26/02/2026
Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah.
Ini bukan sekadar kisah sejarah.
Ini adalah tragedi yang menggetarkan langit dan meninggalkan luka panjang dalam tubuh umat.
Seorang khalifah tua, lembut, pemalu, dan dermawan…
dikepung selama puluhan hari di rumahnya sendiri,
diputus air dan makanan,
lalu dibunuh saat sedang membaca Al-Qur’an.
Dan darahnya jatuh di atas mushaf.
Saudagar Kaya yang Dijaga Langit
Mekah abad ke-6 adalah panggung para saudagar.
Orang berlomba mengumpulkan dirham, membangun gengsi, dan membesarkan nama kabilah.
Di tengah gemerlap itu berdiri seorang pemuda dari Bani Umayyah:
Utsman bin Affan.
Hartanya melimpah.
Perdagangannya menembus negeri-negeri besar.
Namun hidupnya bersih.
Ia tidak menyentuh khamar.
Tidak meninggikan suara.
Sangat pemalu—hingga Rasulullah ﷺ bersabda bahwa malaikat pun malu kepadanya.
Di masa ketika banyak orang belum bisa membaca,
Utsman sudah mampu menulis dan membaca.
Kaya… tapi lembut.
Berkuasa… tapi sederhana.
Dermawan… tanpa panggung.
Masuk Islam Tanpa Drama
Tahun keenam kenabian, Abu Bakr mengajaknya masuk Islam.
Tidak ada tawar-menawar.
Tidak ada perhitungan politik.
Ia langsung menerima.
Tekanan keluarga datang. Ancaman berdatangan.
Namun ia tetap tegak.
Ia menikahi Ruqayyah, putri Rasulullah ﷺ.
Hijrah ke Habasyah.
Hijrah ke Madinah.
Ketika Ruqayyah wafat, ia menikahi Ummu Kultsum.
Dua putri Nabi dinikahinya.
Sejak itu ia dikenal dengan gelar:
Dzun Nurain – Pemilik Dua Cahaya.
Khalifah Tertua dengan Prestasi Terbesar
Tahun 644 M, setelah wafatnya Umar bin Khattab,
Utsman diangkat menjadi khalifah pada usia sekitar 70 tahun.
Di masa pemerintahannya:
Wilayah Islam meluas hingga Armenia, Khurasan, dan Afrika Utara
Armada laut Islam pertama mengalahkan Bizantium
Masjid Nabawi diperluas
Sumur Rumah dibeli dan diwakafkan untuk umat
Bantuan pangan dikirim saat paceklik
Budak dibebaskan setiap Jumat
Namun yang paling monumental adalah:
Standarisasi Mushaf Al-Qur’an
Ketika perbedaan bacaan mulai memicu perselisihan,
Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit menyusun mushaf resmi,
menyalinnya, dan mengirimkannya ke seluruh wilayah.
Tujuannya satu:
menyatukan umat.
Namun… kebijakan besar sering melahirkan tuduhan besar.
Fitnah yang Membesar
Ketika beberapa kerabatnya diangkat sebagai gubernur,
tuduhan nepotisme pun meledak.
Propaganda menyebar.
Delegasi dari Mesir, Kufah, dan Basrah datang ke Madinah.
Rumah khalifah dikepung.
Air diputus.
Makanan ditahan.
Selama 40 hari.
Para sahabat siap membela.
Ali mengirim Hasan dan Husain berjaga.
Para pemuda Anshar menghunus pedang.
Tapi Utsman berkata:
“Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang menumpahkan darah umat setelah Rasulullah.”
Ia memilih bersabar.
Pilihan yang tampak lembut,
namun seberat gunung.
Hari Terakhir Sang Khalifah
Jumat, 18 Dzulhijjah 35 H.
Utsman sedang berpuasa.
Duduk membaca mushaf di rumahnya bersama istrinya, Nailah.
Para pemberontak menerobos masuk.
Muhammad bin Abu Bakr sempat mencengkeram jenggotnya…
lalu mundur saat diingatkan tentang ayahnya.
Namun yang lain tidak berhenti.
Pukulan datang dari belakang.
Tebasan menyusul.
Tusukan menghujam.
Nailah berusaha melindungi suaminya.
Jari-jarinya terpotong.
Darah mengalir…
menetes ke mushaf yang sedang dibaca
pada ayat-ayat tentang kesabaran.
Di sanalah makna judul ini lahir:
Satu Mushaf Berdarah
Syahid dalam Kesunyian
Utsman wafat dalam keadaan puasa pada usia 82 tahun.
Jenazahnya tertahan tiga hari.
Dimakamkan diam-diam di Jannatul Baqi’.
Tanpa upacara.
Tanpa pengawalan.
Hanya sunyi dan pilu.
Warisan yang Tak Pernah Mati
Ia adalah khalifah yang:
membeli sumur untuk umat
memperluas masjid dengan hartanya sendiri
menyatukan mushaf agar umat tidak terpecah
Namun ia gugur oleh fitnah yang mengatasnamakan perbaikan.
Ia bisa mempertahankan kekuasaan dengan pedang.
Tetapi ia memilih mempertahankan persatuan dengan nyawanya.
Jejak Darah di Setiap Mushaf
Empat puluh hari pengepungan itu bukan sekadar sejarah.
Itulah retakan pertama yang dampaknya terasa hingga hari ini.
Dan setiap kali mushaf Utsmani dibaca…
seakan ada jejak darah seorang lelaki tua
yang memilih kesabaran daripada perang saudara.
**Empat puluh hari dikepung.
Satu mushaf berdarah.
Kesabaran yang tak pernah mati.**