28/12/2025
Pagi belum sepenuhnya terang ketika seorang anak kecil mendorong gerobak karung di tepi jalan. Di balik tangannya yang kotor, tersimpan mimpi sederhana tentang sekolah dan masa depan.
Celengan Kaleng
Oleh: Arda Dinata
Setiap pagi, Bima sudah bangun sebelum matahari muncul. Ia mencuci muka di sumur belakang rumah, lalu mengenakan kaus tipis yang warnanya mulai pudar. Di sudut dapur, adiknya, Sari, masih tidur dengan buku tulis di samping bantal.
“Kakak berangkat dulu,” bisik Bima pelan.
Sari mengerjap. “Hati-hati, Kak.”
Gerobak kecil itu berderit saat didorong. Bima menyusuri gang demi gang, memungut botol plastik dan kardus bekas. Tangannya cekatan. Wajahnya tenang, meski peluh cepat mengalir.
Menjelang siang, ia berhenti sebentar di bawah pohon. Perutnya lapar. Ia membuka bekal nasi yang dibungkus daun.
“Cukup,” gumamnya sambil menutup kembali. Ia hanya makan sedikit.
Sore hari, Bima menimbang hasilnya. Tidak banyak. Ia memasukkan uang receh ke dalam kaleng biskuit yang disimpan di bawah ranjang. Kaleng itu sudah penyok, tapi selalu tertutup rapat.
“Uangnya buat apa, Kak?” tanya Sari suatu malam.
“Buat nanti,” jawab Bima sambil tersenyum.
Suatu hari, Sari pulang sekolah dengan wajah murung.
“Kenapa?” tanya Bima.
“Bu Guru bilang, besok harus bayar buku,” jawab Sari lirih.
Bima diam. Malam itu, ia membuka kalengnya. Uangnya belum cukup. Ia menutup kembali dan menarik napas panjang.
Keesokan harinya, Bima bekerja lebih lama. Ia menolak ajakan teman untuk jajan.
“Nanti saja,” katanya.
Hari demi hari, kaleng itu makin berat. Akhirnya, Bima mengajak Sari ke toko buku.
“Ini buat sekolah,” kata Bima sambil menyerahkan uang.
Sari menatapnya, lalu memeluk erat. “Terima kasih, Kak.”
Malam itu, mereka makan sederhana. Bima tersenyum. Kalengnya kosong, tapi hatinya penuh.
Hikmah Cerita:
Ketulusan seorang kakak bisa menjadi jembatan bagi mimpi adiknya. Dari pengorbanan kecil, tumbuh harapan besar.