13/05/2026
Narasi: Dua Sisi Wajah Indonesia
Dunia digital kita hari ini menyuguhkan dua narasi "pesta" yang secara ironis menggunakan bahasa visual yang sama, namun menceritakan nasib bangsa yang sangat berbeda.
1. Pesta Babi: Jeritan dari Merauke
Film Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan tim Watchdoc bukanlah tentang perayaan, melainkan tentang duka yang dibungkus luka. Judul ini merupakan metafora pahit bagi eksploitasi di tanah Papua. Melalui dokumenter ini, kita melihat realitas masyarakat adat yang tanah ulayatnya berubah menjadi konsesi tambang dan perkebunan atas nama PSN.
Bagi masyarakat adat, "pesta" ini adalah pesta bagi para investor, sementara mereka hanya mendapatkan sisa-sisa kehancuran ekologis. Penolakan pemutaran film ini di berbagai daerah justru mempertegas pesan filmnya: bahwa ada kebenaran yang sedang coba disenyapkan secara sistematis.
2. Pesta Teddy
Di sisi lain, muncul poster satir Pesta Teddy. Jika Pesta Babi bicara tentang mereka yang kehilangan tanah, Pesta Teddy bicara tentang mereka yang memegang kendali atas tanah dan kebijakan. Gambar ini merefleksikan kemewahan dan kehangatan lingkaran elit saat merayakan ulang tahun seorang pejabat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting nasional.
Ketimpangan ini terasa menyakitkan bagi publik. Saat masyarakat di akar rumput berjuang melawan penggusuran, inflasi, dan hilangnya ruang hidup, para pemimpinnya justru terlihat asyik dalam seremoni yang eksklusif. Ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan masalah etika publik—bagaimana empati seharusnya menjadi nafas utama kepemimpinan di tengah situasi bangsa yang sulit.
_________________
Perbedaan keduanya terletak pada posisi berdiri. Pesta Babi berdiri bersama mereka yang terpinggirkan oleh kebijakan, sementara Pesta Teddy adalah potret mereka yang membuat dan menikmati kebijakan tersebut. Gabungan kedua narasi ini menciptakan potret Indonesia yang jujur: sebuah negara di mana perayaan bagi sebagian kecil elit seringkali berarti penderitaan bagi masyarakat luas.
Apakah Anda ingin saya mendalami lebih lanjut mengenai dampak kebijakan PSN yang diangkat dalam film tersebut terhadap hak-hak masyarakat adat?