06/01/2026
PARADOKS PARIWISATA: SURGA ALAM, TAPI "NERAKA" TATA KELOLA? 🇮🇩💔
Jujur saja, kenapa budaya "Mendang-Mending" makin masif? Karena ini adalah Rasionalitas Faktor Ekonomi, bukan sekadar pelit, juga banyak nya masyarakat yang terlanjur luka batin hingga penuh penyakit hati dari kekecewaan, kecemburuan, kebencian hingga kesenjangan sosial yang sudah berkarat. Serta sudah Konsep sistem dan kontrol Sosial politik disini.
Fakta di lapangan menampar kita keras: Tiket pesawat ke luar negeri (Singapura/Bangkok) seringkali 30-50% lebih murah daripada ke destinasi domestik sendiri. Mau ke Timur Indonesia? Harganya bisa buat keliling Asia Tenggara. ✈️💸
Kita punya "Hardware" (Alam & Budaya) kelas dunia, tapi sayang "Software" (Manajemen & SDM) kita seringkali crash.
🛑 Penyakit Kronis di Lapangan:
Masih banyak fenomena "Nuthuk" (getok harga), Pungli berkedok kearifan lokal, dan arogansi oknum yang merasa "ini tanah nenek moyang". Parkir liar rasa VIP, retribusi berlapis tanpa karcis resmi, hingga premanisme yang bikin wisatawan domestik maupun mancanegara merasa tidak aman. Keramahan (hospitality) sering luntur ketika uang sudah bicara.
🏗️ Infrastruktur vs Gimmick:
Di sosial media, marketingnya "Gimmick" habis-habisan, viral dan aesthetic. Tapi realitanya? Jalan akses rusak parah, fasilitas umum minim, dan sampah visual di mana-mana. Pajak wisata ditarik, tapi kembalinya ke fasilitas publik seringkali nihil.
Kita terjebak dalam lingkaran setan: Harga tinggi, kualitas layanan rendah, dan ego sektoral.
Akibatnya? Wisatawan lokal dianaktirikan, dan wisatawan asing mulai trust issue.
Ini bukan sekadar kritik, tapi "Alarm Bahaya". Sampai kapan kita mengandalkan eksotisme alam tapi gagal dalam profesionalitas? Pariwisata itu bisnis jasa dan kepercayaan. Kalau tamu tidak nyaman, jangan marah kalau mereka pindah ke tetangga sebelah.
SOURCE : .id
Bagaimana menurutmu? Kamu Tim "Di Indonesia Aja" walau mahal, atau Tim "Mendang-Mending" ke luar negeri demi value for money? Diskusi di kolom komentar! 👇🔥