Silvia Islaa

Silvia Islaa 💓

Assalamualaikum pagi semuanya, salam sehat buat kita semua 🥰🙏🏼
21/11/2025

Assalamualaikum pagi semuanya, salam sehat buat kita semua 🥰🙏🏼

Ngantuk banget sih ini
20/11/2025

Ngantuk banget sih ini

Makan bubur sum sum sama ikan teriAku tersenyum semoga berkenan dihati
20/11/2025

Makan bubur sum sum sama ikan teri
Aku tersenyum semoga berkenan dihati

Beli baju cendiliannnnnn🤣
20/11/2025

Beli baju cendiliannnnnn🤣

Gerah....Karna cuaca panas!!
19/11/2025

Gerah....
Karna cuaca panas!!

MENANTU SANTUY (2) "Kiran ngapain?!""Pengin cendol hitam, Emak.""Iya, tapi, kok ... aduh!Seketika aku melemas di tempat ...
19/11/2025

MENANTU SANTUY (2)

"Kiran ngapain?!"
"Pengin cendol hitam, Emak."
"Iya, tapi, kok ... aduh!

Seketika aku melemas di tempat gara-gara kelakuan Kirana.
Bisa-bisanya dia ....

---

Mataku berkaca-kaca. Aku mengangguk. Kiran memelukku. Namun, tiba-tiba ia berkata, "Ahay! Rambut Emak wangi. Pasti habis shampoan beneran pakai shampo yang Kiran beli itu, ya? Wangi mawar. Ih, enak lembut! Bikin rileks dan santuy!"

Aku tertawa. Kirana memang nyablak, tetapi kutahu dia penyayang dan selalu berusaha mencairkan suasana.

"Udah, Kiran. Kamu makan lagi. Nanti istirahat."

"Iya, Emak."

Kirana makan dengan lahap, pun dengan Supri. Tak kuhiraukan lagi suara-suara Sesil yang masih terus nyaring terdengar. Pun dengan Jukri yang akhirnya berbicara sedikit keras.

Malam harinya, kami sudah bersiap untuk tarawih. Kirana mengantar Supri sampai teras. Aku sudah lebih dulu berdiri di teras rumah.

"Kiran di rumah sendirian enggak apa-apa?" tanyaku memastikan.

"Enggak apa-apa, Emak. Aman, kok."

"Ya udah. Kita berangkat dulu, ya. Kamu hati-hati di rumah. Jangan bukain pintu kalau bukan keluarga yang datang."

"Siap, Emak."

Aku berangkat ke masjid kampung bersama keempat anakku. Batinku sedikit tidak tenang sebenarnya. Hingga ketika sudah delapan rakaat Tarawih, aku memutuskan pulang. Ternyata, Sesil ikut pulang juga.

Aku mengetuk pintu rumah, memanggil Kirana. Tak lama kemudian, ia pun membukakan pintu. Senyumnya tersungging untukku.

"Salatnya cepat, ya, Mak?"

"Iya. Anu ... Mamake kebelet!" dustaku. Segera masuk dan menuju ke belakang.

Masih kudengar Kirana berbicara dengan Sesil. Sepertinya masih belum begitu akur. Sesampainya di dapur, benar saja aku lupa menutup jendela. Sejak tadi jadi kepikiran, untung saja tidak ada orang usil yang masuk rumah dan berniat jahat.

Pukul setengah sembilan malam, anakku pulang dari masjid. Mereka segera masuk ke kamar masing-masing. Sedangkan, aku masih menghangatkan makanan untuk sahur dibantu oleh Kirana.

"Emak, nanti sahur pertama, ya? Kiran mau ikutan, ah."

"Lah, kamu enggak puasa kok ikutan Kiran!"

"Ingin, Emak. Siapa tahu suasananya beda. Kan tiap daerah apa tuh, itu s**a ada yang bangunin orang pake galon, panci itu, Emak. Terus ada lagunya sendiri itu, kan, Emak."

Kirana kumat lagi. Ngomongnya muter-muter terus. Aduh, bikin aku pusing beneran. Aku pun memilih hanya menganggukkan kepala saja. Setelahnya, mem**tikan kompor.

Di saat bersamaan, Supri yang sudah berganti pakaian pun mendekat ke Kirana yang masih menata gerabah kering dalam rak.

"Sayang ... masih lama?"

Aku menoleh ke Supri yang ternyata sudah melingkarkan tangannya di pinggang Kirana. Aku hanya geleng-geleng kepala saja. Supri memang sangat 'gemati' dan menjaga Kirana.

"Bentar lagi, Bang. Bang Stary mau kopi?"

"Enggak, Sayang. Mau tidur aja, yuk."

"Iya, bentar, ya."

Aku selesai menghangatkan lauk. Kemudian menutupnya dengan tutup yang memiliki lubang udara kecil. Agar tidak bau makanan yang masih panas itu.

"Udah malam, tidur semuanya."

"Iya, Mak."

----
Saat sahur, Kirana benar-benar ikut bangun. Sesil tidak ikut sahur katanya karena tidak puasa sebab kehamilannya.

Hari puasa pertama dengan cuaca yang begitu terik. Membuatku tetap berdiam di rumah. Namun, sore harinya, aku mengajak kedua menantuku untuk pergi ke pasar dadakan yang menjual aneka jajanan buka puasa.

"Bang Stary enggak ikut berarti, ya, Mak?"

"Enggak."

Kami jalan bersama-sama. Sesil awalnya tak mau ikut, tetapi entah karena apa yang dikatakan oleh Kirana, ia jadi menggebu ingin ikut.

"Awas kamu, Kiran. Jangan macam-macam sama aku dan janinku, ya!" ujar Sesil di tengah langkah kami.

"Sesil, astaghfirullah! Kamu ngomong apa, Nduk? Kok ngancam Kirana segala," ujarku berusaha menengahi.

"Halah, Mamake! Menantu kayak gitu, kok, dibelain terus!"

Aku mendengkus berat. Kirana tak menjawab apa pun, ia santai saja berjalan, sesekali mengecek ponselnya dan mengetik balasan. Seperti serius sekali.

"Sampai!" ujarku.

"Wah, Emak. Ada Bibi Sarwen jualan juga!" ujar Kirana bersemangat.

"Iya. Ayo, masuk."

Kami masuk ke stand-stand jajanan aneka buka puasa itu. Banyak macamnya. Kubiarkan Kirana berjalan lebih dulu. Sesil berada di sampingku, kutawari makanan apa pun. Namun, ia menolak.

"Gorengan enggak sehat buat kehamilan, Mak!"

"Ya udah, mau es?"

"Enggak, ah. Nanti aku gemukan. Janinku jadi kebanyakan gula!"

"Atau mau kolak pisang?"

"Enek!"

Aku sampai malu sendiri. Akhirnya, kubiarkan ia mau memilih apa yang ia mau. Aku melenggang sendirian, sesekali menatap Kirana yang di tangannya sudah banyak kantong kresek. Ia memborong aneka jajanan sore ini.

"Sar, jualan?"

"Iya, Mbak. Barusan gorengannya diborong sama Kirana, nih. Baik banget anak itu."

Sarwen berjualan aneka gorengan, lauk-pauk dan sayur matang.

"Masakanmu memang enak. Semoga laris, ya? Mantuku sudah ikut ngelarisin, kan?"

"Iya, Mbak. Maturnuwun."

"Ya."

Satu jam sudah kami berkeliling. Kirana tersenyum lebar ke arahku yang juga sudah selesai melihat-lihat jajanan. Tidak beli, karena aku memang berniat mengajak menantuku jalan-jalan saja.

Di rumah, Kirana sibuk membuka dan meletakkan jajanan yang dibelinya ke dalam wadah.

Saat hendak ke dapur, ada tamu dan aku pun duduk di ruang tamu.

Setengah jam kemudian, aku beranjak ke dapur karena mencium aroma yang aneh. Sesampainya di dapur, mataku membulat sempurna.

"Kiran ngapain!?"

Kulihat ia tengah berpeluh asap dan arang. Membakar cendol. Ya, cendol hijau tanpa kuah santan itu ditiriskan di atas teflon yang diletakkan di atas tungku kayu, dan dia sedang mengipasi tungku agar tetap menyala apinya.

"Kiran pengin cendol hitam, Emak. Tadi enggak ada. Cendol hitam itu kayaknya lebih enak, itu loh Kiran pernah lihat pas kapan hari itu jalan-jalan sama Bang Stary. Kan cendolnya dibakar dulu kan, Emak?"

"Bukan. Aduh, tapi ... astaghfirullah Kiraaan! Air santannya mana?!" tanyaku jadi sedikit ngegas.

"Ituuu!" Ia menunjuk ke atas meja.

"Itu mubazir lagi Kiraaan! Mana ada cendol bakar. Astaghfirullah."

"Eh, Emak santuy! Kan benar kan cendol hitam itu cendol bakar?" jawabnya masih dengan bersikeras.

Tubuhku luruh ke lantai. Kepala menunduk dan rasanya aku ingin makan Kirana bulat-bulat. Bisa-bisanya dia kepikiran cendol bakar. Ampun, deh! Mubazir lagi cendol yang dibeli. Mana banyak banget, udah pada mengkerut dan ... bau gosong.

YUK, GERCEP! Udah TAMAT nih. Cari judulnya di KBM APP >> MENANTU SANTUY
Penulis : septiana_tf
Atau klik li_nk di kolom komentar untuk baca ceritanya sampai tamat

Miss almaula ngenskuyy sama ayangg
18/11/2025

Miss almaula ngenskuyy sama ayangg

Sudah 5000kali mencolek andaNggak di lresponSombong banget sih😭
18/11/2025

Sudah 5000kali mencolek anda
Nggak di lrespon
Sombong banget sih😭

Sama sama janda bang cari yg serius dan bisa diajak berumah tangga sudah pns cari yg bisa mnerima apa adanya tapi jangan...
17/11/2025

Sama sama janda bang cari yg serius dan bisa diajak berumah tangga sudah pns cari yg bisa mnerima apa adanya tapi jangan php ya

Sepuluh fakta yang tidak diketahui tentang


1. Pendirian dan Sejarah: BMW, Bayerische Motoren Werke AG, didirikan pada tahun 1916, di Munich, Jerman, mesin pesawat awalnya diproduksi. Perusahaan beralih ke produksi sepeda motor pada tahun 1920-an dan akhirnya ke mobil pada tahun 1930-an.

2. Logo Ikonik: Logo BMW, sering disebut sebagai "roundel", terdiri dari cincin hitam berpotongan dengan empat quadran biru dan putih. Ini mewakili asal-usul perusahaan dalam penerbangan, dengan biru dan putih melambangkan baling-baling berputar terhadap langit biru cerah.

3. Inovasi dalam Teknologi: BMW dikenal dengan inovasi dalam teknologi otomotif. Ini memperkenalkan mobil listrik pertama di dunia, BMW i3, pada tahun 2013, dan telah menjadi pemimpin dalam mengembangkan sistem bantuan mengemudi canggih (ADAS) dan powertrains hibrida.

4. Kinerja dan Warisan Motorsport: BMW memiliki warisan yang kuat di motorsport, terutama di Formula 1 tur dan mobil balap. Divisi M merek menghasilkan varian berperforma tinggi dari model reguler mereka, yang dikenal karena rekayasa presisi dan dinamika berkendara yang menggembirakan.

5. Kehadiran Global: BMW adalah Perusahaan otomotif global

6. Kemewahan dan Desain: BMW identik dengan kemewahan dan desain khas, menciptakan kendaraan yang menyatu dengan keanggunan dengan teknologi mutakhir dan kenyamanan.

7. Praktik berkelanjutan: BMW telah berkomitmen untuk keberlanjutan, memasukkan bahan ramah lingkungan dan proses manufaktur ke dalam kendaraannya, serta memajukan teknologi kendaraan listrik dengan model seperti BMW i4 dan iX.

8. Global Manufacturing: BMW mengoperasikan fasilitas produksi di seluruh dunia, termasuk di Jerman, Amerika Serikat, Cina dan negara-negara lain, memastikan jangkauan global dan produksi lokal.

9. Portofolio Merek: Selain merek BMW yang terkenal, perusahaan juga memiliki MINI dan Rolls-Royce, melayani berbagai selera otomotif dan segmen mewah.

10. Dampak Budaya: Kendaraan BMW seringkali menjadi ikon budaya, ditampilkan dalam film, video musik, dan terkenal karena desain dan keunggulan rekayasa mereka di seluruh dunia.






MLM duda ,nikah yuk ,janggn icilik trus nikah aja sama aku
17/11/2025

MLM duda ,nikah yuk ,janggn icilik trus nikah aja sama aku

Pengen dihibur🫣
16/11/2025

Pengen dihibur🫣

Agak ribet sih bikinnya…tapi enakk🤣😁🤤
16/11/2025

Agak ribet sih bikinnya…tapi enakk🤣😁🤤

Address


Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Silvia Islaa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share