Zulkafli Hashim

Zulkafli Hashim Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Zulkafli Hashim, Broadcasting & media production company, Kajang.

Cerita Menarik (4)“NYONYA, ITU SAMA PERSIS DENGAN CINCIN IBU SAYA”: PENGEMEN YANG MENGEJUTKAN SEORANG NYONYA KAYA — DAN ...
26/02/2026

Cerita Menarik (4)
“NYONYA, ITU SAMA PERSIS DENGAN CINCIN IBU SAYA”: PENGEMEN YANG MENGEJUTKAN SEORANG NYONYA KAYA — DAN MENGUNGKAP RAHASIA YANG TERPENDAM SELAMA 13 TAHUN.

Tiga belas tahun yang lalu, putri tunggalnya hilang dalam sebuah insiden. Mobilnya ditemukan, tetapi bayinya… tidak pernah terlihat lagi.

Suatu sore, Doña Cecilia sedang makan di sebuah restoran mewah dengan area terbuka. Saat ia sedang memotong steak-nya, seorang anak perempuan mendekat—lusuh, kurus, dan membawa bunga melati.

“Nyonya, silakan dibeli... untuk biaya pengobatan Ibu saya saja,” kata anak itu dengan suara pelan dan malu-malu.

Penjaga keamanan hendak mengusir anak itu, namun Doña Cecilia menghentikannya. Ia merasa iba melihat wajah polos anak tersebut.

Doña Cecilia mengambil uang lima ratus peso. Saat hendak memberikannya, ia menyadari anak itu sedang menatap jarinya.

“Kenapa, Nak? Kamu mau makanan?” tanya sang Nyonya.

Anak itu menggelengkan kepala. Ia menunjuk ke arah cincin Doña Cecilia—sebuah cincin emas antik berbentuk mawar dengan batu merah di tengahnya.

“Nyonya… bagus sekali. Itu sama persis dengan cincin Ibu saya. Disimpan di bawah bantalnya,” kata anak itu dengan polos.

Doña Cecilia terpegun. Ia menjatuhkan garpunya hingga berdenting di atas piring.
“A-Apa katamu?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Iya, Nyonya. Kata Ibu, aku tidak boleh memakainya karena itu sangat berharga. Tapi bentuknya benar-benar sama persis.”

Mustahil. Cincin itu dipesan secara khusus (custom-made). Hanya ada dua di seluruh dunia—satu untuknya… dan satu lagi untuk anaknya.

Cerita ✍️ menarik (3)Pada usia 36 tahun, saya menikahi seorang wanita yang mengemis di alun-alun kota. Semua orang mengi...
26/02/2026

Cerita ✍️ menarik (3)
Pada usia 36 tahun, saya menikahi seorang wanita yang mengemis di alun-alun kota. Semua orang mengira saya sudah gila. Beberapa tahun kemudian, ketika tiga mobil mewah berhenti di depan rumah kami, saya menyadari bahwa saya sama sekali tidak benar-benar mengenalnya.

Saat saya menginjak usia 36 tahun, para tetangga di San Miguel de las Flores, sebuah kota kecil di Oaxaca, sering berbisik-bisik di belakang saya:
— “Di usianya yang segitu, masih belum punya istri? Dia akan jadi bujang tua.”

Sebenarnya saya pernah menjalin beberapa hubungan sebelumnya, tetapi tidak pernah bertahan lama. Seolah-olah takdir memang tidak mempertemukan saya dengan orang yang tepat. Jadi, saya mencurahkan waktu saya untuk mengurus sebidang tanah kecil: menanam sayuran, memelihara ayam dan bebek, serta menjalani hidup yang sederhana dan tenang.

Suatu sore yang dingin di akhir musim dingin, di pasar kota, saya melihat seorang gadis yang sangat kurus. Pakaiannya robek dan lusuh, duduk di tepi trotoar dengan tangan terulur meminta makanan. Bukan penampilannya yang menyentuh hati saya, melainkan matanya: jernih, lembut, namun penuh kesedihan yang mendalam.

Saya mendekatinya dan memberinya beberapa gorditas serta sebotol air. Ia menunduk dan berterima kasih dengan suara pelan.

Malam itu, saya tidak bisa berhenti memikirkannya.

Beberapa hari kemudian, saya melihatnya lagi di sudut lain pasar, dalam keadaan yang sama. Kali ini, saya duduk di sampingnya dan kami mulai berbincang. Ia mengatakan namanya Maria Fernanda. Ia tidak punya keluarga, tidak punya rumah, dan tidak punya tempat untuk pergi. Sudah bertahun-tahun ia hidup di jalanan, hanya mengandalkan belas kasihan orang lain.

Saya tidak tahu persis apa yang saya rasakan saat itu, tetapi ada sesuatu yang bergetar kuat di dada saya. Sambil menatap matanya, saya mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak saya rencanakan:
— “Kalau kamu mau… menikahlah denganku. Aku memang tidak kaya, tapi aku bisa memberimu makan dan tempat tinggal.”

Matanya membelalak kaget. Orang-orang di pasar mulai berbisik: “Raul sudah kehilangan akal.”

Namun beberapa hari kemudian, ia menerima lamaran itu.

Saya membawanya ke rumah saya di bawah tatapan penuh penilaian dari seluruh kota.

Pernikahannya sederhana: beberapa meja hidangan, musik dari pengeras suara, dan restu dari pastor setempat. Komentar pun tak berhenti:
— “Raul menikahi seorang pengemis… itu tidak akan berakhir baik.”

Saya memilih untuk mengabaikan mereka. Yang penting bagi saya hanyalah kedamaian yang saya rasakan di hati.

Bulan-bulan pertama tidaklah mudah. Maria Fernanda belum bisa memasak, belum pernah bekerja di ladang, dan semuanya terasa baru dan sulit baginya. Tetapi ia rajin, rendah hati, dan sangat ingin belajar. Perlahan-lahan, rumah kami yang dulu sunyi mulai dipenuhi aroma masakan dan tawa lembut setiap senja.

Setahun kemudian, lahirlah putra pertama kami. Dua tahun setelahnya, putri bungsu kami hadir ke dunia. Setiap kali saya mendengar suara mereka memanggil “Papa” dan “Mama,” saya merasa itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup.

Saya tidak pernah menyangka bahwa masa lalu istri saya menyimpan rahasia besar… dan suatu hari, tiga mobil hitam mewah akan memasuki kota, menerbangkan debu di jalan tanah, dan mengubah segalanya untuk selamanya…

Nak episode 4, Sila beri comments di bawah tekan TANDA ❤️ sblh kiri.

Cerita ✍️ menarik (2)DIA BERPURA-PURA TIDUR UNTUK MENGHINDARI PETUGAS KEBERSIHAN DI MALAM HARI…TAPI SEBUAH TELEPON YANG ...
25/02/2026

Cerita ✍️ menarik (2)
DIA BERPURA-PURA TIDUR UNTUK MENGHINDARI PETUGAS KEBERSIHAN DI MALAM HARI…
TAPI SEBUAH TELEPON YANG DIA DENGAR MEMBONGKAR KONSPIRASI SENILAI 20 JUTA DOLAR
DAN PENGKHIANATAN TERKEJAM DATANG DARI ORANG YANG PALING DIA PERCAYA SEUMUR HIDUPNYA…

Di tengah dinginnya malam bulan Oktober di kawasan Sudirman, Jakarta, Isabella Wijaya duduk sendirian di kantornya yang luas namun terasa hampa di lantai 38 gedung Luntian Dynamics Corporation—perusahaan yang ia bangun dari nol.

Dua puluh tahun hidupnya ia curahkan di sini. Dua puluh tahun nyaris tanpa tidur, Natal yang dilewati tanpa pulang ke rumah, ulang tahun yang tak dihadiri, dan cinta yang tak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh. Bermula dari ruang kerja kecil yang disewa di daerah pinggiran, ia membangun perusahaan perangkat lunak yang kini menjadi salah satu kebanggaan industri teknologi di Asia Tenggara.

Namun malam ini, pukul dua dini hari, di atas mejanya tergeletak tumpukan dokumen kebangkrutan yang tebal.

Dalam waktu dua belas jam, ia harus berhadapan dengan tiga ribu karyawannya dan mengatakan bahwa semuanya telah berakhir.

Isabella berusia empat puluh delapan tahun. Tangguh. Bertekad kuat. Di dunia bisnis, ia dijuluki "Ratu Disrupsi." Namun malam ini, ia bukan seorang ratu. Ia hanyalah seorang wanita yang sangat lelah, bersandar di kursi kayu jati mahalnya, menatap kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana.

Lampu-lampu Jakarta tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi, namun di matanya, itu tampak seperti kerlip terakhir sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Ia tidak pernah menyangka bahwa kehancurannya akan datang dari orang terdekatnya.

Sebuah perusahaan saingan—Apex SynerTech—secara perlahan mengambil klien-klien terbesarnya. Tiba-tiba, kepala insinyurnya mengundurkan diri dan pindah ke sana. Dan yang paling menyakitkan, dalam presentasi Apex, muncul cetak biru (blueprint) dan peta jalan strategis yang persis dengan apa yang ia simpan rapat-rapat selama bertahun-tahun.

Ada yang mengkhianatinya.

Para pengacaranya tidak punya jawaban. Dewan direksi tidak punya solusi jelas. Namun bank tidak pernah tahu caranya menunggu.

Terdengar bunyi decit pelan dari roda kereta pembersih di lorong.

Petugas kebersihan malam.

Seorang pria tua, kurus, agak membungkuk, dengan mata yang teduh. Ia sudah sering melihatnya setiap dini hari, namun tak sekalipun ia menanyakan namanya. Hanya anggukan kepala yang mereka pertukarkan setiap kali berpapasan.

Malam ini, Isabella tidak punya energi untuk berbasa-basi. Perlahan ia memejamkan mata dan menundukkan kepalanya sedikit, berpura-pura tidur.

Ia mendengar gesekan lembut kain pel di lantai. Langkah-langkah kaki yang hati-hati seolah tak ingin membangunkannya.

Beberapa saat kemudian, semuanya berhenti.

Ada kesunyian yang aneh.

Terdengar gemerisik kertas.

Dan sebuah suara bisikan.

— "Tidak mungkin... tidak mungkin ini terjadi..."

Jantung Isabella berdegup kencang, namun ia tetap bergeming.

Ia mendengar gagang telepon di meja diangkat.

— "Budi, Nak... ini Bapak."

Suara pria tua itu sedikit bergetar namun jelas.

— "Kamu ingat CEO yang menyumbang ke pusat teknologi komunitas di pemukiman kumuh tiga tahun lalu? Iya... itu dia."

Hati Isabella mencelos. Ia melakukan donasi itu secara anonim.

— "Dia punya masalah besar. Ini bukan sekadar kebangkrutan biasa. Ada yang mencuri informasinya."

Keheningan sejenak dari seberang telepon.

— "Bapak tahu ini sudah tengah malam. Tapi kamu harus dengar. Catatan log sistem masih terbuka di monitornya. Bapak tidak sengaja melihatnya."

Detak jantung Isabella semakin cepat.

— "Budi... waktu aksesnya selalu sama. Selalu lewat jam sebelas malam. Dan komputer yang digunakan? Milik Ir. Renato Alcantara."

Renato Alcantara—Chief Operating Officer-nya.

Pria yang selama delapan tahun ia percayai sepenuhnya.

— "Kamu di unit cybercrime. Kamu punya kenalan di kepolisian, kan? Kita harus mengonfirmasi ini sebelum pagi."

Keheningan yang panjang.

— "Bapak tahu ini berbahaya. Tapi Bapak tidak sanggup melihatnya hancur seperti ini."

Pria tua itu menghela napas panjang.

— "Kalau bukan karena pusat teknologi yang dia bangun, mungkin kamu tidak akan belajar coding. Mungkin kamu tidak akan pernah masuk kepolisian."

Dada Isabella terasa sesak.

Ia tidak menyangka ada orang yang tahu.

— "Bapak melihat ada USB di bawah mejanya minggu lalu. Ada logo Apex. Bapak pikir itu cuma sampah. Tapi sekarang..."

Napas Isabella gemetar.

— "Bapak akan mencolokkannya."

Terdengar bunyi klik USB yang masuk ke port.

Suara ketikan cepat di papan ketik.

— "Ada folder terenkripsi. Namanya: 'Proyek Melati'. Dan pemilik filenya? RenatoA_admin."

Isabella mencengkeram lengan kursinya dengan kuat.

— "Ada log transfer ke server eksternal. Alamat IP... Budi, bukankah ini milik Apex?"

Keheningan sejenak.

Lalu gumaman pelan penuh keterkejutan.

— "Ya Tuhan."

Pria tua itu berdiri tegak.

— "Budi... bukan cuma Renato."

Dunia Isabella seakan berhenti berputar.

— "Ada otorisasi kedua. Nama pengguna... 'Chairman_LD'."

Ketua dewan komisaris perusahaannya.

Orang yang selama ini ia anggap sebagai mentor dan panutannya.

Kain pel jatuh ke lantai.

— "Nak... ini jauh lebih dalam dari yang kita duga."

Udara di dalam kantor terasa semakin berat.

Isabella tidak tahan lagi.

Perlahan, ia membuka matanya.

Berdiri di hadapannya adalah petugas kebersihan tua itu, masih memegang telepon, cahaya dari layar monitor menyinari wajahnya yang penuh kekhawatiran.

Mata mereka bertemu.

Keduanya terpaku.

Di monitor di belakang pria itu, sebuah email terlihat jelas:

“Transfer Final Dikonfirmasi — Pembayaran Dirilis.”

Jumlahnya: dua puluh juta dolar.

Dari Apex SynerTech.

Dikirim ke sebuah rekening luar negeri atas nama...

File tersebut perlahan-lahan tergulung ke bawah (scroll).

Nama lengkap itu mulai muncul.

Namun sebelum Isabella sempat membacanya sepenuhnya, pintu lift di ujung lorong berbunyi.

Ada seseorang yang datang.

Di jam seperti ini.

Pintu kantornya terbuka perlahan.

Dan siapakah yang masuk? Nantikan di bab selanjutnya...Part 3 commnents..

Cerita ✍️ menarik.SINHA MEMBERIKAN SEBUAH PANCI WARISAN LAMA! BUDAK ITU AKAN MEMASAK, TETAPI JAUH DI DALAM HATINYA IA BE...
25/02/2026

Cerita ✍️ menarik.
SINHA MEMBERIKAN SEBUAH PANCI WARISAN LAMA! BUDAK ITU AKAN MEMASAK, TETAPI JAUH DI DALAM HATINYA IA BERPIKIR...

Kolonel Venancio mengira ia telah menghancurkan masa depan semua orang di pertanian itu bersama dengan jasad istrinya. Ketika Sinhá menutup matanya untuk terakhir kalinya di Peternakan Unta Tinggi, keheningan yang menyelimuti rumah kolonial yang megah itu bukanlah keheningan duka, melainkan keheningan ketakutan yang mendalam. Semua orang tahu bahwa nyonya rumah adalah satu-satunya penyeimbang moral yang menahan tangan berat suaminya. Yang tidak diduga siapa pun adalah bahwa, sebelum pergi, ia telah memasang perangkap tupai yang tersembunyi di bawah hidung semua orang, di dalam sebuah benda yang dianggap kolonel sebagai sampah.

Kematian Sinhá segera membawa bau terbakar ke halaman tanah yang luas. Begitu peti mati diturunkan ke kuburan, Venancio menyuruh orang untuk mengambil kotak jacaranda tempat istrinya menyimpan dokumen pertanian. Di depan semua orang, di tengah panci kopi, ia menyalakan api yang mencolok. Venancio tidak menangis; Ia tersenyum sambil melemparkan surat-surat alforria milik para pria dan wanita yang sudah bekerja di sana, yang berisi janji kebebasan yang terjamin, ke dalam api.

Benedita, sang juru masak, mengamati semuanya dari pintu dapur, dengan celemek kotornya yang penuh tepung dan jantungnya berdebar kencang. Ia melihat ketika kertas yang menjamin kebebasannya berubah menjadi abu-abu dan terbang tertiup angin. Kolonel itu menyeka tangannya di celananya dan memandang tumpukan budak. Ia menyatakan bahwa sejak hari itu hukum Sinhá telah mati, dan hukumnya adalah satu-satunya yang tersisa. Ia berbohong bahwa Sinhá tidak akan meninggalkan apa pun, dan bahwa semuanya menjadi miliknya untuk membayar hutang yang terus bertambah atas dana properti. Tetapi ia melakukan kesalahan orang-orang yang sombong: ia berpikir bahwa nilai hanya terletak pada penampilan dan kilauan emas.

Setelah membakar kertas-kertas itu, kolonel itu pergi ke dapur. Bau asap dari api masih menempel di pakaiannya. Ia memandang Benedita, yang telah berada di sana tiga puluh tahun yang lalu, mengurus setiap makanan di rumah itu. Dengan tawa kering dari mereka yang merasakan kekuasaan, ia menunjuk ke sudut gelap tungku kayu. Di sana ada wajan besi cor tua, tertutup jelaga, berat dan jelek. Itu adalah wajan kesayangan Sinhá, yang tidak pernah ia izinkan siapa pun sentuh.

Venancio menendang wajan itu dengan sepatu bot kulitnya. Logam itu mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Ia berkata bahwa Sinhá, dalam delusi kematian, meminta agar sampah itu diberikan kepada Benedita sebagai satu-satunya warisan. "Singkirkan sampah itu," geramnya. "Pergi dan enyahlah dari hadapanku sebelum aku memutuskan bahwa kau juga akan masuk ke dalam kayu gelondongan karena melihat ke tempat yang tidak seharusnya." Ia pikir ia mempermalukannya dengan memberinya sebuah tumpukan besi. Yang tidak ia ketahui adalah bahwa besi itu membawa beban kehancurannya sendiri.

Benedita tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia membungkuk, mengabaikan rasa sakit di persendiannya, dan memeluk wajan dingin itu ke dadanya. Beratnya terasa aneh. Ia telah mengenal benda itu selama beberapa dekade, tetapi pada saat itu sesuatu terasa berbeda. Kolonel itu keluar sambil memukul-mukul taji kudanya, meneriakkan perintah kepada pembuat Silverio, seorang pria yang menjaga ketertiban dengan cambuk dan sudah mengawasi gerakan Benedita.

Koki itu membawa panci ke tempatnya di bagian bawah meja. Tempat itu berbau apak, tetapi masih cukup lapang. Ia meletakkan panci itu di atas meja bamba dan menyalakan lampu. Cahaya redup menari-nari di atas kerak arang yang menutupi logam itu. Benedita meletakkan tangannya di belakang. Jari-jarinya merasakan retakan. Bagian bawahnya tampak terlalu tebal untuk sekadar besi cor.

Pada saat itu, Paman dari Corral yang bijaksana muncul di pintu. Pria berusia tujuh puluh tahun, dengan punggung yang penuh bekas kerja, dialah satu-satunya yang memasuki kamar Sinhá sebelum kematiannya. Ia melihat nyonya rumah menyerahkan panci itu kepada kolonel dan membuatnya bersumpah akan memberikannya kepada Benedita. Tião berbisik bahwa Sinhá menghabiskan malam terakhirnya terjaga, mengaduk panci dengan pisau dan gunting kecil.

Benedita merasa merinding. Dia mengambil pisau dan mulai mengikis kotoran dari bagian bawah. Logam itu tampak berbeda dari warna abu-abu kusam biasa. Di bawah kotoran itu terdapat cap lilin yang meleleh dan ditekan, dilindungi oleh pelat logam bertekanan....

cerita seterusnya, nantikan.. episode 2

08/11/2025

2.3 millions views

Ayu Puspa
30/04/2025

Ayu Puspa

Address

Kajang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Zulkafli Hashim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Zulkafli Hashim:

Share