20/12/2025
Setelah kedua orang tuanya bercerai, hidup Dimas seolah tak lagi memiliki rumah. Baik Ayah maupun Ibu sama-sama menolak kehadirannya. Sempat tinggal bersama Ayah, ia diusir. Berharap kasih Ibu, ia pun ditolak mentah-mentah. Di usia yang seharusnya penuh tawa, Dimas justru harus menanggung beban berat sendirian. “Sempat tinggal bersama ayah, tapi diusir,” kata Dimas. Tanpa tempat bernaung, kakinya wajib kuat. Sejak Kelas 2 SMP, sekolah harus ia lupakan. Masalah perut jauh lebih mendesak daripada buku pelajaran. Dimas luntang-lantung di jalanan, menjadi tunawisma, tidur di emperan toko, atau menumpang terlelap di masjid. Sudah tak terhitung jari, ia menahan lapar.
Beruntung, ada uluran tangan kebaikan. Seseorang mengizinkannya menempati kamar kos sederhana berukuran 2x3 meter dengan biaya sewa hanya Rp 100.000 per bulan. Meski kini menunggak dua bulan, pemilik kos tidak mengusirnya. Namun, Dimas bukan tipe remaja yang hanya berpangku tangan. Ia berjuang mati-matian mencari nafkah, bukan untuk biaya sekolah, tapi sekadar untuk makan dan melunasi sewa kos. Setiap hari, tanpa kenal lelah, kakinya melangkah menjualkan ikan cupang milik orang lain. Harga jual per ekor hanya Rp 5.000, dan upah Dimas? Hanya Rp 2.000 per ekor yang laku.
Mirisnya, jika ada ikan yang mati, ia harus menggantinya dengan uang pribadinya. Ada hari di mana ikannya hanya laku satu ekor, dan hari paling laris ia hanya membawa pulang Rp 10.000. Ya Tuhan, sekadar makan saja, rasanya ia harus mengeluarkan seluruh tenaga. Kita mungkin bertanya, mengapa Ayah dan Ibu tega? Ini adalah beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Namun, di tengah kerasnya hidup, Dimas tidak menyerah pada kepahitan. Di balik tatapan lelahnya, masih ada angan-angan yang ia genggam erat: pendidikan. Ia ingin sekali kelak berprofesi sebagai Tentara.
Dimas, yakinlah, Tuhan punya rencana terbaik. Roda akan selalu berputar. Kisahmu adalah bukti bahwa seseorang bisa menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri.