02/03/2026
Sama seperti Surat Al-Ikhlas yang menjunjung tinggi kemurnian tanpa pernah sekalipun mengeja namanya sendiri di dalam barisan ayatnya.
Begitulah seharusnya kebaikan itu pulang. Ia datang dengan senyap, menetap dalam pengabdian, dan pergi tanpa meninggalkan jejak kesombongan.
Sebab, saat lisan mulai berucap, "Aku sudah ikhlas," di titik itulah ego sedang menyamar menjadi kerendahan hati.
Ikhlas yang sejati adalah ketika tangan kanan memberi, dan hati pun lupa bahwa ia baru saja memberi.
Ia larut, hilang, namun menyisakan rasa manis yang tertinggal jauh di dalam palung jiwa.
Rhea Apais 🪶