24/12/2025
Pemerintah Kota Ternate baru saja gembira, dengan perolehan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menorehkan 83 poin, tertinggi dari seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara. Lalu, bagaimana IPM itu dalam perspektif sosiologi?
Herman Oesman, Sosiolog Maluku Utara mengatakan, IPM selama ini dipahami sebagai ukuran kemajuan suatu wilayah yang bersifat kuantitatif dan teknokratis. Dalam kategori UNDP, IPM menggabungkan tiga dimensi utama: umur panjang dan sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. Dalam praktik kebijakan, IPM kerap dijadikan indikator keberhasilan pemerintah.
Menurutnya—dalam perspektif sosiologi, IPM tidak sekadar angka statistik, melainkan cermin dari relasi sosial, struktur kekuasaan, dan ketimpangan yang bekerja di dalam masyarakat.
“Secara konseptual, IPM berangkat dari gagasan human development yang menekankan perluasan pilihan hidup manusia. Dalam pandangan sosiologi, perluasan pilihan tersebut tidak terjadi di ruang hampa. Akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pendapatan (ekonomi) sangat ditentukan kelas sosial, gender, etnisitas, dan wilayah geografis,” ujar Dosen Universitas Muhammadiah (UMMU) ini kepada cermat, Rabu 24 Desember 2025.
“Karena itu, IPM yang meningkat secara agregat belum tentu mencerminkan perbaikan kualitas hidup seluruh kelompok sosial. Di sinilah sosiologi memberi kritik terhadap kecenderungan IPM yang menutupi ketimpangan internal,” tambahnya.
“Dimensi pendidikan dalam IPM, misalnya, kerap direduksi menjadi rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Padahal, sosiologi pendidikan menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya ruang transfer pengetahuan, tetapi juga arena reproduksi ketimpangan social,” ujar HerOes, sapaan akrab Herman.
---
Selengkapnya di: website cermat.co.id