Wisata Djogja

Wisata Djogja Info, Media, News, Shop, Drone, Trip & Tour. Info, Media, News, Shop, Trip & Tour.

Agama bukankah seharusnya menuntun manusia jadi lebih beradab dan berakhlak? Tapi kenapa kebanyakan hanya menjadi sarana...
10/01/2026

Agama bukankah seharusnya menuntun manusia jadi lebih beradab dan berakhlak? Tapi kenapa kebanyakan hanya menjadi sarana untuk sempurna bukan berguna. Bukankah sering dipuja puji itu malah berbahaya. 🥀

​Jangan terburu menyalahkan orang lain, sebelum memahami kekurangan diri sendiri. Saling Instropeksi & Sadar Menyadari, segala yang terjadi di sekitar adalah bagian dari diri kita yang besar. 🧘‍♂️✨

Berguru itu sama yang tahu jalan & adab, bukan cuma tahu ceritanya. Biar paham nyatanya, bukan "katanya" 🤫.​Saat dihina ...
09/01/2026

Berguru itu sama yang tahu jalan & adab, bukan cuma tahu ceritanya. Biar paham nyatanya, bukan "katanya" 🤫.

​Saat dihina atau diadu domba, diam adalah jawaban berkelas. Sabar & tawakal kuncinya 🗝️.

Hati-hati, ucapan & batin yang penuh keyakinan adalah doa yang bisa jadi kenyataan ✨. Jaga lisan, jangan sampai kita hanya jadi perpanjangan "mulut" drama manusia lain.

08/01/2026

Ilmu tak akan bisa memuliakan pemiliknya, kecuali jika ia dipakai melayani orang lain, bukan meninggikan diri. 🌱

Kodrat manusia ingin selamat diri sendiri, tapi hidup selalu menawar: naik kapal sekoci kecil yang ribut ego atau kapal pesiar besar yang sudah matang arah. 🚢

Semua ada masa waktunya, ada tamatnya dan ada hitungannya. ✅

Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Semesta punya seleksi serta bumerang nya. 🌱🌪️

06/01/2026

PARADOKS PARIWISATA: SURGA ALAM, TAPI "NERAKA" TATA KELOLA? 🇮🇩💔

​Jujur saja, kenapa budaya "Mendang-Mending" makin masif? Karena ini adalah Rasionalitas Faktor Ekonomi, bukan sekadar pelit, juga banyak nya masyarakat yang terlanjur luka batin hingga penuh penyakit hati dari kekecewaan, kecemburuan, kebencian hingga kesenjangan sosial yang sudah berkarat. Serta sudah Konsep sistem dan kontrol Sosial politik disini.

​Fakta di lapangan menampar kita keras: Tiket pesawat ke luar negeri (Singapura/Bangkok) seringkali 30-50% lebih murah daripada ke destinasi domestik sendiri. Mau ke Timur Indonesia? Harganya bisa buat keliling Asia Tenggara. ✈️💸

​Kita punya "Hardware" (Alam & Budaya) kelas dunia, tapi sayang "Software" (Manajemen & SDM) kita seringkali crash.

​🛑 Penyakit Kronis di Lapangan:

Masih banyak fenomena "Nuthuk" (getok harga), Pungli berkedok kearifan lokal, dan arogansi oknum yang merasa "ini tanah nenek moyang". Parkir liar rasa VIP, retribusi berlapis tanpa karcis resmi, hingga premanisme yang bikin wisatawan domestik maupun mancanegara merasa tidak aman. Keramahan (hospitality) sering luntur ketika uang sudah bicara.

​🏗️ Infrastruktur vs Gimmick:

Di sosial media, marketingnya "Gimmick" habis-habisan, viral dan aesthetic. Tapi realitanya? Jalan akses rusak parah, fasilitas umum minim, dan sampah visual di mana-mana. Pajak wisata ditarik, tapi kembalinya ke fasilitas publik seringkali nihil.
​Kita terjebak dalam lingkaran setan: Harga tinggi, kualitas layanan rendah, dan ego sektoral.

Akibatnya? Wisatawan lokal dianaktirikan, dan wisatawan asing mulai trust issue.

​Ini bukan sekadar kritik, tapi "Alarm Bahaya". Sampai kapan kita mengandalkan eksotisme alam tapi gagal dalam profesionalitas? Pariwisata itu bisnis jasa dan kepercayaan. Kalau tamu tidak nyaman, jangan marah kalau mereka pindah ke tetangga sebelah.

SOURCE : .id

​Bagaimana menurutmu? Kamu Tim "Di Indonesia Aja" walau mahal, atau Tim "Mendang-Mending" ke luar negeri demi value for money? Diskusi di kolom komentar! 👇🔥

⚠️ The TOXIC Trap: Ilusi "SOFT LIFE", Racun Manipulasi Psikologi MEDSOS & Jebakan Faktor Ekonomi Sulit. ⚠️​Gen Z, listen...
06/01/2026

⚠️ The TOXIC Trap: Ilusi "SOFT LIFE", Racun Manipulasi Psikologi MEDSOS & Jebakan Faktor Ekonomi Sulit. ⚠️

​Gen Z, listen up! 🔊 Kita hidup di era aneh. Kerja keras dianggap "kuno", sementara jadi simpanan (ani-ani) di-rebranding jadi "Sugar Baby" atau "Soft Life". Kalian sering insecure liat kemewahan instan di FYP tanpa sadar itu perangkap mematikan. Mari bedah realita pahit di balik filter estetik itu. 🕵️‍♂️

​1. Racun Provokator & Manipulasi Medsos 📱

Hati-hati sama akun "Mentor Sesat" atau influencer yg normalisasi hubungan transaksional. Mereka pamer tas Brandes & transferan, tapi sembunyiin realita batin saat dilabrak, dipukuli atau dipaksa aborsi. Ini Gaslighting! Mereka manfaatin FOMO kalian biar punya temen senasib (Misery Loves Company). Jangan telan mentah2 doktrin "Jual Diri = Smart Move". 🚫

​2. The Human Laundry: Kamu Bukan Ratu, Tapi "Alat" 💸

Di mata hukum, fenomena ini seringkali modus TPPU (Pencucian Uang). Pejabat korup/oknum kotor butuh "Nominee" (pinjam nama) buat umpetin duit haram dari KPK/PPATK. Mereka beliin aset (rumah/mobil) bukan karena cinta, tapi jadiin kamu "Brankas Berjalan". Pas mereka ketangkep, aset disita, kamu bisa kena pasal Penadah (5 tahun penjara). Karir hancur, beban moral sosial seumur hidup. Is it worth it? ⚖️

​3. Spiritual, Karma & The Energy Exchange 🌀

Gen Z percaya vibes kan? Pahami :

*​Istidraj: Tuhan biarin kamu kaya dari maksiat, cuma buat jatohin kamu di titik terhina.

*​Energi "Panas": Uang korupsi (hak rakyat) bawa energi negatif & sumpah serapah. Kamu nyerap karma buruk. Bayarannya? Mental hancur, depresi, penyakit aneh, sampai kerusakan nasab. Hukum alam itu presisi: High Gain, High Risk.

​4. Be A Smart & High Value Netizen! 🧠

Negara amburadul karena kita maklumi cara kotor demi terlihat "Wah". Putus rantainya!

✅ High Value: Wanita mahal itu punya skill, otak & integritas. Fisik itu depresiasi, otak itu investasi.
✅ Melek Data: Cek LHKPN pejabat. Kalau gaya hidup simpanannya gak ngotak dibanding gaji resmi, itu RED FLAG. 🚩
✅ Stop Validasi: Jangan like/share akun pamer harta mencurigakan.

​Selamatkan masa depanmu. Jangan mau jadi "NPC" di game kotor pejabat, hingga jual diri & harga diri.

👑 JOGJA: Di Antara TAHTA, TANAH & AIR MATA​"Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan." Kalimat romantis yang ser...
06/01/2026

👑 JOGJA: Di Antara TAHTA, TANAH & AIR MATA

​"Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan." Kalimat romantis yang sering kita dengar. Tapi bagi warga lokal yang bertarung dengan UMR Rp 2 jutaan, Jogja terbuat dari cicilan yang tak masuk akal dan tanah warisan yang kian terjual.

​Mari kita bicara jujur tentang "The Jogja Paradox". 🥀

​🗺️ SIAPA PEMILIK TANAH JOGJA?

Di sini, hukum agraria nasional (UUPA) berlutut pada Keistimewaan. Ada sekitar 24.000 hektar Sultan Ground (SG) dan 4.000 hektar Pakualaman Ground (PAG). Tanah desa bukan milik negara, tapi milik Keraton. Ini adalah benteng budaya, sekaligus kontrol politik yang absolut.

​📜 THE OPEN SECRET: PRIBUMI VS NON-PRIBUMI

Masih berlaku Instruksi 1975: Warga Non-Pribumi DILARANG punya SHM (Hak Milik) di DIY. Beli tanah SHM, otomatis turun jadi HGB. Tujuannya dulu mulia: melindungi warga lokal ekonomi lemah agar tanahnya tidak diborong pemodal kuat.

​📉 TAPI, APA YANG TERJADI HARI INI?

Ironisnya, warga asli kini tidak "dijajah" asing, tapi tersingkir oleh "Invasi Uang Jakarta".
Orang lokal dengan gaji UMR hanya bisa jadi penonton melihat sawah di Sleman berubah jadi Apartemen, dan pantai di Gunungkidul dipagari Beach Club mahal.

Tanah di Kota? Sudah Rp 20-50 Juta/meter.
Tanah di Desa? Mulai digoreng spekulan bandara.
​Akhirnya, warga asli terdesak ke pinggiran Bantul atau Kulonprogo. Menjadi "tamu" di tanah kelahirannya sendiri. Gentrifikasi ini nyata. Hotel tumbuh subur, tapi sumur warga mulai kering.

​💸 JOGJA, KAU BERPIHAK PADA SIAPA?

Apakah Keistimewaan ini masih menaungi Kawula Alit, atau hanya karpet merah bagi investor yang bersembunyi di balik estetika budaya?

​Ini bukan ujaran kebencian, ini adalah surat cinta yang perih untuk kota yang sedang sakit. Share jika kamu merasakan keresahan yang sama. 🍂

06/01/2026

Hiburan dolo gaess.. Wabah baru: Sindrom "Tokoh Utama" ala Korea! 💃🇰🇷

​Lagi lampu merah, eh ada mbak-mbak Gen Z random play dance. Niat hati mau jadi Lisa Blackpink, realitanya malah kayak senam pagi di aspal panas berdebu.

😂 Lucu sih, tapi bukti nyata kalau kita gampang banget "dijajah" budaya asing. Dikit-dikit saranghae. Padahal, jauh sebelum K-Pop menyerang, kita punya hubungan "Toxic tapi Sayang" (HTS) yang lebih drama sama Amerika Serikat! 🇺🇸🇮🇩

​Geser jogetnya, simak fakta sejarah "Benci tapi Rindu" ini:

​1️⃣ Pedagang Lada (1801): Jauh sebelum merdeka, kapal AS dari Salem udah mondar-mandir borong lada Sumatera. Saking butuhnya, AS bikin Konsulat di Batavia tahun 1801. Kita ini pasar lama mereka, Gaess! 🌶️

​2️⃣ CIA & Standar Ganda: Ingat pilot CIA Allen Pope? AS pernah dukung pemberontak PRRI karena takut Sukarno ke-kiri-kiri-an. Tapi, AS juga yang nekan Belanda buat ngakuin kedaulatan RI di 1949. Love-hate parah! 🕵️‍♂️

​3️⃣ Freeport & Emas Papua: Pasca 1965, AS jadi "bestie" Orde Baru. Kontrak Freeport (1967) diteken, emas kita jadi tabungan mereka. Ekonom kita pun lulusan Berkeley semua. 💰

​4️⃣ Satelit Palapa: Sadar gak? Kita negara berkembang PERTAMA di dunia yang punya satelit (1976). Barangnya buatan AS, roketnya NASA. Tanpa ini, TVRI & telepon gak bakal nyatuin Nusantara secepat itu. 🛰️

​5️⃣ Mental "American Dream": Gaya hidup, standar kesuksesan, bahkan cara beragama modern kaum urban banyak berkiblat ke Barat/AS. Kita teriak anti-asing, tapi curhatnya di medsos buatan Amerika. 📱

​Realitasnya: Kita bangsa besar yang sering insecure. Dulu kiblat ke Hollywood, sekarang Hallyu. Kapan kita PD sama jati diri sendiri?
​Sebelum lanjut joget di pinggir jalan, yuk sadari posisi kita di peta dunia. Kita konsumen atau pemain? 🤔

​Diskusi di kolom komen! 👇

06/01/2026

Tanah Yogyakarta bukan sekadar gundukan tanah. Ia adalah entitas "bernyawa" dengan birokrasi gaib, sumpah leluhur, dan keseimbangan jagat yang dijaga ketat.

​📍 LOC: Video drone ini diambil dari sudut Pawon Purba Resto, Nglanggeran. Spot syahdu mandang sejarah.

Mari kita bedah anatomi Jogja dari mitos hingga sains! 📜🔬

​📜 MITOS: EMPU SAKTI & KUTUKAN DALANG

Sebelum sains bicara, leluhur punya kisah.
Konon, Gunung Merapi dipindah Dewa sebagai Paku Bumi penyeimbang Jawa. Namun, di sana terkubur Empu Rama & Empu Permadi yang menolak pindah saat menempa keris. Roh mereka diyakini kini menjaga "tungku" yang terus menyala.

Di selatan, Gunung Nglanggeran menyimpan misteri kutukan Dalang murka yang mengubah wayang menjadi batu raksasa karena warga melanggar tata krama. Puncaknya, Kampung Pitu, tanah sakral yang pantang dihuni lebih dari 7 KK.

​Lantas, apa kata sains & realita masa kini? 👇

​🔥 MERAPI: THE ACTIVE GIANT (Sleman)

Sang "Tungku Jagat". Simbol elemen API. Secara geologi, ia gunung muda yang sangat aktif. Erupsi & laharnya adalah "hadiah" kesuburan (tanah Regosol) bagi Sleman. Filosofinya: ia manifestasi nafsu manusia yang harus dikendalikan, sekaligus "Water Tower" alami bagi Jogja.

​🪨 NGLANGGERAN: THE SLEEPING GIANT (Gunungkidul)

Inilah "Gunung Merapi Purba" yang dilantunkan Lord Didi Kempot dalam Banyu Langit.

Beda total dengan Merapi! Ini adalah fosil gunung api purba dasar laut (60-70 juta thn) yang terangkat lalu mati. Ia mewakili keabadian & masa lalu yang diam. Lagu Didi Kempot sukses mengubah "batu mati" ini jadi destinasi bernyawa, bukti bahwa tempat sunyi pun punya jiwa.

​🌍 GEOGRAFI "MANGKOK" JOGJA

Uniknya topografi rumah kita:

1️⃣ Utara: Menara air & api (Merapi).
2️⃣ Tengah: Dataran aluvial peradaban.
3️⃣ Selatan: Pegunungan Karst bekas dasar laut.
Air & berkah meluncur dari utara ke selatan, menciptakan harmoni kehid**an.

​Sobat Wisata Djogja, saat menapaki tanah ini, ingatlah kalian berdiri di atas ribuan tahun sejarah geologi & jutaan doa leluhur. 🙏

​Kalian tim mana? Tim aura mistis Merapi atau syahdunya senja purba Nglanggeran? 👇

04/01/2026

🚧 ADA APA Dengan Proyek JJLS KELOK 23 yang membelah perbukitan? Update 4 Januari 2026) 🚧

Seharusnya, jalur megah penghubung Kretek (Bantul) dan Girijati (Gunungkidul) ini sudah bisa kita nikmati sejak akhir tahun lalu. Tapi realitanya? Masih berdebu, berlumur & penuh tanda tanya. 🕵️‍♂️🌫️

​Mari kita bedah datanya secara transparan:

​1. SIAPA PEMAINNYA?

Proyek ini dipegang Waskita - Prasetya KSO (Kerja Sama Operasi). Nama besar BUMN Karya ada di sini.

💰 Nilai Kontrak: Angkanya fantastis, mencapai Rp 264 Miliar yang bersumber dari APBN (SBSN). Uang rakyat yang tidak sedikit.

​2. RAPOR MERAH PROGRES

📉 Target Awal: Seharusnya rampung Oktober/November 2025.

⏳ Status Keterlambatan: Sudah mundur sekitar 3 bulan dari target kontrak awal, dan estimasi penyelesaian baru diprediksi mundur jauh hingga Agustus 2026 (total molor hampir 1 tahun).

📊 Angka Fisik: Per awal Januari 2026 ini, progres terpantau stagnan di angka ± 85%. Sisa 15% adalah bagian paling krusial di zona rawan longsor.

​3. MURNI ALAM ATAU ADA "MAIN"?

Alasan teknisnya klasik: kondisi tanah clay shale yang labil dan longsoran di STA 31+600. Tapi, dengan budget seperempat triliun & kontraktor kelas kakap, apakah mitigasi bencana tidak dihitung sejak awal? 🤔

​Publik mulai berbisik curiga. Apakah ini murni force majeure alam yang mengamuk atau ada indikasi inefisiensi birokrasi? Dana revisi desain & penanganan longsor tentu menyedot anggaran ekstra. Jangan sampai "tanah gerak" dijadikan kambing hitam untuk menutupi indikasi korupsi atau mark-up material yang tidak sesuai spek. Kita butuh transparansi, bukan sekadar alasan teknis yang rumit. 💸🚫

​4. DENDAM TANAH TUTUPAN

Di luar beton dan aspal, tanah ini punya memori. Jalur ini membelah eks Tanah Tutupan Jepang (1942). Warga lokal percaya, tanah yang dulu dirampas paksa untuk perang, kini "melawan" saat dibelah paksa tanpa ritual yang pantas.

​Uang 264 Miliar bisa membeli beton, tapi tidak bisa membeli "restu" alam dan sejarah. Jika Agustus nanti masih belum jadi, kita tahu ada yang salah, entah di manusianya atau di tanahnya. Pantau & kawal terus ya Lur.

04/01/2026

Filosofi "OJO DUMEH": Harmoni Di SENDANG BEJI belum rusak dijadikan dapur rayahan & diwisatakan investor seperti lainnya hingga warlok cuma jadi penonton juga berbayar. 🌋

​"Ojo Dumeh" (Jangan Mentang-mentang).
Sebuah peringatan luhur di gerbang alam Sendang Beji, Parangtritis. Di hadapan tebing karst purba & mata air abadi ini, jabatan & egomu tidak berlaku. Alam mengajarkan kita untuk menunduk; semakin berisi, semakin merunduk seperti padi. 🌾🙏

​🌏 Realitas Alam & Jejak Bidadari

Secara sains, ini keajaiban Hydrogeology. Diapit laut selatan yang asin, air Sendang Beji tetap tawar & murni. Batuan Karst berfungsi sebagai filter raksasa, menahan intrusi air laut.

Secara legenda, inilah petilasan Nawangwulan.
Filosofinya dalam: "Jadilah seperti air Beji. Punya pertahanan diri (prinsip) yang kuat dari dalam, sehingga tidak terkontaminasi oleh 'asinnya' pengaruh buruk lingkungan sekitar." 💧🧬

​🤝 Titik Temu: Islam, HINDU & Kapitayan

Jogja, rumah bagi toleransi yang nyata. Di lembah sunyi ini, perbedaan keyakinan melebur dalam damai tanpa sengketa:

• Hindu: Mewarisi konsep Tirta (air suci) sebagai sarana penyucian diri (Ruwatan).
• Islam: Menjadikan air sebagai sarana Wudhu & Thaharah, melambungkan doa tauhid hanya kepada Sang Pencipta.
• Kejawen/Kapitayan: Menghormati Sedulur Papat Limo Pancer & hakekat Tuhan yang tak tergambarkan, serta menjaga adab pada Danyang (penjaga gaib) wilayah.

Semua sepakat pada satu hal: Kebersihan Hati. 🕌🛕🌸

​🌿 Memayu Hayuning Bawana

Spiritualitas bukan hanya soal MEDIA kembang & d**a, tapi soal Ekologi. Menghargai "penunggu" tempat yang kasat mata maupun tidak, menjaga kelestarian fisiknya. Jangan kotori mata air dengan sampah plastik! Merusak alam itu merusak wadah spiritualitas itu sendiri, akan wujud hubungan harmonis antara manusia & semesta.

​🕯️ Jiwa Jogja

Sendang Beji, cermin keseimbangan antara Realitas (Fakta Alam) dan Spiritualitas (Rasa). Bagi para pencari ketenangan, inilah tempat untuk "pulang" ke dalam diri, merenungi Sangkan Paraning Dumadi.

​Sudah siap menanggalkan ego & menyapa alam dengan hati yang suci?

​Rahayu Sagung Dumadi. ✨

Address

Jalan Menteri Supeno No. 53, Pandeyan, Kec. Umbulharjo
Yogyakarta City
55162

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wisata Djogja posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category