30/05/2026
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi tinggi dan inflasi rendah yang dicapai Indonesia saat ini menjadi pencapaian yang bahkan memicu “kecemburuan” banyak negara lain. Sebab, kombinasi positif itu diperoleh Indonesia di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.
Hal itu disampaikan Suahasil dalam Seminar bertajuk "Asean Regional Economic Outlook and Fiscal Policy" di Jakarta, Senin (25/5/2026). Menurut dia, capaian ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 yang dinilai solid, dimana pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61%, dengan inflasi terjaga pada level 2,4% dan defisit anggaran terkendali di angka 2,9%.
“Kombinasi pertumbuhan ekonomi 5,6% dengan inflasi 2,4% ini saya berani jamin menjadi sumber kecemburuan bagi banyak negara lain,” ujar Suahasil seperti dikutip dalam keterangan resmi.
Ia menilai capaian tersebut menjadi fondasi kuat untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Target tersebut dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas, percepatan pembangunan infrastruktur, dan penguatan kualitas sumber daya manusia guna menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.
Menyangkut tema seminar, Suahasil menuturkan bahwa ketidakpastian global kini telah menjadi tantangan permanen yang harus dihadapi banyak negara, khususnya di Asia Tenggara. Karena itu, stabilitas kawasan Asean harus dibangun secara aktif melalui kolaborasi antarnegera anggota.
“Ketidakpastian akan menjadi normal baru kita di masa depan. Jadi, stabilitas atau kepastian itu tidak diberikan begitu saja kepada kita. Itu harus dibangun oleh kita sendiri,” ujar Suahasil seperti dikutip dalam keterangan resmi.
Dalam paparannya, Suahasil menyoroti sejumlah tantangan global, mulai dari perang dagang, fragmentasi perdagangan internasional, krisis iklim, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong Asean memperkuat perdagangan intra-kawasan, memangkas hambatan non-tarif, serta mempererat kerja sama di sektor ekonomi digital dan transisi hijau. Selain itu, kawasan juga perlu memperkuat kebijakan makroekonomi yang prudent, meningkatkan ketahanan pangan dan energi, serta mengoptimalkan kerja sama keuangan regional seperti Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) dan local currency settlement.
Suahasil menegaskan Asean tidak boleh terjebak dalam rivalitas blok geopolitik global. Sebaliknya, kawasan harus mampu merangkul seluruh kekuatan ekonomi dunia, termasuk Amerika Serikat, China, India, Uni Eropa, dan Jepang.
Ia juga menegaskan komitmen Kementerian Keuangan dalam memperkuat sinergi regional melalui kolaborasi riset bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO). Riset kolaboratif menjadi instrumen penting dalam merumuskan kebijakan fiskal yang responsif terhadap dinamika global...
Sumber: investor.id..