Aamiin Allahumma Aamiinn..Ibuku adalah Rajaku

Aamiin Allahumma Aamiinn..Ibuku adalah Rajaku Ridho ibu adalah Ridho Allah....
Ea Allah,,..berilah kesehatan kepada ke dua Orang Tua kami...dan jagalah keduanya di manapun mereka berada,,aamiin ya Rabb

Tentang Lupv
@ Cinta Allah Swt
@ Cinta Rosulullah SAW
@ Cinta Ibu
@ Cinta Ayah
@ Cinta Suami/Istri
@ Cinta Pada Muslimin/Muslima

# Yang Punya Cinta silahkan Gabung yuukkkkkkk

02/01/2026

*Jika kamu direndahkan oleh manusia,*
maka Allah yang meninggikan kamu.
*Jika kamu dibenci oleh manusia,*
maka Allah yang akan memuliakanmu.

> Nasihat Ust Hanan Attaki
#𝑈𝑆𝑇𝐻𝐴𝑁𝐴𝑁𝐴𝑇𝑇𝐴𝐾𝐼
#𝐼𝐵𝑈𝐾𝑈
#𝑇𝑅𝐴𝑁𝐷𝐼𝑁𝐺
#𝐾𝑂𝑁𝑇𝐸𝑁𝐾𝑇𝐸𝐴𝑇𝑂𝑅

01/01/2026

𝑆𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑏𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑢𝑗𝑖𝑎𝑛
#𝑀𝑜𝑡𝑖𝑣𝑎𝑠𝑖
#𝐾𝑜𝑛𝑡𝑒𝑛𝑘𝑟𝑒𝑎𝑡𝑜𝑟
#𝑚𝑢ℎ𝑎𝑠𝑎𝑏𝑎ℎ

01/01/2026

𝐵𝑒𝑟𝑠𝑎𝑏𝑎𝑟 𝑖𝑡𝑢 𝑗𝑎𝑢ℎ 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑏𝑎𝑖𝑘 #𝑀𝑂𝑇𝐼𝑉𝐴𝑆𝐼
#𝐹𝑦𝑝
#𝐴𝑎𝑚𝑖𝑖𝑛𝑎𝑙𝑙𝑎ℎ𝑢𝑚𝑚𝑎𝐴𝑎𝑚𝑖𝑖𝑛

01/01/2026

Belajar *dari Nabi Yusuf,*
Dibuang keluarganya kedalam Sumur, dijual sebagai Budak dan berakhir menjadi Pemimpin di Mesir,
*Nabi Yusuf saat itu berbekal yakin kepada Allah & Sabar.*
#𝑀𝑜𝑡𝑖𝑣𝑎𝑠𝑖
#𝑘𝑜𝑛𝑡𝑒𝑛𝑘𝑟𝑒𝑎𝑡𝑜𝑟

01/01/2026

𝑆𝑒𝑚𝑢𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑡𝑎𝑢
#𝑇𝑟𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔
#𝐹𝑦𝑝
#𝑚𝑢ℎ𝑎𝑠𝑎𝑏𝑎ℎ

28/12/2025

*Jangan bilang Allah tidak adil,*
kalau kita sendiri jarang bersujud.
*Jangan mengeluh hidup terasa berat,*
kalau doa pun sering terlambat.
Boleh lelah, *tapi jangan menyerah dari Allah.*

*— 𝑨𝒂𝒎𝒊𝒊𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉𝒖𝒎𝒎𝒂 𝑨𝒂𝒎𝒊𝒊𝒏..𝒊𝒃𝒖𝒌𝒖 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝑹𝒂𝒋𝒂𝒌𝒖*
#𝒇𝒚𝒑
#𝒎𝒆𝒕𝒂
𝑲𝒐𝒏𝒕𝒆𝒏𝒌𝒓𝒆𝒂𝒕𝒐𝒓

28/12/2025

𝒃𝑬𝑹𝒔𝒂𝒃𝒂𝒓𝒍𝒂𝒉

28/12/2025

𝑰𝑵𝑰𝑳𝑨𝑯 𝒂𝒌𝒖 𝒂𝒑𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒏𝒚𝒂

Apakah kalian saya ibu
04/05/2024

Apakah kalian saya ibu

07/12/2023

Aƙυɳ ιɳι BERESIKO DI HAPUS....ANJAAAYYY

Mak......Sudah dua tahun ini emak ikut tinggal di rumahku, emak yang sudah sepuh dan berusia tujuh puluh tahun lebih. Du...
30/11/2023

Mak......

Sudah dua tahun ini emak ikut tinggal di rumahku, emak yang sudah sepuh dan berusia tujuh puluh tahun lebih. Dulu emak tinggal berdua dengan bapak di desa, tapi semenjak bapak pergi mendahului emak, aku gak tega meninggalkannya sendirian, kuajak emak ke rumahku di kota.

Awalnya mas Ardi, kakak tertuaku sempat mengajak emak tinggal bersamanya tapi gak lama karena istrinya keberatan dengan emak yang makin hari makin rewel dan banyak maunya.

"Mbakmu kadang sudah nahan hati dengan kelakuan emak, Dik, cerewetnya minta ampun," keluh mas Ardi ketika mengantar emak ke rumahku.

Semakin senja tingkah emak seolah melampiaskan rasa ketika muda dulu. Emak dahulu terlalu menurut pada bapak dan gak pernah ada maunya, sekarang ketika tua rasa yang dahulu ia tahan dengan mudah ia ungkapkan.

"Nasi goreng pakai bumbu instan kayak gini gak enak."

"Pakaian jangan di-laundry, gak bersih, enak nyuci sendiri."

"Anakmu itu jajan terus, gak sehat entar batuk."

"Untuk apa beli hiasan dinding, buang-buang uang."

"Kalau hari Minggu jangan kesiangan, jangan pemalas."

Setiap hari, selalu saja omelan emak mewarnai hari-hariku. Ketiga anakku kadang kena sasaran ocehan emak, ada-ada saja yang salah di matanya.

"Dengarkan saja, Dik, gak usah diladeni, wajar orang tua," nasehat suamiku ketika aku mengeluhkan sikap emak yang kadang menjengkelkan.

"Kadang aku emosi juga, mas, kalau lama-lama kayak gini."

Suamiku tersenyum dan mencubit pipiku. "Alhamdulillah kita masih diberi nikmat merawat orang tua, jangan sampai kelak kita menyesal ketika dia sudah tiada."

Aku bergeming, benar juga.

***

Hari Senin pagi, suamiku masih dinas di luar kota, kebetulan yang bantu di rumah terlambat datang. Anak-anak rewel, mandi pun harus ribut, sarapan mesti berantem dan pakai seragam lambatnya setengah mati.

"Ayo, Nak, buruan entar mama terlambat," ucapku gusar. Jam delapan pagi ini ada rapat di kantor.

Semalam aku gak enak badan, batuk dan pilek mungkin kecapekan karena sudah tiga hari begadang mengerjakan laporan.

"Nak, cangkul kita dimana ya?" tanya emak ketika aku sedang memakaikan sepatu si bungsu.

"Gak tahu, Mak, tanya Bi Inah saja di belakang," jawabku. Ada-ada saja emak ini, dikala orang sibuk pagi-pagi dia sibuk nanyain cangkul.

"Kata Bi Inah dia gak tahu," ucap emak lagi.

"Cari di belakang, Mak," jawabku kesal. Apa mendesaknya coba mencari cangkul di jam genting seperti ini.

"Aisyah ayo nak buruan." Aku memanggil putriku yang dari tadi tak keluar kamar. Waktu semakin bergerak meninggalkan angka tujuh, aku semakin gelisah.

"Bentar, Ma, masih nyari buku PR semalam, gak ketemu," jawab Aisyah.

"Mama tunggu lima menit, adikmu sudah di mobil semua. Kalau kamu belum keluar kami tinggal."

"Nak, kamu cari dulu cangkul, toh kamu belum pergi," ucap emak gusar.

Aku bergeming, malas menanggapi emak.

"Nak, ingat dulu dimana kamu naruh cangkulnya." Emak mendesak, raut wajahnya pun terlihat kesal.

Aisyah putriku berlari keluar rumah, ia segera masuk ke mobil.

"Aku dan anak-anak berangkat ya, Mak." Aku mengambil punggung tangan emak dan menciumnya cepat.

Emak menarik lenganku, "cari dulu cangkulnya," ucap emak.

"Entar sore ya, Mak. " Aku tersenyum, berusaha sabar.

"Emak mau sekarang!" Emak membentak.

"Mak, aku ini sudah terlambat, hari ini ada rapat, kalau persentasiku gagal bisa gawat. Emak jangan buat masalah d**g, untuk apa coba nanya cangkul sekarang? Wajar saja kalau istri mas Ardi gak betah sama emak kalau rewel kayak gini." Aku beranjak meninggalkan emak, masuk mobil dan membanting pintunya. Kesal.

Sekilas kulihat emak terdiam dengan mata yang berkaca.

Jantungku berdetak cepat seolah ada yang mengejar, napasku terasa sesak dan kedua mataku memanas. Baru kali ini aku membentak emak, sebelumnya aku berhasil menahan diri dari kerewelan emak namun kesabaran ada batasnya. Meledak sudah amarah ini.

"Mama jangan kasar gitu d**g sama nenek," ucap Aisyah putriku.

Aku diam.

"Biasanya kan mama sabar," Yusuf putra keduaku menimpali.

"Nenek bilang dulu waktu kecil mama orangnya rewel, kalau nanya gak bisa stop, tapi nenek s**a. Itu artinya mama pintar kata nenek. Terus mama juga orangnya kalau ada mau gak bisa ditunda dan nenek bilang itu bagus artinya mama orangnya gigih." Aisyah berkata pelan.

Aku bergeming kehilangan kata-kata. Anakku benar, bukankah sifat emak dan aku kini sama? Kami sama-sama rewel, banyak maunya, selalu gigih bila ada keinginan tapi hanya ada satu yang membedakan. Emak menganggap sikapku ini sebagai sebuah anugrah dan dengan senang hati menerimanya, tapi aku? Dengan mudah aku menganggap emak sebagai beban.

Tak ada pembicaraan lagi di mobil hingga ketiga anakku turun dan masuk ke gerbang sekolah, ketiganya melambaikan tangan dengan mata yang juga berkaca. Emak yang bagiku rewel itu adalah kesayangan bagi putra putriku.

Aku menepuk setir mobil berkali-kali, sepuluh menit lagi pukul delapan, bila memacu kendaraan dengan cepat maka aku masih bisa ke kantor tepat waktu. Tapi ada yang mengganjal di hati, sebuah rasa berjudul penyesalan.

Baru dua tahun emak di rumah, emak pun tak sakit-sakitan, masih bisa makan, minum dan membersihkan diri sendiri, hanya sedikit rewel saja. Tapi aku, anak yang telah sembilan bulan dikandungnya, dua tahun disusui, belasan tahun dirawat dan disekolahkan hingga akhirnya menikah pun masih tetap menyusahkan. Begitu mudah aku menganggap emak sebagai beban.

Tubuhku bergetar dengan napas yang tersendat, tumpah sudah air mata ini. Emak.

***

Aku segera memarkirkan mobil di garasi dan berlari ke kamar emak. Persetan dengan rapat dan persentasi, aku harus segera memohon maaf emak. Paling-paling pekerjaanku akan diambil alih oleh teman kantor dan tahun ini gak dapat bonus. Itu gak penting, hati emak lebih berharga dari apapun, tak kan kubiarkan retak dan hancur.

Kedua mataku menyisir kamar emak yang kosong. Kemana emak? Aku berlari ke dapur.

"Mana emak, Bi?" tanyaku pada Bi Inah yang sedang mencuci piring.

"Di halaman belakang, Bu, entah lagi apa tapi kayaknya dari tadi ngucek-ngucek mata terus kayak nahan nangis gitu."

Segera aku ke halaman belakang rumah dimana banyak tanaman emak tumbuh subur. Emak sedang menggali sesuatu dengan pisau kecil ketika aku menghampirinya.

"Lagi apa, Mak?" tanyaku.

Emak menoleh dan tersenyum. "Gak ngantor?"

Aku menggeleng, "gak enak badan," bohongku.

"Emak tadi mau minta cangkul buru-buru karena mau gali jahe merah ini. Semalam emak dengar kamu batuk gak berhenti jadi emak mau buat wedang jahe biar bisa kamu minum sebelum berangkat kerja makanya tadi emak buru-buru." Emak masih menggali tanah dengan pisau kecil.

Aku bergeming.

"Mak gak berani pakai pisau dapur kamu, kan pisau mahal nanti rusak kalau kena tanah makanya tadi cari cangkul."

Ah bodoh, apa ini, dadaku kian sesak.

"Untung ketemu pisau kecil ini, peninggalan bapakmu dulu, ini emak sudah dapat banyak jahenya." Emak menunjukkan lima ruas jahe merah di telapak tangannya. Ia beranjak dan tersenyum. "Kamu istirahatlah, nanti wedang jahenya emak antar ke kamarmu. "

Ya Allah, ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Duhai hati alangkah mudah syetan merasuki diri, betapa rapuh pertahanan diri, durhakalah aku yang telah melukai hati wanita baik ini.

Aku segera berlari dan memeluk tubuh kurus emak. "Maafkan aku, Mak, maafkan, aku salah sudah membentak emak. "

Emak memegang pundakku dan tersenyum. "Gak apa." Emak kembali memelukku dan menepuk pundakku. "Istirahat lah, kamu lelah," bisik emak.

Setiap orang tua akan sangat bahagia menghabiskan waktu merawat anaknya namun sebaliknya tak semua anak memiliki ketulusan dalam merawat orang tuanya walau hanya hitungan tahun.

Itulah ibuku ibumu ibu kita

Ingat mak,karena belum sempat membahagiakan beliau😭😭😭

"MAK"Oleh : REKSO PATI⚰️Selaput mata itu kian menciut buramKulit yang dahulu kencang, perlahan terlihat keriputRambut ya...
21/11/2023

"MAK"
Oleh : REKSO PATI⚰️

Selaput mata itu kian menciut buram
Kulit yang dahulu kencang, perlahan terlihat keriput
Rambut yang dulu hitam, perlahan memutih
Tubuh yang dulu tegap memeluk ku, perlahan terlihat membungkuk.

Mak...
Dari segumpal darah aku dalam rahim_mu
Engkau jaga penuh kasih sayang,

Mak...
Sembilan bulan lebih engkau menahan gelisah tidur yang tak bisa lena.

Mak...
Tak pernah lupa engkau selalu selipkan nama anak-anak mu dalam setiap pintalan Do'a_mu.

Mak...
Sungguh iba dalam diri mendengar tutur mu yang penuh pengorbanan,
Rasa sakit tatkala engkau melahirkan ku, laksana 49 tulang yang dipatahkan bersama'an,
Jerit sakit yang engkau rasa, setiap tetes keringat, darah, juga nyawa engkau pertaruhkan demi anak mu untuk melihat dunia.

Mak...
Tatkalah anak mu terlahir, tepat ditengah_tengah selangkanganmu, kelamin mu robek 45 derajat
Darah membanjiri ku, bau amis membalut tubuh mungil anak mu.
Tapi mak.....!
Dengan penuh kasih sayang engkau peluk, engkau beri kehangatan tanpa perdulikan semua itu.

Mak...
Engkaulah kitab berjalan yang nyata
Engkaulah jalan tangga yang di naiki nabi Muhhammad menuju Siddratul munthoha
Engkaulah pedang milik Ali bin Abi Tholib
Engkaulah istana milik Sulaiman
Engkaulah gudang dari segala gudang kasih sayang.

Mak...
Waktu telah berlalu
Hari, bulan, tahun telah berganti masa
Kini izinkan anak-anak mu membalas semua itu
Meskipun tak ada sebutir debu balasan kami untuk mu.

ที่อยู่

Pättïmürä Jäkärtä
Bangkok

เบอร์โทรศัพท์

+6285242798549

เว็บไซต์

แจ้งเตือน

รับทราบข่าวสารและโปรโมชั่นของ Aamiin Allahumma Aamiinn..Ibuku adalah Rajakuผ่านทางอีเมล์ของคุณ เราจะเก็บข้อมูลของคุณเป็นความลับ คุณสามารถกดยกเลิกการติดตามได้ตลอดเวลา

แชร์