02/11/2025
Pertamina akhirnya menyatakan siap mengganti rugi warga Jawa Timur yang motornya rusak akibat Pertalite bermasalah. Sekilas tampak sebagai bentuk tanggung jawab, tapi di balik kalimat “siap ganti rugi” terselip ironi: mengapa rakyat harus menunggu viral dulu baru dilayani? Mengapa suara rakyat selalu kalah oleh sorotan kamera dan trending tagar?
Masalah ini bukan sekadar soal mesin motor brebet atau karburator kotor. Ini potret kecerobohan sistemik — ketika perusahaan milik negara yang menguasai hajat hidup orang banyak justru lalai menjaga kualitas produknya. Rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari motor bebek butut jadi korban pertama. Mereka beli BBM resmi, bayar pajak, ikut aturan, tapi justru menanggung kerusakan akibat kelalaian korporasi raksasa yang digaji dari uang rakyat juga.
Yang lebih menyakitkan, setiap kali ada masalah, yang muncul bukan empati, tapi narasi pembelaan diri. Dari “hanya sebagian kecil” hingga “akan kami investigasi”, semua terdengar seperti pola lama yang mengulang: membela citra, bukan membela rakyat. Padahal di lapangan, ratusan orang kehilangan kendaraan yang jadi tulang punggung hidupnya. Bagi mereka, motor bukan gaya hidup, tapi alat bertahan hidup.
Dan kini, setelah viral, Pertamina datang dengan janji kompensasi. Namun publik tahu: keadilan yang lahir dari tekanan bukanlah keadilan sejati, tapi sekadar penenang amarah sementara. Karena selama sistemnya masih abai terhadap kepentingan rakyat kecil, tragedi seperti ini hanya akan berulang dalam bentuk lain — entah di SPBU, entah di harga, entah di kebijakan energi berikutnya.
Maka pertanyaannya sederhana tapi menusuk: kalau rakyat selalu bayar akibat kebijakan yang salah, siapa yang seharusnya menanggung akibatnya?
Yang rusak bukan cuma mesin motor rakyat, tapi juga kepercayaan yang makin hari makin aus, seperti bahan bakar buruk yang membuat bangsa ini terus tersendat-sendat di jalan ketimpangan.
Sumber : Kumparan Bisnis – Pertamina Siap Ganti Rugi ke Warga Jatim yang Motornya Brebet Karena Pertalite