18/04/2026
Saat saya membacanya, postingan ini sudah 10 jam yang lalu. Saya memang biasa membaca apa saja, setiap hari, dari grup-grup Facebook lokal NTT umumnya dan Sumba khususnya, untuk mengimbangi carut marut dunia perpolitikan nasional yang penuh dengan hingar bingar kepentingan. Awalnya, biasa saja.
Lalu, ketika saya membuka kolom komentar, saya melihat salah satunya dari teman saya, Josh Windi. Katanya, "kuliah selain cari ilmu, cari juga kenalan dan pengalaman. Kalau hanya kuliah p**ang kuliah p**ang sama saja. Jaman sekarang kita harus punya skill dan relasi. Kalau kita tidak punya skill minimal punya relasi, begitu juga sebaliknya."
Membaca itu, saya berpikir, teman saya ini sedang marah-marah. Lalu, ia melanjutkan. "Satu hal yg penting, jangan terlalu nyaman dengan nilai A di kelas kalo bawa p**ang pakai tidur di kos."
Saya tidak sepenuhnya membenarkan kata-katanya, sebab, saat kuliah, saya kebalikan dari yang dibicarakannya. Saya begitu malas bergaul. Malas ke mana-mana. Malas untuk memulai percakapan, jika tidak menguntungkan saya. Dalam hal ini, bukan keuntungan finansial yang saya cari, melainkan keuntungan bagi pikiran saya yang haus akan informasi.
Pengalaman saya di kampus tidak begitu menarik, selain kuliah p**ang, kuliah p**ang. Eh, saat menikmati itu, saya berkenalan dengan Erwin. Lalu, tiba-tiba saja saya jadi bagian dari pers mahasiswa, yang, kalau diceritakan, masuknya gampang, pun keluarnya segampang membuat kegaduhan, dipanggil-tidak datang-hilang-dan dimusuhi banyak orang wkwkwkwk
Soal kenalan, sebagai mahasiswa, tentu tidak terlepas dari yang namanya organisasi mahasiswa. Menurut saya, organisasi mahasiswa luar kampus saat itu, sampai dengan saat ini, SAMA SAJA: Sama-sama yang menjabat bukan mahasiswa. Bayangkan! Nama organisasinya ada embel-embel mahasiswa.
Lalu, biar keren, ada lagi embel-embel agamanya. Terus, yang menjabat, eh, lulusan tahun sebelumnya. Apa lagi coba? Sebutannya kalau bukan kump**an orang-orang brengsouk yang numpang dalam nama "mahasiswa." Sudah begitu, mereka berteriak-teriak atas nama rakyat, dan, habis berteriak, foto bersama dengan pejabat yang mereka teriak. Senior, katanya. Dihhhh. Duduk-duduk, omong tidak jelas, diskusi. Diskusi apaan? Yang isinya menjilat sana, menjilat sini.
Soal nyaman dengan nilai, waktu kuliah, saya begitu tergila-gila dengan nilai. Suatu ketika, saya dapat nilai B di mata kuliah apalah itu, saya sudah lupa. Saya pergi menghadap dosen, dosen jelaskan, dan, saya tidak puas dengan jawabannya. Saya merasa bahwa apapun yang kau lakukan, tujuannya ada di akhir. Orang-orang yang mendapatkan nilai A saat itu, melakukan apapun untuk sampai pada hasil akhir. Begitupun dengan saya. Sayangnya, saya dapat B, teman-teman saya banyak yang dapat A. Bagian ini, prosesnya diskip sajalah.
Saya menjadi sadar ketika, lagi-lagi suatu ketika, saya mendapatkan nilai C. Kali ini, bukan hanya saya yang mendapatkan nilai C. Nyaris seluruh teman kelas saya di kampus. Tahu apa selanjutnya? Yapssss, dosen pengampu memberikan tugas tambahan untuk memperbaiki nilai.
Saat itu, saya sudah malas. Dalam benak saya, percuma saya memperbaiki nilai kalau pada akhirnya kemampuan saya memang ada pada nilai C itu. Saya meyakini bahwa kemampuan saya, sehingga saya memperoleh nilai C adalah karena saya memang pantas dapat C. Untuk memperbaiki itu, menurut saya, bukan dengan memberi tugas yang baru, melainkan seharusnya, dengan tugas yang sama agar melihat seberapa jauh peningkatan kapasitas yang saya miliki. Karena itu, sampai akhir kuliah, saya biarkan nilai C itu ada dalam ijazah saya.
Kalau ada yang bilang, ijazah saya tidak ada, sila datang ke rumah atau japri, biar saya tunjukkan rupanya 😂
Ah, hampir saja saya lupa. Tadi, dalam komentar teman saya, ada yang namanya skill dan relasi. Saya s**a bagian ini saja. Sisanya, tidak. Saat kuliah, saya terbiasa dengan kerja-kerja relawan. Mengerjakan tugas teman, mengerjakan pekerjaan yang diberikan, kerja-kerja kemanusiaan. Bayarannya adalah kepuasan diri sendiri. Barangkali, karena itulah saya pada akhirnya dipertemukan dengan orang-orang yang juga bekerja sebagai relawan. Kerja tanpa upah. Beberapa kali kalau kesal, sering saya katakan pada orang-orang. Kerja-kerja relawan itu hanya soal kerelaan. Kalau tidak rela, ya, melawan. Hehe
Btw, andaikan akun yang post ini adalah akun asli, saya tertarik untuk berkenalan dengannya, dan, tentu, merasakan keresahan yang dimilikinya. Namun, ini adalah akun bodong, dengan nyaris seluruh foto yang digunakan adalah foto selebgram Filipina, Andrhea Bonifacio. Sialnya, dia dipercaya sebagai orang Sumba wkwkwkwk. Semoga Umbu Adk tidak termasuk di dalamnya e.
Sumur inspirasi tulisan pagi ini:
https://www.facebook.com/share/p/1CFnLDEkh3/