08/05/2026
Temanggung, Trayek—Rencana penataan wajah Kota Temanggung melalui proyek Citywalk resmi memasuki tahap penjaringan aspirasi masyarakat. Dalam Forum 'Rembug Bareng' Focus Group Discussion (FGD) I Penyusunan Feasibility Study (FS) yang digelar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Temanggung, di Aula Progo Pistan, Kamis (7/5/2026).
Sejumlah perwakilan warga dan berbagai komunitas memberikan masukan guna memastikan pembangunan tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga fungsional dan aman.
Warga mendukung konsep pedestrian yang futuristik, namun menekankan agar pembangunan tetap realistis dengan memprioritaskan drainase, keselamatan, dan keberlanjutan.
“Kita harus bergandengan tangan. Pembangunan ini bersifat futuristik, namun tetap realistik. Sejarah masa lalu menjadi ‘kaca benggala’ agar pembangunan pedestrian ini berkelanjutan dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Sekretaris DPUPR Kabupaten Temanggung, Eko Budi Prayitno, sebagaimana dikutip Media Center Temanggung
Fokus pada Drainase dan Mitigasi Banjir
Salah satu isu yang diangkat adalah sistem drainase. Perwakilan Ketua RW Kelurahan Kowangan, Entargo, memperingatkan agar penataan trotoar tidak mengabaikan daya resap tanah.
“Jangan sampai air hujan deras meluap ke jalan karena daerah resapan hilang. Hal ini sangat krusial agar tidak menimbulkan banjir kiriman ke daerah yang lebih rendah, khususnya wilayah Kelurahan Kowangan,” tuturnya.
Masukan ini sangat relevan mengingat Pemerintah Kabupaten Temanggung telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,7 miliar pada 2026 untuk melanjutkan pembangunan city walk di kawasan dalam kota, yang mencakup penyusunan studi kelayakan dan detail rekayasa desain untuk koridor Jl. S. Parman, Jl. Jenderal Soedirman (segmen Telkom-Taman Kuda Lumping), hingga Jl. Letjen Suprapto.
Keselamatan Anak dan Fasilitas Publik
Sementara itu, Setyo Sumaryanto dari RW 03 Mardisari-Kertosari menekankan pentingnya keselamatan anak-anak di jalur protokol. Ia meminta pemasangan marka kejut (speed bump) di depan Poli Pancasila/Panti Asuhan Pangrekso Ndalem Betlehem yang berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 53, serta akses masuk SD Pangudi Utami.
“Jaminan keselamatan bagi anak-anak sangat perlu. Jangan sampai trotoar yang sudah bagus dirusak permanen oleh galian atau saluran limbah yang tidak segera dikembalikan kondisinya secara sempurna,” ujarnya.
Ruang Publik yang Inklusif
FGD ini juga dihadiri oleh forum penyandang disabilitas, komunitas olahraga lari, komunitas sepeda, pegiat mural, serta pegiat sejarah. Kehadiran mereka menjadi jawaban atas kritik sebelumnya yang menilai pembangunan city walk tahap terdahulu belum sepenuhnya ramah disabilitas dan masih terkesan semrawut akibat penataan pedagang kaki lima yang kurang tegas.
Sinergi ini sejalan dengan visi Bupati Agus Setyawan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang inklusif, terutama melalui kolaborasi dengan organisasi seperti PPDFI (Perkump**an Penyandang Cacat Fisik Indonesia).
Visi Temanggung 2030
Proyek city walk ini merupakan bagian dari strategi besar revitalisasi kawasan perkotaan Temanggung yang ditargetkan rampung pada tahun 2030. Penataan ini juga akan terintegrasi dengan rencana revitalisasi Alun-alun Temanggung yang dijadwalkan mulai 2027, guna mengembalikan fungsi alun-alun sebagai pusat interaksi sosial yang nyaman dan ikonik seperti kawasan Malioboro.
Dilihat dari sisi historis, penataan jalan-jalan protokol ini sangat penting karena tata kota Temanggung sejak masa kolonial (1834–1942) telah membentuk pola gurita (octopus), di mana jaringan jalan menjadi poros utama perkembangan ekonomi dan sosial kota.
Dengan semangat kolaborasi melalui program 'Rembugan dan Mirunggan', proyek Citywalk diharapkan menghasilkan ruang terbuka yang modern sekaligus menjaga nilai sejarah dan aspirasi nyata masyarakat. [trayektmg|mct]