Explore Enjoy Repeat

Explore Enjoy Repeat Halo, saya Yani Lauwoie. Penulis buku traveling, "Explore, Enjoy & Repeat (Catatan Perjalanan dari 20 Negara). Di sini saya akan berbagi kisah perjalanan saya.

Jangan lupa like dan follow ya :) TAKI is Indonesian brand that produce bags & shoes as main products. We use genuine leather (lamb, goat and cow) and Indonesian tenun for the main material. Every tenun has their own uniqueness motive. We bring this uniqueness to our products. Not only unique, our design also exclusive because all of the products handmade (not factory).

Perihal keberadaan Red Light District di Amsterdam, Belanda saya sudah tahu sejak lama namun benar-benar bisa menyaksika...
20/05/2026

Perihal keberadaan Red Light District di Amsterdam, Belanda saya sudah tahu sejak lama namun benar-benar bisa menyaksikannya dengan mata kepala sendiri baru terjadi pada tahun 2018.

Saya mendatangi area prostitusi ini melalui jasa free walking tour yang saya ikuti ketika berada di Amsterdam. Pemandu saya saat itu, Rocco menjelaskan ada empat hal yang membuat area ini sangat mendunia. Pertama, prostisusi dilegalkan di Belanda sehingga Red Light District ini bisa beroperasi secara bebas dengan sepengetahuan pemerintah.

Kedua, semua wanita yang bekerja di sini adalah self-employed, dalam artian mereka yang menentukan sendiri peraturan yang mereka mau, seperti berapa harga untuk jasa mereka, apa yang mereka mau dan tidak mau lakukan ketika bercinta, dan siapa tamu yang mau mereka terima..

Ketiga, tempat ini memiliki area yang luas. Alasan terakhir, letaknya berada di pusat kota yang dekat dengan gereja Katholik.

“Saya sempat mengobrol dengan sekitar lima wanita pekerja seks di sana. Mereka memang sengaja memilih pekerjaan tersebut karena mereka senang menjalaninya dan itulah profesi mereka,” ungkap Rocco.

Selanjutnya sang pemandu yang merupakan orang Belanda ini menjelaskan kenapa pemerintah memutuskan untuk melegalisasi prostitusi. Menurutnya, salah satu alasannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada wanita yang memang ingin menjalani profesi tersebut. Namun selain itu, dengan adanya peraturan yang tegas diharapkan bisa mencegah perdagangan perempuan. Namun sayangnya orang-orang tak bertanggungjawab tetap bisa menemukan celah untuk melakukan pelanggaran.

Sebelum memasuki area Red Light District, Rocco memperingati semua peserta tur untuk tidak mengambil gambar mereka dan menghormati mereka. “Karena biar bagaimanapun mereka adalah manusia yang harus kita hormati,” pesan Rocco.

Berusaha mengikuti pesan Rocco, saya sebisa mungkin berusaha menjaga mata saya dan tidak terlalu banyak memeloti tiap rumah yang saya lewati. Namun saya tidak bisa menutupi rasa terkejut ketika saya melihat seorang wanita paruh baya memakai lingerie menempel di jendela.

Saya tidak tahu mana yang membuat saya lebih terkejut, posenya yang menempel di jendela, usianya yang sudah paruh baya yang sangat terlihat jelas pada tampilannya, badannya yang sedikit gempal, atau karena rambut keritingnya yang megar. Yang jelas saya kaget ketika saya berjalan melewatinya.

Saya kembali teringat ucapan Rocco bahwa wanita-wanita ini bekerja karena mereka senang dengan profesi yang mereka jalani. Bila sang wanita di jendela yang baru saja saya lihat itu termasuk dari mereka, saya penasaran apa yang dis**ainya dari profesi tersebut sehingga ia tetap menjalaninya di usianya yang sudah tidak muda lagi.

Foto: Nggak boleh foto rumah-rumah dengan lampu merahnya, jadi saya foto areanya saja.

Rumput tetangga memang lebih hijau! Ini juga berlaku untuk urusan kulit. Bila di Indonesia orang-orang heboh memutihkan ...
18/05/2026

Rumput tetangga memang lebih hijau! Ini juga berlaku untuk urusan kulit. Bila di Indonesia orang-orang heboh memutihkan kulit, di Irlandia kebalikannya. Mereka ingin kulit cokelat seperti kita. Sampai-sampai salon pencokelat kulit tersebar di mana-mana.

Salah satu salon ini bernama The Tanning Shop yang berada di Bachelor's Walk Street, Dublin 1. Berada dekat dengan hostel saya, membuat saya beberapa kali melewati salon ini. Di kaca salon ini terpampang poster yang isinya memberikan penawaran potongan harga dengan seorang wanita berkulit cokelat sedang memakai bikini kuning sebagai ilustrasinya.

Melihat poster ini membuat saya tersenyum. Pasalnya poster jenis ini serupa dengan poster-poster yang dipasang di salon-salon kecantikan di Indonesia. Bedanya adalah hasil yang ditawarkannya. Yang satu menawarkan kulit cokelat sedangkan satu lagi menawarkan kulit putih sebagai hasil akhir.

Satu kali saya sempat melewati tempat ini bersama Michael, yang merupakan pria Irlandia. Dengan iseng saya bertanya apakah dia pernah mencoba mencokelatkan kulit. Begini kurang lebih percakapan kami:

"Kamu pernah mencoba mencokelatkan kulit?"
"Pernah."
"Hah? Serius?" saya yakin wajah saya terlihat kaget. Pasalnya saya tidak melihat Michael sebagai seseorang yang akan melakukan hal seperti itu.
"Dulu. Waktu masih muda. Saat mau liburan musim panas." Michael terlihat agak malu. Mungkin karena reaksi saya yang tetap menatapnya tidak percaya.
"Lalu hasilnya bagaimana?"
"Lumayan keren, kok!"

Mendengar jawaban Michael, saya langsung tergelak. Geli sendiri membayangkan pria berkulit pucat ini berubah menjadi cokelat.

Saya pun bercerita kepada Michael bahwa di Indonesia yang terjadi adalah kebalikannya. Orang-orang berlomba-lomba untuk memutihkan kulitnya. Kali ini Michael yang tercengang mendengar perkataan saya. "Tapi aku nggak pernah mencoba memutihkan kulit," kata saya menjawab tatapan herannya.

"Bagus. Jangan pernah melakukan itu karena kulitmu bagus," pujinya, tulus. Saya tersenyum mendengar perkataannya. Ah, seandainya semua wanita di Indonesia mendengar perkataan Michael pasti salon-salon pemutih kulit di sini tidak laku.

Foto: Dok. Tanning Salon

Saat di Australia, saya sempat menonton film Guardians of The Galaxy Vol. 2 di bioskop Village Cinemas di 194-200 Ryrie ...
16/05/2026

Saat di Australia, saya sempat menonton film Guardians of The Galaxy Vol. 2 di bioskop Village Cinemas di 194-200 Ryrie St, Geelong, Victoria, Australia. Saya tidak akan menceritakan bagaimana atau kenapa saya s**a dengan film tersebut. Saya lebih tertarik untuk menceritakan bioskopnya.

Layaknya seperti bioskop-bioskop di Indonesia, di sini juga terdapat loket pembelian tiket meskipun bisa juga membeli tiket secara online. Setelah membeli tiket, saya dan teman-teman nonton saya masuk ke teater 8. Karena saya tidak memegang tiket, jadi saya tidak tahu di mana posisi kami harus duduk. Saya mulai heran, ketika salah satu teman menonton saya bilang, "Di sini kayaknya oke," kata dia sambil masuk ke dalam barisan tengah. Saya bingung melihat dia yang memilih duduk berdasarkan lokasi yang dis**ainya. Memangnya kita bisa duduk seenaknya?

Setelah duduk, saya pun mulai menoleh kiri kanan dan memperhatikan kursi-kursi yang ada di sekitar saya. Tidak ada nomornya. Wah, jadi ini bioskop free seating, ya? "Namanya unallocated seating," katanya. Kebalikan dari allocated seating, di mana nomor kursi sudah ditentukan.

Saya kaget mendengar perkataannya karena saya tidak familiar dengan konsep unallocated seating untuk bioskop. Tiap kali saya nonton di 21, XXI, atau Blitzmegaplex di Indonesia selalu ada nomor kursinya dan penonton harus duduk di kursi dengan nomor yang sama yang tertera di tiketnya. Kecuali saya menonton film di acara nonton bareng yang diadakan oleh kantor atau nonton film karena undangan preview atau premiere saat masih bekerja menjadi wartawan, duduknya baru bisa bebas.

Dengan konsep unallocated seating ini, siapa cepat dia dapat posisi duduk terbaik yang diinginkan. Sebenarnya ketentuan siapa cepat dia dapat ini sama saja sih, diterapkan di bioskop allocated seating karena toh, ketika kita paling cepat datang ke bioskop dan membeli tiket kita bisa memilih posisi atau nomor kursi terbaik yang kita mau. Lalu di mana bedanya?

Bedanya adalah ketika kita sudah memegang tiket dengan nomor kursi tertentu kita tidak perlu terburu-buru masuk ke dalam teater. Kita bisa masuk sangat mepet ketika film mau diputar. Toh kursi kita tidak akan ada yang mengambil. Nah, untuk unallocated seating tidak demikian. Kita harus cepat masuk ke dalam teater untuk mengamankan posisi strategis.

Situasi ini dimanfaatkan oleh pihak bioskop untuk menayangkan sebanyak mungkin iklan. Contohnya ketika saya menonton Guardian of the Galaxy Vol. 2. Tertulis di jadwal, film tersebut diputar pukul 17.30 tapi nyatanya film baru diputar pada pukul 18.00. 30 menit sebelumnya diisi oleh iklan. Benar-benar iklan non stop selama 30 menit!

Mungkin untuk orang-orang yang sering menonton sudah tahu dengan adanya penayangan iklan ini. Mereka tahu bahwa film tidak akan diputar tepat seperti yang tertulis di jadwal. Tapi dengan adanya konsep unallocated seating, penonton tidak mau mengambil risiko datang mepet dan berakhir dengan duduk di kursi paling depan. Saya saja malas kalau disuruh nonton di kursi paling depan. Lebih baik nonton iklan deh, selama 30 menit daripada leher pegal karena mend**gak.

Lalu apakah saat itu banyak orang yang menonton film Guardians of The Galaxy Vol. 2 dan membuat teaternya penuh? Jawabannya tidak! Yang menonton hanya ada 10 orang termasuk rombongan saya yang berjumlah empat orang. Padahal tersedia 188 kursi.

Fakta tersebut tidak mengubah pemikiran saya bahwa bioskop ini cerdas memanfaatkan konsep unallocated seating untuk menambah pemas**an melalui iklan dengan memainkan psikologi orang yang ingin datang cepat ke bioskop demi mendapatkan posisi duduk terbaik.

Tapi tidak semua bioskop di Australia menggunakan konsep unallocated seating. Saya pernah nonton di bioskop Imax Melbourne yang merupakan bioskop dengan layar terbesar ketiga di dunia, konsep duduknya menggunakan allocated seating.

Bukan hanya Australia saja, negara yang juga membuat saya terkagum-kagum akan self-service-nya adalah Denmark. Bagaimana...
14/05/2026

Bukan hanya Australia saja, negara yang juga membuat saya terkagum-kagum akan self-service-nya adalah Denmark. Bagaimana tidak? Di sini, check-in hotel pun harus sendiri.

Saat di Copenhagen, saya, dan kedua teman saya, Asri dan Stacey menginap di Urban House Copenhagen by MEININGER. Lokasi penginapan ini sangat strategis karena hanya berjarak 2 menit jalan kaki dari Central Stasiun. Begitu sampai hotel waktu sudah menunjukkan pukul 21.20. Saya pun celingak-celinguk mencari di mana letak resepsionis sampai akhirnya saya melihat sebuah tulisan di dinding yang berbunyi seperti ini:
Check-in Here:
From 1 pm: pick up your room details here.
From 3 pm: Access your room!
Codes are activate from 3 pm.


Lalu di bawah tulisan tersebut terdapat dua buah monitor. Saya pun mendekati salah satu monitor sambil masih menerka-nerka apa yang harus saya lakukan. Ketika tangan saya sudah menyentuh layarnya, di sana tertulis booking code atau nama belakang. Saya pun memasukkan nama belakang saya yang kemudian keluarlah nama lengkap saya. Sebelum saya sampai ke proses selanjutnya, tiba-tiba seorang pria menawarkan bantuan. Mungkin dia bisa melihat raut kebingungan di wajah saya.

Saya pun menjelaskan kepadanya bahwa kami mau check-in. Lalu dia melihat ke layar dan melihat nama saya di layar dan memencet salah satu menu di layar, setelah itu keluarlah dari mesin kecil di samping monitor sebuah kertas dengan ukuran sekitar sebesar karcis bioskop.

“Ini nomor kamar kalian dan ini kode untuk masuk kamar,” ucapnya sambil menyerahkan karcis tersebut ke saya. Lalu saya bertanya mengenai wifi dan dia bilang penginapan menyediakan free wifi, hanya perlu memasukkan email saja. Kemudian dia pergi ke arah bar. Rupanya pria tersebut adalah pekerja kafe yang lokasinya berada di lobi penginapan. Dia bukan resepsionis karena penginapan ini menggunakan sistem self-check-in. Wow! Baik saya maupun Asri dan Stacey terkagum-kagum dengan hal ini karena kami belum pernah menginap di penginapan yang tidak punya resepsionis sebelumnya.

Selain penginapan tersebut, saya juga sempat terkagum-kagum saat melihat kios Starbucks di Copenhagen Airport, Kastrup. Starbucks memang tersebar di mana-mana, termasuk di bandara berbagai negara. Namun Starbucks yang tidak ada penjual atau pelayannya, baru kali pertama saya lihat di Denmark.

Kios ini benar-benar tak berpenghuni. Siapun yang mau membeli kopi, tinggal memilih pesanan, membayar dan ‘membuat’ kopi sendiri alias meletakkan gelas di bawah saluran keluarnya kopi. Semuanya bisa dilakukan melalui mesin. Luar biasa.

Masih dari Australia. Setelah sempat dibuat bingung dengan self-service di supermarket, kali ini saya dibuat tercengang ...
12/05/2026

Masih dari Australia. Setelah sempat dibuat bingung dengan self-service di supermarket, kali ini saya dibuat tercengang karena menemukan kios kecil yang menjual telur namun tidak ada penjualnya.

Hari ini saya diajak seseorang untuk menemaninya membeli telur ayam ke peternakan. Saya sebenarnya bingung sih, kenapa harus membeli telur jauh-jauh ke peternakan dan bukan ke supermarket saja. "Soalnya telur di sini lebih fresh," ia menjawab kebingungan saya.

Setelah sekitar 15 menit berkendara dari Highton, Victoria, laju mobil yang kami kendarai melambat. Kami sudah sampai di Rocklea Free Range Farm, 159 Friend In Hand Rd, Stonehaven, Victoria. Mobil benar-benar berhenti ketika kami berada di depan sebuah kios kecil yang terbuat dari kayu. Di belakang kios tersebut terdapat sebuah rumah besar dengan lahan pekarangan yang luar biasa luas.

Ia meminta saya untuk menunggu di mobil saja ketika dia mau membeli telur. Awalnya saya menurut saja. Tapi ketika saya melihat dia hanya seorang diri di depan kios tersebut, saya langsung merasa ada yang aneh dengan kios tersebut. Saya pun turun dari mobil dan mendekat ke kios. Dia sedang membuka kotak yang berisi telur-telur yang sudah tertata rapi dalam kotak telur.

Di dalam kios tersebut hanya ada dua kotak hitam besar yang berisi telur-telur. Kemudian di dinding tengah terdapat daftar harga yang ditulis di papan tulis kecil. Daftar harganya ada beberapa tergantung besar kecilnya telur yang dipilih. Di dinding kiri dan kanannya terdapat foto-foto yang berisi gambar telur, ayam, dan anjing yang terlihat sedang menjaga ayam-ayam.

Lalu di mana penjualnya? Sama sekali tidak ada. Tidak ada seorangpun yang menjaga kios tersebut. Jadi setelah memilih telur mana yang diinginkannya, ia pun memasukkan uang kertas senilai 5 AUD dan dua uang koin masing-masing senilai 1 AUD ke dalam kotak hitam kecil yang ada di dekat kotak hitam telur. Saya sudah sering melihat konsep self-service di Australia. Tapi self-service jual beli telur ayam ini benar-benar membuat saya tercengang.

Penjual menjual telur-telur ini dengan konsep dasar kepercayaan. Bagaimana bila pembeli tidak jujur memasukkan uang dengan jumlah yang seharusnya ke dalam kotak uang? Lebih parah dari itu, bagaimana bila ada pencuri yang membawa kabur semua telur dalam kios itu? Saya benar-benar tidak habis pikir.

Saat kami kembali ke dalam mobil, seorang pria keluar dari arah pekarangan rumah dengan mengendarai quad bike. Dia kemudian meletakkan beberapa kotak telur ke dalam kotak hitam. Kemudian dia kembali ke quad bike-nya. Tepat bersamaan dengan mobil lain yang berhenti di dekat kios. Seorang ibu keluar dari mobil tersebut, mengambil telur dan memasukkan uang ke dalam kotak uang.

Ketika si Ibu membeli telur, pria dengan quad bike tersebut sama sekali tidak mendekat ke kios. Ia tetap berada di atas quad bike-nya. Ia benar-benar percaya bahwa siapapun yang membeli telur-telurnya akan membayar sesuai harga yang seharusnya. Melihat itu saya benar-benar tidak bisa berkata-kata. Entah orang Australia memang jujur-jujur atau sang penjual menjual dagangannya dengan konsep ikhlas. Luar biasa!

Konsep self-service dalam artian memilih dan mengambil sendiri barang-barang yang ingin kita beli di supermarket bukan h...
10/05/2026

Konsep self-service dalam artian memilih dan mengambil sendiri barang-barang yang ingin kita beli di supermarket bukan hal asing buat saya. Namun memindai serta melakukan pembayaran sendiri hasil belanjaan tersebut benar-benar hal baru buat saya. Sempat bikin panik dan bingung.

Sore itu, saya masuk ke supermarket Coles yang ada di Elizabeth Street (dekat Flinder Street Station), Melbourne, Australia untuk membeli sebungkus kopi. Setelah sibuk memilih-milih aneka kopi bungkusan yang tersedia, saya pun memutuskan membeli satu bungkus di antaranya. Karena Coles hampir tutup saya segera bergegas menuju kasir untuk membayar.

Dekat kasir sudah banyak orang mengantri. Di antara antrian yang cukup panjang itu, tiba-tiba terdengar seorang petugas yang kurang lebih berkata seperti ini: "Siapa lagi yang mau bayar pakai kartu? Yang mau bayar pakai kartu bisa langsung ke sini." Karena saya niat bayar pakai uang tunai, saya pun mengacuhkan suara tersebut.

Tiba-tiba antrian di depan saya pun terbagi menjadi dua. Saya pun langsung mengambil yang antriannya paling pendek. Tidak lama, antrian di depan saya pun kosong. Sang petugas lalu meminta saya maju dan menunjuk ke sebuah mesin. Lalu dia kembali sibuk mengarahkan pembeli lain. Saya pun sendirian memandangi mesin tersebut. Apa yang harus saya lakukan dengan mesin ini?

Saya menoleh ke samping saya, seorang wanita sedang memindai barang-barang yang dibawanya. Dari situ saya paham, oh ini adalah mesin pembayaran memakai kartu yang tadi diumumkan petugas. Lalu saya pun memandangi mesin tersebut. Membaca kata-kata berbahasa Inggris di layar. Aduh, saya harus mulai dari mana ini? Tombol apa yang harus saya pencet? Akhirnya saya pun memencet salah satu tombol yang tersedia. Tapi tidak ada reaksi apa-apa. Saya mulai panik. Tenang Yani, tenang Yani. Itu kata-kata yang saya ucapkan terus menerus dalam hati saya.

Di tengah kebingungan, seorang petugas menghampiri saya. Mungkin dia melihat kebingungan saya. Setelah memencet sebuah tombol, dia pun mempersilakan saya memindai kopi saya. Lalu meninggalkan saya. Saya berhasil memindai kopi yang saya beli. Terbukti langsung keluar namanya dan harganya di layar mesin. Setelah itu, saya menggesek kartu kredit saya. Lalu, voila keluarlah struk pembelian dari mesin tersebut. Selesai sudah pengalaman saya membayar sendiri barang belanjaan saya. Pffuuiihh...

Setelah meninggalkan Coles, timbul pemikiran di benak saya. Dengan adanya mesin pembayaran sendiri (saya melihat deretan mesinnya cukup banyak) dan tanpa adanya petugas yang mendampingi masing-masing mesin, itu berarti mereka cukup percaya bahwa tiap orang yang melakukan pembayarannya sendiri tidak akan melakukan tindakan penyelewengan. Bisa saja d**g, satu atau dua barang tidak melakukan pemindaian dan langsung masuk kantong belanja? Bisa jadi juga karena mereka memiliki pengamanan yang sangat ketat atau orang Australia yang sangat taat aturan. Punya pemikiran yang berbeda?

Hari itu, di bulan Oktober 2015, saya dan teman saya, Asri mengunjungi Rottnest Island, yang terletak di Australia Barat...
08/05/2026

Hari itu, di bulan Oktober 2015, saya dan teman saya, Asri mengunjungi Rottnest Island, yang terletak di Australia Barat. Dari Perth kami naik kapal feri menuju pulau yang biasa disebut Rotto ini. Pulang dari Rotto kami sengaja turun di Fremantle untuk menjelajah. Karena Fremantle merupakan kota yang tidak besar, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk jalan-jalan di sini. Ketika sudah gelap, kami pun memutuskan balik ke Perth dengan kereta.

Bangunan stasiun kereta Fremantle sangat bagus, bikin saya terus-menerus memotretnya. Nah, saat saya sedang asyik foto-foto, Asri heboh teriak-teriak. Dia panik karena berasumsi loket penjual tiket kereta sudah tutup. Dia pun mengira kereta yang ada di depan kami akan segera jalan. Meskipun saya sudah bilang kepadanya bahwa di jadwal, kereta baru akan jalan sekitar 30 menit lagi. Tapi kayaknya kepanikan lebih menguasainya. "Terserah ya, kalau lo mau ketinggalan kereta," katanya.

Dengan muka panik, Asri bertanya kepada petugas yang berjaga. Begini kurang lebih percakapannya.
"Di mana kami harus membeli tiket kereta?"
"Di sebelah sana," petugas menunjuk ke satu tempat dengan wajah keheranan.
"Tapi loketnya sudah tutup," jawab Asri dengan wajah dan suara memelas.
"Tidak, kok. Ayo saya tunjukkan."

Petugas pria dengan wajah India itu kemudian mengajak kami ke tempat pembelian tiket. Rupanya tempat pembelian tiketnya bukan di tempat yang kami duga sebelumnya (tempat dengan rolling door yang tertutup). Tempat yang dimaksudnya adalah mesin otomatis semacam mesin ATM. Petugas yang baik itu menunjukkan caranya kepada kami. "Jadi saat lain kali kalian mau naik kereta lagi, kalian tahu bagaimana cara membeli tiketnya,” jelasnya.

Ya wajar sih, wajah petugas tersebut keheranan saat Asri bilang tempat beli tiket keretanya tutup. Bagaimana bisa tutup kalau itu adalah mesin otomatis. Yang ada mungkin rusak, bukan tutup.

Setelah kami berada di dalam kereta, saya sempat membahas kepanikan Asri. Reaksi Asri begini, "ya maklum saja. Gue kan, terbiasa naik kereta Jakarta - Bogor."

Ya beginilah yang namanya culture shock!

Foto: Freemantle Railway Station

Harus beradaptasi dengan teknologi dalam waktu singkat tentu bukan perkara mudah. Meskipun saya sudah mengikuti semua la...
06/05/2026

Harus beradaptasi dengan teknologi dalam waktu singkat tentu bukan perkara mudah. Meskipun saya sudah mengikuti semua langkahnya dengan baik dan benar, tidak menjamin saya tidak mengalami gaptek. Ini terbukti ketika saya harus menyewa loker di Berlin, Jerman.

Saya, Feny dan Mira, tidak berani membawa paspor kemana-mana saat bepergian di Eropa. Alasannya, kami takut kecopetan! Nggak kebayang deh, bila sampai paspor dicopet. Bisa menghambat perjalanan dan bahkan kepulangan ke Indonesia. Karena itu, saat bepergian kami hanya membawa fotokopian paspor dan visa sementara aslinya kami tinggal di hostel.

Untungnya, hostel kami di Berlin, One80 Degrees Hostel memiliki fasilitas penyewaan loker. Pilihan lokernya pun banyak, ada loker kecil yang hanya cukup untuk menyimpan dokumen, seperti paspor, loker sedang untuk koper berukuran kecil sampai sedang dan loker besar untuk koper besar. Harga sewanya variatif, mulai 1,50 - 8 Euro (ini harga tahun 2013), tergantung dari ukuran loker dan durasi penyewaan (6 jam, 12 jam atau 24 jam).

Awalnya saya berpikir petugas hostel yang akan mengurus perihal penyewaan loker ini dan saya hanya tinggal bayar. Namun ternyata saya salah. Loker-loker ini adalah mesin otomatis dan kita harus menjalani semua prosedur penyewaan itu sendiri. Memang sih, di dekat loker ini ada deretan instruksi dan kami pun sempat dijelaskan oleh salah satu petugas hostel tentang cara penggunaannya serta mengintip orang lain yang melakukan terlebih dahulu. Tapi ketika dipraktikkan ternyata tidak semudah itu!

Mira dan Feny awalnya menyerahkan tugas itu ke saya. Ya meskipun tidak paham, saya berusaha mengikuti semua instruksi dalam bahasa Inggris itu dengan baik dan benar. Tapi sialnya, saya malah memasukkan uang koin itu ke lubang yang salah. Bukan dimasukkan ke lubang uang, saya malah memasukkan ke lubang di atasnya, tempat keluar kertas/struk.

Paniklah saya! Saya berusaha menarik kembali koin itu ke luar, tadi tidak bisa. Feny dan Mira pun mencoba mengeluarkan koin tersebut. Namun koin itu benar-benar nyangkut. Tidak keluar dan tidak juga ke dalam. Bingung harus apa, akhirnya kami meninggalkan mesin tersebut dan berganti ke mesin lain.

Di percobaan kedua, lagi-lagi saya gagal. Bukan perkara salah masuk lubang lagi. Bukan itu. Bahkan saya nggak tahu salahnya di mana. Karena koin yang saya masukkan, kembali ke luar. Padahal seharusnya koin itu tersimpan di dalam dan yang keluar adalah kertas/struk yang menyebutkan nomor loker dan kode membuka loker.

Frustasi dengan mesin otomatis ini, saya pun menyerahkan tugas tersebut ke Mira. Ternyata tangan Mira lebih sukses dari saya. Kami pun bisa memakai loker tersebut. Namun sepanjang hari itu, pikiran saya melayang dengan koin yang tersangkut di loker. Di pikiran saya sudah banyak skenario buruk, seperti: bagaimana bila mesin loker tersebut rusak akibat ulah saya? Kira-kira berapa ganti rugi yang harus saya bayar? Bayarannya akan menghabiskan semua Euro sayakah? Wah, pokoknya sudah macam-macam, deh, pikirannya.

Saat pulang dari jalan-jalan, saya tidak mendapat teguran apapun dari petugas hotel. Apakah itu tandanya aman? Saya tetap saja kepikiran. Takut-takut sang petugas belum tahu dengan insiden tersebut. Tidur pun terasa tak nyenyak. Hhhhhh...

Keresahan saya terjawab keesokan harinya ketika saya kembali ke loker tersebut untuk memperpanjang durasi penyewaan. Pelan-pelan saya berjalan ke arah mesin sumber keresahan saya. Saya lihat langsung ke lubang itu dan..... koinnya sudah tidak ada di sana! Alhamdulillah.. Entah siapa yang mengeluarkan saya tidak tahu. Tapi saya berterima kasih dengan orang tersebut yang menggagalkan saya dari pembayaran ganti rugi.

Di hari terakhir, saya sempat melihat seorang wanita bule yang kesulitan dengan mesin loker ini. Saya pun menawarkan bantuan kepadanya. Intinya sayalah yang melakukan semua proses penyewaan tersebut untuk dia. Melihat raut lega di wajahnya, saya tahu saya telah membantu seseorang yang dulu seperti saya alias gaptek! Haha..

Foto: Berlin Cathedral

Menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa nasional, wajar banget bila tidak semua orang Barcelona bisa berbahasa Inggris...
04/05/2026

Menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa nasional, wajar banget bila tidak semua orang Barcelona bisa berbahasa Inggris. Namun hebatnya, kendala bahasa ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk membantu orang-orang asing yang membutuhkan bantuan, lho! Contohnya pengalaman saya dengan Ibu Passie yang merupakan orang Spanyol.

Ibu Passie adalah seorang petugas di stasiun kereta yang ada di Mollet. Saya, Mira dan Feny bertemu dengannya ketika dia bertugas di stasiun kereta Mollet - Santa Rosa. Saat itu kami ingin pergi ke tempat wisata, Montserrat. Karena buta arah, kami pun bertanya kepada Ibu Passie, kereta mana yang harus dinaiki. Ibu Passie tidak bisa berbahasa Inggris. Namun dia mengerti maksud kami karena kami menunjukkan brosur wisata Montserrat.

Dia memberi kode kepada kami untuk menunggu. Dan selanjutnya yang kami lihat, Ibu Passie menelepon seseorang dengan menggunakan handphone. Dia berbicara bahasa Spanyol namun dalam perbincangannya dia menyebut-nyebut kata Montserrat.

Begitu selesai menelepon, Ibu Passie menjelaskan rute kepada kami. Jujur awalnya saya bingung karena dia menjelaskan dengan bahasa Spanyol. Saya melirik Feny dan Mira, wajah mereka terlihat bengong. Saya berusaha menahan tawa melihat mimik mereka berdua. Berani taruhan, mereka sama tidak mengertinya dengan saya. Penjelasan Ibu Passie yang tertangkap telinga saya hanyalah bla bla bla bla. Hahaha...

Rupanya Ibu Passie sadar bahwa kami sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan. Maka dia pun mengulang penjelasannya dengan intonasi lebih pelan dan sambil menuliskan nama-nama stasiun di kertas kosong. Setelah mengulang tiga kali sambil menggerak-gerakkan tangannya menunjuk nama-nama stasiun yang ditulisnya di kertas, akhirnya kami mengerti maksud Ibu Passie. Kami paham kereta apa yang harus kami gunakan, turun di stasiun mana dan melanjutkan dengan kereta apa.

Saya terharu dengan usaha Ibu Passie. Mulai dari menanyakan rute lewat telepon sampai berbicara berulang-ulang agar kami bisa sampai ditujuan. Rasanya ingin saya peluk Ibu yang umurnya kira-kira 50 tahunan itu.

Beres dengan rute perginya, saya tiba-tiba teringat untuk urusan pulang. Saya pun bertanya kepadanya jam berapa kereta terakhir dari Barcelona City Centre menuju Mollet. Namun Ibu Passie malah salah mengerti dan bilang kereta akan datang sebentar lagi. Saya pun mengulang kembali pertanyaan saya. Lebih pelan saya bilang, "last train. Laaast traaain." Ibu Passie kebingungan.

Mira dan Feny ikut membantu. Mereka mengulang pertanyaan saya. Lagi-lagi Ibu Passie tidak paham. Berbagai kode pun kami gunakan untuk membuat Ibu Passie mengerti. Feny bahkan menggunakan kedua lengannya dan membentuk tanda silang sambil bilang last train. Jujur sampai saya menulis ini, saya tidak mengerti kaitannya tanda silang Feny tersebut dengan kereta terakhir.

Pusing dengan Ibu Passie yang tidak menangkap maksud kami, Mira meminta bantuan kepada seorang pria yang juga sedang menunggu kereta. Namun hasilnya nihil karena pria tersebut tidak bisa berbahasa Inggris juga. Tidak mengerti harus menggunakan cara apa lagi, saya refleks menggunakan bahasa Indonesia. "Pulang. Kereta puuulaaang," kata saya sambil menggerakan tangan kanan saya seperti melompat dari kanan ke kiri.

Ajaibnya tiba-tiba, Ibu Passie berkata, "Aah," kemudian dia menuliskan di kertas kosong, 23.00. Alhamdulillah... Akhirnya dia mengerti maksud kami. Setelah mulut berbusa-busa menjelaskan pakai bahasa Inggris, Ibu Passie malah mengerti maksud saya ketika saya berbicara dalam bahasa Indonesia. Tahu gitu, pakai bahasa Indonesia saja dari tadi. Haha…

Foto: Mira, Feny, Ibu Passie, dan saya.

Tidak ada satu pun di antara saya, dan kedua teman saya, Feny dan Mira yang bisa berbicara bahasa Spanyol. Tapi bila kep...
02/05/2026

Tidak ada satu pun di antara saya, dan kedua teman saya, Feny dan Mira yang bisa berbicara bahasa Spanyol. Tapi bila kepepet, apapun bisa berubah. Contohnya Feny yang mendadak “mengerti” bahasa Spanyol.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari bandara Barcelona dengan menggunakan kereta, kami akhirnya sampai di stasiun Mollet – St. Fost. Saya awalnya senang karena ingin cepat-cepat sampai di hotel untuk beristirahat. Tapi, begitu saya tahu bahwa untuk keluar stasiun kami harus menuruni tangga, perasaan senang perlahan-lahan menguap. Pasalnya, saya membawa koper dengan berat nyaris 20 kg. Tentu ini bukan bawaan yang menyenangkan bila harus melewati tangga.

Mending kalau hanya ada satu tangga saja. Lah ini setelah menuruni beberapa anak tangga, kami masuk ke dalam lorong di mana ada dua pilihan mau ke arah kanan atau kiri, baik arah kanan atau kiri, ada banyak anak tangga yang harus kami naiki untuk mencapai jalan raya. Waduh, kalau kami salah pilih arah, gawat, nih. Bisa-bisa pinggang rontok.

Untungnya, saat kami sedang menggotong-gotong koper untuk melewati tangga pertama, ada dua pria Spanyol yang menawarkan bantuan. Alhamdulillah, senangnya bukan main. Sekalian saja kami tanya arah menuju hotel kami, apakah kami harus mengambil arah ke kiri atau ke kanan.

Pria pertama tampaknya tidak tahu hotel yang kami maksud. Dia akhirnya menyerahkan kertas alamat hotel yang kami tunjukkan ke teman satunya. Dari reaksinya saya tahu bahwa mereka berdua tidak tahu hotel yang kami maksud. Termasuk tidak tahu apakah kami harus keluar ke arah kanan atau kiri.

Kejadian berikutnya adalah mereka mejelaskan sesuatu dalam bahasa ibunya yang tentunya tidak saya mengerti. “Prekente… prekente… prekente,” hanya itu yang saya tangkap dari penjelasan mereka. Saya juga melihat mereka menunjuk-nunjuk ke arah luar, kemudian menunjuk-nunjuk koper kami dan menunjuk-nunjuk pinggang mereka. Saya cuma bisa bengong dibuatnya. Sebisa mungkin memahami, tapi yah kok, benar-benar tidak paham maksud mereka apa.

Satu-satunya orang di antara kami bertiga yang terlihat paham dengan maksud mereka adalah Feny. Wajah serius Feny memperlihatkan bahwa dia paham betul dengan pembicaraan kedua orang tersebut. Berbeda 180 derajat dengan wajah bengong saya.

Beberapa kali juga saya melihat Feny mengangguk-angguk sambil bilang oke kepada kedua pria tersebut. Bahkan ketika mereka bertanya untuk yang terakhir kalinya (saya tahu ini pertanyaan dari nada bicaranya), Feny dengan mantap bilang oke. Kemudian kedua orang tersebut melanjutkan perjalanannya ke arah dalam stasiun kereta. Meninggalkan kami di lorong antara pilihan ke kiri atau kanan.

“Memangnya lo ngerti mereka ngomong apa Fen? Muka lo sok tahu banget seolah-olah paham perkataan mereka?” tanya saya. “Mereka bilang, cari orang di luar, minta bantuannya untuk mengangkat koper-koper kita. Kalau nggak, nanti pinggang kita bisa sakit,” jawab Feny, luar biasa yakin. Saya ngakak mendengar jawaban Feny. Tapi Feny menyakinkan bahwa itulah yang dimaksud kedua pria tersebut.

Sampai saya menulis ini, saya tidak tahu arti sebenarnya dari perkataan yang diucapkan kedua pria tersebut. Namun, saya acungi jempol untuk kepedean Feny yang meng-klaim bahwa dia mendadak mengerti bahasa Spanyol. Haha…

Foto: saya dan Mira di depan Casa Batlló, Barcelona, Spanyol.

Adres

Amsterdam

Meldingen

Wees de eerste die het weet en laat ons u een e-mail sturen wanneer Explore Enjoy Repeat nieuws en promoties plaatst. Uw e-mailadres wordt niet voor andere doeleinden gebruikt en u kunt zich op elk gewenst moment afmelden.

Snelkoppelingen

Uitgelicht

Delen

Categorie