14/02/2026
4&5 2 sekaligus🤗
Bagian 4: Ketertarikan yang Berbahaya
Emma, yang saat itu menyamar sebagai Lea, tidak panik. Dia memutar tubuhnya perlahan, memegang sebuah kabel LAN yang sengaja dia lepas. "Koneksi di meja saya tidak stabil, Pak. Saya hanya mencoba memperbaikinya sendiri daripada menunggu teknisi yang lama," jawabnya dengan suara datar, khas Lea yang culun tapi efisien.
Kevin tidak langsung marah. Ia justru melangkah mendekat, mempersempit jarak hingga Emma bisa mencium aroma parfum mahal pria itu. Kevin menatap tajam ke balik kacamata besar Emma. Ada sesuatu pada diri asisten riset ini yang tidak sinkron—gerakannya terlalu tenang, matanya terlalu cerdas.
"Kamu punya keberanian, Lea. Atau mungkin... kamu terlalu pintar untuk sekadar jadi asisten?" bisik Kevin sambil tersenyum miring.
Bukannya menjauh, Kevin justru mulai sering memanggil Lea ke ruangannya. Bukan untuk pekerjaan berat, tapi hanya untuk mengujinya. Dia mulai mengajak Lea makan malam dengan alasan "diskusi proyek", sebuah tawaran yang tak pernah Emma terima dari pria manapun selama hidupnya.
Bagi Emma, ini adalah peluang emas untuk mencuri data langsung dari laptop pribadi Kevin. Namun, bagi Kevin, Lea adalah teka-teki paling menarik yang pernah ia temukan. Dia merasa Lea punya sisi "gelap" dan "tajam" yang sama dengannya.
Bagian 5: Malam Penentuan di Penthouse
Puncaknya terjadi saat Kevin mengundang Lea ke acara gala privat di penthouse-nya. "Datanglah sebagai partnerku, Lea. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu yang indah di balik kemeja longgar itu," tulis Kevin dalam pesan singkatnya.
Emma tahu ini jebakan, tapi juga satu-satunya kesempatan untuk menyalin data inti "Proyek Titan" yang dikunci dengan enkripsi biometrik di ruang kerja Kevin.
Malam itu, Emma melepas topeng Lea. Dia datang dengan gaun hitam backless yang elegan, rambutnya disanggul modern, tanpa kacamata. Dia kembali menjadi Emma si Mematikan, namun tetap berakting sebagai Lea yang bertransformasi.
Saat mereka berdansa di balkon yang menghadap lampu kota, Kevin menatapnya dengan pandangan penuh gairah sekaligus kecurigaan. "Siapa kamu sebenarnya? Tidak mungkin ada asisten riset yang memiliki aura sepertimu," gumam Kevin sambil merangkul pinggang Emma lebih erat.
Emma tersenyum tipis, senyum yang jarang ia perlihatkan. "Anda bilang Anda s**a teka-teki, Pak Kevin. Bukankah lebih asyik jika jawabannya ditemukan pelan-pelan?"
Sesaat setelah Kevin lengah karena pesonanya, Emma berhasil menyisipkan micro-chip penyadap ke saku jas Kevin. Namun, tepat saat itu, tangan Kevin mencengkeram pergelangan tangan Emma dengan kuat. Mata Kevin berubah dingin.
"Aku menemukan alat penyadap di ruang server kemarin, Lea... atau haruskah kupanggil Emma?"
Wah, Emma ketahuan! Situasinya makin genting nih.