Yons Hunga

Yons Hunga Kadang menulis, kadang upload foto. Kadang keduanya.

Saya s**a kopi, tapi mungkin belum termasuk dalam golongan 'pecinta.' Orang-orang yang mengaku pecinta kopi, kerap minum...
10/06/2026

Saya s**a kopi, tapi mungkin belum termasuk dalam golongan 'pecinta.' Orang-orang yang mengaku pecinta kopi, kerap minum kopi dengan takaran yang jelas. Bisa dipesan. Bisa diatur. Sesuai keinginan.

Dalam perhitungan cocoklogi saya, sebenarnya, orang Sumba tidak begitu tertarik untuk minum kopi di warung-warung kopi ataupun di kafe-kafe. Sebab, dalam kultur orang Sumba, siapapun kamu, bila berkunjung ke rumah orang Sumba, kopi selalu disuguhkan, setelah sebelumnya kamu disapa dengan kehangatan pahapa.

Maka, apabila ada warung kopi yang laris bin laku di Sumba, sebab pertamanya adalah orang-orang yang minum di sana tidak s**a berkunjung ke rumah orang. Kedua, karena gengsi. Namun, lagi-lagi cocoklogi saya, ini lebih ke gengsi.

Dan, ya, barangkali kita bisa melihat pemandangan, atau, sebaliknya, pemandanganlah yang melihat kita...,
06/06/2026

Dan, ya, barangkali kita bisa melihat pemandangan, atau, sebaliknya, pemandanganlah yang melihat kita...,

😎
06/06/2026

😎

BUNDA GURU TANPA MENGAJAR, BUNDA LITERASI TANPA MELITERASINTT memang selalu punya cara unik untuk berinovasi. Di saat da...
01/06/2026

BUNDA GURU TANPA MENGAJAR, BUNDA LITERASI TANPA MELITERASI

NTT memang selalu punya cara unik untuk berinovasi. Di saat daerah lain sibuk mencari guru terbaik, penggerak literasi terbaik, atau tokoh pendidikan terbaik, kita justru berhasil menemukan konsep yang jauh lebih revolusioner di mana gelar pendidikan tidak perlu berkaitan dengan pendidikan.

Di sini, seseorang bisa menjadi Bunda Guru tanpa pernah menjadi guru. Bisa p**a menjadi Bunda Literasi tanpa perlu repot-repot menggerakkan literasi. Sebuah terobosan yang mungkin belum terpikirkan oleh para ahli pendidikan dunia.

Yang lebih menarik, gelar ini memiliki masa berlaku sekitar lima tahun. Kebetulan sama dengan masa jabatan politik. Tentu saja ini hanya kebetulan belaka. Tidak mungkin ada hubungan antara jabatan publik dan gelar-gelar yang tiba-tiba muncul lalu berganti mengikuti pergantian kekuasaan.

Bayangkan! betapa beruntungnya para guru. Selama ini mereka harus kuliah, mengikuti pendidikan profesi, mengajar bertahun-tahun, menghadapi administrasi yang tak ada habisnya, dan tetap dituntut menjadi teladan. Namun, ternyata ada level yang lebih tinggi dari guru. Jadi Bundanya Guru. Sebuah posisi prestisius yang bisa diraih tanpa harus melewati lika-liku dunia pendidikan seperti yang dialami guru-guru biasa.

Begitu p**a dengan literasi. Selama ini banyak komunitas rela mengumpulkan buku, membuka taman baca, mengajar anak-anak di pelosok, bahkan menggunakan uang pribadi demi menumbuhkan budaya membaca. Mereka mungkin belum menyadari bahwa ada jalur yang jauh lebih cepat untuk menjadi ikon literasi.

Mungkin inilah bentuk efisiensi birokrasi yang sesungguhnya. Mengapa harus berkeringat mengajar jika bisa menjadi simbol pendidikan? Mengapa harus membangun gerakan membaca jika bisa menjadi wajah literasi?

Dan, tentu saja, kita semua tentu patut bangga. Sebab di NTT, gelar tidak selalu mengikuti karya. Kadang-kadang karya cukup mengikuti gelar.

Kalau begini, mungkin ke depan kita bisa lebih kreatif lagi. Misalnya menunjuk Bapak Nelayan yang tidak pernah melaut, atau Bunda Petani yang alergi lumpur. Dengan demikian, semua sektor pembangunan dapat menikmati keajaiban yang sama.

Lagi p**a, di negeri yang kaya simbol, kadang yang paling penting bukan siapa yang bekerja, melainkan siapa yang diberi sebutan.
❤️ 🏝🔥

Rumput liar, kalau salah melihat, dikira dandelion. Begitulah kira-kira yang terjadi, apabila kau hanya melihat permukaa...
22/05/2026

Rumput liar, kalau salah melihat, dikira dandelion. Begitulah kira-kira yang terjadi, apabila kau hanya melihat permukaannya saja, lalu terluka, sakit hati, patah hati, dan, menyerah.

Kita nyaris bahagia, karena guru-guru kita sejahtera. Kita nyaris bahagia, karena hampir saja gaji guru naik 300%. Kita ...
20/05/2026

Kita nyaris bahagia, karena guru-guru kita sejahtera. Kita nyaris bahagia, karena hampir saja gaji guru naik 300%. Kita nyaris bahagia, kalau saja tidak ada typo kata-kata.

Saat sedang duduk menikmati secangkir kopi pagi tadi, saya membuka beranda media sosial saya, dan, menemukan quotes yang...
20/05/2026

Saat sedang duduk menikmati secangkir kopi pagi tadi, saya membuka beranda media sosial saya, dan, menemukan quotes yang dibagikan seseakun fanpage. Saya lupa nama page-nya apa, tapi kata-kata dalam quotes itu sudah saya salin, untuk sekadar mengingatkan jika suatu saat saya memang berkeinginan untuk memelihara kebodohan.

Sebelum berangkat kantor, saya lalu mencaritahu informasi tentang seseorang, yang, saya menduganya sebagai pemilik quote ini: Joseph V. Stalin. Dalam penelusuran tersebut, saya menemukan bahwa ia memulai hidupnya sebagai putra seorang tukang sepatu pecandu alkohol dan seorang ibu penyayang yang mengirimnya untuk belajar menjadi seorang pendeta.

Lahir pada 18 Desember 1879 di Gori, Georgia, Kekaisaran Rusia. Nama aslinya adalah Iosif (Joseph) Vissarionovich Dzhugashvili. Joseph tumbuh dalam kemiskinan. Ibunya adalah seorang tukang cuci dan ayahnya seorang tukang sepatu. Ia terkena cacar air pada usia tujuh tahun dan wajahnya dipenuhi bekas cacar serta lengan kirinya sedikit cacat. Ia sering diintimidasi oleh anak-anak lain dan merasa terus-menerus perlu membuktikan dirinya.

Seperti kisah-kisah klasik yang sering kita baca, cerita tentang Joseph Stalin ini memang menarik perhatian saya. Nama Stalin berarti "manusia baja" dan, dari bacaan yang saya dapat, dia memang sesuai dengan julukan itu. Bagaimana tidak? Putra seorang tukang sepatu pecandu alkohol ini, hidup melewati perang dan pemberontakan, membantu Lenin dan menjadi penguasa tertinggi Uni Soviet selama seperempat abad, mengubah Uni Soviet menjadi negara industri modern.

Namun, tulisan ini bukan untuk menceritakan tentang betapa gagahnya Stalin ini. Saya awalnya kepincut dengan quote, "setiap orang mempunyai hak untuk goblok, tetapi beberapa orang telah menyalahgunakan hak itu secara berlebihan." Sebab, tadi pagi, saya membaca status Facebook seorang teman, yang, mengaku menyesal telah memilih pemimpin, karena tidak sesuai dengan yang ia harapkan.

Bila dikaitkan dengan konteks Indonesia dewasa ini, dengan segala permasalahan yang ada, segala persoalan yang ada, segala hal-hal rumit yang dibuat gampang, rasanya, saya setuju dengan pendapat seorang teman tersebut. Namun, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Dan, bubur ini tidak bisa lagi dikeringkan untuk dibuat jadi kerupuk yang enak.
📷; bikin sendiri pake AI

17/05/2026

2 Minggu terakhir, saya meliburkan anak-anak, karena tidak ada yang mengajari mereka selama saya tidak ada di rumah. Hari ini, mereka datang, bermain dan belajar bersama. Berhubung hari ini hari pertama di bulan Mei, saya merefresh ingatan mereka tentang materi-materi yang telah saya berikan sebelumnya. Karena itu, saya memberi mereka 10 pertanyaan dalam bahasa inggris, yang mereka cari sendiri artinya tanpa harus membuka buku.

Beberapa kata yang tidak pernah saya ajarkan, memang tidak diketahui artinya oleh anak-anak. Untuk itu, saya memberi beberapa klue, sehingga menyisakan kosakata yang pernah mereka dapatkan di bulan-bulan sebelumnya.

Hasilnya, anak-anak , dalam keyakinan saya, sebenarnya sudah bisa diajarkan bahasa Inggris yang lebih berat lagi. Karena ini hanya soal kebiasaan dan pembiasaan. Mereka semuanya bisa menerjemahkan pertanyaan yang saya berikan dan itu sangat menggembirakan.

Bagaimana jika pagimu tak seindah pagi kemarin? Yang ramai, yang penuh dengan orang-orang sibuk, yang penuh dengan huru-...
10/05/2026

Bagaimana jika pagimu tak seindah pagi kemarin? Yang ramai, yang penuh dengan orang-orang sibuk, yang penuh dengan huru-hara, yang penuh dengan gupu-gapa, yang penuh dengan hal-hal harbabaruk, yang penuh dengan optimistis akan hasil yang lebih baik.

Bagaimana jika pagimu tak seindah pagi kemarin? Namun, jika kau merasa makanan pagi ini lebih enak dari kemarin, maka syukurilah. Nikmat semesta memang tak bisa didustai

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang tidak peduli siapa kau. Orang-orang akan sibuk dengan kesibukannya masing-masing. M...
01/05/2026

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang tidak peduli siapa kau. Orang-orang akan sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Mereka duduk, bercengkrama dengan yang mereka kenal, dan, selebihnya, acuh tak acuh.

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang hanya akan saling memandang, sambil menatap layar hp, tersenyum sedikit, lalu melanjutkan scrolling layat hp mereka.

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang tidak peduli kau mau ke mana. Mereka hanya tahu, bahwa jadwal kapal yang kan mereka tunggangi sebentar lagi menjemput mereka.

Di ruang tunggu dermaga, tempat segala keegoisan dan kerendahan hati bertemu. Orang yang saling kenal, menyapa. Orang yang tak mengenal, bahkan tak memberikan kursi.

Di ruang tunggu dermaga, segala keluh dan rindu menyatu. Mereka ingin segera bertemu dalam suatu yang bernama perjumpaan.

Address

Waingapu

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yons Hunga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share