Yons Hunga

Yons Hunga Kadang menulis, kadang upload foto. Kadang keduanya.

Bagaimana jika pagimu tak seindah pagi kemarin? Yang ramai, yang penuh dengan orang-orang sibuk, yang penuh dengan huru-...
10/05/2026

Bagaimana jika pagimu tak seindah pagi kemarin? Yang ramai, yang penuh dengan orang-orang sibuk, yang penuh dengan huru-hara, yang penuh dengan gupu-gapa, yang penuh dengan hal-hal harbabaruk, yang penuh dengan optimistis akan hasil yang lebih baik.

Bagaimana jika pagimu tak seindah pagi kemarin? Namun, jika kau merasa makanan pagi ini lebih enak dari kemarin, maka syukurilah. Nikmat semesta memang tak bisa didustai

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang tidak peduli siapa kau. Orang-orang akan sibuk dengan kesibukannya masing-masing. M...
01/05/2026

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang tidak peduli siapa kau. Orang-orang akan sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Mereka duduk, bercengkrama dengan yang mereka kenal, dan, selebihnya, acuh tak acuh.

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang hanya akan saling memandang, sambil menatap layar hp, tersenyum sedikit, lalu melanjutkan scrolling layat hp mereka.

Di ruang tunggu dermaga, orang-orang tidak peduli kau mau ke mana. Mereka hanya tahu, bahwa jadwal kapal yang kan mereka tunggangi sebentar lagi menjemput mereka.

Di ruang tunggu dermaga, tempat segala keegoisan dan kerendahan hati bertemu. Orang yang saling kenal, menyapa. Orang yang tak mengenal, bahkan tak memberikan kursi.

Di ruang tunggu dermaga, segala keluh dan rindu menyatu. Mereka ingin segera bertemu dalam suatu yang bernama perjumpaan.

Reshuffle, secara sederhana, dapat diartikan sebagai perombakan atau pengocokan ulang. Dalam konteks pemerintahan, istil...
27/04/2026

Reshuffle, secara sederhana, dapat diartikan sebagai perombakan atau pengocokan ulang. Dalam konteks pemerintahan, istilah ini merujuk pada tindakan kepala pemerintahan untuk mengganti, memindahkan, atau merotasi posisi menteri dalam kabinetnya untuk meningkatkan kinerja atau stabilitas.

Jadi, kalau ada di suatu negara, yang reshuffle-nya dilakukan, tapi orangnya itu-itu saja atau cuma digeser doang jawabannya ke jabatan yang lain, ya, wajar. Toh, definisi reshuffle yang kita tahu, kan, mencari kecocokan dengan menggantikan posisi pemain, bukan pergantian pemain.

25/04/2026

Saya sering mendengar, apapun keputusan yang diambil, pemerintah pasti sudah mempertimbangkan secara matang. Ironisnya, saya tidak percaya hal itu

Tidak apa-apa kau menggunakan AI atau tidak, tapi jangan sampai AI menggantikan isi kepalamu!
23/04/2026

Tidak apa-apa kau menggunakan AI atau tidak, tapi jangan sampai AI menggantikan isi kepalamu!

Kalau kau terkejut dan bertanya-tanya ketika mendapati seseorang atau sekelompok orang yang kau yakini, kau dapati, kau ...
22/04/2026

Kalau kau terkejut dan bertanya-tanya ketika mendapati seseorang atau sekelompok orang yang kau yakini, kau dapati, kau lihat, sering membawa-bawa nama tuhannya dalam setiap jenjang aktivitasnya, lalu suatu ketika terlibat politik praktis, memanfaatkan gelombang kepercayaan masyarakat yang sangat amat puas pada yang namanya dinamika politik, maka, kau harus mewajarkan itu. Karena, toh, tuhan yang ia puji, sembah dan muliakan tidak akan menolak ketika cara-cara kotor dipakainya, dan, di saat yang sama, memuji memuliakan Tuhan

Filter________________________Saat sedang asyik menggulirkan layar hp tatkala saya baru saja bangun tidur dengan wajah s...
21/04/2026

Filter
________________________

Saat sedang asyik menggulirkan layar hp tatkala saya baru saja bangun tidur dengan wajah sembab dan nyawa yang masih tertinggal di bantal. Tiba-tiba muncul seseakun teman yang tidak asing bagi saya, lewat di beranda. Awalnya satu. Lama-kelamaan, dua, tiga, empat dan beberapa lainnya lagi.

Saya yang masih menyimpan kantuk, kaget. Kok, bisa, ya? Teman saya yang aslinya berbeda dengan yang saya lihat di hp. Barangkali, kalau diperhatikan sedikit lebih detail, kulitnya selicin porselen hasil polesan para penjilat di mata kekuasaan, hidungnya selancip kritik tetangga, dan matanya berbinar seolah dia tidak pernah mengenal istilah lembur atau tagihan listrik mangkrak, karena keasyikan kritik pemerintah daripada cari uang untuk bekerja.

Luar biasa, ya? Teknologi zaman sekarang memang ajaib. Hanya butuh satu klik, dan voila! Pori-pori wajah yang tadinya sebesar kawah gunung berapi langsung hilang tertelan algoritma. Kerutan di dahi, saksi bisu cicilan yang belum lunas, pun lenyap digantikan kemulusan yang tidak manusiawi.

Kita hidup di era di mana menjadi diri sendiri adalah sebuah kesalahan teknis yang harus segera diperbaiki dengan filter bernama Paris atau Tokyo. Lucunya, kita semua sepakat untuk pura-pura percaya bahwa itu asli. Kita saling melempar pujian, seperti kata teman saya, yang saya lihat di kolom komentarnya, "antik banget!" katanya, diikuti emoji kartun memegang hati.

Filter bukan lagi sekadar alat hias, tapi topeng digital yang kita pakai agar tidak perlu merasa rendah diri saat melihat topeng orang lain. Kita berlomba-lomba mengedit realita sampai lupa kalau di dunia nyata, kulit manusia itu punya tekstur, bukan cuma piksel yang dihaluskan.

Sambil menggerutu, barangkali, karena saya tidak punya hp yang bisa mengedit wajah saya dengan filter estetik, saya lalu mengambil foto ini. Kebetulan, matahari tengah hari, suasana sejuk dan memori hp belum penuh, mendukung syaa untuk berswafoto.

Dan, yapssss. Inilah filter saya. Matahari. Maka, seperti teman yang saya lihat, saya pun ingin hal yang sama, bermimpi di balik layar, supaya cermin di rumah merasa sedang memandangi orang asing.

Barangkali, memang benar, Tuhan telah mati di biara. Karena itu, banyak politisi s**a berjanji, lalu mengingkarinya ses*...
20/04/2026

Barangkali, memang benar, Tuhan telah mati di biara. Karena itu, banyak politisi s**a berjanji, lalu mengingkarinya ses**a hati. Kemarin bilang A, hari ini bilang B.

Selama kita hidup dan terus menghidupi yang namanya dendam politik, selama itu p**a, orang-orang yang bahkan dengan segala doanya, tidak mempan. Karena toh, seperti kata judul buku ini, Tuhan (telah) mati di biara.

Kadang, s**a saja lihat orang-orang yang meromantisasi masa lalu. Mereka cenderung melihat masa kini sebagai suatu hal y...
19/04/2026

Kadang, s**a saja lihat orang-orang yang meromantisasi masa lalu. Mereka cenderung melihat masa kini sebagai suatu hal yang sedikit mengganggu. Padahal, masa lalu, adalah masa yang telah berlalu wkwkwkw

Apa yang bisa diceritakan dari foto ini?Foto ini diambil pada pertengahan tahun 2025, di Kanatang. Saya lupa persisnya d...
19/04/2026

Apa yang bisa diceritakan dari foto ini?

Foto ini diambil pada pertengahan tahun 2025, di Kanatang. Saya lupa persisnya di Kanatang bagian mana.

Waktu itu, ada satu kesempatan untuk bertemu, dan, barangkali sedikit ngobrol dengan kedua orang ini. Yang pertama adalah Direktur Eksekutif Nasional WALHI, om Zenzi Suhadi dan yang kedua adalah Direktur WALHI NTT, aya Umbu Wulang Paranggi.

Sejak kuliah di Bali, saya sudah berkenalan dan dikenalkan dengan dunia lingkungan hidup, melalui Frontier Bali, dan, dari sana saya mengenal orang-orang WALHI.

Kantor WALHI di Bali adalah tempat menimba ilmu, berpikir kritis dan yang pastinya, di sana saya bisa dianggap sebagai bagian dari keluarga WALHI. Di kantor itulah saya banyak membaca, makan dan tidur dan lain sebagainya. Saya tidak bisa menceritakan satu persatu bagaimana kehidupan saya di sana kala itu.

Oh, iya. Foto ini diambil dalam rangka pelantikan panitia Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) XIV pada 17-24 September 2025 di Waingapu, yang menjadi forum lingkungan tertinggi WALHI. Acara ini melibatkan 529 anggota nasional dan mendeklarasikan Hari Keadilan Ekologis di Taman Sandalwood, didukung Pemkab Se-Sumba Raya untuk membahas krisis iklim dan perampasan ruang hidup.

Saya kebetulan berkesempatan untuk meminta teman saya yang fotografer untuk mengambil gambar ini agar terlihat keren. Sebab, kata orang, lingkungan yang baik akan membentuk kita. Ya, siapatahu berada di antara dua direktur bisa membuat saya menjadi direktur p**a. Kalau tidak sempat, ya, jadi CEO sajalah.

Saat saya membacanya, postingan ini sudah 10 jam yang lalu. Saya memang biasa membaca apa saja, setiap hari, dari grup-g...
18/04/2026

Saat saya membacanya, postingan ini sudah 10 jam yang lalu. Saya memang biasa membaca apa saja, setiap hari, dari grup-grup Facebook lokal NTT umumnya dan Sumba khususnya, untuk mengimbangi carut marut dunia perpolitikan nasional yang penuh dengan hingar bingar kepentingan. Awalnya, biasa saja.

Lalu, ketika saya membuka kolom komentar, saya melihat salah satunya dari teman saya, Josh Windi. Katanya, "kuliah selain cari ilmu, cari juga kenalan dan pengalaman. Kalau hanya kuliah p**ang kuliah p**ang sama saja. Jaman sekarang kita harus punya skill dan relasi. Kalau kita tidak punya skill minimal punya relasi, begitu juga sebaliknya."

Membaca itu, saya berpikir, teman saya ini sedang marah-marah. Lalu, ia melanjutkan. "Satu hal yg penting, jangan terlalu nyaman dengan nilai A di kelas kalo bawa p**ang pakai tidur di kos."

Saya tidak sepenuhnya membenarkan kata-katanya, sebab, saat kuliah, saya kebalikan dari yang dibicarakannya. Saya begitu malas bergaul. Malas ke mana-mana. Malas untuk memulai percakapan, jika tidak menguntungkan saya. Dalam hal ini, bukan keuntungan finansial yang saya cari, melainkan keuntungan bagi pikiran saya yang haus akan informasi.

Pengalaman saya di kampus tidak begitu menarik, selain kuliah p**ang, kuliah p**ang. Eh, saat menikmati itu, saya berkenalan dengan Erwin. Lalu, tiba-tiba saja saya jadi bagian dari pers mahasiswa, yang, kalau diceritakan, masuknya gampang, pun keluarnya segampang membuat kegaduhan, dipanggil-tidak datang-hilang-dan dimusuhi banyak orang wkwkwkwk

Soal kenalan, sebagai mahasiswa, tentu tidak terlepas dari yang namanya organisasi mahasiswa. Menurut saya, organisasi mahasiswa luar kampus saat itu, sampai dengan saat ini, SAMA SAJA: Sama-sama yang menjabat bukan mahasiswa. Bayangkan! Nama organisasinya ada embel-embel mahasiswa.

Lalu, biar keren, ada lagi embel-embel agamanya. Terus, yang menjabat, eh, lulusan tahun sebelumnya. Apa lagi coba? Sebutannya kalau bukan kump**an orang-orang brengsouk yang numpang dalam nama "mahasiswa." Sudah begitu, mereka berteriak-teriak atas nama rakyat, dan, habis berteriak, foto bersama dengan pejabat yang mereka teriak. Senior, katanya. Dihhhh. Duduk-duduk, omong tidak jelas, diskusi. Diskusi apaan? Yang isinya menjilat sana, menjilat sini.

Soal nyaman dengan nilai, waktu kuliah, saya begitu tergila-gila dengan nilai. Suatu ketika, saya dapat nilai B di mata kuliah apalah itu, saya sudah lupa. Saya pergi menghadap dosen, dosen jelaskan, dan, saya tidak puas dengan jawabannya. Saya merasa bahwa apapun yang kau lakukan, tujuannya ada di akhir. Orang-orang yang mendapatkan nilai A saat itu, melakukan apapun untuk sampai pada hasil akhir. Begitupun dengan saya. Sayangnya, saya dapat B, teman-teman saya banyak yang dapat A. Bagian ini, prosesnya diskip sajalah.

Saya menjadi sadar ketika, lagi-lagi suatu ketika, saya mendapatkan nilai C. Kali ini, bukan hanya saya yang mendapatkan nilai C. Nyaris seluruh teman kelas saya di kampus. Tahu apa selanjutnya? Yapssss, dosen pengampu memberikan tugas tambahan untuk memperbaiki nilai.

Saat itu, saya sudah malas. Dalam benak saya, percuma saya memperbaiki nilai kalau pada akhirnya kemampuan saya memang ada pada nilai C itu. Saya meyakini bahwa kemampuan saya, sehingga saya memperoleh nilai C adalah karena saya memang pantas dapat C. Untuk memperbaiki itu, menurut saya, bukan dengan memberi tugas yang baru, melainkan seharusnya, dengan tugas yang sama agar melihat seberapa jauh peningkatan kapasitas yang saya miliki. Karena itu, sampai akhir kuliah, saya biarkan nilai C itu ada dalam ijazah saya.

Kalau ada yang bilang, ijazah saya tidak ada, sila datang ke rumah atau japri, biar saya tunjukkan rupanya 😂

Ah, hampir saja saya lupa. Tadi, dalam komentar teman saya, ada yang namanya skill dan relasi. Saya s**a bagian ini saja. Sisanya, tidak. Saat kuliah, saya terbiasa dengan kerja-kerja relawan. Mengerjakan tugas teman, mengerjakan pekerjaan yang diberikan, kerja-kerja kemanusiaan. Bayarannya adalah kepuasan diri sendiri. Barangkali, karena itulah saya pada akhirnya dipertemukan dengan orang-orang yang juga bekerja sebagai relawan. Kerja tanpa upah. Beberapa kali kalau kesal, sering saya katakan pada orang-orang. Kerja-kerja relawan itu hanya soal kerelaan. Kalau tidak rela, ya, melawan. Hehe

Btw, andaikan akun yang post ini adalah akun asli, saya tertarik untuk berkenalan dengannya, dan, tentu, merasakan keresahan yang dimilikinya. Namun, ini adalah akun bodong, dengan nyaris seluruh foto yang digunakan adalah foto selebgram Filipina, Andrhea Bonifacio. Sialnya, dia dipercaya sebagai orang Sumba wkwkwkwk. Semoga Umbu Adk tidak termasuk di dalamnya e.

Sumur inspirasi tulisan pagi ini:
https://www.facebook.com/share/p/1CFnLDEkh3/

Address

Waingapu

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yons Hunga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share