PecahTelur

PecahTelur "Menyajikan Cerita Usaha yg Menginspirasi"
Liputan Keliling Indonesia! Full Video Di Channel Youtube! PecahTelur adalah Media tentang Sosial Bisnis.

PecahTelur memiliki 4 segmen tayangan;
1. Para Perintis (tentang para perintis usaha terutama yang berusia di bawah 30 thn)
2. TANDUR (tentang pertanian) & Ingon-ingon (peternakan)
3. Cerita Usaha (tentang mindset bisnis, strategi dan pilihan hidup)
4. SETARA (tentang perjuangan manusia yang dipandang sebelah mata)

13/08/2026

Seorang mantan pekerja di industri lanskap luar negeri memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya yang bergaji tinggi dan kembali ke desa untuk bertani. Bersama suaminya, mereka menciptakan kehidupan yang berkelanjutan dengan prinsip-prinsip organik, menjaga lingkungan, dan memberdayakan masyarakat sekitar. Dengan fokus pada pertanian terpadu dan minim sampah, mereka berhasil mencukupi kebutuhan sehari-hari tanpa bergantung pada industri besar.

Kehidupan di desa memberikan mereka kedamaian dan kepuasan yang tidak ditemukan dalam pekerjaan sebelumnya. Mereka menekankan pentingnya menjaga sumber daya alam dan tidak hanya mengejar keuntungan semata. Melalui usaha mereka, mereka ingin menunjukkan bahwa kemakmuran tidak harus berarti memiliki uang banyak, tetapi lebih kepada ketersediaan sumber daya yang melimpah dan berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, mereka berharap dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan lebih dekat dengan alam.

Simak kisah lengkapnya hanya di episode "Ingon-Ingon" yang berjudul: Hidup Swasembada di Desa Meski Tanpa Uang Dengan Integrated Farming

Bagi anak-anak yang masuk sekolah dasar pada era 1980-an hingga 1990-an, ada satu kalimat yang rasanya sulit benar-benar...
13/08/2026

Bagi anak-anak yang masuk sekolah dasar pada era 1980-an hingga 1990-an, ada satu kalimat yang rasanya sulit benar-benar hilang dari ingatan, “Ini Budi”. Kalimatnya sederhana, tetapi dari susunan kata seperti itulah banyak anak Indonesia mulai mengenal hubungan antara gambar, kata, suku kata, lalu perlahan belajar membaca. Nama Budi pun akhirnya melekat kuat sebagai bagian dari pengalaman belajar generasi pada masa itu.

Budi kemudian seperti menjadi nama yang mewakili satu zaman dalam pendidikan dasar Indonesia. Ada Budi, bapak Budi, ibu Budi, serta berbagai kalimat pendek yang menemani anak-anak ketika pertama kali berhadapan dengan pelajaran membaca. Materinya terlihat sangat sederhana jika dibandingkan dengan buku pelajaran anak sekarang, tetapi justru karena kesederhanaan itulah materi tersebut mudah dikenali, dipahami, dan diingat.

Di balik materi tersebut ada kontribusi seorang pendidik bernama Siti Rahmani Rauf. Ia lahir di Sumatera Barat pada 5 Juni 1919 dan sudah masuk ke dunia pendidikan sejak masih muda. Berdasarkan keterangan keluarganya yang dihimpun media, Siti mulai mengajar sekitar akhir 1930-an dan menghabiskan bertahun-tahun sebagai guru sebelum perjalanan hidupnya membawanya ke Jakarta.

Pada 1954, Siti pindah ke Jakarta bersama keluarga dan tetap melanjutkan kehidupannya di dunia pendidikan. Kariernya kemudian membawanya menjadi kepala sekolah di SD Tanah Abang 5, Jakarta Pusat. Setelah puluhan tahun menjalani profesi sebagai pendidik, ia akhirnya memasuki masa pensiun pada 1976.

Jika dihitung dari tahun kelahirannya, saat itu usianya sekitar 56 hingga 57 tahun. Bagi banyak orang, pensiun biasanya menjadi penanda bahwa masa kerja utama sudah selesai dan waktunya menjalani kehidupan yang lebih tenang. Namun dalam perjalanan Siti, justru setelah masa jabatan formal itu berakhir, lahir karya yang kemudian dikenal jauh lebih luas daripada posisi yang pernah dipegangnya.

Pada awal hingga pertengahan 1980-an, Siti mendapat pekerjaan berkaitan dengan pembuatan alat peraga pendidikan dari Kementerian Pendidikan. Kebutuhannya bukan sekadar buku berisi tulisan, melainkan materi yang dapat membantu anak kelas awal sekolah dasar belajar membaca dengan lebih mudah. Materi tersebut dirancang dengan bantuan gambar, susunan kalimat sederhana, dan pendekatan belajar yang sesuai dengan kemampuan anak pada tahap awal.

Pada bagian ini, ada satu hal yang perlu diluruskan agar ceritanya tidak keliru. Siti bukan pencipta metode Struktural Analitik Sintetik atau SAS, karena metode tersebut sudah dikembangkan dan digunakan dalam pembelajaran membaca permulaan sebelumnya. Kontribusi Siti berada pada penyusunan alat peraga dan materi belajar yang menerapkan pendekatan tersebut hingga kemudian dikenal luas oleh banyak anak sekolah.

Dalam materi yang disusunnya, muncul tokoh Budi beserta keluarganya. Siti juga disebut ikut membuat ilustrasi tokoh-tokoh tersebut agar materi lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Struktur pembelajarannya dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga anak tidak langsung berhadapan dengan kump**an huruf yang terasa asing dan sulit.

Cara kerja pendekatan SAS pada dasarnya dimulai dari sesuatu yang utuh. Anak diperkenalkan pada sebuah kalimat yang memiliki arti, kemudian kalimat tersebut diurai menjadi kata, suku kata, hingga bagian yang lebih kecil. Setelah itu, bagian-bagian tersebut disusun kembali sehingga anak dapat memahami hubungan antara kalimat, kata, bunyi, dan susunan huruf.

Pendekatan seperti ini membantu anak memahami bahwa membaca bukan sekadar menghafal huruf satu per satu. Ada hubungan antara gambar, kata, bunyi, dan makna yang harus dipahami secara bertahap. Karena ditujukan untuk anak kelas awal, materi visual menjadi penting agar proses belajar terasa lebih konkret dan tidak terlalu abstrak.

Kalau dilihat dari masa sekarang, metode itu mungkin terdengar sederhana. Anak-anak hari ini belajar dengan buku penuh warna, video, aplikasi, dan berbagai media digital yang jauh lebih interaktif. Namun pada era ketika teknologi pendidikan masih sangat terbatas, alat peraga fisik yang mudah digunakan guru menjadi sesuatu yang penting untuk membantu proses belajar membaca di ruang kelas.

Pengerjaan materi tersebut berlangsung relatif singkat, tetapi hasilnya kemudian dicetak dan disebarkan ke berbagai daerah, terutama di Jawa dan Sumatera. Dari situlah sosok Budi beserta keluarganya semakin lekat dengan pengalaman belajar membaca anak-anak Indonesia pada era 1980-an dan 1990-an. Materi yang awalnya hanya dibuat sebagai alat bantu belajar akhirnya menjadi bagian dari memori satu generasi.

Kekuatan materi tersebut bukan karena kalimatnya rumit, tetapi justru karena dibuat sangat sederhana. Anak tidak langsung dihadapkan pada bacaan panjang yang bisa membuat proses belajar terasa berat. Mereka mulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian perlahan belajar mengenali pola bahasa dan memahami susunan kata.

Karena dipakai berulang dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, materi Ini Budi akhirnya berubah dari sekadar alat bantu belajar menjadi bagian dari ingatan kolektif. Banyak orang yang sekarang sudah dewasa masih bisa langsung mengingat masa sekolah hanya karena melihat dua kata tersebut. Bahkan bagi sebagian orang, kalimat itu menjadi simbol masa awal ketika mereka mulai bisa membaca sendiri.

Menariknya, nama Siti Rahmani Rauf tidak ikut sepopuler hasil karyanya. Banyak orang mengenal Budi, tetapi tidak semua tahu siapa yang membantu menyusun materi yang membuat nama itu begitu terkenal di ruang kelas. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia pendidikan, sebuah karya bisa jauh lebih dikenal daripada orang yang berada di balik proses pembuatannya.

Di sinilah cerita ini punya sisi yang cukup penting untuk direnungkan. Guru, penyusun materi, maupun pendidik sering bekerja jauh dari sorotan, sementara hasil pekerjaannya justru terus hidup dalam ingatan banyak orang. Dampak pendidikan memang sering tidak langsung terlihat, tetapi bisa bertahan sangat lama setelah proses belajar itu sendiri selesai.

Siti sendiri telah menghabiskan puluhan tahun di dunia pendidikan sebelum terlibat dalam pembuatan materi Ini Budi. Pengalaman panjang itu menjadi bekal penting untuk memahami bagaimana anak belajar, apa yang membuat mereka kesulitan membaca, dan bagaimana sebuah materi seharusnya dibuat agar tidak terasa terlalu berat. Pengalaman itulah yang kemudian menemukan bentuk baru setelah masa tugas formalnya selesai.

Karena itu, kisah ini sebenarnya bukan hanya tentang nostalgia buku sekolah. Ada pelajaran yang lebih luas tentang bagaimana pengalaman yang dikumpulkan selama bertahun-tahun bisa tetap menghasilkan sesuatu bahkan setelah seseorang tidak lagi aktif bekerja. Masa pensiun tidak otomatis menghapus pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang sudah dibangun sepanjang karier.

Sering kali usia produktif dipahami terlalu sempit. Ketika seseorang pensiun, seolah-olah seluruh masa berkaryanya juga ikut selesai dan ruang untuk memberi manfaat menjadi semakin kecil. Padahal justru pada usia itulah seseorang biasanya sudah membawa pengalaman yang paling banyak, termasuk pemahaman praktis yang tidak selalu bisa diperoleh hanya dari teori.

Dalam kasus Siti, pengalaman itu kemudian diwujudkan menjadi alat bantu belajar yang digunakan oleh banyak sekolah. Ia tidak membuat sesuatu yang tampak spektakuler atau menggunakan teknologi yang rumit. Yang dibuat hanyalah materi sederhana yang menjawab kebutuhan dasar anak ketika belajar membaca, tetapi justru karena tepat sasaran, dampaknya bisa bertahan sangat lama.

Dari sini terlihat bahwa sebuah karya tidak harus terlihat rumit untuk bisa berdampak besar. Yang lebih penting adalah apakah karya tersebut benar-benar menjawab masalah yang dihadapi orang banyak dan bisa digunakan dengan mudah. Materi Ini Budi menjadi contoh bagaimana solusi sederhana dapat bekerja secara luas ketika dibuat berdasarkan pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan penggunanya.

Siti Rahmani Rauf wafat di Jakarta pada 10 Mei 2016, dalam usia 96 tahun menjelang 97 tahun. Kabar wafatnya saat itu kembali membuat publik mengenal nama yang selama puluhan tahun berada di balik salah satu materi membaca paling terkenal dalam sejarah pendidikan dasar Indonesia. Dari sana, banyak orang baru mengetahui bahwa sosok di balik Ini Budi adalah seorang pendidik yang terus berkarya bahkan setelah pensiun.

Kepergiannya sekaligus mengingatkan bahwa banyak karya besar lahir dari orang-orang yang namanya tidak selalu berada di depan. Ada orang yang dikenal luas karena wajahnya, ada yang karena jabatannya, tetapi ada juga yang dikenang melalui sesuatu yang mereka tinggalkan. Dalam dunia pendidikan, warisan seperti itu sering kali justru lebih panjang daripada masa kerja seseorang.

Budi mungkin hanya tokoh sederhana dalam alat peraga belajar membaca. Namun bagi banyak anak Indonesia pada masanya, nama itu menjadi salah satu pintu pertama menuju kemampuan membaca. Dari materi sederhana tersebut, anak-anak belajar mengenali kata, memahami kalimat, dan akhirnya bisa membuka lebih banyak pengetahuan melalui bacaan.

Dan di balik kesederhanaan itu ada perjalanan panjang seorang pendidik yang tidak berhenti berkarya hanya karena masa tugasnya selesai. Pensiun mengakhiri jabatan, tetapi tidak selalu mengakhiri manfaat seseorang bagi masyarakat. Dalam beberapa kasus, justru setelah masa kerja formal berakhir, pengalaman yang sudah terkumpul puluhan tahun menemukan bentuk terbaiknya.

Itulah yang membuat kisah Siti Rahmani Rauf tetap relevan untuk dibicarakan hari ini. Bukan hanya karena generasi lama masih mengingat Ini Budi, tetapi karena ceritanya menunjukkan bahwa karya yang berguna tidak selalu lahir ketika seseorang sedang berada di puncak jabatan. Kadang, karya itu justru muncul ketika orang lain menganggap masa produktif sudah selesai.

Dari sebuah materi sederhana, dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama daripada masa kerja pembuatnya. Nama seseorang mungkin tidak selalu dikenal luas, tetapi manfaat dari pekerjaannya bisa terus hidup dalam ingatan banyak generasi. Dan Ini Budi menjadi salah satu contoh paling sederhana tentang bagaimana pengalaman seorang guru bisa meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada ruang kelas tempat ia pernah bekerja.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

13/08/2026

Berawal dari senang bertani, Putri dan suami berani mengeluarkan modal sekitar Rp50 juta untuk membuka lahan, sewa, mulsa hingga memasang sprinkler. Semuanya dijalani sambil terus belajar, tanpa terlalu banyak menghitung di awal.

Dari hobi yang awalnya sekadar ingin produktif, perlahan tumbuh menjadi usaha pertanian yang punya peluang untuk terus dikembangkan.

Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Semartani

13/08/2026

Dari permen yang biasa ada di warung, Kopiko berhasil masuk ke drama Korea dan tampil di hadapan penonton dari berbagai negara. Bukan sekadar viral, ada strategi besar di balik kemunculannya.

Kopiko membuktikan bahwa produk sederhana tetap bisa bermain di pasar global ketika brand berani membaca tren, memilih momentum, dan membangun positioning yang kuat.

Simak cerita lengkapnya di youtube PecahTelur episode: Kopiko

Pemerintah kembali membicarakan penataan penggunaan Pertalite. Kali ini arah pembahasannya mulai lebih jelas. Bukan selu...
13/08/2026

Pemerintah kembali membicarakan penataan penggunaan Pertalite. Kali ini arah pembahasannya mulai lebih jelas. Bukan seluruh masyarakat yang akan dibatasi, dan bukan p**a semua kendaraan yang harus meninggalkan Pertalite. Kelompok ekonomi atas justru menjadi sasaran utama yang sedang dipertimbangkan.

Dilansir dari CNBC Indonesia pada 12 Agustus 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah sedang menyiapkan pembatasan penggunaan Pertalite untuk kelompok masyarakat yang dinilai mampu. Salah satu skema yang dipertimbangkan menyasar masyarakat dalam kelompok kesejahteraan desil 9 dan desil 10. Purbaya juga menyebut kemungkinan penerapannya dilakukan pada akhir 2026, meski sistemnya masih diuji dan kebijakan tersebut belum sepenuhnya final.

Artinya, kabar bahwa mulai akhir tahun nanti kelompok tertentu sudah pasti tidak bisa membeli Pertalite perlu dibaca dengan sedikit rem. Pemerintah memang sudah membuka arah pembatasannya, tetapi detail pelaksanaannya masih dibahas. Menurut CNBC Indonesia, penerapannya juga dirancang dilakukan secara hati-hati dan bertahap sambil melihat dampaknya terhadap perekonomian. Jadi belum tepat kalau rencana ini dipahami seolah aturan finalnya sudah terbit.

Belum perlu p**a buru-buru membayangkan akhir tahun nanti sebuah mobil masuk SPBU lalu langsung ditolak karena pemiliknya dianggap terlalu kaya. Sistem untuk menentukan siapa yang terkena pembatasan saja masih diuji. Yang mulai terang sekarang adalah prinsip besarnya, yakni Pertalite ingin lebih banyak diarahkan kepada kelompok yang memang membutuhkan dukungan harga energi. Detail teknisnya masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Ada satu hal yang juga perlu diluruskan agar pembahasannya tidak rancu. Mengacu pada keterangan resmi BPH Migas, Pertalite merupakan Jenis BBM Khusus Penugasan atau JBKP, sedangkan Solar termasuk Jenis BBM Tertentu atau JBT. Dalam berbagai publikasinya, BPH Migas membedakan BBM subsidi dengan BBM kompensasi dan menempatkan Pertalite dalam kelompok BBM yang mendapat kompensasi negara. Karena itu penyebutan Pertalite sebagai BBM yang mendapat dukungan negara lebih aman daripada sekadar menyamakannya dengan Solar.

Bagi masyarakat, istilah subsidi dan kompensasi mungkin terdengar seperti urusan meja rapat. Mau disebut apa pun, persoalan yang lebih mudah dipahami tetap sama. Negara memiliki kepentingan agar bahan bakar yang mendapat dukungan tersebut disalurkan kepada kelompok yang tepat, bukan dinikmati tanpa batas oleh semua lapisan masyarakat. Dari sinilah pertanyaan mengenai siapa yang masih layak menerima manfaat itu mulai muncul.

Kalau negara ikut menanggung agar energi lebih terjangkau, apakah orang yang kemampuan ekonominya sudah sangat tinggi masih perlu mendapat manfaat yang sama dengan masyarakat berpenghasilan rendah? Pemerintah tampaknya mulai menjawab tidak. Karena itu kelompok yang sekarang menjadi perhatian adalah desil 9 dan desil 10. Dua kelompok ini berada di lapisan kesejahteraan paling atas dalam pembagian desil.

Berdasarkan penjelasan resmi pada laman Cek Bansos Kementerian Sosial, desil membagi keluarga di Indonesia menjadi sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Desil 1 merupakan kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi. Pembagian ini digunakan untuk membantu pemerintah melihat posisi relatif kondisi sosial ekonomi masyarakat. Jadi istilah desil bukan sekadar label kaya atau miskin yang ditentukan dari satu angka.

Penentuannya juga bukan hanya melihat besar gaji seseorang. Masih mengacu pada penjelasan Kemensos, pengukuran desil menggunakan berbagai variabel sosial ekonomi, mulai dari pekerjaan dan pendidikan, kondisi perumahan dan daya listrik, sampai kepemilikan aset. Karena itu seseorang tidak bisa hanya melihat slip gaji lalu langsung memutuskan dirinya pasti berada di desil 8, 9, atau 10. Kondisi rumah tangga dinilai melalui gabungan sejumlah indikator.

Secara prinsip, pembatasan bagi kelompok paling mampu memang tidak sulit dipahami. Kalau seseorang mempunyai kemampuan membeli kendaraan mahal, membayar pajaknya, melakukan servis, mengganti ban, dan menanggung berbagai biaya kepemilikan lainnya, tentu muncul pertanyaan mengapa urusan harga bensin masih perlu mendapatkan dukungan dari negara. Negara jadinya seperti teman satu meja yang diminta terus ikut patungan, sementara orang yang meminta patungan ternyata mempunyai kemampuan membayar makanannya sendiri. Sarkasnya sederhana, tetapi logikanya cukup mudah diterima.

Masalahnya, menentukan siapa yang benar-benar mampu tentu tidak sesederhana melihat kendaraan yang sedang dibawa. Mobil tidak selalu menggambarkan seluruh kondisi ekonomi pemiliknya. Ada mobil berusia belasan tahun yang dahulu mahal tetapi sekarang nilai pasarnya sudah turun, ada keluarga yang membeli kendaraan ketika ekonominya masih baik lalu penghasilannya menurun, dan ada p**a kendaraan yang digunakan untuk usaha. Karena itu kendaraan memang bisa menjadi petunjuk, tetapi tidak cukup jika dijadikan satu-satunya ukuran.

Pemerintah sendiri sampai sekarang belum menetapkan pembatasan berdasarkan kapasitas mesin tertentu sebagai aturan final. Pada 1 Juni 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital bahkan secara resmi membantah informasi bahwa mobil bermesin di atas 1.400 cc dilarang membeli Pertalite mulai Juni 2026. Komdigi memasukkan informasi tersebut sebagai hoaks. Jadi masyarakat tidak perlu buru-buru melihat buku manual kendaraan dan menghitung kapasitas mesin berdasarkan kabar yang belum resmi.

Pembahasan terbaru justru menarik karena pemerintah mulai melihat kemampuan ekonomi melalui data kesejahteraan. Secara teori pendekatan ini lebih masuk akal karena yang dilihat bukan hanya kendaraan yang dimiliki, tetapi kondisi ekonomi rumah tangga yang menggunakannya. Namun semakin pintar cara pemerintah menentukan sasaran, semakin besar p**a tuntutan agar data yang dipakai benar. Kalau basis datanya keliru, sistem yang terlihat lebih canggih tetap bisa menghasilkan sasaran yang salah.

Di sisi lain, ada kelompok besar yang sementara bisa bernapas lebih lega. Dilansir dari CNBC Indonesia pada 12 Agustus 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa sepeda motor tidak termasuk dalam skema pembatasan Pertalite yang sedang dipelajari pemerintah. Pembatasan lebih diarahkan kepada kelompok masyarakat yang dianggap mampu, sementara motor tetap mendapat pengecualian. Dengan kata lain, pemerintah belum sedang menyiapkan aturan yang memaksa seluruh pengguna roda dua pindah bahan bakar.

Keputusan itu cukup mudah dipahami kalau melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sepeda motor bukan sekadar kendaraan untuk jalan-jalan. Jutaan orang menggunakannya untuk berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, membawa dagangan, menjadi pengemudi ojek, mengirim paket, sampai menjalankan usaha kecil. Bagi banyak keluarga, motor lebih dekat dengan alat produktif daripada barang gaya hidup.

Kalau seluruh pengendara motor langsung dipaksa meninggalkan Pertalite, pembatasan yang tujuannya ingin melindungi anggaran justru bisa menambah biaya hidup bagi kelompok yang sangat bergantung pada kendaraan roda dua. Pada 13 Agustus 2026, Purbaya juga menegaskan bahwa pengemudi ojek online akan dikecualikan dari pembatasan yang sedang disiapkan. Ini menunjukkan pemerintah mulai melihat fungsi kendaraan, bukan semata-mata siapa yang membeli bensin. Penggunaan untuk mencari penghasilan menjadi pertimbangan penting.

Di titik ini arah kebijakannya sebenarnya cukup masuk akal. Yang mempunyai kemampuan ekonomi tinggi diarahkan membayar bahan bakarnya sendiri, sedangkan kelompok yang sangat bergantung pada Pertalite untuk aktivitas sehari-hari tetap dilindungi. Masalah terbesar justru muncul ketika pemerintah harus menentukan siapa yang benar-benar masuk kategori mampu. Kalimatnya sederhana, tetapi penerapannya jauh lebih rumit.

Di sinilah data menjadi bagian paling penting. Kalau desil 9 dan 10 benar-benar digunakan sebagai dasar pembatasan, pemerintah harus memastikan data kesejahteraan mampu mengikuti keadaan masyarakat yang sebenarnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak pernah diam. Orang yang tahun lalu mempunyai pekerjaan tetap bisa terkena PHK tahun ini, sementara usaha yang sebelumnya menghasilkan juga bisa mengalami penurunan.

Sebaliknya, keluarga yang dahulu berada di kelompok bawah juga bisa mengalami peningkatan kesejahteraan. Karena itu sistem pemerintah harus mampu membaca perubahan kondisi ekonomi tersebut. Kalau tidak, kebijakan bisa salah sasaran dari dua arah. Orang yang sebenarnya sudah sangat mampu tetap menikmati Pertalite karena datanya belum diperbarui, sementara keluarga yang ekonominya menurun justru dianggap masih berada dalam kelompok atas.

Di atas kertas keduanya mungkin terlihat seperti kesalahan administrasi. Di SPBU, dampaknya bisa menjadi persoalan yang sangat nyata. Seseorang yang merasa masih berhak membeli Pertalite bisa tiba-tiba ditolak sistem karena data menyebut kondisi ekonominya berbeda. Dari sinilah kebijakan yang awalnya ingin menghemat uang negara bisa berubah menjadi perdebatan baru antara masyarakat, petugas SPBU, dan sistem digital.

Teknologi sendiri sebenarnya sudah lama digunakan untuk mengatur penyaluran BBM. Mengacu pada keterangan resmi BPH Migas pada Maret 2026, teknologi informasi digunakan untuk membantu pengawasan penyaluran JBT Solar dan JBKP Pertalite agar lebih tepat sasaran. QR Code juga telah menjadi bagian dari berbagai mekanisme pengendalian pembelian BBM tertentu. Artinya, pemerintah memang sudah memiliki pengalaman menggunakan sistem digital untuk mengawasi distribusi energi.

Namun teknologi tetap membaca data yang diberikan kepadanya. Kalau data dasarnya salah, hasilnya juga tidak otomatis benar hanya karena sekarang menggunakan QR Code. Sistem boleh semakin canggih, tetapi ia tidak bisa menebak keadaan ekonomi sebuah keluarga yang tidak tercatat dengan benar. Salah tetap salah, bedanya sekarang salahnya tampil di layar.

Karena itu pembatasan Pertalite seharusnya tidak berhenti pada slogan bahwa orang kaya jangan menikmati bantuan negara. Hampir semua orang bisa memahami logika tersebut. Tantangan sebenarnya justru memastikan pemerintah tidak keliru menentukan siapa yang dianggap kaya. Di sinilah transparansi data dan kemudahan memperbaiki informasi menjadi sama pentingnya dengan pembatasan itu sendiri.

Masyarakat perlu mengetahui bagaimana status desilnya ditentukan, data apa yang digunakan, bagaimana cara mengeceknya, dan ke mana harus mengajukan koreksi apabila informasi pemerintah tidak sesuai kondisi sebenarnya. Kalau sebuah data dapat menentukan apakah seseorang berhak memperoleh produk dengan dukungan negara, masyarakat juga harus memiliki jalan yang mudah untuk memperbaiki data tersebut. Jangan sampai sistem pembatasannya sudah siap, tetapi sistem keberatannya masih membuat orang harus mondar-mandir dari satu kantor ke kantor lain.

Kalau ingin benar-benar tepat sasaran, kemudahan memperbaiki data sama pentingnya dengan kemampuan memblokir pembelian. Sosialisasi juga tidak boleh datang belakangan. Pemerintah harus menjelaskan jauh-jauh hari siapa yang akan terkena pembatasan, apa dasar penentuannya, kapan aturan mulai berlaku, bagaimana cara mengecek status, dan apa yang harus dilakukan masyarakat ketika merasa klasifikasinya keliru. Informasi seperti ini harus tersedia sebelum masyarakat bertemu sistem di SPBU.

Jangan sampai seseorang baru mengetahui dirinya masuk desil 10 saat nozzle Pertalite sudah berada di samping tangki. Bisa dibayangkan betapa uniknya cara seseorang mengetahui dirinya dianggap sejahtera oleh negara jika pemberitahuannya justru datang melalui kegagalan mengisi bensin. Sarkasnya memang terdengar lucu, tetapi persoalan pelayanan publik seperti ini bisa menjadi serius kalau mekanismenya tidak disiapkan dengan baik. Kebijakan nasional membutuhkan komunikasi yang sama rapinya dengan sistem digitalnya.

Di luar persoalan data, prinsip membuat dukungan energi lebih tepat sasaran memang perlu dibicarakan. BPH Migas secara resmi juga menegaskan bahwa BBM subsidi dan kompensasi diarahkan agar dapat dinikmati masyarakat yang berhak sekaligus mendukung berbagai sektor produktif seperti pertanian, perikanan, UMKM, dan layanan umum. Kalau uang negara tersedia terbatas, tentu lebih masuk akal jika dukungannya diprioritaskan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Orang yang memiliki kemampuan membayar harga energi sendiri seharusnya tidak selalu berada dalam antrian bantuan yang sama.

Tetapi ketepatan sasaran tidak boleh hanya diukur dari semakin sedikit orang yang bisa membeli Pertalite. Kebijakan baru bisa disebut tepat sasaran kalau orang yang memang mampu berhasil dikeluarkan dari penerima manfaat, sementara masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak ikut tersingkir. Dua hal itu harus berjalan bersama. Kalau hanya satu yang berhasil, kebijakannya belum benar-benar tepat sasaran.

Sampai 13 Agustus 2026, aturan final pembatasan Pertalite tersebut memang belum diumumkan. Dilansir dari CNBC Indonesia, pemerintah masih menguji sistem dan merancang pelaksanaannya secara bertahap. Desil 9 dan 10 menjadi kelompok yang sedang dipertimbangkan, sementara sepeda motor dinyatakan tidak termasuk dalam sasaran pembatasan. Karena itu lebih tepat menyebut kebijakan ini berpotensi mulai diterapkan akhir 2026, bukan sudah pasti berlaku pada tanggal tertentu.

Jadi sekarang bukan waktunya panik, apalagi ikut menyebarkan daftar kendaraan yang katanya akan dilarang membeli Pertalite padahal aturan finalnya belum diterbitkan. Yang justru perlu diawasi adalah bagaimana kebijakan ini disusun, data apa yang digunakan, dan seberapa mudah masyarakat memperbaiki informasi yang keliru. Kalau kriterianya jelas, datanya akurat, proses koreksinya mudah, dan kelompok yang memang membutuhkan tetap terlindungi, pembatasan untuk masyarakat mampu bisa menjadi langkah menuju penggunaan anggaran yang lebih tepat.

Sebaliknya, kalau datanya tertinggal, kriteria kemampuan dibuat terlalu sederhana, dan masyarakat sulit memperbaiki statusnya, masalahnya hanya akan berpindah tempat. Dari anggaran negara ke antrean SPBU, lalu dari antrean SPBU ke keluhan masyarakat. Pada akhirnya persoalan ini bukan sekadar memilih Pertalite atau Pertamax, tetapi tentang bagaimana uang bersama digunakan dan siapa yang paling pantas mendapatkan manfaatnya.

Orang yang benar-benar mampu tentu tidak harus terus dibantu negara untuk membuat harga bensinnya lebih murah. Namun negara juga tidak cukup hanya mengatakan bahwa bantuan akan dibuat tepat sasaran. Negara harus bisa membuktikan bahwa sasaran yang ditunjuk memang tepat. Sebab membatasi Pertalite untuk orang kaya relatif mudah, sedangkan memastikan pemerintah tidak salah menentukan siapa orang kayanya justru menjadi bagian yang paling sulit.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

Address

Tulungagung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PecahTelur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to PecahTelur:

Shortcuts

Share