21/08/2026
Pernah ada momen di mana kamu tiba-tiba berhenti. Di tengah rutinitas yang berjalan normal. Di tengah kehidupan yang dari luar terlihat baik-baik saja.
Dan pertanyaan itu muncul, sangat sunyi: Untuk apa sebenarnya aku di dunia ini?
Kamu tidak tahu harus melakukan apa dengannya. Jadi kamu scroll. Kamu sibukkan diri. Kamu tunggu sampai ia pergi sendiri.
Tapi Al-Quran tidak melihat pertanyaan itu sebagai masalah, la melihatnya sebagai tanda.
Kita hidup di zaman yang tidak nyaman dengan pertanyaan besar.
Ketika seseorang bertanya "untuk apa aku di sini", orang sekitarnya langsung khawatir. Jadi kita belajar untuk tidak bertanya. Atau kalau bertanya, kita sembunyikan, karena terasa aneh, terasa lemah.
Padahal justru pertanyaan itulah yang membedakan manusia yang hidup dengan sadar dengan yang sekadar menjalani hari-harinya.
Dan Al-Quran, alih-alih menghindari pertanyaan itu, justru mengajukan versi yang lebih tajam dari pertanyaan yang sama.
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّهَا خَلَقْنَكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ .
Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al-Mu'minun: 115)
Bukan ancaman. Bukan teguran. Tapi sebuah pertanyaan balik, seolah Allah berkata: Kamu sendiri yang bertanya untuk apa kamu di sini. Apakah kamu benar-benar percaya jawabannya adalah: tidak ada.
Dan jawabannya diberikan di QS. Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ .
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku, (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Tapi "ibadah" di sini bukan hanya shalat lima waktu. Ibadah itu bukan cuma sholat.
Makan, minum, tidur, tolong-menolong, membantu orang miskin, menafkahi istri, anak, orang tua, dan keluarga—itu juga disebut ibadah.
Jadi, tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk menjalani dan menikmati kehidupan yang Allah berikan.
Karena pada akhirnya, tidak ada satu pun dari apa yang kita miliki di dunia ini yang akan kita bawa ketika mati.
Imam Ibn Qayyim menjelaskan: 'ibadah dalam ayat ini adalah seluruh hidup yang diarahkan kepada Allah, setiap keputusan, setiap usaha, setiap cara kamu menggunakan waktu, yang ketika dilakukan dengan kesadaran bahwa kamu milik Allah, semuanya menjadi bagian dari jawaban atas pertanyaan itu.
Artinya pertanyaan "untuk apa aku di sini" bukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab. la hanya tidak bisa dijawab tanpa Al-Quran sebagai kompasnya.
Dan kemunculan pertanyaan itu, adalah tanda hatimu sedang mencari kompas itu.
Pertanyaan ini adalah tanda fitrah, bukan kelemahan. Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya 'Ulumuddin: Manusia dilahirkan dengan fitrah, kerinduan bawaan yang tidak bisa dipenuhi oleh dunia manapun.
Ketika seseorang bertanya "untuk apa aku di sini", itu bukan tanda fitrahnya rusak. Itu tanda fitrahnya masih hidup.
la masih bisa merasakan ada yang kurang. la masih bisa menyadari bahwa rutinitas tidak pernah benar-benar menjawab sesuatu yang terus bertanya di dalam dirinya.
Yang berbahaya bukan pertanyaan itu, yang berbahaya adalah ketika seseorang berhenti bertanya dan menerima kekosongan itu sebagai hal yang normal.
Kalau hari ini kamu sedang berada di fase itu, di mana pertanyaan tentang tujuan hidupmu terasa lebih berat dari yang biasa, jangan buru-buru menguburnya dengan kesibukan.
Itu bukan krisis yang harus diselesaikan secepat mungkin. Itu adalah undangan, dari bagian dirimu yang paling jujur, yang sedang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar hari-hari yang berlalu.
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allahhati menjadi tenang." - QS. Ar-Ra'd: 28
Ketenangan itu bukan berarti pertanyaannya hilang. Ketenangan itu berarti kamu akhirnya menemukan tempat yang benar untuk membawa pertanyaan itu.
Dan Al-Quran bukan hanya menyimpan jawabannya, ia mengundangmu untuk duduk bersamanya dan mencari jawaban itu dengan cara yang tidak akan kamu sesali.