13/07/2023
Cerita Wayang "Kisah Parikesit: Kepemimpinan Bijaksana dan Perjuangan Menyatukan Bangsa"
Sosoknya masih muda namun sudah berkuasa. Lahir sebagai anak yatim dialah Parikesit putera Abimanyu dengan Dewi Utari. Saat Parikesit masih dalam kandungan, ayahnya yang bernama Abimanyu, turut berperang dalam Baratayuda melawan Kurawa. Abimanyu gugur dalam serangan musuh yang dilakukan secara curang.
Parikesit lahir di istana Astina setelah keluarga Pandawa kembali dari Amarta ke Astina usai menang Baratayuda. Parikesit sangat disayangi oleh keluarga Pandawa. Ketika masih bayi, secara tidak sengaja Parikesit telah membunuh Aswatama. Diceritakan Aswatama berhasil menyusup ke kemah Pandawa untuk membalas dendam kematian Begawan Drona, ayahnya. Aswatama berhasil membunuh Drestajumna, Pancawala, dan Dewi Srikandi. Ketika menemukan bayi Parikesit Aswatama memandangi dengan penuh kebencian, karena Pancawala sudah terbunuh, maka bayi ini adalah pewaris tahta Astinapura. Segera Aswatama berusaha menikam bayi itu. Tiba-tiba bayi Parikesit bangun dari tidur secara tidak sengaja kakinya menendang keris Pulanggeni yang terletak dibawahnya terpental menembus dada Aswatama hingga tewas.
Menurut versi lain saat Baratayuda di akhir hari kedelapan belas, Aswatama bertarung dengan Arjuna. Keduanya sama-sama memiliki kesaktian. Aswatama mengeluarkan cundamaik dan Arjuna mengeluarkan panah pasopati. Sebelum kedua pusaka tersebut berbenturan Resi Abiyasa datang menahan kedua pusaka yang terlanjur dilepaskan tersebut "Cepat tarik senjata kalian, kalau sampai beradu, bukan hanya kalian yang hancur, tapi seluruh dunia" kata Abiyasa. Arjuna segera menarik kembali panah pasopatinya, tapi Aswatama tidak bisa melakukan. Karena Aswatama memiliki hati yang jahat dan pendendam sehingga pusaka cundamanik tidak mau kembali. Aswatama timbul pikiran jahat, dia mengarahkan cundamanik ke kandungan Dewi Utari. Senjata tersebut membunuh Parikesit yang masih berada dalam kandungan. Atas pertolongan Kresna, Parikesit dihidupkan kembali. Aswatama kemudian dikutuk akan mengembara di dunia selamanya.
Beberapa bulan kemudian setelah kelahiran perikesit. Di Astina diadakan acara pemberian nama jabang bayi. Parikesit yang baru berumur beberapa bulan baru bisa merangkak. Dia sedang dipangku oleh Nakula. Kelihatannya dia gelisah sekali, ingin turun dari pangkuan Nakula. Nakula kemudian melepasnya. Beberapa saat kemudian dia mulai merangkak. Sri Krisna memberi isyarat supaya parikesit dibiarkan merangkak kemanapun yang dia mau. Parikesit mengamati setiap orang yang dilihatnya. Sri Krisna sadar akan hal ini. Dia kemudian bersembunyi di balik salah satu pilar. Parikesit berusaha mencari wajah yang pernah menyelamatkannya. Wajah itu Krisna, yang penuh kasih sayang, senyum yang selalu tersungging dari wajah beliau, begitu manis, mempesona setiap orang yang melihatnya. Krisna kemudian memangku dan memberi nama Parikesit.
Setelah dewasa Parikesit menjadi raja negara Yawastina menggantikan kakeknya yakni Prabu Kalimataya, dengan gelar Prabu Krisnadwipayana seperti nama buyut, Prabu Kresnadipayana (Abiyasa). Sedang Baladewa ditunjuk sebagai penasehat kerajaan bergelar Resi Curiganata.
Setelah menjadi raja negara Astina, ia memerintah dengan bijaksana, jujur, dan adil. Parikesit berusaha menyatukan kembali rakyat Yawastina negara yang terpecah-pecah akibat komplik yang terjadi sebelumnya.
Walau Parikesit tidak mengalami perjuangan sebagaimana dialami ayah maupun para leluhurnya, namun ia bertekat untuk melanjutkan perjuangan para leluhurnya dengan membagun negara Yawastina dengan adil, makmur dan sejahtera. Parikesit juga berusaha menyatukan kembali berbagai laskar, kelompok maupun golongan yang masih berusaha merongrong kewibawaan negara Yawastina. Jangan sampai berbedaan antar golongan, suku dan ras yang mendiami negara Yawastina menghambat jalannya pembangunan negara. Parikesit juga sangat dekat dengan rakyatnya. Berbagai persoalan negara yang tidak bisa dipecahkan sendiri tidak lupa selalu minta petunjuk pada Kyai Semar.
Berbagai hambatan dan rintangan yang mengganggu ketentraman negara Yawastina dapat diatasi dengan baik. Seperti yang dilakukan oleh Pancakusuma cucu Puntadewa yang ingin mengambil alih kekuasaan Yawastina, namun dengan kebijakan Parikesit dan nasehat dari Kyai Semar akhirnya Pancakusuma dapat disadarkan. Tindakan Pancakusuma mengganggu stabilitas negara Yawastina tersebut akibat terkena bujuk rayu Kertiwindu, cucu Patih Sengkuni. Dengan kesigapan seluruh prajurit Yawastina akhirnya Kertiwindu dapat ditumpas dan Yawastina kembali aman tentram.
Pada suatu hari Parikesit ingin meninjau secara langsung kehidupan rakyatnya. Untuk mengetahui hasil-hasil pembagunan yang telah dilaksanakannya dan untuk menyerap aspirasi dari rakyatnya. Perjalanan Parikesit dilakukan secara diam-diam sehingga tidak diketahui para pengawalnya. Perjalanan Parikesit tiba di puncak Gunung Lodra melihat seorang pertapa yang berdiri tegak tanpa bergerak dan berbicara juga tidak menjawab pertanyaan Parikesit, maka hilang kesabaran Parikesit, pertapa itu ditusuk dengan senjata. Setelah jenazahnya hilang munculah Batara Basuki yang memberi nasehat Parikesit supaya sesalu amanah dalam memerintah negara Yawastina.
Parikesit melanjutkan perjalanannya, ia bertemu orang naik sapi liar yang akan menubruknya, dengan sigap parikesit melepaskan anak panahnya, dan berubahlah sapi tersebut menjadi Batara Gana lalu memberikan nasehat supaya seorang raja itu tidak ragu-ragu dan harus berani memutuskan sesuatu yang dianggap benar untuk kepentingan masyarakat.
Dalam meneruskan perjalanan Prabu Parikesit menyelamatkan orang yang dikejar ular besar, orang itu adalah Prabu Praswati dari Gilingwesi, yang mempunyai putri bernama Dewi Sritatayi. Putri ini bermimpi kawin dengan Parikesit. Setelah Praswati mengutarakan maksudnya, Parikesit menerima Dewi Sritatayi untuk menjadi istrinya.
Dalam melanjutkan perjalannnya Parikesit bertemu dengan raksasa Srubisana dari Manimantaka yang diutus Prabu Niradakawaca untuk balas dendam pada Parikesit atas kematian ayahnya Niwatakawaca yang terbunuh oleh Arjuna. Terjadilah peperangan. Parikesit terlempar ke udara dan jatuh di Pertapaan Manikmaya ditemukan oleh Begawan Sidiwacana serta putrinya bernama Rara Setapi. Prabu Parikesit tertarik panah milik Rara Setapi dan menginginkannya. Rara Satapi bersedia memberikan senjatanya dengan syarat sudi mengawininya, Parikesit tidak keberatan. Akhirnya Parikesit dapat membunuh Srubisana dan mengawini Dewi Setapi lalu kembali ke Istana.
Dikisahkan negara Yawastina mendapat serangan dari Manimantaka Prabu Niradakawaca. Resi Curiganata memimpin pertempuran itu tetapi tidak kuat menahan kesaktian raja raksasa, sehingga negara Yawastina porak poranda. Setelah Parikesit tiba di Istana lalu menghadapi musuh yang menyerang. Prabu Niradakawaca dapat dibunuh Prikesit.
Dari perjalanan Prabu Parikesit tersebut banyak mendapat pelajaran dan hikmah, sebagai seorang raja maupun pejabat negara tidak boleh hanya berpangku tangan duduk di kursi Istana. Namun harus mengetahui aspirasi dan penderitaan rakyat, problematika yang ada di masyarakat harus segera diatasi secepatnya.
Dalam kitab Adiparwa, diceritakan akhir riwayat Prabu Parikesit yang meninggal karena digigit ular yang bersembunyi di dalam buah jambu. Namun cerita ini berbeda dengan kisah Srimad Baghavatam yakni kumpulan kisah yang disampaikan Resi Shuka kepada Prabu Parikesit. Srimad Baghavatam ditulis oleh Resi Abiyasa. Pada suatu hari, Raja Parikesit mengembara ke tengah hutan. Karena kecapekan lalu berhenti untuk beristirahat di sebuah pertapaan di mana tinggal Bagawan Samiti. Ketika itu sang Resi sedang duduk bertapa dan membisu. Tatkala Parikesit bertanya, Bagawan Samiti hanya diam membisu karena pantang berkata-kata saat sedang bertapa. Karena pertanyaannya tidak dijawab, Parikesit kesal, pikiran jernih sang raja sedikit terkesampingkan, lalu mengambil bangkai ular yang ada di dekatnya lalu meletakkannya di leher sang resi.
Saat Dewi Srenggi pulang, ia melihat bangkai ular hitam melilit leher ayahnya. Putra sang resi menjadi marah, “Bagaimana etikanya seorang ksatriya melakukan hal demikian bagi seorang brahmin? Tugas ksatriya adalah melindungi orang-orang suci. Wahai ksatriya kukutuk dirimu agar digigit ular beracun dalam waktu satu minggu. Bagawan Samiti kecewa terhadap perbuatan puteranya tersebut, yang mengutuk raja yang telah memberikan mereka tempat berlindung.
Sesampai di istana Parikesit merasa menyesal, mengapa melakukan tindakan yang tidak perlu. Dirinya telah menganggap sang resi sedang bermeditasi angkuh, padahal dia sadar dirinyalah yang angkuh. Orang menjadi tidak adil karena keangkuhannya. Rasa angkuh membuat orang menjadi keras kepala, merasa benar sendiri. Raja Parikesit sadar, bila keadaan ini dibiarkan makin lama menjadi keras dan akan bertindak tidak adil untuk mempertahankan pendapatnya. Keangkuhan berada di balik segala tindakan yang jahat. Dirinya sadar lalu kembali ke tempat sang resi untuk memohon maaf atas keteledorannya.
Setelah itu Parikesit pergi ke tepi Sungai Gangga. Para brahmin menghampirinya, memberikan berbagai nasehat, tetapi kata-kata para brahmin tidak dapat memuaskan dirinya. Parikesit hanya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketidaktakutan menghadapi kematian, membuka dirinya dan keyakinan untuk pasrah pada Tuhan.
Kejujuran dan ketidakpahaman tentang apa yang harus dilakukan menjelang kematian menggerakkan Resi Shuka, menemui Parikesit di tepi Sungai Gangga. Resi Shuka memberikan nasehat “janganlah tujuh hari, sekejap saja cukup untuk membebaskanmu dari sengsara”. Parikesit sangat berbahagia mendapat dukungan moril Resi Shuka. Seorang resi tidak akan asal berbicara, semua yang diucapkan seakan adalah sabda Tuhan. Parikesit merasa malu ketika Resi Shuka menyinggung situasi negara Yawastina dalam kondisi krisis moral. Kehidupan masyarakat jauh dari rasa tentram dan sejahtera. Hasil pembangunan belum bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Dengan membangun banyak tempat ibadah, penguasa menganggap dirinya sudah berbuat baik. Dia tidak peduli apakah tempat-tempat itu dimanfaatkan untuk beribadah atau untuk apa? Untuk menyebarkan kesejukan atau kebencian? Banyak rohaniawan hanya membaca buku dan meneruskan informasi kepada para jemaah, kepada umat masing-masing. Banyak yang tidak peduli apakah informasi yang mereka sampaikan itu “mengutuhkan” jiwa para pendengar atau justru sebaliknya, membagi, mengkotak-kotak atau memecahbelah umat. Parikesit duduk bersimpuh dengan sepenuh hati bersujud dan mencium kaki Resi Shuka. Pada hari kutujuh, ketika seekor ular mematuk Parikesit, ia sudah berada dalam kepasrahan. Di mana rasa s**a dan duka sudah kehilangan makna. Prabu Parikesit menghadapai maut dengan senyuman.
Tokoh Parikesit terhitung penutup dalam cerita wayang Purwa. Setelah itu diteruskan dengan zaman Madya, atau wayang Madya, dan Parikesit merupakan permulaan ceritanya.
Demikian kawan sejarah, kisah Lakon Parikesit yang sudah sama-sama kita saksikan dan dengarkan. Bagaimana tanggapan kalian?
Semoga dengan cerita-cerita sejarah kita semua dapat mengambil pembelajaran dari peristiwa yang terjadi.
Akhir kata, 'JAS MERAH!'. Jangan lupakan sejarah!