14/10/2018
Sepanjang perjalanan mengantar saya ke stasiun, ia sama sekali tidak tersenyum. Tidak seperti biasanya, ia kali ini lebih memilih memandangi jendela kiri depan, tak jelas apa yg sedang di lihatnya, pandangannya di buang jauh-jauh dari bapaknya yg dari tadi menggodanya dari belakang roda kemudi.
Sesekali saya memanggilnya ketika berhenti di lampu merah, ia tetap saja tidak bergeming di pangkuan akungnya. Saya, akung, dan ibunya yg dari tadi duduk di jok belakang merasa hal ini memang ganjil. Lila yg dalam kendaraan biasanya tak bisa diam, sore ini dia tertib, tidak memutar2 k**b AC seenaknya, atau menarik2 tuas gigi. Dia duduk saja diam di pangkuan akung yg bergumam samar2 seperti membaca sholawat.
Setibanya di stasiun, saya pamit untuk kembali ke Jogja kepadanya, masih saja ia tak mau menatap wajah bapaknya ini. Wajahnya membik2, hidungnya lebih besar dr biasanya. Akhirnya ibunya menjelaskan kepada saya lagi bahwa dia sangat tidak s**a perpisahan. Apalagi besok ia ulang tahun yg pertama. Anakku s**a drama, demikian juga bapaknya.
Panjang umur, sehat-sehat ya nak, kadonya nunggu suara lantang abang kurir teriak2 di depan rumah aja.