14/05/2026
๐ ๐๐ ๐ ๐ง๐ข๐๐ข๐ฅ๐ | ๐๐ฟ๐๐ฎ๐ต ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐๐ฏ๐ ๐๐๐ป๐๐ป๐ด ๐๐๐ธ๐ผ๐ป๐ผ
Di tanah Galela, Halmahera, ketika matahari terbenam dan kabut tebal mulai turun dari puncak gunung, orang-orang tua selalu berpesan: โJangan berjalan sendirian di dekat lereng Dukono saat malam tiba. Meme Tolori sedang berjalan, mencari sesuatu yang hilang.โ
Dahulu kala, saat Gunung Tarakani meletus dahsyat, langit berubah menjadi hitam pekat, debu dan abu menutupi seluruh daratan Galela. Penduduk yang selamat lari berbond**g-bond**g menyeberang ke Pulau Morotai, meninggalkan rumah dan ladang mereka yang sudah hancur lebur.
Namun, ada satu nenek tua bernama Tolori yang menolak pergi. Ia berdiri diam di tengah reruntuhan, matanya menatap tajam ke arah puncak gunung yang masih mengeluarkan asap panas.
โTonah mana ai topora ma kawasa,โ gumamnya dengan suara bergetar. โNgohi to loda wa, ma sababu bahala tosi bolo kasi.โ tanah ini tanah nenek moyangku, aku tidak akan pergi. Aku harus menyelesaikan tugas ini."
Ia mengambil keranjang anyaman yang disebut saloi, lalu mengumpulkan abu panas dan sisa-sisa letusan yang berserakan di mana-mana. Tali pengikat keranjang itu ia buat dari daun kusu-kusu kering tali yang rapuh, tipis, seolah tidak akan mampu menahan beban berat itu.
Orang-orang yang masih tinggal sedikit mencoba menahannya, namun Tolori hanya diam, lalu berjalan perlahan ke arah selatan, menembus kabut dan debu yang masih beterbangan.
Langkahnya berat, napasnya pendek. Abu di dalam keranjang itu bukan sekadar debu biasa; di dalamnya terkandung api yang belum padam, amarah bumi yang belum tenang. Semakin jauh ia berjalan, semakin berat beban yang ia pikul, hingga tiba di sebuah tempat yang sekarang menjadi jantung Gunung Dukono. Tiba-tibaโฆ krak!
Suara retakan memecah kesunyian malam. Tali daun kusu-kusu itu putus seketika. Keranjang itu jatuh, menimpa tubuh nenek Tolori yang sudah tua dan lemah. Ia berteriak keras, suara itu bergema di seluruh lembah, lalu terbenam dalam debu yang segera menumpuk menutupi tubuhnya.
Abu itu terus menumpuk, semakin tinggi, semakin besar, hingga menjulang menjadi gunung baru yang kita kenal sekarang. Dan di bawah sana, terkubur selamanya, adalah tubuh Meme Tolori dan jiwanya yang terperangkap selamanya.
Sejak hari itu, penduduk Galela tidak pernah lagi merasa tenang di dekat gunung itu.
Setiap malam, terutama saat bulan mati dan angin bertiup kencang, warga sering mendengar suara langkah kaki berat berderap di atas kerikil dan tanah kering. Disusul suara rintihan panjang, sedih namun penuh amarah, yang terdengar seperti orang yang sedang memikul beban yang tak tertahankan.
โUwehhhโฆ tubusoโฆ itubusoโฆ nisigiliho ai bobilikuโฆ nisigiliho ai kiaro.โ berat... sangat beratโฆ kembalikan talikuโฆ kembalikan keranjangkuโฆ.โ
Suara itu terdengar mendekat, lalu menjauh, seolah-olah ada sosok tua yang terus berjalan mondar-mandir di lereng gunung, mencari tali daun kusu-kusu yang putus itu.
Banyak orang yang pernah melihatnya, namun tak ada yang berani menatapnya terlalu lama. Sosoknya tinggi kurus, kulitnya abu-abu pucat seolah tertutup debu gunung yang tak pernah hilang. Rambutnya dikonde, kusut, dan berantakan, bergerak liar meski tak ada angin.
Matanya bukan seperti mata manusia, melainkan dua titik merah menyala, persis seperti bara api yang masih membara di kawah Dukono. Ia selalu terlihat membawa sesuatu yang tak berbentuk di punggungnya, seolah-olah masih memikul keranjang saloi yang berat itu.
Jika ada orang yang nekat berjalan sendirian di dekat sana saat malam, Meme Tolori akan mendekat. Ia tidak berteriak atau menyerang dengan tangan kosong.
Ia hanya berdiri diam di belakang kabut, lalu membisikkan kata-kata yang dingin menusuk tulang: โAi bibiliko nia sari kasih, masababu ai kiaro taaho idadi waso." apakah kamu melihat taliku? Taliku putusโฆ aku tidak bisa membawa keranjangku pergiโ
Siapa pun yang mendengar bisikan itu akan merasa seluruh tubuhnya kaku, darahnya seolah berhenti mengalir. Jika ada yang berani menjawab atau menoleh, mereka akan melihat wajah Meme Tolori yang penuh debu dan bekas luka bakar, mulutnya terbuka lebar menampakkan gigi yang hitam dan runcing, lalu ia akan tertawa suara tawa yang kering, kasar, dan mengerikan, bergema hingga ke seluruh pelosok desa.
Konon, Meme Tolori tidak membenci manusia. Ia hanya marah dan sedih. Ia merasa gagal menyelesaikan tugasnya memindahkan api dan abu gunung itu ke tempat yang aman. Ia terperangkap selamanya di sana, menjadi penjaga abu dan api Dukono, menunggu seseorang yang akan datang mengembalikan talinya yang putus, atau membebaskannya dari beban yang dipikulnya ribuan tahun lamanya.
Hingga hari ini, penduduk Galela masih ingat. Ketika asap tebal mengepul dari kawah Dukono, orang tua akan berkata pelan: โMeme Tolori mo'ngamo ka'.โ Ia sedang marah. Ia sedang memikul abu itu lagi. Jangan mendekat, jangan mengganggunya. Kalau tidak, ia akan membawa kamu bersamanya ke dalam debu abu selamanya.
Dan di antara suara angin dan gemuruh bumi, masih terdengar bisikan itu, samar namun jelas, mengingatkan semua orang: Di bawah megahnya Gunung Dukono, ada jiwa yang tak pernah beristirahat, terus berjalan, mencari selamanya mencari.
Oleh : Muhammad Diadi.
Mamuya, 09 Mei 2026.
๐ช๐๐๐๐๐๐: ๐ถ๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ โ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ข๐โ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐ฆ๐๐ก ๐ฆ๐๐๐ก๐ข "๐๐ ๐๐-๐๐ข๐๐ ๐๐ ๐๐ข๐๐ข๐๐ ๐๐ข๐๐๐๐" ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐ก๐ข๐โ ๐๐๐๐๐ข๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐โ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐. ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐ฆ๐๐ก ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐โ ๐โ๐๐๐ง๐๐๐โ ๐๐๐๐ข๐๐๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐ก๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐๐, ๐ป๐๐๐๐โ๐๐๐ ๐๐ก๐๐๐.