20/05/2026
Saat sedang duduk menikmati secangkir kopi pagi tadi, saya membuka beranda media sosial saya, dan, menemukan quotes yang dibagikan seseakun fanpage. Saya lupa nama page-nya apa, tapi kata-kata dalam quotes itu sudah saya salin, untuk sekadar mengingatkan jika suatu saat saya memang berkeinginan untuk memelihara kebodohan.
Sebelum berangkat kantor, saya lalu mencaritahu informasi tentang seseorang, yang, saya menduganya sebagai pemilik quote ini: Joseph V. Stalin. Dalam penelusuran tersebut, saya menemukan bahwa ia memulai hidupnya sebagai putra seorang tukang sepatu pecandu alkohol dan seorang ibu penyayang yang mengirimnya untuk belajar menjadi seorang pendeta.
Lahir pada 18 Desember 1879 di Gori, Georgia, Kekaisaran Rusia. Nama aslinya adalah Iosif (Joseph) Vissarionovich Dzhugashvili. Joseph tumbuh dalam kemiskinan. Ibunya adalah seorang tukang cuci dan ayahnya seorang tukang sepatu. Ia terkena cacar air pada usia tujuh tahun dan wajahnya dipenuhi bekas cacar serta lengan kirinya sedikit cacat. Ia sering diintimidasi oleh anak-anak lain dan merasa terus-menerus perlu membuktikan dirinya.
Seperti kisah-kisah klasik yang sering kita baca, cerita tentang Joseph Stalin ini memang menarik perhatian saya. Nama Stalin berarti "manusia baja" dan, dari bacaan yang saya dapat, dia memang sesuai dengan julukan itu. Bagaimana tidak? Putra seorang tukang sepatu pecandu alkohol ini, hidup melewati perang dan pemberontakan, membantu Lenin dan menjadi penguasa tertinggi Uni Soviet selama seperempat abad, mengubah Uni Soviet menjadi negara industri modern.
Namun, tulisan ini bukan untuk menceritakan tentang betapa gagahnya Stalin ini. Saya awalnya kepincut dengan quote, "setiap orang mempunyai hak untuk goblok, tetapi beberapa orang telah menyalahgunakan hak itu secara berlebihan." Sebab, tadi pagi, saya membaca status Facebook seorang teman, yang, mengaku menyesal telah memilih pemimpin, karena tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
Bila dikaitkan dengan konteks Indonesia dewasa ini, dengan segala permasalahan yang ada, segala persoalan yang ada, segala hal-hal rumit yang dibuat gampang, rasanya, saya setuju dengan pendapat seorang teman tersebut. Namun, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Dan, bubur ini tidak bisa lagi dikeringkan untuk dibuat jadi kerupuk yang enak.
📷; bikin sendiri pake AI