03/05/2025
Cerita Horor di Jembatan Kaliketek Bojonegoro.
BOJONEGORO, 1969. Saat itu saya duduk di bangku kelas 1, SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara. Tepatnya saya di ruang 1-4.
“Harry! Kelas ini ada mahluk halusnya,” tiba-tiba Anggraeni yang duduk di sebelah saya berkata pelan. Maklum, saat itu Pak Boediono sedang mengajar di depan papan tulis.
“Banyak?”. Saya ingin tahu. Anggraeni adalah pacar saya sejak saya di bangku SMP Negeri 2. Di SMP-pun saya satu kelas. Bahkan juga satu bangku. Sejak SMP, saya tahu Anggraeni memang mempunya indera keenam, antara lain mampu melihat mahluk halus.
“Ada dua mahluk. Satu mahluk pocong satu lagi berbentuk ular berkepala manusia,” katanya lagi. Pelan. Namun perbincangan berhenti karena kemudian Pak Boediono mengadakan tanya jawab tentang materi pelajaran yang baru saja diajarkan.
Sesudah shalat Jum’at di sekolah, pelajaranpun diteruskan. Pulang sekolah, saya dan Anggraeni dengan masing-masing bersepeda, langsung ke Restoran Orion di Bombok. Makan siang bersama. Seperti biasa, saya dan Anggraeni bersepeda menuju ke jembatan Kali Ketek. Sambil mengayuh sepeda, kami berbicara apa saja. Terasa indah cinta kami berdua saat itu.
Tanpa terasa, kami telah sampai ke jembatan Kaliketek yang terletak di Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di sebelah Utara Kota Bojonegoro. Kenapa harus ke jembatan itu? Maklum, tempat pacaran di kota tersebut sangat minim. Paling ke pemandian atau kolam renang Dander. Tapi terlalu jauh, skitar 14 kilometer dari kota. Sedangkan jembatan Kali Ketek hanya sekitar lima kilo dari sekolah..
Akhirnya sampailah ke jembatan itu. Sepeda kami parkir di jalur pejalan kaki. Dulu, jalur pejalan kaki masih bagus. Masih ada kayu-kayu yang bagus dan kuat. Selanjutnya kami memandangi arus sungai yang saat itu cukup deras.
“Harry…! Saya melihat mahluk halus…,” Anggraeni tiba-tiba berbicara lagi.
“Siang-siang kok ada mahluk halus?”. Komentar saya.
“Mahluk halus tidak pernah tidur, Harry”
“Di mana Anggra melihatnya?”
” Di bawah. Paling tidak saya melihat ada empat mahluk halus. Semuanya pocong. Yuk kesana…!”
“Ngapain?”
“Saya ingin ngobrol-ngobrol dengan mereka.” Kalau Anggra bicara seperti itu, bagi saya tidak aneh. Sewaktu masih di SMP-pun pernah ngobrol-ngobrol dengan hantu WC.
Saya dan Anggraenipun mengambil sepeda dan kemudian meluncur menuju ke bawah. Sesudah menyandarkan sepeda, Anggraenipun mengajak saya ke bawah sebuah pohon yang cukup angker. Di situ, Anggraeni mulai bertanya ke mahluk-mahluk halus itu. Seolah-olah berbicara sendiri. Maklum, saya tidak bisa melihat mahluk itu.
Sekitar 15 menit kemudian, Anggraeni berkata
“Mereka semuanya cewek.
Kata Anggraeni, sebenarnya di sekitar Jembatan Kali Ketek cukup banyak mahluk halus bergentayangan. Terutama pada hari Jumat Kliwon. Saat itu mereka berkumpul dan saling berkomunikasi. Mereka memang punya komunitas sendiri.
“Mereka itu mahluk halus yang berasal dari manusia atau setan yang menyamar sebagai manusia?”. saya penasaran. Sebab, guru agama saya pernah bilang bahwa manusia yang sudah meninggal, dunianya adalah alam kubur. Tidak mungkin bisa berada di alam manusia yang masih hidup. Sebab, dimensinya lain.
“Betul Harry. Saya setuju dengan pendapat itu. Mereka sebenarnya bukan jelmaan manusia yang telah m3n!ngg4l. Tetapi, mereka adalah setan-setan yang bisa mewakili manusia-manusia itu. Mereka memals**an dirinya. Bisa merubah bentuk seperti arwah-arwah yang telah m3n!ngg4l. Jadi, mereka tahu apa yang dilakukan mereka.” Cerita Anggraeni yang punya indera keenam.
“Lantas, apa maksud mereka bergentayangan di dunia kita?”
“Setan s**a mengganggu orang yang masih hidup. Jangan heran kalau di jembatan itu sering terjadi k3c3lak4an. Ketika kereta api masih bisa melintasi jembatan itu, banyak orang yang t3w4s t3rs4r3mp3t kereta api. bahkan, ada yang t3rt4br4k langsung. Sejak itulah, maka kereta api tidak boleh lagi melintas di situ. Penduduk terpaksa kalau bepergian naik sepeda, becak atau dokar…”
“Oh, pantaslah. Tak ada lagi kereta api lewat di situ”. Saya manggut-manggut tanda mengerti. Saya yang saat itu punya perpustakaan komik dan buku-buku ilmu pengetahuan, Anggraeni tidak hanya mampu melihat mahluk halus, tetapi juga bisa melihat masa lalu.
“Oh, ya. Kenapa ya, jembatan ini dinamakan Kali Ketek?”
“Oh, itu sesuai namanya. Dulu, di seberang ana, di Desa Banjarsari dan Desa Kalisari dan desa-desa sekitarnya, masih berupa hutan kecil. Banyak kera atau ketek yang berkeliaran. Dulu jembatan itu berupa jembatan dari bambu. Banyak kera berkeliaran di jembatan itu. Tetapi mereka kera yang baik. Tidak s**a mengganggu manusia..”
“Oh, begitu?”
“Lantas, misteri apa lagi yang ada di jembatan ini?”
“Kata ayah saya, kalau malam Jumat akan terdengar suara gending. Tapi kalau kita cari, nggak bakalan ketemu. Ayah saya juga pernah melihat ada dua orang Belanda di jembatan itu, tetapi tiba-tiba menghilang. Atau kadang-kadang ada bau wangi semerbak, tetapi cepat berubah menjadi bau busuk…”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kabarnya, dulu banyak pejuang kemerdekaan Indonesia yang d!b*n*h oleh Belanda di jembatan itu. Ditutup matanya, langsung dit3mb4k…”
“Apa lagi?”
“Ingat peristiwa G-30-S/PK!?”
“Oh, tentu…”
“Nah, di sungai ini, hampir tiap hari kita bisa melihat m4y4t mengapung. Tidak hanya satu dua. Tetapi puluhan. Mereka adalah m4y4t orang-orang yang diduga atau dipastikan pendukung PK!”
“Oh,ya. Ingat-ingat…”
“Sebagian m4y4t mereka tersangkut dan t3ngg3l4m di bawah jembatan. Jadi, sebetulnya banyak roh-roh di sini. Semakin banyak roh, semakin banyak mahluk halus di sini. Bukan berasal dari roh mereka, tetapi dari mahluk-mahluk halus lainnya.Mereka boleh dikatakan sebagai mediator dari roh-roh manusia dengan kita. Itulah sebabnya, pocong-pocong yang tadi saya ajak bicara, bukan berasal dari manusia yang telah m3n!ngg4l. Tetapi, mahluk-mahluk halus yang menyamar dan mewakii roh-roh manusia yang m3n!ngg4l secara tidak wajar…”
Apa yang dikatakan Anggraeni memang sulit dipahami orang biasa. Tetapi, saya yang sejak SMP membaca buku-buku psikologi, terutama yang berhubungan dengan indera keenam, tepatnya ESP (extra Sensory Perception), tentu saya bisa mengerti. Psikologi mengatakan memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan clair voyance, telepati dan lain-lain.
Karena hari sudah sore, saya dan Anggraenipun segera mengayuh sepeda. Menyusuri jalan-jalan Bojonegoro. Menuju pulang ke rumah masing-masing.Anggraeni menuju ke Jl.Dr.Wahidin. Sedangkan saya menuju ke Jl.Trunojoyo No.4 yang menjadi kantor pajak.
Catatan:
Cerpen ini merupakan cerita fiktif.
Ditulis oleh : Hariyanto Imadha