19/11/2025
MENANTU SANTUY (2)
"Kiran ngapain?!"
"Pengin cendol hitam, Emak."
"Iya, tapi, kok ... aduh!
Seketika aku melemas di tempat gara-gara kelakuan Kirana.
Bisa-bisanya dia ....
---
Mataku berkaca-kaca. Aku mengangguk. Kiran memelukku. Namun, tiba-tiba ia berkata, "Ahay! Rambut Emak wangi. Pasti habis shampoan beneran pakai shampo yang Kiran beli itu, ya? Wangi mawar. Ih, enak lembut! Bikin rileks dan santuy!"
Aku tertawa. Kirana memang nyablak, tetapi kutahu dia penyayang dan selalu berusaha mencairkan suasana.
"Udah, Kiran. Kamu makan lagi. Nanti istirahat."
"Iya, Emak."
Kirana makan dengan lahap, pun dengan Supri. Tak kuhiraukan lagi suara-suara Sesil yang masih terus nyaring terdengar. Pun dengan Jukri yang akhirnya berbicara sedikit keras.
Malam harinya, kami sudah bersiap untuk tarawih. Kirana mengantar Supri sampai teras. Aku sudah lebih dulu berdiri di teras rumah.
"Kiran di rumah sendirian enggak apa-apa?" tanyaku memastikan.
"Enggak apa-apa, Emak. Aman, kok."
"Ya udah. Kita berangkat dulu, ya. Kamu hati-hati di rumah. Jangan bukain pintu kalau bukan keluarga yang datang."
"Siap, Emak."
Aku berangkat ke masjid kampung bersama keempat anakku. Batinku sedikit tidak tenang sebenarnya. Hingga ketika sudah delapan rakaat Tarawih, aku memutuskan pulang. Ternyata, Sesil ikut pulang juga.
Aku mengetuk pintu rumah, memanggil Kirana. Tak lama kemudian, ia pun membukakan pintu. Senyumnya tersungging untukku.
"Salatnya cepat, ya, Mak?"
"Iya. Anu ... Mamake kebelet!" dustaku. Segera masuk dan menuju ke belakang.
Masih kudengar Kirana berbicara dengan Sesil. Sepertinya masih belum begitu akur. Sesampainya di dapur, benar saja aku lupa menutup jendela. Sejak tadi jadi kepikiran, untung saja tidak ada orang usil yang masuk rumah dan berniat jahat.
Pukul setengah sembilan malam, anakku pulang dari masjid. Mereka segera masuk ke kamar masing-masing. Sedangkan, aku masih menghangatkan makanan untuk sahur dibantu oleh Kirana.
"Emak, nanti sahur pertama, ya? Kiran mau ikutan, ah."
"Lah, kamu enggak puasa kok ikutan Kiran!"
"Ingin, Emak. Siapa tahu suasananya beda. Kan tiap daerah apa tuh, itu s**a ada yang bangunin orang pake galon, panci itu, Emak. Terus ada lagunya sendiri itu, kan, Emak."
Kirana kumat lagi. Ngomongnya muter-muter terus. Aduh, bikin aku pusing beneran. Aku pun memilih hanya menganggukkan kepala saja. Setelahnya, mem**tikan kompor.
Di saat bersamaan, Supri yang sudah berganti pakaian pun mendekat ke Kirana yang masih menata gerabah kering dalam rak.
"Sayang ... masih lama?"
Aku menoleh ke Supri yang ternyata sudah melingkarkan tangannya di pinggang Kirana. Aku hanya geleng-geleng kepala saja. Supri memang sangat 'gemati' dan menjaga Kirana.
"Bentar lagi, Bang. Bang Stary mau kopi?"
"Enggak, Sayang. Mau tidur aja, yuk."
"Iya, bentar, ya."
Aku selesai menghangatkan lauk. Kemudian menutupnya dengan tutup yang memiliki lubang udara kecil. Agar tidak bau makanan yang masih panas itu.
"Udah malam, tidur semuanya."
"Iya, Mak."
----
Saat sahur, Kirana benar-benar ikut bangun. Sesil tidak ikut sahur katanya karena tidak puasa sebab kehamilannya.
Hari puasa pertama dengan cuaca yang begitu terik. Membuatku tetap berdiam di rumah. Namun, sore harinya, aku mengajak kedua menantuku untuk pergi ke pasar dadakan yang menjual aneka jajanan buka puasa.
"Bang Stary enggak ikut berarti, ya, Mak?"
"Enggak."
Kami jalan bersama-sama. Sesil awalnya tak mau ikut, tetapi entah karena apa yang dikatakan oleh Kirana, ia jadi menggebu ingin ikut.
"Awas kamu, Kiran. Jangan macam-macam sama aku dan janinku, ya!" ujar Sesil di tengah langkah kami.
"Sesil, astaghfirullah! Kamu ngomong apa, Nduk? Kok ngancam Kirana segala," ujarku berusaha menengahi.
"Halah, Mamake! Menantu kayak gitu, kok, dibelain terus!"
Aku mendengkus berat. Kirana tak menjawab apa pun, ia santai saja berjalan, sesekali mengecek ponselnya dan mengetik balasan. Seperti serius sekali.
"Sampai!" ujarku.
"Wah, Emak. Ada Bibi Sarwen jualan juga!" ujar Kirana bersemangat.
"Iya. Ayo, masuk."
Kami masuk ke stand-stand jajanan aneka buka puasa itu. Banyak macamnya. Kubiarkan Kirana berjalan lebih dulu. Sesil berada di sampingku, kutawari makanan apa pun. Namun, ia menolak.
"Gorengan enggak sehat buat kehamilan, Mak!"
"Ya udah, mau es?"
"Enggak, ah. Nanti aku gemukan. Janinku jadi kebanyakan gula!"
"Atau mau kolak pisang?"
"Enek!"
Aku sampai malu sendiri. Akhirnya, kubiarkan ia mau memilih apa yang ia mau. Aku melenggang sendirian, sesekali menatap Kirana yang di tangannya sudah banyak kantong kresek. Ia memborong aneka jajanan sore ini.
"Sar, jualan?"
"Iya, Mbak. Barusan gorengannya diborong sama Kirana, nih. Baik banget anak itu."
Sarwen berjualan aneka gorengan, lauk-pauk dan sayur matang.
"Masakanmu memang enak. Semoga laris, ya? Mantuku sudah ikut ngelarisin, kan?"
"Iya, Mbak. Maturnuwun."
"Ya."
Satu jam sudah kami berkeliling. Kirana tersenyum lebar ke arahku yang juga sudah selesai melihat-lihat jajanan. Tidak beli, karena aku memang berniat mengajak menantuku jalan-jalan saja.
Di rumah, Kirana sibuk membuka dan meletakkan jajanan yang dibelinya ke dalam wadah.
Saat hendak ke dapur, ada tamu dan aku pun duduk di ruang tamu.
Setengah jam kemudian, aku beranjak ke dapur karena mencium aroma yang aneh. Sesampainya di dapur, mataku membulat sempurna.
"Kiran ngapain!?"
Kulihat ia tengah berpeluh asap dan arang. Membakar cendol. Ya, cendol hijau tanpa kuah santan itu ditiriskan di atas teflon yang diletakkan di atas tungku kayu, dan dia sedang mengipasi tungku agar tetap menyala apinya.
"Kiran pengin cendol hitam, Emak. Tadi enggak ada. Cendol hitam itu kayaknya lebih enak, itu loh Kiran pernah lihat pas kapan hari itu jalan-jalan sama Bang Stary. Kan cendolnya dibakar dulu kan, Emak?"
"Bukan. Aduh, tapi ... astaghfirullah Kiraaan! Air santannya mana?!" tanyaku jadi sedikit ngegas.
"Ituuu!" Ia menunjuk ke atas meja.
"Itu mubazir lagi Kiraaan! Mana ada cendol bakar. Astaghfirullah."
"Eh, Emak santuy! Kan benar kan cendol hitam itu cendol bakar?" jawabnya masih dengan bersikeras.
Tubuhku luruh ke lantai. Kepala menunduk dan rasanya aku ingin makan Kirana bulat-bulat. Bisa-bisanya dia kepikiran cendol bakar. Ampun, deh! Mubazir lagi cendol yang dibeli. Mana banyak banget, udah pada mengkerut dan ... bau gosong.
YUK, GERCEP! Udah TAMAT nih. Cari judulnya di KBM APP >> MENANTU SANTUY
Penulis : septiana_tf
Atau klik li_nk di kolom komentar untuk baca ceritanya sampai tamat