03/06/2026
SURAT TERBUKA & LAPORAN RESMI
Kepada Yth.
1. Jenderal Polisi Republik Indonesia
KAPOLRI
di – Jakarta
2. Irjen Polisi Republik Indonesia
KAPOLDA METRO JAYA
di – Jakarta
Dari: Dano Anes Tabuni
Perihal: LAPORAN ATAS TINDAKAN DAN PERNYATAAN MAMA YASINTA SERTA DAMPAK FILM “PESTA BABI” YANG MEMICU KEMARAHAN RAKYAT PAPUA DAN SELURUH RAKYAT INDONESIA
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Dano Anes Tabuni, selaku aktivis kemanusiaan dan warga bangsa Papua, dengan penuh tanggung jawab dan keprihatinan yang mendalam menyampaikan surat terbuka ini kepada Bapak Kapolri dan Bapak Kapolda Metro Jaya. Surat ini berisi laporan dan pengaduan terkait sikap, pernyataan, dan langkah yang diambil oleh seorang tokoh masyarakat bernama Mama Yasinta, serta kaitannya dengan keberadaan film berjudul “Pesta Babi” yang telah dan sedang menjadi perbincangan panas di ruang publik.
Sebagaimana Bapak ketahui, film Pesta Babi yang dibuat oleh sutradara tertentu ini telah menimbulkan dampak besar, bukan hanya di kalangan masyarakat Papua, tetapi juga di mata seluruh rakyat Indonesia yang memiliki rasa keadilan dan harga diri bangsa. Berdasarkan pengamatan kami sebagai pihak yang paling merasakan dampaknya, film ini dinilai sangat tidak bijak, tidak mempertimbangkan perasaan korban, dan memuat narasi yang jelas-jelas merugikan hak politik, harkat, serta martabat bangsa Papua.
Film ini hanya menguntungkan dua kelompok saja: kelompok oposisi dan kelompok yang mengangkat isu demokrasi dan HAM demi kepentingan narasi mereka sendiri. Sementara itu, rakyat Papua sebagai subjek dan korban dalam realitas sejarah dan kenyataan di lapangan, sama sekali tidak dipertimbangkan hak-haknya. Film ini membuat kami terlihat seolah hanya menjadi alat, sementara nasib kami sebagai bangsa yang memiliki identitas dan hak kemanusiaan diabaikan sepenuhnya. Hal ini adalah penghinaan besar yang membuat seluruh rakyat bangsa Papua merasa sangat tersinggung, kecewa, dan marah besar. Tidak hanya itu, banyak elemen masyarakat Indonesia yang mengerti kebenaran sejarah pun turut marah, karena melihat karya ini justru memicu perpecahan dan luka lama yang belum kering.
Yang menjadi persoalan serius dan kami laporkan saat ini adalah sikap Mama Yasinta.
Dulu, Mama Yasinta dikenal luas sebagai pejuang yang gigih mempertahankan tanah adat, berjuang mati-matian demi masa depan anak cucu kami, dan menjadi suara hati rakyat kecil. Namun hari ini, kami melihat fakta yang sangat menyakitkan: Mama Yasinta justru melakukan pelaporan, memberikan dukungan, atau berbicara ke arah yang mendukung keberadaan dan narasi dari film tersebut, bahkan berbalik arah mendukung pola pembangunan dan narasi yang kami sebut sebagai kolonialisme baru.
Tindakan dan pernyataan Mama Yasinta yang memihak atau melaporkan pihak yang kritis terhadap film tersebut, atau yang justru membenarkan isi dan tujuan film Pesta Babi, adalah hal yang sangat berbahaya. Hal ini membuat kemarahan rakyat Papua makin memuncak. Rakyat merasa dikhianati oleh tokoh yang dulu mereka percaya. Situasi ini berpotensi besar menimbulkan gesekan sosial, konflik antarkelompok, dan kerusuhan di tengah masyarakat, baik di tanah Papua maupun di wilayah lain, termasuk Jakarta, mengingat isu ini sudah menjadi perhatian nasional.
Kami ingin mengingatkan Bapak-bapak penegak hukum:
1. Bahwa isi dan penyajian film Pesta Babi mengandung muatan yang merendahkan martabat bangsa Papua dan berpotensi mengganggu persatuan serta kesatuan bangsa, karena tidak adil dan tidak transparan.
2. Bahwa tindakan Mama Yasinta yang melaporkan atau menentang suara kritis rakyat atas film ini, bertentangan dengan amanat perjuangannya dahulu, dan kini dianggap sebagai tindakan yang memprovokasi kemarahan rakyat.
3. Bahwa dampak dari kedua hal ini telah membuat rakyat Papua dan banyak rakyat Indonesia sangat marah, dan jika tidak ditangani dengan bijak, adil, dan cepat, hal ini bisa memicu gejolak sosial yang merugikan semua pihak.
Oleh karena itu, melalui surat terbuka ini, saya atas nama hati nurani rakyat Papua meminta kepada Bapak Kapolri dan Bapak Kapolda Metro Jaya untuk:
✅ Pertama: Mengkaji ulang dampak keamanan dan ketertiban umum akibat penayangan dan narasi film Pesta Babi, mengingat film ini membuat rakyat marah karena tidak mewakili kebenaran dan hanya menguntungkan pihak tertentu saja.
✅ Kedua: Mengawasi dan meneliti segala pernyataan, laporan, dan langkah hukum yang diambil oleh Mama Yasinta terkait isu ini. Apakah langkahnya itu murni kehendak hati nurani, atau ada kepentingan yang tersembunyi yang justru membahayakan kerukunan? Karena tindakannya saat ini sangat bertolak belakang dengan perjuangannya mempertahankan tanah adat dulu.
✅ Ketiga: Menjadi penengah yang adil, tidak memihak, dan memberikan perlindungan kepada kami rakyat Papua yang merasa hak, harga diri, dan kemanusiaannya telah dilukai oleh narasi film tersebut maupun oleh sikap tokoh yang berbalik arah.
Kami tidak melarang seni atau karya, tetapi kami menuntut KEWAJARAN, KEBENARAN, dan PENGHORMATAN. Jangan biarkan sebuah karya dan sikap seorang tokoh memicu api kemarahan yang besar di dada rakyat yang sudah lama menanggung penderitaan.
Rakyat Papua marah bukan tanpa alasan. Rakyat Indonesia marah karena melihat ketidakadilan. Dan kemarahan ini harus didengar, bukan dipersulit atau dilaporkan seolah kami yang bersalah karena mempertahankan harga diri kami sendiri.
Demikian surat terbuka dan laporan ini saya sampaikan dengan kesadaran penuh, jujur, dan bertanggung jawab demi keamanan, keadilan, dan persatuan bangsa. Atas perhatian, kebijaksanaan, dan tindak lanjut Bapak, kami ucapkan terima kasih.
Jayapura, 03 Juni 2026
Hormat saya,
(Tanda Tangan)
DANO ANES TABUNI
Aktivis West Papua