08/07/2026
*Dua Santri korban Yang dibakar hidup-hidup di Ponpes Lombok Tengah Tidak lagi dicover BPJS setelah Lapor Polisi*
Satu temannya meninggal, Mereka diancam kalau melapor, setelah 6 bulan menunggu itikad baik dari pimpinan ponpes untuk bertanggung jawab, Awal Juni barulah pihak keluarga memberanikan diri untuk Lapor di polres Praya.
Bukannya keadilan, setelah melaporkan kejadian tersebut, Biaya berobat tidak lagi di tanggung BPJS dan dipaksa untuk membayar rumah sakit puluhan juta Rupiah. Setiap dua kali seminggu harus bayar biaya ratusan ribu satu kali kontrol, membayar transportasi pulang pergi dari Batukliang ke RSUD NTB Di Mataram, orang tua tidak lagi fokus bekerja sebagai tukang dan buruh bangunan, seharian mendampingi anaknya di Rumah sakit sampai tidak makan karena tak lagi punya biaya.
Apalah daya, orang tua kedua korban hanyalah buruh dan tukang bangunan yang bekerja hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam kondisi pas-pasan, pihak keluarga harus mencari pinjaman sana sini dan membayar mahal biaya rumah sakit untuk kesembuhan anaknya. "Meski setiap hari korban berteriak kesakitan atas perihnya luka bakar yang dialaminya, bukan lah urusan rumah sakit.
*tidak mungkin hanya menunggu Balasan dan Keajaiban Tuhan, keadilan harus ditegakkan melalui tangan dan lidah kita sendiri*
*Janji syurga yang ditawarkan oleh Pondok Pesantren tempat mereka menimba ilmu, justru malapetaka yang di dapatkan*. Atas kelalaian pengelola Ponpes, kakak kelasnya begitu bebas melakukan kejahatan, adik tingkatnya dibakar hidup-hidup di kamar Asrama Ponpes dan dikunci dari luar. satu orang meregang nyawa di rumah sakit, Dua anak yang selamat dari kematian cacat seumur hidup akibat luka bakar di sekujur tubuhnya.
Usianya baru 12 tahun, kelas 1 SMP, orang tuanya hanya buruh dan tukang bangunan, Mereka dipaksa menerima begitu saja tragedi yang menimpa nya, seolah itu tragedi yang sudah digariskan oleh Tuhan, sementara pelaku pembakaran dan Pimpinan Ponpes sampai hari ini tidak ada satupun yang berani sentuh.
Demi menutupi kejahatan di Pondok pesantren, atas nama, "nama baik Ponpes" dan "nama baik Pimpinan Ponpes", mereka dipaksa menelan pil pahit tanpa ada perhatian serius dari pemerintah.
Mungkinkah Pelaku dan Pimpinan Ponpes tempat Mereka mondok orang paling berpengaruh di Lombok Tengah? Mengapa Bupati, Departemen Agama dan Dinas Pendidikan seolah menutup mata atas tragedi ini, sampai tega membiarkan kedua anak tak berdosa ini harus menanggung sendiri akibat kelalaian orang tua di tempat mereka mondok.
Apakah pimpinan Ponpes Tersebut mentauiladani baginda Nabi Besar Muhammad SAW? Jika iya, maka pimpinan Ponpes tersebut adalah orang paling pertama membela santri yang diperlakukan tidak adil dan menghukum dengan keras santri yang melakukan kejahatan. Ataukah Pimpinan Ponpes tersebut sedang menikmati kekayaan yang diperoleh melalui janji syurga dan ayat-ayat suci yang sering dilontarkan.
*Wallahualam bissawab kehilangan makna ketika kita takut bicara jujur demi menutupi perkara*
Meskipun kita mengucapkan Wallahualam bissawab, kita tetap harus mendesak pimpinan Ponpes bertanggung penuh dan pemerintah tidak boleh menutup mata atas tragedi ini.
Tidak mungkin menyalahkan Tuhan demi nama Baik Ponpes. Tidak mungkin menyalahkan Nabi dan Rasul demi menjaga nama baik pimpinan Ponpes, kita tidak boleh berdamai dengan ketidak adilan, tidak boleh membiarkan siapapun bebas menganiaya orang lain. Anak harus dilindungi, pelajar harus dijamin keamanan dan keselamatan nya, jika kita mengabaikan tragedi ini, kita semua gagal menjadi manusia.
*Meski diterpa Banyak skandal, Animo Masyarakat cukup tinggi masuk Ponpes, Apakah karena biaya pendidikan yang murah atau janji syurga yang ditawarkan oleh elit-elit Agama?*
Foto: Dua korban Yang dibakar hidup-hidup di Pondok Pesantren "Rosudatus Saulatiah Al- Ibrahim Desa Mantang Kec. Batukliang Lombok Tengah
1. Sahid al hudri (12)
2. Ahmad deven ramdan(12)
3. Sabirin (12) meninggal Dunia
Ket: Foto diambil Selasa Siang pukul 11.55 Wita di RSUD NTB
Note: meski sering terjadi kekerasan dan pencabulan, orang Tua Terlena dengan janji syurga yang ditawarkan sehingga mengirim anaknya ke Ponpes.