06/06/2026
Namanya Salma.
Umur 12 tahun waktu pertama kali gerbang besi pesantren Al-Huda ditutup di belakangnya.
Ibunya gendong dia malam itu. Air mata ibunya jatuh ke kerudung Salma. "Nak, Ibu pamit ya. Ibu ke Malaysia. 2 tahun aja. Biar kamu nggak putus sekolah. Biar adikmu bisa makan."
Ayahnya udah nggak ada. Kecelakaan 3 bulan sebelumnya. Rumah roboh, utang numpuk.
Salma cuma ngangguk. Dia anak paling penurut. Anak yang dari kecil diajarin "jangan ngerepotin Ibu".
Hari pertama dia nangis di bawah selimut. Hari ke-30 dia udah hafal jadwal: bangun 03.30, tahajud, subuh, ngaji. Hari ke-100 dia udah nggak nangis lagi. Bukan karena nggak kangen. Tapi karena dia tau, kalau dia nangis, Ibu di seberang laut pasti ikut sedih.
Ada jadwal "kunjungan wali" tiap 3 bulan sekali. Semua santri disamperin ibunya, dibawain rendang, dibenerin kerudungnya, dipeluk.
Salma duduk paling pojok. Bawa mukena, tapi nggak ada yang nyamperin. Ustadzah nanya, "Salma, ibumu nggak datang?"
Salma senyum, "Ibu lagi kerja di Malaysia, Ustazah. Biar saya yang kuat di sini aja."
HP di pesantren cuma boleh dipake tiap Ahad, 10 menit. Salma selalu nunggu giliran paling akhir. Nelpon Ibu. Suara Ibu serak, "Maaf ya Nak, Ibu nggak bisa pulang. Tiket mahal. Visa Ibu masih 1 tahun lagi."
Salma jawabnya selalu sama: "Ibu nggak usah pulang. Salma baik-baik di sini. Salma juara 1 tahfidz bulan ini."
Bohong. Dia pernah demam 40 derajat, nggak bilang siapa-siapa. Takut Ibu pulang terus nggak ada uang.
Setiap Idul Fitri paling sakit. Temen-temen mudik. Asrama kosong. Salma bantu Ustadzah masak ketupat buat santri yang nggak pulang juga. Dia bilang, "Nggak apa-apa Ustazah, saya udah terbiasa lebaran di sini." Padahal tiap adzan magrib dia lihat ke gerbang. Nunggu ada ojek yang nurunin ibunya.
Kelas 3 SMP, nilai Salma paling tinggi se-pesantren. Waktu wisuda tahfidz 30 juz, namanya dipanggil paling akhir. Panggung kosong. Nggak ada yang fotoin. Dia salim ke Ustadzah sambil bisik, "Buat Ibu, ya Ustazah."
Ustadzah Nur, pengasuh asrama, akhirnya jadi "Ibu" pengganti. Tiap Salma sakit, Ustadzah yang nyuapin bubur. Tiap Salma kangen, Ustadzah yang ngelus kepalanya malam-malam. "Kamu hebat Sal, kamu nggak ngerepotin Ibu di Malaysia. Tapi kamu boleh ngerepotin Umi di sini ya?"
Salma lulus SMA. Diterima kuliah di IAIN, beasiswa tahfidz. Pas pengumuman, dia sujud syukur di mushola sendirian. Terus nelpon Ibu.
Ibu di seberang nangis kejer. "Sal, maafin Ibu ya. 6 tahun Ibu nggak pernah jenguk. Ibu bukan nggak sayang. Ibu takut pulang, lihat kamu, terus Ibu nggak tega balik lagi ke Malaysia."
Salma jawab, "Bu, Salma nggak pernah marah. Salma tau Ibu kerja buat Salma. Makanya Salma ngaji kenceng-kenceng. Biar tiap huruf Al-Qur'an Salma, pahalanya nyampe ke Ayah di sana... sama ke Ibu di sini."
3 bulan setelah wisuda kuliah, Ibu pulang. Kurus. Rambutnya udah banyak uban. Pertama kali nginjak pesantren, Ibu langsung lari peluk Salma kenceng banget di depan gerbang yang dulu nutup 6 tahun lalu.
Ibu cium kening Salma, "Anak Ibu udah jadi hafidzah. Anak Ibu udah gede. Maaf ya Nak, Ibu telat jadi Ibu."
Salma nangis di pelukan Ibu. 6 tahun dia nahan. 6 tahun dia "nggak ngerepotin". Hari itu dia boleh ngerepotin. Boleh manja. Boleh bilang, "Bu, Salma kangen dipeluk Ibu."
Anak yang dititip di pesantren bukan karena nggak disayang. Kadang justru karena sayangnya kebangetan, sampai orang tuanya rela dipisah jarak, rela nggak ketemu tahunan.
Dan anak yang "nggak pernah dijenguk" bukan berarti dia nggak kangen. Dia cuma belajar duluan: caranya kuat, caranya sabar, caranya jadi anak yang membanggakan tanpa harus ditatap matanya.
Kalau kamu ketemu santri kayak Salma, peluk dia ya. Jadi "Ustadzah Nur"-nya dia. Karena mungkin selama ini dia paling jago nahan rindu.
Cc @