07/06/2026
๐ *Dari Sudut-Sudut yang Tersembunyi*
*Keberanian Nabi ๏ทบ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ุฑุถู ุงููู ุนูู*
Berkata Ibnu Taimiyah:
_Orang Rafidhah berkata: "Keutamaan keempat Ali adalah bahwa ia manusia yang paling pemberani."_
Jawabannya:
Tidak diragukan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang sahabat yang pemberani, termasuk orang yang Allah muliakan dengan jihadnya untuk membela Islam, termasuk generasi terdepan dari kaum Muhajirin dan Anshar, termasuk para pemimpin orang-orang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta berjihad di jalan-Nya. Dengan pedangnya, ia telah membunuh sejumlah orang kafir.
Namun, hal itu bukanlah kekhususan Ali semata. Banyak sahabat lain yang juga memiliki sifat tersebut. Karena itu, hal ini tidak membuktikan bahwa Ali lebih utama dalam jihad dibanding banyak sahabat lainnya, apalagi lebih utama daripada para khalifah sebelumnya, terlebih lagi dijadikan dalil untuk menetapkan imamahnya.
Adapun perkataan mereka, "Ali adalah manusia yang paling pemberani," maka ini tidak benar. Bahkan manusia yang paling pemberani adalah Rasulullah ๏ทบ.
Sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik, ia berkata:
*"Nabi ๏ทบ adalah manusia yang paling baik, paling dermawan, dan paling pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara. Beberapa orang bergegas menuju sumber suara itu. Ternyata mereka bertemu Nabi ๏ทบ yang sedang kembali setelah mendahului mereka menuju sumber suara tersebut. Beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah tanpa pelana, pedang tergantung di leher beliau, sambil berkata:*
*'Jangan takut, jangan takut.'"*
Imam al-Bukhari berkata:
*"Beliau telah memastikan keadaan dan mencari tahu berita itu sebelum orang-orang lain sampai."*
Dalam Musnad Ahmad, dari Ali ุฑุถู ุงููู ุนูู, ia berkata:
*"Apabila peperangan memuncak dan keadaan sangat genting, kami berlindung di belakang Rasulullah ๏ทบ. Beliaulah orang yang paling dekat dengan musuh di antara kami."*
*Makna Keberanian*
Keberanian memiliki dua makna:
1. Kekuatan hati dan keteguhan saat menghadapi ketakutan.
2. Kehebatan bertarung secara fisik, seperti banyak membunuh musuh dan melakukan pertempuran yang dahsyat.
Makna pertama itulah hakikat keberanian. Sedangkan makna kedua lebih menunjukkan kekuatan fisik dan kemampuan bertindak.
Tidak setiap orang yang kuat fisiknya memiliki hati yang kuat, dan tidak setiap orang yang berhati kuat memiliki kekuatan fisik yang luar biasa.
Karena itu, terkadang ada seseorang yang hebat dalam membunuh dan bertempur selama ada yang melindunginya. Namun ketika benar-benar takut, ia menjadi pengecut dan kehilangan keberaniannya.
Sebaliknya, ada orang yang tidak banyak membunuh musuh dengan tangannya, tetapi sangat teguh hatinya ketika menghadapi bahaya dan berani menghadapi kesulitan.
Sifat inilah yang lebih dibutuhkan oleh para panglima perang dan pemimpin pasukan. Sebab jika pemimpin memiliki hati yang berani dan teguh, ia akan maju, tetap bertahan, dan tidak lari sehingga pasukannya pun ikut bertahan. Sebaliknya, jika ia pengecut, maka ia akan lemah, tidak berani maju, dan tidak kokoh meskipun memiliki tubuh yang kuat.
*Nabi ๏ทบ Adalah Manusia Paling Berani*
Rasulullah ๏ทบ adalah manusia yang paling sempurna dalam keberanian jenis ini, yaitu keberanian yang menjadi sifat utama para pemimpin perang.
Beliau hanya membunuh satu orang dengan tangan beliau sendiri, yaitu Ubay bin Khalaf pada Perang Uhud. Selain itu beliau tidak membunuh seorang pun secara langsung, baik sebelum maupun sesudahnya.
Namun demikian, beliau lebih berani daripada seluruh sahabat.
Pada Perang Hunain, mayoritas sahabat sempat mundur. Saat itu Nabi ๏ทบ tetap berada di atas baghal (peranakan kuda dan keledai). Hewan seperti itu tidak cocok untuk maju menyerang ataupun melarikan diri dengan cepat. Namun beliau justru maju menghadapi musuh sambil berseru:
*"Aku adalah Nabi, tidak ada dusta dalam perkataanku.*
Aku adalah putra Abdul Muththalib."
Beliau menyebut dirinya secara terang-terangan, sementara banyak sahabat telah menjauh darinya. Musuh berada di hadapannya, namun beliau tetap maju menghadap mereka. Ketika itu Al-Abbas bin Abdul Muththalib memegang tali kendali baghal beliau.
Ali dan sahabat-sahabat lainnya biasa berlindung di belakang Rasulullah ๏ทบ karena beliau lebih berani daripada mereka, meskipun sebagian mereka mungkin membunuh musuh lebih banyak daripada yang dibunuh Nabi ๏ทบ.
*Keberanian Abu Bakar*
Jika keberanian yang menjadi ukuran bagi para pemimpin adalah keberanian hati, maka tidak diragukan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih berani daripada Umar bin Khattab, dan Umar lebih berani daripada Utsman bin Affan, Ali, Thalhah bin Ubaidillah, dan Az-Zubair bin Al-Awwam.
Hal ini diketahui oleh orang yang mempelajari perjalanan hidup dan kisah-kisah mereka.
Sebab Abu Bakar senantiasa menghadapi berbagai bahaya yang dihadapi Nabi ๏ทบ sejak awal Islam hingga akhir hayat beliau. Ia tidak pernah pengecut, tidak gentar, dan tidak lemah. Ia selalu maju menghadapi berbagai risiko:
- Melindungi Nabi ๏ทบ dengan dirinya.
- Berjihad melawan kaum musyrikin dengan tangannya.
- Dengan lisannya.
- Dengan hartanya.
- Dan dalam semua itu, ia selalu berada di barisan terdepan.
(Diringkas dari kitab Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, jilid 8 hlm. 75โ89).
๐ T.me/FwMasyaikh/2006