dan lo baru tau pas butuh."

Sumber nafkahnationdx

Bagus nih, dapat dari Thread. Buat nambah pengetahuan aja, bukan buat debat ya Gaes.  πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»Temen gw kerja di salah satu...
12/04/2026

Bagus nih, dapat dari Thread.
Buat nambah pengetahuan aja, bukan buat debat ya Gaes.
πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»πŸ‘‡πŸ»

Temen gw kerja di salah satu e-wallet terbesar di Indonesia.

Suatu malam gw nanya iseng: "Lo kerja di situ enak ya, gaji gede?"

Dia ketawa. "Tau gak lo darimana duit kita?"

"Dari merchant kan? Yg pake QRIS?"

"Itu cuma sebagian kecil. Revenue PALING GEDE kita? Dari biaya yg lo bahkan GAK SADAR lo bayar."

Satu kalimat. Yg bikin gw langsung cek mutasi rekening.

Namanya: B**** A**** T******.

***

"Maksudnya biaya admin?"

"Yup. Setiap lo top-up e-wallet dari bank, kena biaya Rp 1.000 sampe Rp 2.500."

"Ya itu kan biaya bank?"

Dia ketawa lagi. "Lo pikir itu masuk ke bank lo? ENGGA. Sebagian besar masuk ke KITA. Platform e-wallet."

"Lah kok bisa?"

"Krn kita yg SET biaya itu. Bank cuma dapet sebagian kecil sbg switching fee. Sisanya? Revenue kita."

***
Gw mulai itung.

Top-up e-wallet: rata-rata 3x seminggu.
Biaya admin per top-up: Rp 1.500.

Rp 1.500 x 3 x 52 minggu = Rp 234.000 per tahun.

"Itu baru TOP-UP. Belum transfer antar e-wallet, transfer ke bank, bayar tagihan. Setiap transaksi ada fee."

Gw cek mutasi setahun terakhir. Total biaya admin gw?

Hampir Rp 400 RIBU. Cuma buat MINDAHIN uang gw sendiri.

***

"Tapi kan cuma Rp 1.500. Kecil."

"Kecil buat lo. Tapi kalikan 50 JUTA user aktif."

Gw itung:
50 juta user x Rp 1.500 x 3 kali seminggu = Rp 225 MILIAR per minggu.

PER MINGGU.

"Itu kenapa e-wallet bisa bakar duit kasih promo cashback 10-20%. Krn revenue dari biaya admin aja udah TRILIUNAN per tahun."

"Dan lo masih mikir Rp 1.500 itu kecil?"

***

"Trs kenapa gak gratis aja?"

"Pernah gratis. Dulu waktu awal-awal, top-up gratis. Transfer gratis. Semua gratis."

"Trs kenapa sekarang bayar?"

"Krn lo udah KETAGIHAN. Dulu gratis buat bikin lo pindah dari cash ke digital. Begitu lo gak bisa hidup tanpa e-wallet, baru kita pasang fee."

"Itu namanya apa?"

"Di bisnis kita namanya MONETIZATION PHASE. Lo itu produknya. Bukan customernya."

***

"Itu baru top-up. Coba lo cek fee lainnya."

Transfer ke bank: Rp 2.500
Transfer antar user beda platform: Rp 1.000 - 2.500
Bayar tagihan: ada biaya admin Rp 1.000 - 3.000
Tarik saldo ke rekening: Rp 2.500

"Setiap GERAKAN uang lo, kita ambil sepotong. Lo mau kirim ke temen? Fee. Lo mau balikin ke rekening lo sendiri? Fee. Uang lo, tapi lo bayar tiap kali nyentuh."

***

"Yang paling gila? QRIS."

"QRIS kan gratis buat pembeli?"

"Gratis buat lo. Tapi merchant bayar MDR
Merchant Discount Rate. 0,3% sampai 0,7% per transaksi."

"Artinya?"

"Artinya warung nasi padang yg lo bayar pake QRIS? Dia kehilangan Rp 70-350 per transaksi. Kecil? Kalikan ratusan transaksi per hari."

"Dan tau gak siapa yg nanggung? Bukan platform. Merchant naikin harga ke KONSUMEN. Lo tetap yg bayar."

***

Gw tanya: "Trs cara biar gak kena fee gimana?"

"Pertama , top-up dari BANK YANG SAMA dengan partner e-wallet lo. Beberapa bank partner gak kena biaya top-up."

"Contohnya?"

"Cek di aplikasinya. Biasanya bank yg jadi investor e-wallet itu gratis top-up. Lo cuma perlu buka satu rekening di bank itu."

"Satu rekening bisa hemat Rp 300-400 ribu setahun?"

"Minimal."

***

"Kedua , kalau bisa, bayar langsung dari rekening bank pakai QRIS. Banyak mobile banking sekarang support QRIS langsung. Gak perlu lewat e-wallet."

"Bedanya apa?"

"Lo skip satu layer. Gak perlu top-up, gak kena fee top-up. Uang langsung dari rekening lo ke merchant."

"Ketiga , jangan sering tarik saldo ke rekening. Kalau udah di e-wallet, habiskan di e-wallet. Setiap tarik balik kena Rp 2.500."

***

Dan ini yg paling penting.

Berdasarkan PBI (Peraturan Bank Indonesia) No. 23/6/PBI/2021 tentang Penyedia Jasa Pembayaran , platform e-wallet WAJIB menampilkan SEMUA biaya secara transparan SEBELUM transaksi.

Kalau lo pernah kena biaya yg GAK ditampilin di awal atau beda dari yg tertera , itu PELANGGARAN.

Lo bisa lapor ke Bank Indonesia lewat: 131 (call center BI) atau AKKI (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia) dan OJK di 157.

***

E-wallet itu maksudnya seperti Ovo, gopay, shopeepay, linkaja, dana.

Cara menghadapi masalah itu ada 2 cara, cara dr.gia atau dr.tirta πŸ˜‡
12/04/2026

Cara menghadapi masalah itu ada 2 cara, cara dr.gia atau dr.tirta πŸ˜‡

Inspirasi rumah untuk pensiun πŸ˜‡
12/04/2026

Inspirasi rumah untuk pensiun πŸ˜‡

KENAPA HARGA DI MINI MARKET DI RAK DAN DI STRUK BERBEDA?Temen gw kerja di minimarket. Bukan manajer. Bukan owner. Kasir....
10/04/2026

KENAPA HARGA DI MINI MARKET DI RAK DAN DI STRUK BERBEDA?

Temen gw kerja di minimarket. Bukan manajer. Bukan owner. Kasir.

Suatu malam gw tanya: "Lo pernah gak sih dikomplain gara-gara harga di rak beda sama di struk?" Dia ketawa. "Tiap hari."

"Trs gimana?"

Dia bilang satu hal yg bikin gw diem.

Satu hal yg harusnya lo tau SEBELUM lo bayar di kasir manapun. Tapi gak ada minimarket yg bakal pasang info ini di depan kasir mereka.

Dia bilang:
"Kalau ada customer yg protes, kita kasih harga yg di rak. Yg lebih murah. Gak pake debat."

"Tapi kalau customer-nya diem?"
Ya kena harga yg di sistem."
"Yg lebih mahal?"
Yg lebih mahal."
Gw diem.
Jadi yg diem rugi?"

"Yg diem SELALU rugi. Tiap hari. Dan 9 dari 10
orang diem."

Ini yg terjadi
Harga barang di minimarket berubah terus.
Naik turun. Promo dateng pergi. Supplier ganti
harga.Sistem kasir di-update OTOMATIS dari pusat.Langsung masuk seketika
Tapi label harga di rak? Di-update MANUAL Satu per satu. Oleh karyawan yg cuma 2-3 orang per shift. Ngurus ribuan item
Hasilnya: label di rak TERTINGGAL.
Bisa 1 hari.
Bisa seminggu.
Bisa LEBIH

Lo ambil barang. Liat harga di rak: Rp 15.500
Scan di kasir: Rp 17.200
Selisih Rp 1.700. Lo gak nyadar. Lo bayar.

"Rp 1.700 doang."

lya. Rp 1700.
Tapi lo belanja 10 item. 3 di antaranya selisih.
Total selisih: Rp 5000-8000.
Seminggu 2 kali belanja. Sebulan 8 kali.
Setahun 96 kali.
Rp 5000 x 96 Rp 480 ribu per tahun.
Buat harga yg SALAH. Yg BELUM di-update. Yg
bukan salah lo.
Kali berapa juta konsumen yg diem tiap hari?

Gw tanya temen gw lagi: "Emang gak ada
aturannya?"

Dia bilang: "Ada. Malah jelas banget. Tapi ya
siapa yg tau?"
Aturannya:
Permendag No. 35 Tahun 2013. Pasal 7 ayat 2.
Bunyinya: kalau ada perbedaan antara harga yg
dicantumkan di rak dengan harga yg dikenakan saat pembayaran, maka yg berlaku adalah

HARGA YANG TERENDAH.

Bukan harga di sistem.

Bukan harga "terbaru."

Bukan harga yg "belum di-update"

HARGA TERENDAH. Titik.

Dan ini bukan cuma Permendag
UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

Konsumen:
Pasal 4: berhak dapet informasi yg benar, jelas,
dan jujur soal harga barang.

Pasal 8 ayat 1 huruf f: pelaku usaha DILARANG yg tertulis di label

memperdagangkan barang yg tidak sesuai dg yg tertulis di label

Sanksinya? Pidana penjara maksimal 5 tahun Atau denda maksimal Rp 2 M

Bukan Rp 1.700. Rp 2 M

Dan Ketua BPKN sendiri bilang: "Kalau ada terendah yg digunakan. Itu HAK konsumen .

Temen gw lanjut: "Masalahnya bukan aturannya gak ada. Aturannya ada. Jelas. Kuat

"Trs masalahnya apa?"

"Masalahnya lo GA TAU. n lo GAK BERANI."

"Lo liat struk, beda dg harga yg lo inget di rak. Tapi lo mikir: ah ribet Antrian panjang. Kasirnya
capek. Gw gak enak"

"Jadi lo diem. Bayar Pergi."

"Dan besok lo balik lagi. Beli barang yg sama. Harga masih salah. Lo diem lagi."

"Tiap hari. Dari 100 org yg kena, paling 2-3 yg
protes. Sisanya subsidiin selisih hrg yg harusnya bkn tanggung jwb mrk.

Senjata lo. Simpel. Gak perlu ribut. Gak perlu
teriak

1. SEBELUM bayar, cek struk. Bandingin dg harga yg lo inget atau foto di rak. Butuh 10 detik.

2. Kalau ada selisih, bilang ke kasir: "Mas/Mbak, harga di rak Rp 15.500, tapi di struk Rp
17.200.

Menurut Permendag 35/2013, yg
berlaku harga terendah."
Satu kalimat. Pelan. Sopan. Gak perlu ngomong
panjang.

3. Kasir biasanya langsung adjust. Krn mereka TAHU aturan ini. Mereka cuma gak pernah nemu customer yg tau juga.

4. Kalau kasir bilang "gak bisa, minta ketemu supervisor atau kepala toko. Tunjukin
asal-nya. Selesai.

5. Foto harga di rak SEBELUM lo ambil

Ini bukan soal Rp 1.700.
Ini soal SISTEM yg didesain buat untung dari
orang yg gak cek struk.
Update harga di sistem kasir: otomatis, instan, dari pusat.
Update label di rak: manual, lambat, sering ketinggalan.

Yg mana yg lebih mahal? Hampir selalu yg di sistem. Krn harga naik lebih sering dari harga turun.

Dan kalau lo gak protes, minimarket dapet margin tambahan dari KELALAIAN mereka sendiri. Bukan dari produk. Dari UPDATE yg telat.

Lo yg bayar. Mereka yg untung.

Sumber: ss tread

Address

Tasikmalaya

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Keluarga Renggana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category