RADAR JOGJA Jawa Pos

RADAR JOGJA Jawa Pos Ikuti juga berita Radar Jogja di
Twitter
Instagram
Youtube Radar Jogja Chann

Update Kasus 4 Wisatawan Tewas di Dalam Tenda Glamping Temanggung: Satu Korban Diautopsi, Begini Temuan Awal Tim Forensi...
29/05/2026

Update Kasus 4 Wisatawan Tewas di Dalam Tenda Glamping Temanggung: Satu Korban Diautopsi, Begini Temuan Awal Tim Forensik

Hasil autopsi terhadap korban termuda jadi kunci. Tim forensik duga ada paparan gas karbon monoksida saat korban berpesta barbeque.

TEMANGGUNG – Tim forensik Polda Jawa Tengah telah merampungkan proses autopsi terhadap jenazah AEH (17), salah satu dari empat korban meninggal dunia dalam tragedi glamping di kawasan wisata Kledung, Kabupaten Temanggung. Autopsi ini menjadi langkah krusial bagi Satreskrim Polres Temanggung untuk mengungkap misteri penyebab kematian empat wisatawan sekeluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang tersebut.

Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra menjelaskan, proses autopsi dilakukan pada Kamis (28/5) mulai pukul 08.00 WIB hingga siang hari. AEH dipilih sebagai satu-satunya perwakilan keluarga untuk diautopsi atas persetujuan pihak keluarga.

"Dari pihak keluarga menentukan satu korban yang diautopsi, yakni AEH. Korban ini dipilih karena merupakan yang paling muda dan dalam kondisi fisik paling prima karena diketahui seorang atlet," ujar Komang kepada wartawan, Jumat (29/5).

Dua Dugaan Kuat

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal dokter forensik, polisi mengantongi dua skenario utama penyebab kematian.

"Berdasarkan keterangan awal dokter yang memeriksa, diduga kematian ini ada dua kemungkinan, yaitu keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran. Namun kami masih menunggu hasil lengkap dari pemeriksaan laboratorium forensik," ungkap Komang.

Penyelidikan di lokasi kejadian (TKP) turut memperkuat dugaan adanya paparan gas karbon monoksida (CO). Polisi menemukan kompor gas portable dan tungku tanah liat untuk briket yang digunakan korban untuk barbeque.

"Posisi pintu tenda saat ditemukan tertutup rapat, begitu juga ventilasi kanan dan kiri. Diduga gas hasil pembakaran terperangkap di dalam dan terhirup korban saat mereka beristirahat," papar Komang.

Temuan di TKP

Selain kompor, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa sisa makanan seperti daging, sosis, jagung, tahu, nasi putih, selada, hingga jamur enoki. Seluruh peralatan masak dan bahan makanan tersebut diketahui dibawa sendiri oleh para korban.

Saat ditemukan pada pukul 15.45 WIB, petugas tidak menemukan indikasi keracunan makanan yang umum terjadi, seperti bekas muntahan.

"Setelah kami laksanakan penyelidikan di dalam tenda maupun di luar tenda, di sekitaran TKP itu tidak ada ditemukan bekas muntah atau dugaan lain yang bisa diamankan," tegasnya.

Kondisi Korban

Hasil pemeriksaan medis menyebutkan bahwa keempat korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar 8 hingga 12 jam sebelum ditemukan. Saat ditemukan, kondisi tubuh korban sudah kaku, namun polisi memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menunggu hasil final laboratorium forensik. Investigasi terus dilakukan dengan memeriksa sejumlah saksi untuk memastikan apakah insiden ini murni kecelakaan akibat sirkulasi udara yang buruk atau ada faktor penyebab lainnya.

JOGJA - Nomor WhatsApp (WA) Wakil Ketua I DPRD Kota Jogja Sinarbiyat Nujanat sempat diretas oleh hacker. Hal itu terjadi...
25/05/2026

JOGJA - Nomor WhatsApp (WA) Wakil Ketua I DPRD Kota Jogja Sinarbiyat Nujanat sempat diretas oleh hacker. Hal itu terjadi usai politisi Partai Gerindra itu membuka undangan berformat APK melalui pesan singkat WA.

Sinarbiyat mengatakan, peristiwa peretasan nomor pribadinya terjadi sepekan lalu. Bermula dari dirinya membuka sebuah undangan berformat APK yang dikirimkan seseorang. Tidak berselang lama, akun WA-nya kemudian mengirimkan pesan kepada sejumlah daftar kontak dengan permintaan meminjam uang.

Menurut Sinarbiyat, ada dua orang yang menjadi korban dan sudah mentransfer sejumlah uang. Namun beruntungnya para korban merupakan teman dekat. Sehingga uang dikirimkan langsung ke rekening pribadi bukan kepada rekening yang diberikan penipu.

“Ada teman-teman dekat saya yang dihubungi peretas untuk pinjam uang. Untungnya, dia agak ragu dengan nomor rekening yang diberikan peretas, jadi dia inisiatif transfernya langsung ke rekening asli milik saya,” ujar Sinarbiyat saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2026).

Ketua DPC Partai Gerindra Kota Jogja itu mengaku sempat kesulitan untuk memulihkan nomor WA pribadinya. Karena peretas menguasai penuh aplikasi perpesanan. Berbeda dengan modus yang sering muncul dengan menggunakan nama dan fotonya namun bukan dengan nomor pribadinya.

Sinarbiyat pun sempat khawatir, karena selama mengalami peretasan aplikasi perbankan di handphonenya tidak bisa digunakan. Sehingga dia pun bergegas menuju ATM untuk mengamankan uang yang berada di aplikasi perbankan miliknya sebelum dikuras peretas.

“Alhamdulillah, waktu saya cek di mesin ATM saldonya masih ada, jadi langsung saya tarik tunai semuanya saat itu juga,” ungkapnya.

Atas peristiwa tersebut, Sinarbiyat mengimbau masyarakat berhati-hati ketika membuka link atau file berformat mencurigakan melalui pesan WhatsApp. Terkhusus undangan pernikahan atau tasyakuran yang kerap membuat pengguna buru-buru untuk membuka.

Dia pun berharap agar masyarakat waspada jika ada seseorang atau kerabat yang tiba-tiba meminjam uang atau meminta transfer menuju rekening yang tidak dikenal. Sebab hal tersebut bisa menjadi salah satu modus penipuan.

“Konfirmasi dulu lewat telepon kepada yang bersangkutan, pastikan apakah benar itu kiriman dari mereka,” pesan Sinarbiyat.

Suami Istri Melakukan Pencurian di Pantai Drini Diamankan Warga dan PolisiGUNUNGKIDUL - Aksi pencurian yang terjadi di k...
25/05/2026

Suami Istri Melakukan Pencurian di Pantai Drini Diamankan Warga dan Polisi

GUNUNGKIDUL - Aksi pencurian yang terjadi di kawasan wisata Pantai Drini, Gunungkidul berhasil digagalkan warga dan personel Polsek Tanjungsari pada Minggu (24/5). Dua pelaku asal Purworejo, Jawa Tengah yang berstatus suami istri tersebut berhasil diamankan warga setelah nekat mencuri tas milik wisatawan yang tengah melaksanakan salat di Masjid Nur Ali, Padukuhan Wonosobo I, Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari.

Kapolsek Tanjungsari AKP Agus Fitriyatna mengatakan, kedua pelaku masing-masing berinisial S, perempuan 59 tahun, dan MR, laki-laki 59 tahun. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, kejadian berlangsung sekitar pukul 12.00. Saat itu, kata dia, korban sedang melaksanakan salat di dalam masjid kawasan Pantai Drini. Pelaku S kemudian mengambil tas milik korban yang berada di area masjid.

Usai mengambil tas, pelaku keluar masjid dan langsung menuju pelaku MR yang telah menunggu menggunakan sepeda motor Honda Beat warna putih di sekitar lokasi. Namun aksi tersebut diketahui saksi yang kemudian melakukan pengejaran sambil berteriak meminta pertolongan warga.

“Saksi berteriak maling-maling sehingga kedua pelaku berhasil diamankan warga dan dibawa ke Pos SAR Pantai Drini,” katanya Minggu (24/5) malam.

Petugas Polsek Tanjungsari yang saat itu sedang melakukan patroli wisata bersama Unit Reskrim langsung mendatangi lokasi dan mengamankan kedua pelaku beserta barang bukti. Dari tangan pelaku, lanjut Agus, polisi mengamankan satu tas warna cokelat berisi surat-surat penting dan uang tunai Rp 111 ribu serta satu unit telepon genggam merek Infinix milik korban. Saat ini kedua pelaku masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Polsek Tanjungsari untuk proses hukum selanjutnya.

“Kami baru selesai melakukan pemeriksaan malam ini. Masih kami dalami lagi,” sebutnya.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Baron Marjono membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, kedua pelaku sempat diamankan sementara di Pos Satlinmas Rescue Pantai Drini sebelum diserahkan ke kepolisian.

“Iya, tadi memang terjadi pencurian di Pantai Drini. Pelaku sempat diamankan di Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II yang berada di Pantai Drini, kemudian langsung dilimpahkan ke Polsek Tanjungsari,” pungkasnya.

25/05/2026
Tiga Pelaku Pembacokan Pelajar di Kotabaru Terafiliasi Geng Vozter, Tertangkap di Safe House yang Sama dengan Pelaku Pem...
22/05/2026

Tiga Pelaku Pembacokan Pelajar di Kotabaru Terafiliasi Geng Vozter, Tertangkap di Safe House yang Sama dengan Pelaku Pembunuhan Pelajar Bantul
JOGJA - Polresta Jogja berhasil menangkap tiga pelaku pembacokan yang mengakibatkan pelajar Adelio Alvis Adhi Wijaya, 17, meninggal dunia. Sempat buron tiga hari, ketiganya yang diketahui terafiliasi dengan geng Vozter ini ditangkap di safe house wilayah Cilacap Rabu (20/5) dini hari.
Kapolresta Jogja Kombes Pol Eva Guna Pandia mengatakan, ketiganya berinisial MY, LA, dan MF. Salah satu pelaku diketahui masih aktif sebagai pelajar SMK di Kota Jogja. Sementara dua orang sisanya merupakan alumni.
Eva menyebut, berdasarkan hasil penyelidikan sementara peristiwa pembacokan itu didasari motif perselisihan antargeng. Para pelaku yang tergabung dalam Vozter saling tantang dengan geng Trah Gendeng yang diikuti oleh korban Adelio Alvis Adhi Wijaya.
Selain ketiga pelaku, polisi masih melakukan pengejaran terhadap tiga orang lain dari geng Vozter. Lantaran diketahui dalam tragedi berdarah di kawasan Stadion Kridosono itu, ada enam orang yang terlibat.
“Kami mengimbau kepada orang tuanya agar segera menyerahkan putranya. Segala perbuatan yang melanggar hukum, apalagi menghilangkan nyawa orang, akan kita proses sesuai aturan yang ada,” tegas perwira polisi dengan tiga bunga melati emas di pundak ini Rabu (20/5).
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian menambahkan, rumah tempat para pelaku ditangkap diketahui merupakan tempat berkumpulnya geng sekolah dan motor dari berbagai daerah. Sebab lokasinya sama dengan penangkapan delapan pelaku pembunuhan Ilham Dwi Saputra, 16, di Bantul beberapa waktu lalu.
Riski menuturkan, rumah yang berada di Cilacap Jawa Tengah itu merupakan tempat persembunyian aman (safe house) bagi anggota geng dengan latar belakang yang bervariasi. Rumah tersebut diketahui milik salah satu pelajar yang orang tuanya sudah cerai. Sehingga sering tidak ada pengawasan orang dewasa.
Meskipun kelompok-kelompok yang berkumpul di sana berasal dari geng yang berbeda, Riski menyebut ada ikatan solidaritas yang sangat kuat antar anggota geng di rumah tersebut. Bahkan para pelajar yang berkumpul di rumah tersebut sering bergesekan dengan warga sekitar dan sempat dimediasi oleh kepolisian setempat.
"Warga sudah sempat memberikan peringatan, namun orang tua dari pemilik rumah justru marah-marah,” beber Riski. Tampilkan lebih sedikit

Cabuli Dua Anak di Bawah Umur, Pegawai SPPG Ditahan di Mapolres Sleman, Pelaku Pelajar Dititipkan di BPRSR Dinsos DIYSLE...
08/05/2026

Cabuli Dua Anak di Bawah Umur, Pegawai SPPG Ditahan di Mapolres Sleman, Pelaku Pelajar Dititipkan di BPRSR Dinsos DIY

SLEMAN - Aksi pencabulan terjadi di Ngemplak, Caturharjo, Sleman pada Jumat (1/5) lalu. Pelakunya ada dua orang berinisial AAF yang berstatus pegawai di satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Kabupaten Sleman dan EA yang masih berstatus pelajar SMK. Korbannya ada dua orang dan masih di bawah umur. Satu adalah pelajar SMP berusia 15 tahun dan satu masih duduk di kelas 6 SD berusia 12 tahun.

Dukuh Ngemplak Nur Cahyo membenarkan kejadian ini. EA merupakan warga setempat yang memang dalam pantauan masyarakat sekitar karena pernah tersandung masalah kenakalan remaja, khususnya minum-minuman keras. Bahkan sempat diminta untuk membuat surat pernyataan karena kelakuannya, tetapi justru terulang. Sementara AAF juga warga setempat, tetapi lama tinggal di pondok. Keduanya baru berkenalan sekitar satu minggu.

Kronologi berawal saat EA yang menghampiri AAF di rumahnya usai selesai sif pagi di SPPG. Keduanya lalu membeli minuman keras dan menjemput kedua korban. Dia sebut peristiwa terjadi di rumah EA. Orang tua pelaku saat itu memang tidak ada di rumah karena bekerja hingga malam.

"Jadi mengonsumsi minum-minuman itu, apakah korban dipaksa atau bagaimana kurang tahu," katanya ditemui di kediamannya Rabu (6/5).

Kecurigaan timbul saat korban dipulangkan ke rumahnya saat waktu Isya dan bajunya berbeda dengan yang dikenakan saat berangkat. Ibu korban lalu membawanya ke rumah pelaku untuk mempertanyakan kronologi peristiwa.

"Ganti baju karena memang sempat dimandikan sama pelaku. Memang kondisinya kewer-kewer mabuk," ujarnya.

Saat keluarga korban datang ke rumah pelaku, memang sempat menarik perhatian masyarakat. Nur sebut jumlah orang yang datang hingga seratusan sehingga untuk mengantisipasi main hakim sendiri lalu dipanggilkan pihak kepolisian. Atas kejadian ini dia sebut sempat dilakukan mediasi secara kekeluargaan. Namun, keluarga korban tidak terima sehingga akhirnya membuat laporan kepolisian.

Saat ini pelaku AAF ditahan di Rutan Polresta Sleman. Sementara pelaku EA ditipkan di Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Remaja (BPRSR) Dinas Sosial (Dinsos) DIY. "Kalau dari keterangan orang tuanya, AAF itu berperan membantu," ujarnya.

Sementara itu, Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro tidak berkenan untuk dikonfirmasi lebih lanjut terkait peristiwa ini. "Intinya kepolisian belum mengeluarkan rilis terkait pelecehan itu nggih. Karena mempertimbangkan masa depan korban dan psikologis keluarga," katanya. (delima/radar jogja)

Address

Jalan Ring Road Utara 88 Depok Sleman
Yogyakarta City
55283

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when RADAR JOGJA Jawa Pos posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to RADAR JOGJA Jawa Pos:

Share