Story Ternate

Story Ternate konten story dan berita viral ternate maluku utara

27/05/2026

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H
Maaf Lahir Batin ๐Ÿ™

26/05/2026

Terima kasih Ya Allah ๐Ÿ˜‡๐Ÿคฒ

25/05/2026

Intinya
Lihat,suka
Doti selesai.

20/05/2026

Parampuang skrng nie d**g pe ukuran baju NMAX ๐Ÿ˜ฉ๐Ÿคญ

18/05/2026

Biar ngana bisa make up pukul bingung lagi klu depe selera janda ngana mo bkpa.

15/05/2026

Orang yang dudu di cafe bawa laptop,bawa iPad,pake earphone nie karja apa sebenarnya eee
๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜ฉ

15/05/2026

Orang pe laki nie to tong so b3rk0rban banya baru dia pigi bale deng dia pe maitua.
๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ

14/05/2026

๐— ๐—˜๐— ๐—˜ ๐—ง๐—ข๐—Ÿ๐—ข๐—ฅ๐—œ | ๐—”๐—ฟ๐˜„๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—”๐—ฏ๐˜‚ ๐—š๐˜‚๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ด ๐——๐˜‚๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ


Di tanah Galela, Halmahera, ketika matahari terbenam dan kabut tebal mulai turun dari puncak gunung, orang-orang tua selalu berpesan: โ€œJangan berjalan sendirian di dekat lereng Dukono saat malam tiba. Meme Tolori sedang berjalan, mencari sesuatu yang hilang.โ€

Dahulu kala, saat Gunung Tarakani meletus dahsyat, langit berubah menjadi hitam pekat, debu dan abu menutupi seluruh daratan Galela. Penduduk yang selamat lari berbond**g-bond**g menyeberang ke Pulau Morotai, meninggalkan rumah dan ladang mereka yang sudah hancur lebur.

Namun, ada satu nenek tua bernama Tolori yang menolak pergi. Ia berdiri diam di tengah reruntuhan, matanya menatap tajam ke arah puncak gunung yang masih mengeluarkan asap panas.

โ€œTonah mana ai topora ma kawasa,โ€ gumamnya dengan suara bergetar. โ€œNgohi to loda wa, ma sababu bahala tosi bolo kasi.โ€ tanah ini tanah nenek moyangku, aku tidak akan pergi. Aku harus menyelesaikan tugas ini."

Ia mengambil keranjang anyaman yang disebut saloi, lalu mengumpulkan abu panas dan sisa-sisa letusan yang berserakan di mana-mana. Tali pengikat keranjang itu ia buat dari daun kusu-kusu kering tali yang rapuh, tipis, seolah tidak akan mampu menahan beban berat itu.

Orang-orang yang masih tinggal sedikit mencoba menahannya, namun Tolori hanya diam, lalu berjalan perlahan ke arah selatan, menembus kabut dan debu yang masih beterbangan.

Langkahnya berat, napasnya pendek. Abu di dalam keranjang itu bukan sekadar debu biasa; di dalamnya terkandung api yang belum padam, amarah bumi yang belum tenang. Semakin jauh ia berjalan, semakin berat beban yang ia pikul, hingga tiba di sebuah tempat yang sekarang menjadi jantung Gunung Dukono. Tiba-tibaโ€ฆ krak!

Suara retakan memecah kesunyian malam. Tali daun kusu-kusu itu putus seketika. Keranjang itu jatuh, menimpa tubuh nenek Tolori yang sudah tua dan lemah. Ia berteriak keras, suara itu bergema di seluruh lembah, lalu terbenam dalam debu yang segera menumpuk menutupi tubuhnya.

Abu itu terus menumpuk, semakin tinggi, semakin besar, hingga menjulang menjadi gunung baru yang kita kenal sekarang. Dan di bawah sana, terkubur selamanya, adalah tubuh Meme Tolori dan jiwanya yang terperangkap selamanya.

Sejak hari itu, penduduk Galela tidak pernah lagi merasa tenang di dekat gunung itu.

Setiap malam, terutama saat bulan mati dan angin bertiup kencang, warga sering mendengar suara langkah kaki berat berderap di atas kerikil dan tanah kering. Disusul suara rintihan panjang, sedih namun penuh amarah, yang terdengar seperti orang yang sedang memikul beban yang tak tertahankan.

โ€œUwehhhโ€ฆ tubusoโ€ฆ itubusoโ€ฆ nisigiliho ai bobilikuโ€ฆ nisigiliho ai kiaro.โ€ berat... sangat beratโ€ฆ kembalikan talikuโ€ฆ kembalikan keranjangkuโ€ฆ.โ€

Suara itu terdengar mendekat, lalu menjauh, seolah-olah ada sosok tua yang terus berjalan mondar-mandir di lereng gunung, mencari tali daun kusu-kusu yang putus itu.

Banyak orang yang pernah melihatnya, namun tak ada yang berani menatapnya terlalu lama. Sosoknya tinggi kurus, kulitnya abu-abu pucat seolah tertutup debu gunung yang tak pernah hilang. Rambutnya dikonde, kusut, dan berantakan, bergerak liar meski tak ada angin.

Matanya bukan seperti mata manusia, melainkan dua titik merah menyala, persis seperti bara api yang masih membara di kawah Dukono. Ia selalu terlihat membawa sesuatu yang tak berbentuk di punggungnya, seolah-olah masih memikul keranjang saloi yang berat itu.

Jika ada orang yang nekat berjalan sendirian di dekat sana saat malam, Meme Tolori akan mendekat. Ia tidak berteriak atau menyerang dengan tangan kosong.

Ia hanya berdiri diam di belakang kabut, lalu membisikkan kata-kata yang dingin menusuk tulang: โ€œAi bibiliko nia sari kasih, masababu ai kiaro taaho idadi waso." apakah kamu melihat taliku? Taliku putusโ€ฆ aku tidak bisa membawa keranjangku pergiโ€

Siapa pun yang mendengar bisikan itu akan merasa seluruh tubuhnya kaku, darahnya seolah berhenti mengalir. Jika ada yang berani menjawab atau menoleh, mereka akan melihat wajah Meme Tolori yang penuh debu dan bekas luka bakar, mulutnya terbuka lebar menampakkan gigi yang hitam dan runcing, lalu ia akan tertawa suara tawa yang kering, kasar, dan mengerikan, bergema hingga ke seluruh pelosok desa.

Konon, Meme Tolori tidak membenci manusia. Ia hanya marah dan sedih. Ia merasa gagal menyelesaikan tugasnya memindahkan api dan abu gunung itu ke tempat yang aman. Ia terperangkap selamanya di sana, menjadi penjaga abu dan api Dukono, menunggu seseorang yang akan datang mengembalikan talinya yang putus, atau membebaskannya dari beban yang dipikulnya ribuan tahun lamanya.

Hingga hari ini, penduduk Galela masih ingat. Ketika asap tebal mengepul dari kawah Dukono, orang tua akan berkata pelan: โ€œMeme Tolori mo'ngamo ka'.โ€ Ia sedang marah. Ia sedang memikul abu itu lagi. Jangan mendekat, jangan mengganggunya. Kalau tidak, ia akan membawa kamu bersamanya ke dalam debu abu selamanya.

Dan di antara suara angin dan gemuruh bumi, masih terdengar bisikan itu, samar namun jelas, mengingatkan semua orang: Di bawah megahnya Gunung Dukono, ada jiwa yang tak pernah beristirahat, terus berjalan, mencari selamanya mencari.

Oleh : Muhammad Diadi.

Mamuya, 09 Mei 2026.


๐‘ช๐’‚๐’•๐’‚๐’•๐’‚๐’: ๐ถ๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘–๐‘›๐‘– โ„Ž๐‘Ž๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘š๐‘Ž๐‘—๐‘–๐‘›๐‘ก๐‘–๐‘“ ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘ ๐‘–๐‘๐‘’๐‘›๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘  ๐‘–๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘๐‘œ๐‘๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘๐‘–๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘Ž๐‘– ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘ข๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘˜๐‘ฆ๐‘Ž๐‘ก ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘–๐‘ก๐‘ข "๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘™-๐‘š๐‘ข๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘™ ๐‘”๐‘ข๐‘›๐‘ข๐‘›๐‘” ๐‘‘๐‘ข๐‘˜๐‘œ๐‘›๐‘œ" ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘๐‘–๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘Ž๐‘– ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘š๐‘–๐‘ ๐‘ก๐‘–๐‘  ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ ๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘Ž ๐‘‘๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘๐‘’๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘ก๐‘’๐‘ก๐‘ข๐‘Žโ„Ž ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘ข๐‘›๐‘” ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘–โ„Ž ๐‘๐‘’๐‘™๐‘ข๐‘š ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘ ๐‘ก๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘›. ๐‘๐‘Ž๐‘š๐‘ข๐‘› ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘˜๐‘ฆ๐‘Ž๐‘ก ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘ก๐‘– ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘Žโ„Ž ๐‘˜โ„Ž๐‘Ž๐‘›๐‘ง๐‘Ž๐‘›๐‘Žโ„Ž ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘ข๐‘‘๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘– ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐บ๐‘Ž๐‘™๐‘’๐‘™๐‘Ž, ๐ป๐‘Ž๐‘™๐‘š๐‘Žโ„Ž๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž ๐‘ˆ๐‘ก๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž.

14/05/2026

Wangi yang orang cari2 klu BBM langka ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

13/05/2026

Biar ngana jago garis kaning lagi,tapi kalau dia bisa gaya helikopter ngana tasingkir sayang

Mau k pasang mimin pe muka dipapan iklan ๐Ÿ˜So pasang iklan bagini kong tra kaweng tu kita ungkin baliho ini ๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜Biar tara k...
13/05/2026

Mau k pasang mimin pe muka dipapan iklan ๐Ÿ˜
So pasang iklan bagini kong tra kaweng tu kita ungkin baliho ini ๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜
Biar tara kanal me mimin ucapkan selamat ulang tahun adek ๐ŸŽ‚

Address

Bastiong Talangame
Ternate
97716

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Story Ternate posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share