19/03/2024
*MARANTAU*
โ๐๐๐ง๐๐ฃ๐ฉ๐๐ชโ sesuatu hal yang tak bisa dipisahkan dari Minangkabau. Asal usul kata โmerantauโ itu sendiri berasal dari bahasa dan budaya Minangkabau yaitu โ๐ณ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ถโ. Rantau pada awalnya bermakna : wilayah wilayah yang berada di luar wilayah inti Minangkabau, tempat awal mula peradaban Minangkabau periode terakhir sebelum zaman modern. Peradaban Minangkabau mengalami beberapa periode atau pasang surut. Wilayah inti itu disebut โ๐ฅ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฌโ (darat) ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐จ๐ฐ. Aktifitas orang orang dari wilayah inti ke wilayah luar disebut โmarantauโ atau pergi ke wilayah rantau. Lama kelamaan wilayah rantau pun jadi wilayah Minangkabau. Akhirnya wilayah rantau menjadi semakin jauh dan luas, bahkan di zaman modern sekarang ini wilayah rantau orang Minangkabau bisa disebut di seluruh dunia, walaupun wilayah tersebut tak akan mungkin masuk kategori wilayah Minangkabau namun tetap disebut โrantauโ. Filosofi dan tujuan โmerantauโ orang Minang berbeda dengan imigrasi, urbanisasi, atau transmigrasi yang dilakukan kelompok lain.
Banyak orang dari berbagai suku atau etnis yang merantau, di antaranya yang fenomenal adalah kaum Minangkabau. Seorang laki laki Minangkabau saat menginjak usia dewasa muda (20-30 tahun) sudah didorong pergi merantau oleh kultur / budaya adat Minangkabau yang dianut suku sejak dulu kala, entah kapan bermulanya tak bisa diketahui secara pasti. Tapi setidaknya berdasarkan sejarah yang masih bisa ditelusuri sekitar abad ke 7 orang orang atau pedagang Minangkabau berperan besar dalam pendirian kerajaan Melayu di wilayah Jambi sekarang yang pada zamannya berada pada posisi yang strategis dalam perdagangan di Selat Malaka atau Asia Tenggara umumnya.
Masyarakat Minangkabau dikenal punya tradisi merantau yang kuat. Mereka telah mengembara ke wilayah Asia Tenggara lainnya sejak berabad abad yang lalu. Keturunan mereka sampai saat ini masih ada bahkan berkembang di banyak tempat seperti Aceh, Riau, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung atau wilayah Sumatera lainnya dan juga di Jawa,Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina Selatan, dan lain lain.
Suku Aneuk Jamee di Aceh adalah masyarakat keturunan Minangkabau yang nenek moyang mereka telah merantau dari Ranah Minang sejak berabad abad yang lalu. Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar yang dikenal sebagai pejuang gigih dan dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia adalah anak dan keponakan dari Nanta Setia seorang Uleebalang VI Mukim, keturunan seorang perantau Minang yang juga jadi uleebalang di Kesultanan Aceh pada abad ke 18.
Dengan dukungan raja Pagaruyung Minangkabau, pada abad ke 15 perantau Minangkabau sudah mulai bermukim di Negeri Sembilan semenanjung Malaya. Komunitas keturunan perantau Minangkabau di Negeri Sembilan yang pop**asinya cukup banyak akhirnya menjadi sebuah kerajaan dengan raja pertamanya Raja Melewar yang diutus langsung dari Pagaruyung Minangkabau. Pada pertengahan abad ke 20 seorang Raja Negeri Sembilan yang keturunan Minangkabau Tuanku Abdul Rahman diangkat menjadi raja Malaysia pertama dengan gelar Yang di-Pertuan Agong.
Empat orang putera raja Pagaruyung Minangkabau mengembara / merantau ke selatan dan mendirikan ๐๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ด๐ช๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข ๐๐ณ๐ข๐ฌ di wilayah Lampung sekarang. Di Mindanao Selatan (Filipina) keturunan perantau Minangkabau dari ratusan tahun yang lalu masih ada sampai saat ini. Gelar bangsawan mereka โ๐๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ถ๐ข๐ฏโ (Ampu tuan) yang berasal dari Pagaruyung / Minangkabau masih mereka pakai sampai sekarang.
Di Sulawesi Selatan keturunan Datuk Makotta Minangkabau sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Bugis-Makassar sejak ratusan tahun yang lalu.
Di pesisir barat Sumatera Utara mulai dari Natal sampai Sibolga, Sorkam dan Barus keturunan Minangkabau telah bertransformasi dan telah berubah nama menjadi โOrang Pesisirโ. Dahulunya nenek moyang mereka berasal dari wilayah Painan, Padang dan Pariaman. Sampai sekarang bahasa mereka hampir tak ada bedanya dengan bahasa Minangkabau.
Saat masa jayanya Bandar Malaka pada abad ke 15 di semenanjung Malaya, di wilayah Batu Bara dan AsahanSumatera Utara dulunya banyak bermukim komunitas Minangkabau dan menerapkan sistim adat Minangkabau yang matrilineal sebelum berubah jadi patrilineal atas desakanSultan Deli. Saat ini keturunan Minangkabau tersebut telah lebur kedalam masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera Utara.
Tidak hanya di Negeri Sembilan perantau Minangkabau mendirikan kerajaan, pada akhir abad ke 14 seorang perantau Minang lainnya Raja Bagindo juga mendirikan Kesultanan Sulu di Filipina Selatan.
Awang Alak Betatar pendiri Kesultanan Brunei konon berasal dari Minangkabau juga, bahkan saat acara peresmian replika Istana Pagaruyung di tahun 80 an Sultan Brunei Hassanal Bolkiah juga ikut hadir dan sempat mengatakan bahwa leluhurnya berasal dari Pagaruyung Minangkabau.
Kalau ditelusuri lebih jauh lagi ke belakang, sebuah peninggalan sejarah dari abad ke 7 masehi yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh ๐๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ต๐ข ๐๐บ๐ข๐ฏ๐จ setelah bertolak dari ๐๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ข ๐๐ข๐ฎ๐ธ๐ข๐ฏ dengan membawa bala tentara sebanyak 20.000 orang. Ada ahli sejarah yang berpendapat bahwa Minanga Tamwan zaman kuno yang berpusat di hulu sungai Batang Hari atau di hulu sungai Kampar itu adalah Minangkabau sekarang. Mengenai hal ini memang masih belum ada kesamaan pendapat di antara para ahli sejarah, ada yang berpendapat Dapunta Hyang bertolak dari Minanga Tamwan kearah selatan, lalu mendirikan wanua (kerajaan Sriwijaya) setelah menemukan tempat yang dianggap tepat. Sedangkan ahli yang lain berpendapat Minanga Tamwan adalah kerajaan taklukan Dapunta Hyang. Tidak tertutup kemungkinan bahwa pendapat yang pertama dari para ahli sejarah tersebut benar adanya mengingat prestasi yang dicapai orang orang Minangkabau dalam petualangan perantauannya baik dimasa lalu maupun dimasa kini.
Selain perantauan yang bersifat kolektif dan agak masif yang kemudian hari menjadi suatu komunitas bahkan kerajaan, juga ada perantau individual yang merantau ke wilayah yang tidak lazim dijadikan tujuan perantauan orang Minang pada masa itu. Selain Datuk Makotta Minangkabau juga ada tiga orang Datuk yang ulama yaitu ๐๐ข๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ช ๐๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ, ๐๐ข๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ช ๐๐ข๐ต๐ต๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ, ๐๐ข๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ช ๐๐ช๐ณ๐ฐ merantau ke wilayah timur dan menyebarkan agama Islam di wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara pada awal abad ke 17. Sampai saat ini masyarakat setempat tetap mengenang jasa jasa mereka.
Di beberapa wilayah Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah, ๐๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฎ๐ข dikenang masyarakat setempat sebagai pembawa ajaran Islam kedaerah itu.
Di bidang kemiliteran tiga laki laki Minang merantau jauh sampai ke Turki dan menjadi bagian dari pas**an ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ด๐ด๐ข๐ณ๐บ ๐๐ถ๐ณ๐ฌ๐ช yang terkenal hebat pada masanya yaitu awal abad ke 19. Kolonel H. Piobang seorang perwira kavaleri dipercaya menjadi panglima pas**an yang berhasil mengalahkan salah satu pas**an Napoleon dalam perang Piramid di Mesir. Perwira lainnya Mayor H. Sumanik menjadi ahli perang padang pasir bersama H. Miskin. Dikemudian hari setelah p**ang dari perantauan ke Ranah Minang ketiga anggota pas**an Janissary Turki itu berperan besar sebagai pendiri pas**an militer dalam perang Padri.
Sebagian besar dari tokoh tokoh Indonesia dari Minang yang berpengaruh adalah produk โperantauanโ. Bangsa Indonesia tentu tak akan pernah lupa dengan jasa jasa para pejuang dan pahlawan negara ini yang berasal dari Minangkabau seperti ๐๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฌ๐ข, ๐๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฎ๐ข๐ฅ ๐๐ข๐ต๐ต๐ข, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ซ๐ข๐ฉ๐ณ๐ช๐ณ yang dianggap tokoh Indonesia paling penting bersama Soekarno danJenderal Soedirman dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Selain ketiga tokoh tersebut tentu masih banyak tokoh produk perantauan lainnya seperti ๐๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฎ๐ข๐ฅ ๐๐ข๐ต๐ด๐ช๐ณ yang pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se Dunia dan perdana menteri Indonesia, ๐๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฎ๐ข๐ฅ ๐ ๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ yang jadi pelopor Sumpah Pemuda pada tahun 1928, juga ๐๐จ๐ถ๐ด ๐๐ข๐ญ๐ช๐ฎ yang jadi diplomat ulung, bahkan seorang presiden yang di(ter)lupakan ๐๐ด๐ด๐ข๐ข๐ต.
Di bidang agama Minang perantauan juga melahirkan ulama ulama besar seperti ๐๐ฉ๐ฎ๐ข๐ฅ ๐๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฃ ๐๐ญ-๐๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ข๐ธ๐ช orang non Arab pertama yang jadi Imam Besar di Masjidil Haram Mekkah dan ๐๐ข๐ฎ๐ฌ๐ข yang dihormati dan dikagumi tidak hanya oleh umat muslim Indonesia tapi juga umat muslim di negara negara Asia Tenggara lainnya.
Di bidang sastra juga lahir dua orang pionir yaitu ๐๐ฉ๐ข๐ช๐ณ๐ช๐ญ ๐๐ฏ๐ธ๐ข๐ณ pelopor Angkatan โ45 dan ๐๐ถ๐ต๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ฅ๐ช๐ณ ๐๐ญ๐ช๐ด๐ซ๐ข๐ฉ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ข pelopor Pujangga Baru, sementara ๐๐ด๐ฎ๐ข๐ณ ๐๐ด๐ฎ๐ข๐ช๐ญ dikemudian hari digelari Bapak Film Indonesia, dan banyak lagi yang lainnya.
Semua tokoh tokoh besar tersebut adalah produk โperantauanโ. Pencapaian yang tinggi oleh perantau perantau itu akhirnya menimbulkan pertanyaan, apakah tujuan dan filosofi orang orang Minang dalam โmerantau?. Tidak mudah memahami tujuan dan filosofi itu melalui artikel yang pendek ini.
Secara sederhana bisa direnungkan makna dari sebuah pepatah bijak Minangkabau yaitu ๐๐ฅ๐ถ๐ช๐ฌ ๐ฃ๐ข๐ซ๐ข๐ด๐ฐ, ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฃ๐ข๐ฑ๐ถ๐ด๐ข๐ฌ๐ฐ (Hidup berjasa, mati berpusaka) yang berarti selagi hidup harus memberi jasa agar setelah mati meninggalkan pusaka (warisan nama baik) yang bisa dikenang sepanjang masa. Untuk memahami lebih dalam lagi filosofi dan tujuan โmerantauโ orang Minang perlu dibaca karya dari antropolog dan sosiolog ternama Mochtar Naim dalam bukunya โ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ถโ.
Orang orang Minangkabau merantau dengan hati dan pikiran terbuka serta imajinasi yang tinggi. Antropolog Mochtar Naim berpendapat bahwa disamping merantau dan berdagang, pola hidup masyarakat Minangkabau yang sangat menonjol adalah s**a berpikir dan menelaah. Kebiasaan positif tersebut pada akhirnya menghasilkan para pemikir dan tokoh tokoh berpengaruh di nusantara ini. Mereka adalah manusia manusia yang tak cepat berpuas diri, mereka akan menggapai apapun setinggi mungkin. Kemampuan dan keberanian menjelajah dunia lain yang berbeda dengan kampung halaman mereka telah menjadikan kaum itu sebagai perantau ulung yang tercatat dalam sejarah bangsa bangsa nusantara. Salah satu falsafah hidup mereka yang paling penting yaitu ๐๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ฅ๐ช ๐๐ถ๐ณ๐ถ ikut berperan dalam kemampuan mereka beradaptasi dengan alam yang berbeda dengan alam Minangkabau, kampung halaman yang tak pernah mereka lupakan sejauh apapun mereka merantau.
Kebiasaan merantau juga berfungsi sebagai suatu perjalanan spiritual dan batu ujian bagi kaum lelaki Minangkabau dalam menjalani kehidupan. Pada masa lalu kaum lelaki Minangkabau yang biasanya telah menguasai ilmu beladiri silat untuk menjaga diri, berangkat pergi merantau dari kampung ketempat yang jauh hanya berbekal seadanya, bahkan tak jarang tanpa bekal sama sekali. Kehidupan yang keras, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman diharapkan menjadi cobaan untuk menempa jiwa, kegigihan, dan keuletan si lelaki Minang dalam meningkatkan derajat kehidupannya.
Pada masa sekarang, dalam periode di negeri orang inilah orang Minang yang merantau mencari bidang kehidupan yang mereka minati. Bagi yang ingin berniaga atau wiraswasta mereka memilih menjadi pedagang. Banyak bidang usaha yang bisa mereka geluti seperti berdagang di pasar, mengelola usaha angkutan, usaha percetakan, penjahit pakaian, usaha rumah makan atau restoran Padang dan banyak lagi yang lain.
Karena didorong oleh jiwa merdeka, sedikit di antara mereka yang merantau untuk mencari pekerjaan sebagai orang gajian. Bagi yang bertujuan menimba ilmu merekapun masuk sekolah sekolah yang baik. Tak jarang mereka dijadikan pemimpin di komunitas perguruan tersebut. Banyak di antara mereka menjadi orang besar dikemudian hari, baik sebagai tokoh pengusaha, politisi, dokter, ilmuwan, birokrat, seniman, profesional, ulama, militer dan polisi, dan lain lain.
Bila keadaannya dianggap sudah cukup mapan atau sukses setelah jangka waktu tertentu, maka barulah ia akan p**ang ke kampung halamannya yang telah lama ditinggalkan. Tidak jarang p**a para perantau ini lalu berkeluarga, dan akhirnya menetap di perantauan. Bagi orang Minangkabau, fenomena ini disebut โ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ถ ๐๐ช๐ฏ๐ฐโ atau merantau selamanya dan tak kembali lagi.
Suatu masalah yang belum banyak dikaji tentang para perantau Minang masa kini adalah mengenai perubahan sistem nilai serta kehidupan sosial mereka. Secara umum terdapat kesan bahwa para perantau Minang masih tetap menganut agama Islam dengan taat, akan tetapi dalam hubungan sosialnya sudah mulai kurang menggunakan warisan adat tradisional seperti โ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ถ๐ช๐ฌโ, โ๐ฌ๐ข๐ถ๐ฎโ ๐ข๐ต๐ข๐ถ โ๐ด๐ถ๐ฌ๐ถโ, dan lebih banyak berhimpun dalam satuan nagari asal. Salah satu perhimpunan warga Minang yang paling terkenal dan terorganisasi dengan baik adalah Sulit Air Sepakat atau SAS. Sulit Air Sepakat atau SAS punya kantor perwakilan di banyak kota besar di Indonesia dan beberapa di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan lain lain.
Adalah menarik perhatian, bahwa pada umumnya para perantau Minang ini mampu menyesuaikan diri dengan adat istiadat serta kebudayaan daerah rantaunya, yang antara lain terlihat pada hampir tidak pernahnya terjadi konflik dengan masyarakat tempatan yang menjadi tuan rumahnya. Mungkin sekali hal ini disebabkan oleh pepatah bijak Minangkabau yang berbunyi: ๐๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฐ ๐ฃ๐ถ๐ฎ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ช๐ซ๐ข๐ฌ, ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ต๐ถ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ซ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ yang bermakna menghargai kultur dan budaya setempat tanpa harus kehilangan kultur dan budaya sendiri.
Saat ini diperkirakan lebih dari setengah jumlah warga suku Minangkabau hidup dan berkembang di wilayah perantauan, baik di Indonesia maupun mancanegara, perkiraan itupun tidak memasukkan keturunan Minangkabau yang telah merantau dan berkembang sejak sekurangnya 1000 tahun yang lalu diberbagai wilayah di nusantara atau bahkan dunia pada masa modern ini. Banyak di antara keturunan mereka telah bertransformasi menjadi orang โ๐๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ณ๐ถโ atau bahkan suku suku baru seperti โ๐๐ฏ๐ฆ๐ถ๐ฌ ๐๐ข๐ฎ๐ฆ๐ฆโ di Aceh, โ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ด๐ช๐ด๐ช๐ณโ di pantai barat Sumatera Utara, โ๐๐จ๐ฉ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฐ๐จ๐ฐ๐จ๐ฉ๐ชโ di Negeri Sembilan, dan entah apa lagi namanya di wilayah wilayah lain yang sudah lama terputus tali sejarah dan tali persaudaraannya dengan Minangkabau.
Bahkan terbetik berita tentang keturunan Pagaruyung Minangkabau yang โterdamparโ di pedalaman Kalimantan Barat di sebuah negeri bernama Kudangan, yang oleh masyarakat setempat diakui sebagai leluhur mereka. Perantau Minangkabau yang fenomenal telah melahirkan suku suku baru di nusantara ini, dan ini adalah sesuatu yang alami dalam dinamika kehidupan alam. Banyak di antara mereka yang tak mengenal lagi kampung halaman nenek moyang mereka yang hebat, yang jauh di pedalaman Sumatera bagian tengah, di dataran tinggi bergunung gunung gagah yang memberi hawa sejuk dan di lembah berdanau danau indah yang pinggirannya jadi tepian mandi sejak dulu kala sampai masa kini.