07/01/2026
Ngumpulin niat membaca itu, memang harus dimulai dari, "bawa saja dulu, baca kemudian." Terlepas dari saya membaca atau tidak, setidaknya sudah ada niat. Pagi ini, buku kedua yang saya bawa ke kantor. Buku pertama berjudul, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, milik Eka Kurniawan. Kemarin, saya baca halaman pertama, isinya tentang burung.
Kata orang yang sudah membacanya, novel Eka Kurniawan yang itu, merupakan kritik tajam terhadap maskulinitas toksik, yang dibalut dengan gaya realisme magis dan budaya populer Indonesia tahun 80-an. Namun, saat membuka halaman pertamanya, saya langsung disuguhi premis cerita, "hanya orang yang tak bisa ereksi yang bisa berkelahi tanpa takut mati." Kalimat pembuka tersebut merujuk pada kondisi impoten yang dialami Ajo Kawir, di mana ia digambarkan memiliki burung yang tertidur dan tidak bisa bangun meskipun ia berusaha memprovokasinya dengan berbagai cara. Burung jenis apa lagi ini?
Saya akhirnya membawa buku kedua di kantor yang berjudul, Sarapan Pagi Penuh Dusta. Semoga tidak ada dusta di antara kita ketika kau tahu, kau sungguh tidak tahu apa-apa.