16/04/2026
Ironi Pendidikan: Saat Triliunan Rupiah Mengalir untuk Atribut MBG, Siswa SMK Negeri 9 Mahu di Sumba Timur Bertahan di Ruang Kelas Tak Layak
SUMBA TIMUR, SUMBA TV – Di tengah gegap gempita pemberitaan nasional mengenai anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menembus angka triliunan rupiah—lengkap dengan polemik belanja motor, kaus kaki, hingga dapurnya yang mewah dengan upah 6 juta sehari untuk pemilik dapur—sebuah potret kontras nan menyayat hati datang dari pelosok Kecamatan Mahu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Saat Pemerintah Pusat sibuk menghitung pagu anggaran untuk atribut pendukung program baru, siswa-siswi di SMK Negeri 9 Mahu (Paralel SMK Negeri 3 Maukawini) harus menelan kenyataan pahit: mengenyam pendidikan di bangunan yang jauh dari kata layak.
Tiga Tahun Bertahan dalam Keterbatasan
Berdasarkan laporan yang diterima meja redaksi SUMBA TV dari seorang warga setempat, SMK Negeri 9 Mahu telah beroperasi selama tiga tahun. Meski kini telah berdiri mandiri dan bahkan tengah menyelenggarakan ujian akhir, fasilitas yang tersedia seolah menunjukkan bahwa kemerdekaan belajar belum sepenuhnya sampai ke wilayah ini.
"Sangat memprihatinkan melihat keadaan bangunan sekolahnya. Ruang kelas hanya menggunakan bangku seadanya. Bangunannya belum layak, sangat jauh dari standar fasilitas pendidikan yang seharusnya," ujar seorang warga yang tinggal di dekat lokasi sekolah melalui pesan singkat.
Antara Kaus Kaki Miliaran dan Bangku yang Reot
Laporan ini menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan. Publik kini mempertanyakan urgensi belanja atribut seperti kaus kaki dan peralatan makan yang menelan biaya miliaran hingga triliunan rupiah di pusat, sementara di ujung timur Indonesia, masih ada anak bangsa yang harus berjuang mengikuti ujian di ruangan yang nyaris roboh.
Siswa di SMK Negeri 9 Mahu tidak hanya kekurangan nutrisi fisik seperti yang dijanjikan dalam program Makan Bergizi Gratis, tetapi mereka terlebih dahulu mengalami "kelaparan" akan fasilitas infrastruktur yang manusiawi.
Semangat yang Tak Patah oleh Keadaan
Meski dihimpit keterbatasan, semangat para guru dan siswa di SMK Negeri 9 Mahu dilaporkan tidak goyah. Di bawah atap yang mungkin bocor dan bangku yang reot, mereka tetap menjalankan proses belajar mengajar demi masa depan.
"Tidak mematahkan semangat siswa dan guru meskipun keadaannya sangat terbatas. Namun, kami sebagai warga merasa kasihan dan prihatin. Di saat sekolah lain di kota menikmati kelas luas dan fasilitas lengkap, anak-anak di Mahu seolah dianaktirikan," lanjut laporan warga tersebut.
Panggilan untuk Pemerintah Pusat
Informasi ini merupakan alarm bagi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta kementerian terkait lainnya. Pendidikan yang merata bukan sekadar slogan di atas kertas atau program makan siang yang mewah, melainkan tersedianya atap yang kokoh dan kursi yang layak untuk setiap anak Indonesia, dari Sabang sampai Sumba.
Masyarakat Sumba Timur berharap, mata Pemerintah Pusat tidak hanya tertuju pada polemik anggaran atribut program baru, tetapi juga mau menengok ke bawah—ke ruang-ruang kelas SMK Negeri 9 Mahu—di mana masa depan bangsa sedang dipertaruhkan dalam kesunyian dan kekurangan.
Redaksi SUMBA TV
Melaporkan dari Jantung Sumba.