14/08/2026
Terungkap di Persidangan, Mayor TNI AL Faisal Mulia Akui Berulang Kali Edarkan Sabu hingga Gunakan Pesawat Militer
Kasus narkotika yang menyeret Mayor Laut Faisal Mulia memasuki babak baru setelah terdakwa mengungkap sejumlah fakta dalam persidangan di Pengadilan Militer Tinggi I Medan, Sumatera Utara.
Faisal, perwira TNI AL yang sebelumnya bertugas di Tanjungpinang, Kep**auan Riau, akhirnya mengakui bahwa dirinya pernah beberapa kali mengirim narkotika jenis sabu menggunakan fasilitas penerbangan milik TNI AL.
Pengakuan tersebut muncul ketika oditur militer mempertanyakan apakah Faisal pernah mengirim sabu menggunakan pesawat militer jenis CN.
“Pernah,” jawab Faisal dalam persidangan.
Kasus ini menjadi semakin serius karena narkotika yang diduga diedarkan Faisal tidak hanya ditujukan kepada warga sipil. Berdasarkan keterangan dalam persidangan, sabu tersebut juga pernah dijual kepada sejumlah rekannya sesama prajurit TNI AL.
Faisal sebelumnya didakwa dalam perkara kepemilikan, penggunaan, dan peredaran narkotika. Ia juga mengakui pernah mengonsumsi sabu dan menyebut ada sejumlah juniornya yang kemudian ikut menggunakan narkoba.
Berawal dari Lingkungan Hiburan Malam
Dalam persidangan, Faisal menceritakan bahwa dirinya pertama kali mengenal sabu sekitar 2015 ketika masih berdinas di Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Jawa Timur.
Ia mengaku mengenal seorang pria berinisial B di sebuah tempat hiburan malam di Surabaya. Kebiasaannya menggunakan narkoba kemudian berlanjut hingga ia bertemu dengan perempuan berinisial NBP yang kini menjadi istrinya.
Keduanya disebut mulai dekat setelah bertemu di tempat hiburan malam pada 2022.
Hubungan tersebut kemudian berkembang hingga keduanya disebut terlibat dalam aktivitas pembelian dan penggunaan narkotika.
14 Paket Sabu dan Rencana Pengiriman ke Madiun
Perkara Faisal terbongkar pada November 2025. Saat itu, ia disebut hendak mengirim sejumlah paket sabu dari Tanjungpinang menuju Madiun, Jawa Timur.
Sebanyak 12 paket narkotika dikemas dan disembunyikan dalam kotak sepatu dinas lapangan. Paket tersebut direncanakan dikirim menggunakan pesawat TNI AL jenis CN-235.
Namun rencana itu gagal setelah keberadaan paket diketahui petugas.
Faisal kemudian diamankan oleh aparat Polisi Militer. Dalam penggeledahan lanjutan di kediamannya, ditemukan dua paket sabu lainnya.
Total terdapat 14 paket sabu dengan berat keseluruhan sekitar 9,83 gram, selain alat isap dan timbangan digital.
Dalam keterangannya, Faisal mengaku memperoleh narkotika tersebut di Batam beberapa hari sebelum pengiriman. Ia disebut memesan sabu kepada seorang pria yang dikenal dengan nama panggilan Kapak.
Narkotika yang awalnya dipesan sekitar 8 gram kemudian disebut diterima dalam jumlah lebih besar.
Setelah kembali ke Tanjungpinang, sabu tersebut dibagi menjadi sejumlah paket kecil. Sebagian disimpan, sementara paket lainnya dipersiapkan untuk dikirim ke Madiun.
Bukan Hanya Warga Sipil, Narkoba Jenis Sabu Dijual ke Sesama Perwira TNI AL
Fakta lain yang membuat kasus ini semakin menjadi perhatian adalah dugaan bahwa peredaran sabu tidak berhenti pada pembeli dari kalangan sipil.
Dalam dakwaan dan keterangan saksi, Faisal disebut pernah menjual sabu kepada sejumlah prajurit TNI AL, termasuk beberapa perwira berpangkat Kapten Laut.
Salah seorang saksi berinisial IMS mengaku pernah membeli sabu dari Faisal beberapa kali. Menurut keterangannya, narkotika tersebut dikirim dari Tanjungpinang menuju wilayah tempatnya bertugas di Surabaya.
IMS juga mengaku mengenal sabu setelah berinteraksi dengan Faisal ketika keduanya sama-sama berdinas di lingkungan Pangkalan Udara TNI AL Juanda.
Hubungan keduanya kemudian memburuk setelah muncul persoalan pembayaran. Bahkan, transaksi berikutnya disebut batal karena masih terdapat utang dari transaksi sebelumnya.
Dalam persidangan, IMS juga mengungkap bahwa dirinya pernah mendapatkan pengetahuan mengenai cara menggunakan sabu dari Faisal.
Fasilitas Militer Diduga Disalahgunakan
Perkara ini menjadi sorotan lebih besar karena fasilitas penerbangan militer diduga digunakan dalam rangka pengiriman narkotika.
Pesawat yang seharusnya digunakan untuk kepentingan kedinasan justru disebut menjadi sarana pengiriman barang terlarang.
Rencana pengiriman tersebut akhirnya terbongkar sebelum narkotika mencapai tujuan.
Faisal kemudian harus menghadapi proses hukum di lingkungan peradilan militer. Ia didakwa dengan sejumlah ketentuan dalam Undang-Undang Narkotika dan ketentuan pidana terkait peredaran serta penggunaan narkotika.
Kritik terhadap Institusi
Kasus ini juga memunculkan kritik mengenai pengawasan internal di lingkungan militer.
Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menilai perkara tersebut tidak boleh dilihat semata-mata sebagai kasus penyalahgunaan narkotika oleh seorang individu.
Menurutnya, dugaan penyalahgunaan fasilitas militer untuk aktivitas ilegal justru menimbulkan persoalan yang lebih serius karena menyangkut integritas institusi dan keamanan negara.
Ia menilai posisi strategis seorang perwira seharusnya digunakan untuk menjalankan tugas negara, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
Fickar juga mendorong agar aparat melakukan pemeriksaan lebih luas untuk memastikan apakah perkara tersebut hanya melibatkan individu atau terdapat pihak lain yang turut mengetahui maupun membantu aktivitas tersebut.
Publik Menunggu Pengungkapan Lebih Lanjut
Kasus Mayor Laut Faisal Mulia kini menjadi perhatian karena persidangan telah membuka dugaan adanya jaringan peredaran narkotika yang melibatkan lingkungan militer.
Namun, seluruh keterangan mengenai keterlibatan pihak lain tetap harus dibuktikan melalui proses hukum. Status seseorang sebagai saksi maupun pihak yang disebut dalam persidangan tidak otomatis berarti orang tersebut bersalah.
Publik kini menunggu apakah perkara ini hanya akan berakhir pada vonis terhadap Faisal atau justru membuka penyelidikan yang lebih luas mengenai kemungkinan adanya jaringan narkotika di lingkungan TNI AL.
Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah dugaan penyalahgunaan fasilitas militer untuk kepentingan peredaran narkotika.
Jika seluruh tuduhan tersebut terbukti di pengadilan, kasus ini bukan sekadar persoalan seorang prajurit yang tersandung narkoba, tetapi juga menjadi ujian serius terhadap sistem pengawasan, disiplin, dan integritas institusi militer.
Pangkat tinggi seharusnya menjadi simbol tanggung jawab dan kehormatan. Ketika fasilitas negara justru diduga digunakan untuk kejahatan, pertanyaan terbesar publik bukan hanya siapa pelakunya, tetapi juga: sejauh mana pengawasan internal selama ini berjalan?